Ada seorang da’i yang mengaku dirinya Salafy Ahlus Sunnah akan tetapi membela Jama’ah Tabligh ini bagaimana Ustadz? Kami sebagai orang awam merasa janggal dengan sikap da’i tersebut yang dulu pernah kami ikuti nasehat-nasehatnya.

Jawab: Jama’ah Tabligh adalah kelompok bid’ah yang dirintis oleh Muhammad Ilyas Al-Kandahlawi, seorang panganut tarekat Shufi yang berasal dari India. Dia menjalankan misi tablighnya setelah pergi ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Muhammad Ilyas wafat tahun 1363 H. (Jama’ah Tabligh Mafahim Yajib An Thushohhah hal. 2 – 3)

Jama’ah Tabligh memiliki pokok pemahaman yang mereka sebut dengan “Ushulus Sittah” di antaranya adalah, (1) Mengamalkan kalimat thayyibah “Laa Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah”, (2) Shalat khusyu’, (3) Ilmu dan dzikir, (4) Menghormati kaum Muslimin, (5) Mengikhlaskan niat, (6) Keluar (khuruj) di jalan Allah. (Idem, hal. 4 – 9)

Keenam pokok ini bila dibaca sepintas lintas tidak ada penyelisihannya terhadap syari’at. Tetapi setelah disaksikan prakteknya secara nyata mereka amalkan dengan pemahaman yang batil.

Sebagai contoh, mereka mengaku mengamalkan kalimat thayyibah dan mengikhlaskan hati, namun bersamaan dengan itu mereka terjerumus dalam praktek kesyirikan, mengadopsi paham kufur “wihdatul wujud” (Allah menyatu dengan alam) dan meyakini Syaikh Shufi dapat memberi barakah serta ilmu laduni. Ini jelas bertolak belakang dengan konsekuensi kalimat “Laa Ilaaha Illallaah”. Semua keyakinan tersebut termaktub dalam kitab rujukan mereka yang berjudul, “Fadho’ilul A’mal” dan “Fadho’ilus Shodaqat“.

Jama’ah Tabligh juga mewajibkan orang untuk bertaqlid, berdakwah tanpa ilmu, menyampaikan cerita khurafat, hadits-hadits palsu dari kitab-kitab rujukan mereka dan mengharuskan “khuruj” (keluar berdakwah) dengan mengkhususkan hari-harinya. Bahkan mereka mencap orang-orang yang tidak mau ikut khuruj dianggap belum berdakwah! Ini jelas bertolak belakang dengan konsekuensi syahadat “Muhammad Rasulullah”.

Lantas bagaimana mungkin dapat meraih kekhusyu’an shalat bila rukun, syarat, wajib, sunnah-sunnah shalat maupun pembatal-pembatalnya tidak pelajari dan diajarkan kepada masyarakat? Bagaimana mungkin dapat berdzikir dengan benar jika kaifiyyahnya (caranya) menyelisihi cara dzikir yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Bagaimana mungkin dapat menghormati kaum Muslimin jika orang-orang yang gigih berpegang dengan sunnah saja mereka cibir?!

Tidak kita nafikan bahwa banyak orang yang tadinya pemabuk kemudian bertaubat setelah ikut khuruj bersama mereka. Akan tetapi sebetulnya pemabuk itu beralih dari kemaksiatan menuju bid’ah dan kesyirikan. Sedangkan bid’ah dan syirik kerusakannya lebih parah dan lebih berbahaya dari maksiat. Syirik melecehkan hak Allah sedangkan bid’ah melecehkan hak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jadi jika ada da’i yang mengaku “Salafy” namun kenyataannya membela Jama’ah Tabligh maka patut dipertanyakan manhajnya dan aqidahnya. Karena yang menjadi patokan hanyalah pemahaman dan pengamalan bukan pengakuan. Tak sedikit orang yang mengaku Salafy akan tetapi dia menyelisihi manhaj Salaf dalam banyak perkara. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umat ini dari bahaya pemahaman beragama yang menyalahi cara beragama Nabi dan para Shahabatnya.

Dahulu Syaikh bin Baz pernah memuji Jama’ah Tabligh tetapi setelah beliau mengetahui kebatilan manhaj dan aqidahnya, kontan beliau berlepas diri dan memperingatkan kaum Muslimin dari bahaya penyimpangan mereka.

Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi berkata, “Jama’ah Tabligh adalah ahlul bid’ah. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al-Qur’an was Sunnah tetapi berdakwah mengajak manusia kepada jalan Muhammad Ilyas!”

Syaikh Shalih Al-Fawzan ketika diisukan rujuk dari tahdzirnya terhadap Jama’ah Tabligh maka beliau berkata, “Apa yang engkau dengar tidaklah benar! Aku mentahdzir (memperingatkan) umat dari bahaya semua kelompok yang menyelisihi manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah!”

Semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada jalan yang diridhai-Nya, wa billahit tawfiq.

Fikri Abul Hasan http://manhajul-haq.blogspot.co.id/2016/01/mengungkap-penyimpangan-jamaah-tabligh.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s