Jihad Melawan Rofidhoh

بسم الله الرحمن الرحيم

Ditulis Oleh: Abu Zakaria Irham bin Ahmad Al-Jawiy
-semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya-
Markiz Ahlissunnah – Darul Hadits Dammaj, 15 Muharram 1433H
Semoga Alloh menjaganya dari segala kejelekan

Darul Hadits Dammaj: Jihad Melawan Rofidhoh

إِنَّ الحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Alloh Subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS. Al Baqoroh:155-157]

Alloh Subhanahu  wa ta’ala berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk syurga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Alloh?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Alloh itu amat dekat.” [QS. Al Baqarah: 214]

Kedua ayat yang agung di atas dan masih banyak ayat-ayat lainnya, jika seorang muslim mentadabburinya, semua musibah yang Alloh timpakan akan terasa ringan dan bahkan bisa berubah menjadi kebaikan dan kenikmatan, bagi orang-orang yang bisa menyikapi musibah itu sesuai dengan tuntunan yang Alloh dan Rosul-Nya tentukan. Oleh karena itulah, Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

«عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ, وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ, إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ».

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, semua perkaranya adalah kebaikan baginya, tidaklah hal ini dijumpai kecuali pada seorang mukmin, jika dia diberi kenikmatan dia bersyukur dan itu adalah kebaikan untuknya, dan jika ditimpa kejelekan, dia bersabar dan itu adalah kebaikan baginya.” [HR. Muslim]

Saudaraku kaum muslimin, semoga Alloh memberikan taufik kepada kita semua, diantara berita yang sedang marak saat ini adalah berita seputar musibah yang menimpa kaum muslimin Ahlussunnah wal jama’ah di Darul Hadits Dammaj. Sebuah tempat yang Alloh Subhanahu  wa ta’ala berikan barokah padanya, sehingga dengan sebabnya tersebar para da’i, penyeru kebenaran di atas bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah di penjuru dunia. Tempat yang sederhana, tapi kebaikan dan jasa-jasanya merata di kalangan manusia.

Namun sayang, sebagian manusia keliru dalam menyikapi musibah yang menimpa saudara-saudaranya di Darul Hadits Dammaj ini. Ada yang bersikap acuh tak acuh, ada yang mencibir dan menyalahkan atau merasa senang dengan penuh kedengkian, ada yang berprasangka buruk dan melontarkan tuduhan yang bukan-bukan, ada yang memanfaatkan kesempatan untuk cari simpati dan ketenaran, ada yang meminta dan menyarankan agar saudara-saudaranya pergi selamatkan diri atau lari dari medan peperangan, serta sikap-sikap lainnya yang jauh dari tuntunan syariat Islam.

Oleh karena itu, penulis sebagai salah satu penuntut ilmu di Darul Hadits di Dammaj dengan memohon pertolongan Alloh berusaha untuk menjelaskan tentang kejadian sebenarnya yang menimpa Darul Hadits ini serta bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap. Semua ini sebagai bentuk nasehat bagi orang yang menginginkan kebaikan dan sebagai pembelaan dari tuduhan-tuduhan keji yang tidak sepantasnya muncul dari seorang muslim kepada saudaranya seiman.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan bisa memberi gambaran yang benar bagi kaum muslimin tentang kejadian yang terjadi di Darul Hadits Dammaj. Teriring dengan doa semoga Alloh Subhanahu  wa ta’ala segera menyingkap musibah ini dan memberikan pertolongan untuk menghancurkan Syi’ah Rofidhoh beserta antek-anteknya, dan agar Alloh berikan kekokohan kepada kita semua dalam menapaki jalan yang haq ini sampai saat-saat terakhir ketika dipanggil untuk menghadap-Nya.

Tidak lupa penulis ucapkan syukur kepada Akh Abu Sholeh Mushlih, Akh Ahmad Rifa’i dan Akh Abu Ayyub Arif serta seluruh ikhwah yang telah membantu tertulisnya risalah ini. Semoga Alloh memberikan balasan yang berlipat atas waktu, tenaga dan harta yang telah mereka sumbangkan.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ, وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ,

وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ, وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا, وَلِسَانًا صَادِقًا,

وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ, وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ,

وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ.
Darul Hadits Dammaj
Pusat Pembelajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah
Bukan Sarang Teroris,
Bukan Pula Jaringan Al-Qo’idah (Alkaida)

Sebelum kita melangkah terlalu jauh, hendaknya diketahui bahwa Darul Hadits Dammaj adalah sebuah pusat pendidikan yang sejak awal didirikan oleh Syaikh Al-Imam Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahulloh ditujukan untuk mengajarkan ilmu agama Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman generasi yang Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam telah memerintahkan segenap manusia untuk mengembalikan pemahaman agamanya kepada mereka. Merekalah para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in serta para imam yang menapaki jejak mereka. Syaikh Muqbil dengan kemapanan ilmu beliau dan keberanian yang Alloh karuniakan kepadanya terus berjalan dengan mantap dan konsisten dengan tujuan yang mulia tersebut.

Merupakan sunnatulloh, bahwa setiap orang yang menyeru di jalan-Nya pasti akan diuji. Demikian pula Syaikh yang mulia ini. Ujian pun berdatangan. Diantara ujian yang terbesar adalah ujian yang datang dari orang-orang yang berpemahaman Syi’ah. Sebab memang Darul Hadits ini berada di tengah-tengah masyarakat yang berpemahaman sesat itu. Salah satu sempalan Syi’ah yang paling bejat adalah Syi’ah Rofidhoh, sebuah kelompok yang dalam sejarah Islam tidaklah mendatangkan kepada kaum muslimin kecuali bala’ dan bencana. Runtuhnya Daulah Islamiyah diantara sebab terbesarnya adalah ulah mereka, sehingga pasukan Tartar bisa masuk dan membantai kaum muslimin saat itu. Kekalahan kaum muslimin di Afghanistan dan Iraq juga salah satu sebabnya adalah Rofidhoh. Sebuah kelompok yang keyakinan-keyakinan mereka sangat bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu, para ulama berfatwa bahwa mereka ini telah keluar dari agama Islam.
Permusuhan Rofidhoh Terhadap Ahlussunnah di Dammaj pada Zaman Syaikh Muqbil rahimahulloh

Jika kita telah tahu di mana Darul Hadits ini berada, tentunya kita tahu pula bagaimana beratnya tantangan yang dihadapi oleh Syaikh Muqbil rahimahulloh dalam dakwah beliau. Namun dengan penuh keberanian dan kesabaran serta keyakinan bahwa Alloh pasti akan menolong, beliau terus menyebarkan dakwah mengajak kepada Islam yang benar dan memperingatkan manusia dari kesesatan Syi’ah dan golongan-golongan lainnya yang menyimpang dari kebenaran.

Waktu pun berganti, manusia yang haus dengan kebenaran dan sudah muak dengan kedustaan-kedustaan Syi’ah pun berduyun-duyun menyambut dakwah yang mulia ini, sehingga dengan pertolongan Alloh, bisa tersebar ke seluruh Yaman, bahkan ke penjuru dunia. Pembaca bisa bayangkan, sebuah dakwah Ahlussunnah berkembang di tengah-tengah pusat Syi’ah. Inilah karomah yang Alloh berikan kepada Syaikh Muqbil, sehingga para ulama pun memuji dan menghormati beliau, sehingga mereka menyebut Syaikh Muqbil sebagai Imam dan Mujaddid (Pembaharu Islam).

Pada periode ini permusuhan yang terjadi sebatas adu hujjah dan lisan, tidak sampai terjadi bentrokan senjata dan kekerasan. Hal ini tidak lain karena kekuatan Syi’ah saat itu yang masih lemah. Sebab kalau mereka punya kekuatan pasti dengan segera bergerak untuk melenyapkan Ahlussunnah.

Syaikh Muqbil rahimahulloh mengatakan: “Diantara perkara yang hendaknya diketahui bahwa Rofidhoh itu seandainya saja berhasil mengalahkan Ahlussunnah -semoga Alloh tidak memberikan kesempatan itu kepada mereka- pasti mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani. Barangsiapa yang ragu dengan perkataan ini, silahkan membaca sejarah tentang Rofidhoh.” (Al-Ilhad Al-Khumainiy fi Ardhil Haromain)
Permusuhan Rofidhoh Terhadap Ahlussunnah di Dammaj pada Zaman Syaikh Yahya Al-Hajuriy -hafidzhahulloh-

Setelah Syaikh Muqbil wafat, beliau mewasiatkan kepada Syaikh Yahya untuk duduk di kursi menggantikan beliau dalam mendidik para penuntut ilmu dan meneruskan dakwah yang beliau rintis. Syaikh Yahya pun dengan konsisten menjalankan wasiat sebaik mungkin. Beliau tapaki jalan yang ditempuh oleh guru beliau tanpa mengganti dan merubahnya. Sebab itulah jalan serta metode yang benar, walaupun konsekuensinya harus dimusuhi banyak orang. Dakwah semakin berkembang dan para penuntut ilmu semakin bertambah, baik dari Yaman maupun mancanegara. Bangunan pun semakin bertambah dan berdesakan. Syaikh Yahya beserta murid-murid senior beliau mendidik dengan kesabaran. Tidak ada di sana latihan kemiliteran tidak pula belajar urusan-urusan perang. Yang ada adalah pengajaran-pengajaran ilmu syariat Islam, baik dengan hafalan, pemahaman maupun pengamalan. Sungguh, penulis telah merasakan sendiri keilmiahan dan keindahan Darul Hadits Dammaj yang sangat sulit untuk bisa ditemui tandingannya di jagat raya pada masa sekarang ini. Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan taufik-Nya kepada penulis untuk bisa duduk menuntut ilmu di Darul Hadits Dammaj dan semoga Alloh memberikan ganjaran yang sebanyak-banyaknya kepada kedua orang tua penulis serta sanak saudara yang dengan sebab mereka, penulis bisa merasakan kenikmatan yang agung ini.
Jihad Pertama Melawan Rofidhoh di Dammaj

Tentunya Syi’ah atau lebih khususnya Rofidhoh sangat geram dan dengki dengan perkembangan dakwah Ahlussunnah ini. Terlebih lagi Syaikh Yahya dan para da’i Ahlussunnah terus berdakwah dan menjelaskan kepada manusia kesesatan-kesesatan mereka dan menyeru untuk kembali kepada kebenaran. Setelah memendam permusuhan dan kemarahan serta merancang rencana bertahun-tahun, juga setelah mereka merasa kuat dengan persenjataan dan bala tentara, akhirnya mereka tunjukkan permusuhan secara terang-terangan dalam bentuk kekerasan. Mereka menyerang Darul Hadits Dammaj dengan peluru dan bom-bom yang telah dipersiapkan. Inilah peperangan pertama kali dengan senjata yang pecah antara Ahlussunnah di Darul Hadits Dammaj dengan orang-orang Rofidhoh yang mereka menamakan dirinya Hutsiyyun (pengikut Husein Badruddin Al-Hutsiy).

Memang di Yaman, selama penulis menuntut ilmu di Darul Hadits, hampir setiap tahun terjadi peperangan, tetapi perang itu terjadi di luar Dammaj sebab Hutsiyyun ini memang berambisi untuk mendirikan negara sendiri terpisah dari Republik Yaman. Namun ternyata usaha untuk menggulingkan kekuasaan itu hanyalah tangga belaka untuk menyampaikan maksud utama mereka yaitu menghancurkan dakwah tauhid Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebab jika pemerintahan telah dikuasai, dengan mudah mereka melaksanakan segala yang mereka maui. Hal ini sebagaimana yang terjadi di Iran dengan pimpinan Al-Khomainy yang merupakan kiblat bagi para Rofidhoh.

Oleh karena itu, dalam pemberontakan mereka yang keenam di Yaman, mereka melancarkan serangannya untuk menguasai Darul Hadits Dammaj yang merupakan sebab perginya banyak manusia meninggalkan agama Syiah yang sangat bertentangan dengan fitroh dan akal sehat. Sungguh tidaklah mengikuti Hutsiyun, kecuali orang ang tidak waras akalnya, tersihir atau tertipu.

Awal kali penyerangan terjadi pada malam 3 Romadhon 1430 yang diarahkan ke daerah bernama Mudawwar dan markas kepolisian Dammaj. Ikhwah Ahlussunnah yang ada di tempat itu sama sekali tidak menyangka akan datangnya serangan dari Rofidhoh. Mereka pun berusaha untuk mempertahankan diri dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Namun karena tidak adanya persiapan dan kurangnya amunisi, mereka harus mundur meninggalkan tempat tersebut.

Setelah menguasai kedua tempat ini orang-orang Rofidhoh terus maju. Tujuan mereka adalah sebuah Madrasah yang letaknya sangat dekat dengan Masjid Darul Hadits. Mereka berkeyakinan bahwa dengan jatuhnya Madrasah ini, Darul Hadits sangat mudah untuk dikuasai. Oleh karena itu pada penyerangan-penyerangan selanjutnya mereka fokuskan kepada Madrasah tersebut.

Tidak boleh tidak, para penuntut ilmu dipimpin oleh Syaikh Yahya s beserta para penduduk Dammaj harus bangkit mempertahankan agama, jiwa dan harta mereka. Tidak ada yang dilakukan kecuali bertahan dengan persenjataan yang ada. Para pelajar yang kesehariannya berkutat dengan Al-Qur’an dan Hadits berubah menjadi singa-singa yang siap berperang sampai titik darah penghabisan. Alhamdulillah, dengan pertolongan Alloh, usaha Rofidhoh tidaklah berbuah kecuali kegagalan dan semakin terbukanya mata manusia tentang kebenaran dakwah dan kemurnian Darul Hadits Dammaj, walaupun dengan sebab itu meninggal beberapa pengajar dan penuntut ilmu serta penduduk asli Dammaj, semoga Alloh menjadikan mereka sebagai syuhada’.

Akhirnya setelah menuai kegagalan demi kegagalan dalam peperangan melawan Ahlussunnah di Dammaj dan setelah merasa lemah, para Hutsiyun itu meminta dengan memelas agar perang dihentikan, baik dengan pemerintah Yaman maupun dengan pihak Darul Hadits, sehingga pada malam Jum’at, 28 Safar 1431, pemerintah pun mengumumkan penghentian peperangan. Perjanjian perdamaian pun ditetapkan dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah yang harus ditaati oleh orang-orang Rofidhoh. Syaikh Yahya pun menyetujui perjanjian damai tersebut, karena memang Ahlussunnah tidaklah menginginkan fitnah dan peperangan. Orang-orang Rofidhoh itulah yang memulai, mereka pula yang dengan hina meminta untuk berhenti. Alloh telah berfirman:

وَإِن جَنَحُواْ لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Alloh. Sesungguhnya Dialah As-Sami’ul ‘Alim (yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui).” (QS. Al-Anfaal: 61)

Selain itu karena Darul Hadits Dammaj bukanlah dibangun sebagai pusat kemiliteran dan Syaikh Yahya lebih mengutamakan kemashlahatan dakwah dan keberlangsungan pengajaran di tempat yang diasuhnya.

Keadaan pun kembali seperti seperti sediakala. Kehidupan ditata lagi dan para penuntut ilmu kembali konsentrasi dalam mewujudkan tujuan mereka, walaupun saat-saat perang mereka tetap menuntut ilmu dan pelajaran Syaikh Yahya tidak pernah berhenti. Tetapi tentunya keadaan damai dan perang sangatlah berbeda.

Sungguh pada jihad yang pertama ini, Rofidhoh benar-benar terpukul dan harus menyadari bahwa Ahlussunnah bukan orang-orang yang lemah. Semua itu tidak lain karena pertolongan Alloh semata.

وَمَا جَعَلَهُ اللّهُ إِلاَّ بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِندِ اللّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Alloh Al-’Aziz Al-Hakim (yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).” [QS. Ali Imron: 126]
Jihad Kedua Melawan Rofidhoh di Dammaj

Hari berganti hari, bulan demi bulan pun berlalu. Keseharian para penuntut ilmu di Darul Hadits tidak berubah, menghafal, memahami dan beramal. Tidak ada kemiliteran dan ketentaraan. Bahkan setelah terjadi perang yang disulut Rofidhoh, dakwah Ahlussunnah semakin pesat berkembang dan manusia terutama pihak pemerintah tahu bahwa Ahlussunnah Salafiyyun bukanlah jamaah yang harus dicurigai. Memang setelah peperangan pertama, para penuntut ilmu Darul Hadits dan para penduduk Dammaj lebih berhati-hati. Tempat-tempat jaga pun diperkuat, karena semuanya yakin bahwa Rofidhoh Hutsiyyun itu pasti akan mengkhianati perjanjian. Itulah ciri utama mereka. Kedustaan dan pengkhianatan merupakan politik andalan dan halal menurut agama mereka. Para pelajar Indonesia diikutkan dalam tugas piket jaga atau perbaikan pos-pos penjagaan. Hal ini sebagaimana para penduduk kampung di Indonesia diwajibkan Pak RT untuk ronda malam dan membangun pos kamling. Hanya saja, kalau di Indonesia pakai pentungan, di sini pakai senapan. Itulah yang bisa kami sumbangkan, sama sekali tidak ada bau teroris sedikitpun yang tercium dari perbuatan para pelajar itu. Mereka adalah penuntut ilmu, tidak ada hubungan sama sekali dengan kelompok Al-Qo’idah (Alkaida) atau Abu Bakar Ba’asyir atau yang lainnya dari kelompok-kelompok yang diduga sebagai pergerakan menentang pemerintah atau kelompok yang meresahkan manusia.

Suasana damai ini berlangsung tidak sampai setahun. Memang orang-orang Rofidhoh itu adalah pengkhianat kelas satu. Dalam masa-masa perdamaian itu mereka tetap saja melancarkan aksi-aksi yang menyakitkan Ahlussunnah. Mereka mendirikan pos jaga tepat di jalan utama menuju Dammaj. Di pos ini mereka melakukan aksi-aksi yang sangat menjengkelkan berupa penggeledahan dan perampasan barang-barang ikhwah yang ingin ke Dammaj atau keluar dari Dammaj. Diantara perbuatan mereka yang dirasakan langsung oleh pelajar Indonesia adalah perampasan kitab-kitab yang akan dikirim oleh beberapa pelajar ke Indonesia dalam jumlah besar. Kemudian hal serupa juga diulangi pada kitab-kitab yang akan dikirim oleh saudara kita bernama Abu Ibrohim Alawiy asal Kalimantan (sekarang mukim di Samarinda ;ed). Bahkan dalam jangka ini mereka membunuh seorang pengajar Mustholah Hadits bernama ‘Adil As-Siyaghi beserta putranya. Demikian pula Akh Yusuf Ash-Shon’aniy, mereka tembak saudara kita ini ketika dia diutus untuk membeli lem karpet yang akan dipasang di masjid Darul Hadits. Selain itu masih banyak kedzoliman mereka yang menunjukkan bahwa perdamaian itu hanyalah politik belaka. Sungguh panas hati ini, tetapi Syaikh Yahya menasehatkan untuk bersabar. Sikap-sikap congkak dan menyakitkan itu terus mereka lakukan dan Syaikh Yahya masih terus bersabar serta menasehatkan para muridnya untuk menahan diri.

Sehingga akhirnya pada awal-awal Dzulhijjah 1432, para Hutsiyyun dengan keras melarang orang-orang untuk masuk Dammaj, bahkan memerintahkan jama’ah haji dari Dammaj untuk kembali. Sejak saat itulah dimulai boikot atau embargo terhadap Darul Hadits Dammaj. Orang-orang Rofidhoh itu menahan manusia masuk ke Dammaj dan menutup jalan masuknya bahan-bahan makanan serta obat-obatan. Dalam keadaan yang seperti ini Syaikh Yahya tetap pada sikapnya yang semula yaitu bersabar. Semua itu tidaklah beliau lakukan kecuali karena kesadaran beliau bahwa apabila Ahlussunnah melakukan serangan, tentu mereka akan berkoar-koar ke seluruh penjuru dunia bahwa Ahlussunnah dipimpin oleh Syaikh Yahya telah melanggar perjanjian damai, sehingga hal ini akan memberikan dampak buruk terhadap dakwah Ahlussunnah.

Ternyata embargo dan penyerangan-penyerangan yang akan datang penjelasannya memang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Sebab, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh kami bahwa para pembesar Hutsiyyun mengadakan pertemuan bersama pemimpin-peminpin Rofidhoh dari Iran di daerah bernama Shohwah kira-kira sebulan atau dua bulan sebelum dilakukannya embargo. Hal ini semakin menjadikan kita yakin bahwa usaha untuk meruntuhkan Darul Hadits Dammaj adalah misi utama Rofidhoh internasional.

Selain melakukan embargo, mereka juga melancarkan tembakan-tembakan dari sniper-sniper (penembak jitu jarak jauh) yang mereka tempatkan di gunung-gunung yang mengelilingi Dammaj. Semua gunung yang ada telah mereka kuasai kecuali gunung Barroqoh dan Qoshobah yang persis di atas perkampungan para penuntut ilmu Darul Hadits Dammaj. Di kedua gunung inilah pertahanan utama Ahlussunnah Dammaj. Oleh karena itu, orang-orang Rofidhoh sangat berambisi untuk menguasai kedua gunung tersebut yang dengannya mereka akan mudah menghancurkan Darul Hadits Dammaj. Pada tahapan ini beberapa ikhwah tertembak, ada yang meninggal dan ada yang masih hidup tapi dengan luka yang menyakitkan. Bahkan wanita dan anak-anak pun mereka jadikan bidikan tanpa rasa malu dan belas kasihan.

Sungguh, ujian yang ada saat ini lebih berat daripada peperangan terdahulu, sebab pada peperangan pertama, kondisi pemerintah Yaman masih kuat, sehingga mereka masih bisa memberikan bantuan persenjataan dan mendukung dengan tembakan tank-tank yang dimiliki, bahkan terkadang dengan bom dari pesawat tempur. Namun saat ini pemerintah sangat lemah. Pemberontakan muncul di berbagai tempat untuk menggulingkan presiden Ali Abdulloh Sholeh. Kekacauan dan pertumpahan darah terjadi di mana-mana. Pengkhianatan para tentara bukan lagi hal yang mengherankan, bahkan khusus untuk propinsi Sho’dah, hampir semua tentara berpihak kepada pemberontak dan bahu-membahu bersama Rofidhoh menjalankan makar dan kerusakan. Dari sinilah, orang-orang Rofidhoh banyak mendapatkan amunisi persenjataan, bahkan mereka memiliki tank-tank yang awalnya adalah milik pemerintah. Belum lagi dengan bantuan-bantuan yang datang dari luar negeri. Jadi, untuk peperangan kali ini, pemerintah tidaklah bisa memberikan bantuan yang berarti bagi Ahlussunnah di Dammaj. Untuk mempertahankan keeksisan pemerintahan saja masih kocar-kacir, bagaimana bisa memberikan bantuan kepada yang lain?! Semoga Alloh menolong mereka dan memberikan taufik-Nya untuk melakukan perbaikan.

Di sisi lain, embargo yang dilakukan orang-orang Rofidhoh merupakan pukulan tersendiri bagi Ahlussunnah di Dammaj. Bagaimana tidak, ribuan manusia yang ada di Darul Hadits semuanya membutuhkan makan; wanita, anak-anak, orang-orang lanjut usia….tidak ada makanan yang masuk, tidak pula obat-obatan. Namun dengan penuh kesabaran, mereka jalani ujian ini. Nasehat-nasehat Syaikh Yahya dalam pelajaran beliau sangat membantu dalam mengokohkan hati dan menambah keimanan. Terlebih lagi dengan doa Qunut Nazilah yang selalu dibaca imam dalam setiap sholat. Kami yakin, pertolongan Alloh itu pasti akan datang. Alloh telah menjanjikan kepada Rosul-Nya bahwa umat ini tidak akan hancur karena kelaparan. Alloh juga telah berfirman:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Alloh-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). [QS Huud: 6]

Dari boikot ini, semakin terasa persaudaraan dan ukhuwah antara para pelajar dengan penduduk asli Dammaj. Sungguh sangat mengharukan jika semua itu ditulis. Semoga Alloh membalas budi baik mereka dengan balasan yang sebanyak-banyaknya. Dalam kondisi seperti ini, pelajaran terus berjalan diiringi dengan tembakan-tembakan dari berbagai penjuru dan rasa lapar yang menusuk perut. Tetapi sebagaimana hadits:

«الْبَرَكَةُ مِنْ الله»

“Keberkahan itu berasal dari Alloh,” [HR. Al-Bukhory: 5639 dari Jabir bin Abdillah ت],

Semua itu kami jalani dengan sabar dan penuh harap akan jalan keluar yang Alloh berikan. Bahkan pada malam hari, para penuntut ilmu masih sempat untuk menggali parit-parit perlindungan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Tidaklah semua itu bisa dilakukan, kecuali semata-mata pertolongan Alloh.

Hal seperti ini berjalan lebih dari sebulan dan Syaikh Yahya masih terus menasehatkan untuk bersabar. Telah banyak permintaan dari kabilah-kabilah luar Dammaj agar diijinkan menyerang orang-orang Rofidhoh dan membuka embargo yang mereka lakukan. Syaikh tetap menasehatkan untuk bersabar.

Dalam periode embargo ini, para Rofidhoh berusaha dengan taktik serta tipu muslihat mereka untuk bisa mendapatkan gunung Barroqoh. Mereka menyangka bahwa tekanan-tekanan yang berupa penembakan dari berbagai arah dan embargo bahan makanan bisa melemahkan Ahlussunnah di Dammaj sehingga bisa memberikan apa saja yang mereka inginkan. Setelah tekanan semakin kuat dan keadaan para penuntut ilmu semakin memprihatinkan, Syaikh Yahya mulai berbicara tentang kedzoliman-kedzoliman yang dilakukan Rofidhoh dan perbuatan-perbuatan mereka yang tidak berperi kemanusiaan di majlis beliau yang disebar ke seluruh dunia. Dan setiap Syaikh berbicara keras pasti setelahnya datang utusan sebagai juru damai kedua belah pihak. Syaikh pun sambut seruan perdamaian itu, karena memang dakwah ahlussunnah dibangun diatasnya dengan melihat kemashlahatan yang besar padanya baik bagi dakwah maupun bagi para pelajar dan penduduk dammaj. Berulang kali perundingan dilakukan, tetapi semua itu tidaklah membuahkan hasil, kecuali semakin jelasnya tujuan yang diinginkan orang-orang Rofidhoh. Dalam setiap perundingan mereka berusaha terus agar Ahlussunnah Dammaj turun meninggalkan gunung Barroqoh. Ketika itulah embargo baru bisa dibuka. Itu janji mereka dalam setiap perundingan. Apakah yang mereka inginkan dari gunung batu itu? Tidak lain adalah karena dengan dikuasainya gunung berarti tamatlah riwayat Darul Hadits di Dammaj.

Sungguh sangat dangkal pemahaman orang yang berkomentar bahwa peperangan ini karena sekedar rebutan gunung. Anak-anak kecil di sini pasti akan menertawai orang yang mengatakan seperti ini. Ketahuilah bahwa tidaklah gunung itu kecuali alasan dan tangga belaka untuk mencapai tujuan utama mereka.

Setelah usaha mereka agar Ahlussunnah turun dari gunung Barroqoh tidak membuahkan hasil, bahkan Syaikh Yahya didukung oleh segenap kabilah Wadi’iy dan Hamdan menetapkan dengan tegas bahwa Ahlussunnah tetap akan berjaga di gunung Barroqoh, sebab gunung itu ada di wilayah mereka dan tepat di atas perkampungan mereka. Apa hak para Hutsiyyun itu sehingga para Ahlussunnah harus memenuhi kemauan mereka? Syaikh dengan lantang berkata: “Semua perundingan itu tertolak! Terserah kalian, silakan kalian lakukan apa yang ingin kalian lakukan, silakan embargo semau kalian, kami akan tetap pada sikap kami..!

Penting untuk diketahui bahwa semua perundingan itu bukanlah pihak Ahlussunnah yang memintanya. Sebab memang Alloh telah melarang kaum muslimin untuk merendahkan diri-diri mereka di hadapan musuh. Alloh telah berfirman:

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَن يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

“Janganlah kalian merendahkan diri (kepada musuh) dan minta damai padahal kalianlah yang di atas dan Alloh pun bersama kalian (dengan pertolongan dan penjagaan), dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi pahala amal-amal kalian.” (QS. Muhammad: 35)

Akhirnya pada hari Sabtu, 1 Muharrom 1433 di waktu Dhuha kami dikejutkan dengan serangan besar-besaran dari pihak Rofidhoh. Mereka luncurkan mortar-mortir berat mereka ke gunung Barroqoh disusul dengan hujan peluru yang tersembur dari moncong senapan-senapan mereka. Ikhwah yang ada di bawah, tidak bisa melakukan apa-apa kecuali siap siaga dan terus berdo’a kepada Alloh agar memberikan pertolongan kepada saudara-saudara mereka yang ada di gunung. Keadaan seperti ini berlangsung sampai Dhuhur, kemudian mereda sejenak. Selepas Asar, serangan semakin gencar dan tembakan-tembakan tidak terhenti. Orang-orang Rofidhoh itu berusaha dengan  pasukan mereka dalam jumlah yang besar untuk naik gunung Barroqoh, karena memang mereka telah menargetkan untuk menguasai gunung di waktu Ashar. Saat itu, ikhwah yang ada di bawah tidak bisa naik untuk memberikan bantuan karena peluru-peluru mereka terus berdesingan mencari mangsa. Namun Alhamdulillah dengan pertolongan Alloh dan kekuatan yang Dia berikan kepada ikhwah yang berjaga di gunung, usaha orang-orang Rofidhoh itu bisa digagalkan. Mereka mundur dan lari tunggang langgang mencari keselamatan. Perasaan senang dengan terjaganya gunung, sedih dan marah serta khawatir bercampur menjadi satu. Terlebih lagi ketika sampai berita bahwa pelajar Indonesia yang sedang bertugas jaga di gunung terbunuh dan sebagiannya terluka dalam peperangan itu. Mereka adalah saudara kita yang mulia: Abu Haidar dan Sholeh –rohimahumalloh-, semoga Alloh menerima amalan mereka dan menggabungkan mereka bersama para Nabi dan Shiddiqin serta Syuhada’. Adapun saudara kita ‘Abdul Hadi, Alhamdulillah bisa diselamatkan dan sampai sekarang masih dalam perawatan, semoga Alloh memberikan kesembuhan dan menerima amalan-amalannya.

Sepanjang serangan besar itu, masjid pun dialihkan ke ruang bawah yang semula digunakan sebagai asrama santri. Selepas sholat Maghrib, Syaikh Yahya dengan penuh keyakinan dan keberanian menyerukan untuk berjihad melawan orang-orang Rofidhoh. Beliau jelaskan bahwa pihak Ahlussunnah telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari fitnah. Kesabaran yang panjang itu tidaklah dibalas orang-orang Rofidhoh kecuali dengan kedzoliman dan kecongkakan. Berulang kali perjanjian mereka ingkari, persetujuan-persetujuan yang telah disepakati pun mereka nodai. Bahkan pada hari itu, mereka dengan besar-besaran telah melakukan penyerangan ke pihak Ahlussunnah. Maka tidaklah ada pilihan lain, kecuali bangkit dan kobarkan jihad. Syaikh menyeru kepada seluruh muslimin yang masih punya kepedulian dengan saudara-saudaranya untuk membantu sebisa mungkin walau dengan doa. Tidak ada sama sekali dari Syaikh Yahya penyebutan Al-Qa’idah (Alkaeda) ataupun kelompok-kelompok yang sejenis dengan mereka, karena kita semua tahu bahwa kelompok-kelompok itu tidaklah menambah kecuali kelemahan. Alloh telah berfirman:

لَوْ خَرَجُواْ فِيكُم مَّا زَادُوكُمْ إِلاَّ خَبَالاً ولأَوْضَعُواْ خِلاَلَكُمْ يَبْغُونَكُمُ الْفِتْنَةَ وَفِيكُمْ سَمَّاعُونَ لَهُمْ وَاللّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

“Jika mereka berangkat bersama-sama kalian (ke medan jihad), niscaya mereka tidak menambah kalian kecuali kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisan kalian, untuk mengadakan kekacauan di antara kalian; sedang di antara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Alloh mengetahui orang-orang yang dzolim.” [QS. Qt-Taubah: 47]

وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang dzolim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, dan sekali-kali kalian tidaklah mempunyai seorang penolongpun selain Alloh, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” [QS. Huud:113]

Inilah ulasan singkat tentang jihad yang sedang terjadi di Darul Hadits Dammaj antara Ahlussunnah wal jama’ah yang dibimbing oleh Syaikh Yahya Al-Hajuriy melawan kedzoliman dan kebiadaban orang-orang Rofidhoh Hutsiyyun, semoga Alloh hancurkan mereka. Sampai saat buku ini ditulis perjuangan masih terus berlanjut dan embargo belum juga terbuka. Hampir tiap hari mortir-mortir mereka jatuhkan dan para penembak jitu mereka terus mencari korban.

Karena banyaknya korban yang ditimbulkan oleh para penembak jitu itu, maka pihak Ahlussunnah berusaha untuk mengusir mereka dari tempat-tempat persembunyian yang mereka gunakan. Akhirnya pada fajar 13 Muharram beberapa pelajar dengan izin Syaikh Yahya menyerang tempat mereka. Dalam pertempuran inilah dua saudara kita yang mulia meninggal; Akh Muhammad Amin dan Akh Adam –rohimahumalloh-. Sungguh beruntung orang yang mengakhiri kehidupannya di medan tempur melawan musuh-musuh Alloh. Semoga Alloh menjadikan mereka sebagai syuhada’.

Entah sampai kapan ujian ini akan berakhir, hanya kepada Allohlah kami mengharapkan pertolongan, kesabaran dan jalan keluar serta kekokohan iman.

Sungguh sangat menyakitkan ketika kami di sini dalam kondisi seperti ini tiba-tiba ada orang-orang yang berusaha mengelabuhi massa dan memutarbalikkan fakta serta memanfaatkan keadaan untuk kepentingannya. Kami katakan: “Jika kalian memang enggan untuk membantu, maka diamlah dan urus diri-diri kalian sendiri. Sungguh perbuatan kalian ini sangat membahayakan kalian sendiri dan akibatnya pasti akan kalian rasakan, baik di dunia ini atau kelak di akherat. Alloh telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kalian jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Maidah: 8]

Alloh juga telah berfirman:

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43)

Oleh karena itu, dari ulasan singkat di atas penulis ingin tekankan beberapa hal sebagai berikut agar orang-orang yang berakal mengetahui hakekat sebenarnya jihad yang sedang berlangsung dan mengetahui kebatilan-kebatilan yang disebar para hizby pendengki:
Darul hadits Dammaj sejak awal bukanlah tempat yang didirikan untuk latihan kemiliteran ataupun persiapan jihad dengan senjata.
Pihak Darul Hadits Dammaj telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari pecahnya perang. Bukan kerena takut, akan tetapi demi kemaslahatan yang dipandang lebih besar dan utama.
Pihak Darul Hadits adalah pihak yang terdzolimi dan tidaklah mereka melakukan perlawanan kecuali untuk membela diri dan mempertahankan agama, jiwa, kehormatan serta harta mereka.
Jihad yang berkecamuk saat ini bukan karena perebutan gunung batu Barroqoh sebagaimana dituduhkan oleh para pendengki, akan tetapi ketahuilah bahwa orang-orang Rofidhoh itu menginginkan hancurnya Ahlussunnah. Bahkan mereka mengedepankan penghancuran Ahlussunnah yang mereka sebut dengan ‘Wahhabiyyah’ daripada Yahudi dan Nashrani. Hal ini sebagaimana dinyatakan sendiri oleh salah seorang pemimpin mereka bernama Yasir Al-Habib: “Sesungguhnya pembebasan Haramain (Makkah dan Madinah) yang mulia dari tangan-tangan Wahhabiyyah lebih didahulukan daripada pembebasan Masjidil Aqsho dari tangan-tangan Yahudi.” (lihat kitab: Khothorur Rofidhoh).

Syaikhul Islam rahimahulloh berkata: “Sesungguhnya Rofidhoh itu adalah pembantu orang-orang musyrikin, Yahudi dan Nashrani dalam memerangi kaum muslimin.” (Al-Fatawa: 28/ 527)

Sungguh orang yang berkata seperti ini tidaklah paham sama sekali dengan aqidah Rofidhoh dan bahaya mereka. Perkataan ini sangat mirip dengan perkataan si Qordhowy -semoga Alloh jauhkan kaum muslimin dari kejelekannya- bahwa perang di Palestina melawan Yahudi semata-mata karena perebutan tanah.
Darul Hadits Dammaj tetap konsisten dengan ilmu, bahkan waktu perang berkecamuk, majelis ta’lim tetap berjalan.
Darul hadits Dammaj sama sekali tidak meminta bantuan pertolongan dari para hizbiyyun semisal Al-Qo’idah (Alkaida) atau Jama’ah Jihad. Bahkan Syaikh dengan keras memperingatkan manusia dari kelompok-kelompok pembuat kerusakan itu.
Pihak Darul Hadits bukanlah pihak yang meminta damai setelah pecahnya jihad. Sebab Alloh telah melarang yang demikian itu dan Dia menjanjikan kemenangan bagi para pembela agama-Nya. Oleh karena itulah mereka dengan sabar dan penuh tawakkal jalani jihad ini. Hanya ada dua pilihan; kemenangan atau mati di medan jihad yang penuh dengan kemuliaan.
Sumbangsih dari pelajar Indonesia dalam membantu mempertahankan tempat di mana mereka menimba ilmu adalah perkara yang wajar bahkan merupakan suatu kewajiban. Tidaklah mengingkarinya, kecuali orang yang tidak tahu hukum syariat atau memang dirinya ada penyakit.
Penjelasan Singkat bahwa Orang-orang Rofidhoh Seluruhnya Kafir

Rofidhoh adalah kelompok sempalan Syi’ah yang ekstrim. Kelompok ini memiliki aqidah yang sangat bertentangan dengan Islam. Sebagaimana kebiasaan ahlul batil, Rofidhoh terpecah-pecah menjadi berbagai kelompok, diantaranya: Al-Jarudiyah, Al-Imamiyah, Al-Itsna Asyariyah dan kelompok-kelompok yang lain. Adapun Rofidhoh Hutsiyyun di bawah pimpinan Husain bin Badruddin Al-Hutsiy yang menyerang Darul Hadits Dammaj termasuk dalam madzhab Al-Itsna ‘Asyariyah. Sebuah madzhab yang dibangun di atas syirik dan kekufuran yang sangat jelas.

Syaikhul Islam t mengatakan: “Dasar aqidah Rofidhoh adalah: bahwa Nabi telah menunjuk Ali dengan pasti untuk meminta udzur, dan bahwa Ali adalah Imam yang ma’sum. Siapa saja yang menyelisihinya berarti telah kafir. Mereka juga berkeyakinan bahwa para Muhajirin serta Anshor telah merahasiakan keputusan  (yang ditetapkan Nabi) itu dan telah mengkafiri keimaman Ali yang ma’sum dan mengikuti hawa nafsu serta merubah agama ini dan mengganti syariat. Mereka (para Muhajirin dan Anshor) telah berbuat dzolim, bahkan telah kafir, kecuali sebagian kecil saja, sekitar belasan atau lebih. Mereka juga mengatakan bahwasanya Abu Bakar dan Umar serta para shahabat yang seperti mereka berdua adalah munafik. Atau terkadang mengatakan bahwa mereka itu (Abu Bakar, Umar, dll) awalnya beriman kemudian menjadi kafir.

Kebanyakan orang-orang Rofidhoh mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi perkataan mereka dan menamakan kelompoknya sebagai mukminin. Barangsiapa yang menyelisihinya berarti kafir. Mereka juga menganggap bahwa negeri-negeri Islam yang tidak tersebar di sana aqidah Rofidhoh, sebagai negeri murtad…” (Majmu’ Fatawa: 3/356)

Inilah dasar aqidah agama Rofidhoh, sebuah aqidah kekufuran yang sangat nyata. Bahkan untuk Rofidhoh yang ada pada zaman ini, lebih besar dan lebih parah kekufurannya daripada pendahulu-pendahulu mereka. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdullathif Alu Syaikh rahimahulloh dalam perkataan beliau:

“Keadaan Rofidhoh zaman ini lebih buruk dan mengerikan daripada Rofidhoh terdahulu, karena mereka di samping ghuluw terhadap wali-wali dan orang-orang sholeh dari kalangan ahlul bait dan yang selainnya, mereka juga berkeyakinan bahwa orang-orang tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat dan madhorot, baik dalam keadaan genting maupun dalam keluasan. Mereka juga berkeyakinan bahwa semua itu adalah sesuatu yang bisa mendekatkan diri kepada Alloh dan merupakan agama yang mereka beragama dengannya. Barangsiapa yang ragu-ragu tentang kekafiran mereka padahal keadaan mereka seperti ini, maka dia adalah seorang yang jahil dengan hakekat agama yang dibawa oleh para Rosul dan diturunkan untuknya kitab-kitab. Oleh karena itu, orang yang seperti ini hendaknya mengoreksi kembali agamanya sebelum ajal menjemput.” (Ad-Duror As-Saniyyah, jilid 9, hal. 461)

Syaikh Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh rahimahulloh berkata: “Orang-orang Rofidhoh pada zaman ini adalah orang-orang yang murtad (dari agama islam). Mereka adalah penyembah berhala.” (Majmu’ Fatawa beliau no. 2038)

Masih banyak lagi ucapan-ucapan ulama lainnya yang menyatakan bahwa orang-orang Rofidhoh adalah kafir dan bukan termasuk kelompok Islam. Rofidhoh adalah agama tersendiri. Keadaan mereka seperti keadaan Yahudi, Nashrani, Budha dan agama-agama lainnya, yang sangat jelas kekafirannya. Sehingga para ulama menyatakan bahwa semua yang berkeyakinan Rofidhoh itu kafir, baik da’i maupun para pengikutnya.
Jihad Ahlussunnah di Darul Hadits Dammaj
Adalah Jihad Syar’i

Alloh Subhanahu  wa ta’ala telah berfirman:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, dalam keadaan belum nyata bagi Alloh orang-orang yang berjihad diantara kaliandan belum nyata orang-orang yang sabar?!” (QS. Ali Imron: 142)

وَقَاتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلاَ تَعْتَدُواْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبِّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Alloh orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah: 190)

Citra dan Kemulian Jihad yang Ternodai

Perkara jihad adalah perkara yang agung dan mulia dalam Islam. Akan tetapi merupakan perkara yang sangat disayangkan ketika seorang muslim mendengar kata “jihad”, dia merasa pobi dan pikirannya langsung terarah pada para teroris yang membuat kerusakan dan keresahan. Semua ini tidak lain karena banyaknya orang atau kelompok yang mengatas-namakan perbuatan mereka dengan jihad. Padahal hakekat sebenarnya adalah “fasad” (kerusakan). Terlebih lagi para petugas keamanan dan orang-orang yang duduk di pemerintahan, kata jihad bagi mereka identik dengan perbuatan-perbuatan yang dilakukan Imam Samudra, Amrozi dan orang-orang semisal mereka.

Oleh karena itu, ketahuilah wahai saudara-saudaraku kaum muslimin, semoga Alloh memberikan taufik-Nya kepada kita semua, bahwa jihad adalah bagian dari agama ini. Akan tetapi yang dimaksudkan adalah jihad yang berjalan di atas tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah di bawah bimbingan ulama Ahlussunnah. Bukan jihad model para teroris yang dibangun di atas kebodohan dan hawa nafsu yang membuat masyarakat resah. Jadi, hendaknya kaum muslimin membedakan antara jihad yang sesungguhnya dengan jihad yang sekedar slogan belaka.
Jihad di Darul Hadits Dammaj
Adalah Jihad yang Sesuai Syariat

Setelah kita lewati penjelasan bahwa Rofidhoh itu kafir, maka jelas pulalah bahwa memerangi mereka adalah perkara yang disyariatkan dalam agama Islam yang mulia ini.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Jahannam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. At-Taubah: 73)

Terlebih lagi jika merekalah yang memulai menyerang dan mendzolimi serta bertujuan untuk menghancurkan kaum muslimin dan memadamkan dakwah tauhid. Sebagaimana yang dilakukan Rofidhoh Hutsiyyun pada Ahlussunnah di Darul Hadits Dammaj. Maka sangatlah jelas bahwa memerangi mereka dalam keadaan seperti ini adalah jihad.

Tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa jihad yang sedang berkobar di Darul Hadits Dammaj merupakan jihad yang dimaksudkan oleh syariat. Hal ini sebagaimana diserukan oleh Syaikh kami Yahya Al-Hajuriy s dalam majelis beliau.

Perlu diketahui, bahwa jihad itu ada dua macam. Pertama jihad at-tholab, yaitu dengan menyerang ke tempat-tempat musuh di markas mereka. Jihad bentuk ini hukumnya fardhu kifayah dan memiliki aturan-aturan serta syarat-syarat tertentu. Jihad yang kedua adalah jihad ad-daf’i, yaitu jihad dalam usaha membela diri dan agama dari serangan musuh-musuh Alloh. Jihad bentuk ini hukumnya fardhu ‘ain dan tidak ada syarat-syarat tertentu padanya, kapan saja terjadi penyerangan yang dilakukan orang-orang kafir maka wajib bagi kaum muslimin di tempat tersebut untuk bangkit  mempertahankan agama, jiwa dan harta benda. Sampai-sampai para perempuan pun diwajibkan untuk membela diri jika memang keadaan menuntut yang demikian itu.

Jihad yang kedua ini seperti jihad yang dilakukan Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersama para sahabatnya pada perang Khondaq. Demikian pula keadaan yang terjadi di Darul Hadits Dammaj. Keadaan mereka sangat mirip dengan kisah perang  Khondaq dimana musuh datang dari berbagai penjuru dengan kekuatan besar dan jumlah yang berlipat. Dan jihad yang seperti ini adalah seutama-utama jihad.

Imam Al-’Izz bin Abdissalam rahimahulloh berkata: “Setelah diketahui pentingnya jihad, disyariatkanlah jihad Ad-daf’i dan jihad Ath-tholab. Dan jihad ad-daf’i itu lebih utama dari jihad ath-tholab.” [Al-Qowa’id Ash-Shugro 1/ 142]

Bahkan untuk para Rofidhoh Hutsiyyun, selain mereka menganut keyakinan-keyakinan yang telah disebutkan di depan, mereka juga pemberontak kepada pemerintah yang dengannya terkena hukum-hukum Khowarij yang Rosululloh  shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda tentang mereka:

«فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ, فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ الله يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

“Apabila kalian menjumpai mereka maka perangilah mereka, karena dalam peperangan melawan mereka itu ada pahala di sisi Alloh bagi orang-orang yang memerangi mereka pada hari kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Ibnul Qoyyim t berkata: “Adapun jihad melawan kuffar dan munafiqin itu ada empat tingkatan: dengan hati, lisan dan harta serta jiwa. Jihad melawan orang-orang kafir lebih dikhususkan dengan tangan sedang jihad melawan orang-orang munafiq lebih dikhususkan dengan lisan.”

Inilah empat tingkatan yang masing-masing kita memilih bagi dirinya tingkatan mana yang dia mampui. Dan berhati-hatilah, jangan sampai dirimu luput dari dari keempat-empatnya karena Nabi kita yang mulia  shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ, مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ»

“Barangsiapa mati dalam keadaan belum pernah berperang (melawan musuh-musuh Alloh) dan belum pernah terbetik dalam hatinya untuk melakukannya maka dia mati di atas cabang kemunafikan.”(HR. Muslim)
Berkatalah Haq,
Kalau Tidak, Diamlah!

Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَإِذَا شَهِدَ أَمْرًا فَلْيَتَكَلَّمْ بِخَيْرٍ أَوْ لِيَسْكُتْ»

“Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir jika dia menyaksikan suatu perkara maka hendaknya berkata yang baik atau (jika tidak) hendaknya dia diam.” [Muttafaqun ‘alaih dan lafadz di atas adalah lafadz Muslim]

Inilah tuntunan Islam dalam menyikapi peristiwa yang ada di muka bumi. Hendaknya seorang muslim tidak berkomentar kecuali dengan ilmu bahwa yang dia katakan adalah benar. Sebab kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas perkataan-perkataan tersebut.

Sungguh bijak perkataan Syaikh kami Yahya Al-Hajuriy dalam salah satu pelajaran beliau:

«جَزَى اللهُ خَيْراً مَنْ تَكَلَّمَ بِعِلْمٍ أَوْ سَكَتَ بِحِلْمٍ, يُرِيْحُ وَيَسْتَرِيْحُ«

“Semoga Alloh memberi balasan kebaikan bagi orang yang berbicara dengan ilmu atau diam dengan sopan. (Dengannya dia) akan membuat orang nyaman dan dia sendiri pun tenang.” (Catatan kumpulan faedah dari pelajaran beliau)

Akan tetapi yang namanya syaithon, selalu saja cari celah untuk bisa menutup kebenaran atau paling tidak mencoreng nama baik para pengembannya. Demikian pula dalam peperangan yang terjadi di Darul Hadits Dammaj ini. Masing-masing berkomentar yang kalau seandainya saja mereka mau diam, tentu lebih selamat baginya.

Berikut ini kebatilan-kebatilan yang disebar dari berbagai pihak yang masing-masing ingin menyalurkan misi golongannya[1]. Semoga Alloh menunjukkan kita semua pada kebenaran.
Pernyataan si Pandir dari Malang (budak suruhan Luqman ba’abduh asal kota malang bernama Abdul Ghofur, para thullab dammaj memanggilnya (diantaranya Abu Fairuz) ” si Keledai Bersepatu Merah Jambu” lantaran selalu ‘bersolek’ dengan identitas palsu (majhul) agar ketika dibantah, ummat tidak mengetahui siapa dia, walaupun akhir-akhir ini sudah jarang bersolek dengan melepas sepatu merahnya -agar dikatakan jantan-, hanya saja kepandirannya masih melekat! ;ed) bahwa pihak Ahlussunnah yang dipimpin Syaikh Yahya adalah pihak yang mengingkari perjanjian damai.

Sungguh ini adalah kedustaan yang sangat nyata dan tuduhan yang sangat keji. Entah orang ini tahu atau tidak apa yang telah diomongkannya berasal dari siapa, atau dia hanya asal terima saja dari orang-orang yang mentalqinnya. Ketahuilah bahwa tuduhan ini adalah pernyataan yang disebar oleh pihak Rofidhoh untuk membenarkan tindakan mereka yang tidak berperikemanusiaan kepada Ahlussunnah di Dammaj. Syaikh Yahya pun telah membantah kedustaan ini di majelis beliau. Sungguh sangat tidak masuk di akal jika orang yang masih punya akal sehat membenarkan pernyataan tersebut, terlebih lagi orang yang sedikit punya bekal ilmu hadits. Sebab para ulama telah sepakat bahwa berita-berita dari Rofidhoh itu tertolak dan tidak bisa dijadikan patokan. Bagaimana mereka bisa dipercaya jika kedustaan adalah senjata mereka?!I

Imam Asy-Syafi’iy rahimahulloh berkata: “Aku tidak tahu satupun dari para pengikut hawa nafsu yang lebih parah kedustaannya dalam bersaksi dari Rofidhoh.”

Dalam penjelasan yang lalu telah jelas bahwa Rofidhohlah yang terus mengingkari dan melanggar perjanjian damai. Jadi tidak perlu kita ulangi lagi di sini.
Pernyataan website http://www.arrahmah.com (baca disini ” Ahlussunnah berlepas diri dari Al-Qaeda” ;ed) bahwa kaum salafy Darul Hadits Dammaj telah meminta bantuan kepada mujahidin Al-Qo’idah (Alkaida) yang ada di Semenanjung Arab yang juga bermarkas di Yaman dalam peperangan ini.

Telah lewat ulasan singkat bahwa dalam perang ini Darul Hadits Dammaj sama sekali tidak minta pertolongan kepada Al-Qo’idah (Alkaida). Bahkan sangat sering Syaikh Yahya memperingatkan manusia dari kelompok ini. Berkali-kali beliau ditanya: “Bagaimana sikap yang benar jika kelompok tersebut masuk di suatu desa?” Maka beliau menegaskan agar penduduk mencegahnya, jangan sampai mereka masuk. Sebab mereka tidaklah mendatangkan kebaikan sama sekali, bahkan kerusakanlah yang akan ditemui.  Beliau juga menjuluki kelompok yang mengklaim dirinya sebagai jama’ah jihad ini dengan sebutan jama’ah fasad (kelompok yang membikin kerusakan). Beliau juga berkali-kali menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Al-Qo’idah (Alkaida) ini hanya memadhorotkan Islam dan kaum muslimin. Mereka ini tidaklah pantas sama sekali untuk disebut sebagai mujahidin. Bahkan beliau berkata:

«جماعة الجهاد قوم حمقاء»

“Jama’ah Jihad adalah kaum yang dungu.“

Memang Al-Qo’idah (Alkaida) bermusuhan dengan Rofidhoh dan beberapa kali terjadi bentrokan antara keduanya. Namun semua itu tidaklah berarti bahwa Ahlussunnah bekerja sama dengan mereka.

Tidaklah pantas kita katakan untuk orang-orang yang menuduh adanya permintaan bantuan ini kecuali perkataan Ibnu Umar kepada Qodariyyah:

«فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّى بَرِىءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّى»

“Jika engkau bertemu dengan mereka, kabarkanlah bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka itu berlepas diri dariku.” [HR. Muslim]

Sungguh sikap mereka ini sangat cocok dengan firman Alloh:

. لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُواْ بِمَا لَمْ يَفْعَلُواْ فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (QS. Ali Imron: 188)
Perjuangkanlah Islam dengan Cara Islam !

Merupakan perkara yang dituntut dari seorang muslim untuk peduli dengan keadaan saudaranya se-Islam. terlebih lagi jika saudaranya ditimpa bencana yang berasal dari musuh-musuh Islam. Maka sudah tentu wajib baginya untuk memberikan bantuan kepada saudaranya itu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Hal ini sebagaimana yang dibimbingkan oleh Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ, إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى».

“Permisalan orang-orang yang beriman dalam saling cinta-mencintai, saling menyayangi dan mengasihi seperti badan yang satu, jika salah satu anggota badan merasa sakit maka seluruh tubuhnya ikut merasakannya dengan tidak tidur dan demam.” [Muttafaq ‘alaih]
Demontrasi Adalah Kemaksiatan, Bukan Jalan Keluar

Akan tetapi, sangat disayangkan banyak kaum muslimin tidak tahu bagaimana cara yang benar dalam usaha membantu saudara-saudara mereka. Demikian pula dengan peristiwa yang menimpa Ahlussunnah di Dammaj. Hal ini tidak lain karena jauhnya mereka dari bimbingan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar. Telah sampai kepada kami berita adanya demontrasi yang dilakukan oleh mahasiswa Islam Jakarta pada awal-awal Muharram sebagai aksi solidaritas menuntut pembubaran kedutaan besar Iran di Jakarta. Ketahuilah, semoga Alloh menurunkan pertolongan-Nya kepada kita, bahwa Alloh dan Rosul-Nya telah menjelaskan hal-hal yang dengannya Islam diperjuangkan dan bisa mencapai kejayaan. Tidaklah mungkin perjuangan seseorang atau kelompok bisa memberikan hasil yang diinginkan kecuali dengan menempuh metode yang telah Alloh dan Rosul-Nya tentukan itu.

Adapun demontrasi yang sekarang banyak ditempuh oleh kelompok-kelompok yang mengklaim dirinya sebagai pejuang Islam, sama sekali cara ini tidaklah bersal dari Islam. Agama yang mulia ini berlepas diri dari cara yang demikian itu. Seandainya saja mereka mau mengembalikan perkaranya kepada Al-Quran dan As-Sunnah di atas bimbingan para ulama, tentu hasilnya akan lebih baik dan bermanfaat. Sehingga tenaga dan harta serta jiwa pun tidak akan hilang sia-sia begitu saja.

Sungguh banyaknya demontrasi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam itu merupakan musibah tersendiri yang sangat memprihatinkan. Tidakkah mereka sadar bahwa dengan demontrasi, berarti mereka telah mengikuti orang-orang kafir yang semua ini merupakan sebab terbesar kekalahan dan kemunduran Islam?!

Syaikh Muqbil rahimahulloh mengatakan: “Demontrasi-demontrasi adalah bentuk taqlid kepada musuh-musuh Islam.” (Ghorotul Asyrithoh)

Lihatlah fitnah yang terjadi di Yaman, pemberontakan terakhir yang dipelopori oleh IM (Ikhwanul Muslimin), apakah membuahkan kebaikan?! Mereka mengajak laki-laki dan perempuan untuk turun di jalan-jalan berdemo menuntut turunnya presiden. Penjarahan terjadi di mana-mana. Kehormatan muslim dan muslimah pun dilanggar. Dan masih banyak kerusakan-kerusakan lainnya yang tidak terkira besarnya. Semua ini apa yang mereka perjuangkan? Islamkah?! Tidak sama sekali! Kursi dan kekuasaan, itulah tujuan mereka. Karena itu, ketika mereka merasa kuat, mereka terjang semua aturan syariat demi tercapai tujuan. Bahkan, yang semakin memprihatinkan, semua pelanggaran syariat ini mereka lakukan demi memperjuangkan duduknya seorang wanita hasil keluaran pendidikan barat di atas kursi kepresidenan. Tidaklah peperangan yang terjadi di Dammaj, kecuali salah satu dampak pemberontakan IM dan mereka punya andil besar di dalamnya. Semoga Alloh hancurkan musuh-musuh Islam dan orang-orang yang membantu mereka.

Sungguh benar perkataan Syaikh Muqbil rahimahulloh tentang IM: “Mereka itu rela untuk tolong-menolong bersama syaithon, demi menghancurkan Ahlussunnah.”

Demikian pula perkataan Syaikh kami Yahya Al-Hajuriy s: “IM adalah pengkhianat dalam berbagai peperangan. Tidaklah orang-orang Rofidhoh itu, kecuali sebagai tangga saja.”

Beliau juga dengan terang-terangan menantang semua orang yang menyatakan bahwa demontrasi  ada dalam syariat Islam dalam perkataan beliau: “Kami tuntut orang-orang yang mengatakan bolehnya demontrasi untuk mendatangkan ratusan ulama mereka dan saya akan membantah mereka sendirian. Mereka tidaklah punya hujjah sedikitpun dalam perkara demontrasi ini.” (lihat kitab: Al-Mudhoharot wa maa Tadhommanahu minal Faudho wal Mawasid wan Naqomat, hal. 21)

Syaikh Sholeh Al-Fauzan s mengatakan: “Agama kita bukanlah agama kerusuhan, agama kita adalah agama yang teratur dan penuh ketenangan. Demontrasi-demontrasi itu sama sekali bukan amalan kaum muslimin. Kaum muslimin tidaklah mengenal demontrasi yang demikian itu. Agama Islam adalah agama yang tenang dan penuh rahmat… Demontrasi-demontrasi itu telah mengakibatkan fitnah yang banyak, pertumpahan darah dan hilangnya harta benda. Maka dengan ini tidaklah diperbolehkan untuk berdemontrasi.” (Asilatul Manahij Al-Jadidah, hal. 232-233)

Syaikh Sholeh Al-Luhaidan s mengatakan: “Demontrasi yang tersebar di dunia Islam saat ini merupakan kerusakan di muka bumi, bukan merupakan perbaikan…Demontrasi menghalangi manusia dari dzikir kepada Alloh, bahkan terkadang mereka melakukan perbuatan pengrusakan yang tidak diduga.” (Muhadzoroh tanggal 4-1-1430)

Dari penjelasan singkat di atas, jelaslah bahwa demontrasi bukan jalan yang benar untuk memperjuangkan Islam, bahkan merupakan perkara yang diharamkan. Jika demikian maka akibatnya tidak lain adalah kegagalan.

Syaikh kami Yahya Al-Hajury smengatakan:

«ارتكاب المحرمات من أجل الدعوة سبيل الفشل»

“Melakukan perkara-perkara yang haram dengan alasan dakwah adalah jalan kegagalan.” (Al-Majmu’ Ats-tsamin: 71)

Oleh karena itu, kami berlepas diri dari demontrasi-demontrasi yang dilakukan sebagai aksi solidaritas atas peristiwa yang terjadi di Dammaj. Dan kami nasehatkan kepada semua yang terlibat dalam aksi-aksi yang seperti itu untuk bertaubat kepada Alloh. Sungguh benar perkataan sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud ت:

«وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لَلْخَيْرِ لَنْ يُصِيْبِهُ«

“Betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi tidak mendapatkannya.”
Doa dan Dukungan yang Diharapkan

Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

«دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ, عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ, كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ».

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang tidak ada sisinya (dan orang yang didoakan itu tidak mengetahuinya) adalah doa yang mustajabah. Malaikat yang telah ditugaskan ada di sisi kepalanya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya maka malaikat tersebut mengatakan: Amiin, dan bagimu seperti (yang kamu mintakan untuk saudaramu).” (HR. Muslim)

Inilah yang sepantasnya dilakukan oleh setiap muslim yang tidak bisa secara langsung terjun membantu saudara-saudaranya di Darul Hadits Dammaj. Doa adalah senjata setiap muslim. Mungkin dengan sebab doa satu orang yang sholeh, Alloh hancurkan suatu umat sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.

Oleh karena itu, wahai saudaraku kaum muslimin, angkatlah tangan-tangan kalian meminta kepada Alloh dengan penuh khusyu’ dan keikhlasan agar Alloh turunkan pertolongan kepada saudara-saudara kalian yang saat ini dalam medan jihad yang berkobar dan mohonlah kepada-Nya agar orang-orang Rofidhoh beserta seluruh pendukungnya yang telah melakukan berbagai macam kerusakan dan kedzoliman dihancurkan. Berdoalah dalam sujud-sujud kalian dan di sepertiga malam terakhir serta waktu-waktu yang mustajab lainnya. Yakinlah bahwa doa kalian itu tidak akan sia-sia begitu saja, karena Alloh Subhanahu  wa ta’ala telah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)
Seruan Penuh Kejujuran dari Ulama di Negeri Seberang.
Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy hafidzhohulloh dalam seruan beliau kepada Ahlussunnah [4-12-1432]  berkata:

“Telah sampai kepada kami dengan sangat memprihatinkan perbuatan-perbuatan yang dilakukan orang-orang Rofidhoh Batiniyyah musuh-musuh Islam dan para sahabat yang mulia berupa embargo dan tekanan-tekanan kepada saudara-saudara kita kaum muslimin di Dammaj dan markas (pondok pesantren) mereka yang bermanhaj salafy  sunny[2] karena kebencian dan permusuhan mereka terhadap Islam dan para pemeluknya. (baca fatwa selengkapya disini)

Oleh karena itu, kami wasiatkan kepada seluruh saudara-saudara kami di Dammaj agar tetap kokoh di atas sunnah dan sabar serta memohon pertolongan kepada Alloh dalam menghalau kejahatan dan permusuhan Rofidhoh.

Dan wajib bagi saudara-saudara mereka dari kalangan Ahlussunnah untuk bangkit bersama mereka dalam menghadapi kesewenang-wenangan ini dan dalam usaha menghancurkan (orang-orang Rofidhoh itu). Juga dalam usaha membersihkan Yaman dan negeri-negeri lainnya dari kotoran Rofidhoh jika mampu untuk melakukannya.

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40)

وَمَا جَعَلَهُ اللّهُ إِلاَّ بُشْرَى لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُم بِهِ وَمَا النَّصْرُ إِلاَّ مِنْ عِندِ اللّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

لِيَقْطَعَ طَرَفاً مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنقَلِبُواْ خَآئِبِينَ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Al-’Azizul Hakim (yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana), untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali tanpa memperoleh apa-apa.” (QS. Ali Imron: 126- 127)

Sesungguhnya pergulatan antara Ahlussunnah dan Rofidhoh adalah pergulatan antara kekufuran dan Islam. Karena itu wajib bagi Ahlussunnah di setiap tempat, di Yaman dan  lainnya untuk memberikan pertolongan kepada saudara-saudara mereka (di Dammaj) dengan jiwa dan harta benda.

Kita memohon kepada Alloh agar mematahkan punggung-punggung para Rofidhoh Batiniyyah dan seluruh musuh-musuh Islam  di setiap tempat.

إن ربي لسميع الدعاء.
Syaikh Abdulloh Al-Ghomidy [3] hafidzhahulloh setelah menjelaskan beberapa persamaan antara musibah yang terjadi di Darul Hadits Dammaj dengan musibah yang menimpa kaum muslimin di Kunar, Afghanistan pada masa jihad Syaikh Jamilurrohman rahimahulloh sekitar lima belas tahun yang lalu, beliau menyeru:

“Dimana kalian, wahai Ahlul Islam? Dimana tolong-menolong kalian? Dimana persatuan kalian dan kasih sayang kalian satu sama lain, karena Alloh? Dimana ahlul Islam yang ada di muka bumi ini? Hendaknya mereka bersatu seperti jiwa yang satu untuk menolong saudara-saudara mereka dan membela serta menghancurkan musuh-musuh mereka dengan kemampuan yang dimiliki walau dengan kalimat dan doa. Bukankah Robb kita telah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2).

Alloh Subhanahu  wa ta’ala juga berfirman:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاء فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنتُمْ عَلَىَ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepada kalian ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Alloh, orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imron: 103)

Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam juga telah bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Mukmin yang satu dengan yang lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Musa)

Beliau juga bersabda:

«انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا»

“Tolonglah saudaramu baik dalam keadaan dia berbuat dzolim atau dalam keadaan terdzolimi.” (HR. Al-Bukhory dari Anas)

Sungguh telah tiba waktunya bagi Ahlussunnah untuk mengetahui dengan yakin bahwa musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan Rofidhoh yang terlaknat telah bergerak dengan cepat untuk menjauhkan Sunnah dari kaum muslimin di setiap tempat dan berusaha untuk menegakkan agama mereka, agama kekafiran dan kezindikan. Alloh berfirman:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Alloh dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Alloh tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32)

Kalau seandainya urusan-urusan di negeri Islam berada di tangan mereka, tentu mereka akan membantai hamba-hamba Alloh yang berada dalam keamanan. Kehormatan para wanita muslimah pun akan dinodai, harta benda akan dirampas dari setiap tempat di muka bumi kaum muslimin yang bisa mereka capai…

Demi Alloh, wahai Ahlussunnah, janganlah sampai kalian dihancurkan karena kelemahan kalian dalam (memegang) agama kalian dan kelalaian kalian dari rencana-rencana jahat musuh-musuh kalian. Tolong-menolonglah bersama pemerintah dalam memadamkan fitnah yang diarahkan pada Ahlussunnah ini dalam rangka menghancurkan kekuatan para pemeluknya di setiap tempat di negeri-negeri muslimin dan untuk mencabut Islam dari akar-akarnya. Demikian pula dalam rangka memecah belah persatuan kaum muslimin serta menyebarkan ketakutan dalam hati-hati mereka.

Sesungguhnya Dammaj pada saat ini adalah permulaan jalan  yang mereka tempuh dalam mewujudkan tujuan besar dan rencana-rencana mereka yang sangat membahayakan.

Saya memohon kepada Alloh agar menjadikan kehancuran orang-orang Rofidhoh itu di tangan mereka sendiri dan agar Alloh hancurkan serta hilangkan kekuatan mereka sehingga berbalik dengan membawa kegagalan dan kerugian. Saya juga memohon kepada Alloh agar menolong Sunnah dan para pembawanya yang ada di Dammaj dan tempat-tempat lainnya di muka bumi ini.”

إن ربي سميع الدعاء, والحمد لله رب العالمين,
وصلى الله على محمد وعلى آله وسلم.
Ayah-Bunda, Jangan Bersedih,
Insya Alloh Kami ‘kan Kembali!

Setiap orang yang pergi meninggalkan tempat asalnya, mesti terbersit niatan untuk kembali. Namun, adakalanya niatan tersebut harus dibendung karena adanya tujuan mulia yang ingin dicapai atau karena syariat Islam yang sempurna ini melarang umatnya untuk melaksanakan niatan tersebut.

Demikian pula halnya dengan para pelajar Indonesia yang ada di Darul Hadits Dammaj. Sungguh, tidaklah mereka jauh-jauh tinggalkan kampung halaman, orang tua dan handai taulan, kecuali untuk menghilangkan kebodohan dari diri-diri dan masyarakat mereka dengan menimba ilmu dari ulama yang mapan keilmuannya dan dikenal kebenaran jalan yang ditempuhnya. Jadi, insya Alloh mereka pasti akan kembali ke tanah air untuk mewujudkan niatan yang karenanya mereka pergi, niatan mulia yang kita semua berharap agar Alloh memberikan taufik dalam mewujudkannya.

Kepada seluruh orang tua yang memiliki anak-anak di Darul Hadits dammaj, janganlah kalian khawatir. Sungguh  putra-putra kalian berada di atas kebaikan dan kebenaran. Sudah sepatutnya bagi kalian untuk berbahagia dan bangga terhadap putra-putra kalian itu. Di saat-saat manusia sibuk dengan dunia dan perhiasannya, putra-putra kalian sibuk dengan ilmu agama yang penuh dengan kemuliaan. Di saat-saat banyak orang tua mengeluhkan kenakalan anak-anaknya karena salah asuhan dan buruknya pergaulan, kalian bisa duduk tenang merasakan kesholehan putra-putra kalian. Cukuplah sabda Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam sebagai penghibur hati dan pengobat kerinduan:

«إِذَا مَاتَ الإنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاثٍ: صَدَقةٍ جَاريَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ».

“Jika seseorang meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: Shodaqoh jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakannya.” [HR. Muslim]

Adapun mengenai peristiwa yang terjadi di tempat mereka menimba ilmu, janganlah meresahkan kalian. Sebab apapun yang terjadi jika seseorang berada di jalan Alloh, tidaklah membuahkan kecuali kebaikan. Janganlah cemas dengan keselamatan putra-putra atau saudara kalian, sebab Alloh-lah yang akan menjaga mereka. Kalaupun ada yang tertimpa musibah, semua itu adalah perkara yang telah Alloh tentukan. Dia telah berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (QS. Al-Hadiid: 22)

Jika Alloh telah tentukan sesuatu terjadi, pasti akan terjadi, tidak ada yang bisa mengelak walaupun telah susah payah mencari tempat untuk berlari. Inilah yang hendaknya terpatri dalam diri setiap muslim, sehingga dengannya dia akan merasakan manisnya keimanan.

Demikian juga dengan kematian, semua manusia pasti akan merasakannya setelah tiba waktu yang Alloh tentukan, tidak akan bisa diakhirkan sedetik pun atau dimajukan. Alloh Subhanahu  wa ta’ala berfirman:

وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya, dan Alloh Maha Mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 11)

Tidak pula persembunyian yang kokoh bisa menghalangi seseorang dari kematian, sebagaimana firman-Nya:

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

Kalaupun tidak mati karena tembakan musuh, pasti akan datang sebab lain walau hanya dengan sekedar tiupan angin. Oleh karena itu, tidak perlu seseorang khawatir akan datangnya kematian. Akan tetapi seharusnya yang kita khawatirkan adalah apakah kita bisa mengakhiri kehidupan ini di atas kebenaran dan keistiqomahan?

Wahai ayah-bunda dan saudara-saudara tercinta, ketahuilah bahwa mati di medan jihad melawan musuh-musuh Alloh adalah semulia-mulia kematian.

Tidak sepantasnya seorang muslim berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam jika ada salah satu anggota keluarganya meninggal dunia. Oleh karena itu, kepada kedua orang tua dan saudara-saudara kami yang mulia: Akh Sholeh, Abu Haidar, Muhammad Amin dan Adam –rohimahumulloh- hendaknya bersabar dan tabah serta ridho menerima ketentuan yang telah Alloh tetapkan. Bahkan sepantasnya bagi mereka untuk berbangga dan bahagia karena putra dan saudara mereka meninggal di medan jihad melawan orang-orang kafir Rofidhoh, demi membela agama Alloh yng ingin mereka hancurkan. Sungguh sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang terbunuh dalam usaha menghancurkan musuh-musuh Alloh dan membela agama-Nya, sebagaimana hadits dari Abu Umamah ت:

«كِلَابُ النَّارِ, شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ, خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوهُ»

“(Orang-orang khowarij itu adalah) anjing-anjing neraka, mereka adalah sejelek-jelek yang terbunuh di kolong langit ini, dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah yang dibunuh oleh mereka.” (HR. Tirmidzy dan dishohihkan oleh Syaikh Muqbil di Ash-Shohihul Musnad)

Alloh telah mengabarkan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan-Nya pada hakekatnya tidaklah mati,sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُواْ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rezki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Alloh, dan sesungguhnya Alloh tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imron: 169-171)

Semoga Alloh menerima amalan mereka dan menjadikan mereka sebagai syuhada’.

Sungguh perkara jihad adalah perkara yang mulia. Bagaimana tidak, jihad adalah puncak keislaman seseorang. Siapa yang terbunuh karenanya, terbunuh sebagai syahid dan baginya berbagai keutamaan. Siapa yang masih hidup, hidup di atas kemuliaan dan kemenangan yang Alloh berikan. Untuk itu, kepada saudara-saudaraku yang memiliki putra atau saudara di Darul Hadits Dammaj, demikian pula kepada segenap jajaran pengurus pemerintahan Indonesia, ridhoilah keberadaan kami di Darul Hadits Dammaj ini dan dukunglah perjuangan kami beserta kaum muslimin yang lain di sini. Sungguh, keridhoan dan dukungan serta do’a kalian semua sangat membantu mengokohkan hati-hati kami…
Maaf, Permintaan Kalian tidak Bisa Kami Penuhi

Setelah berita tentang musibah yang menimpa Darul Hadits di Dammaj tersebar di seluruh dunia, permintaan dari berbagai pihak, baik itu orang tua, saudara maupun pemerintah melalui duta besar mereka yang ada di Yaman kepada para pelajar Indonesia di Darul Hadits Dammaj agar pulang ke tanah air banyak berdatangan. Semua itu tidak lain karena kehawatiran mereka terhadap keselamatan orang-orang yang mereka cintai. Kami ucapkan jazakumullohu khoiron atas perhatian kalian semua terjadap keselamatan kami. Namun permintaan itu sangatlah berat untuk dipenuhi, karena untuk memenuhinya harus melanggar aturan yang telah Alloh dan Rosul-Nya tentukan sehingga dengannya berakibat kesengsaraan di hari-hari yang tidak bermanfaat lagi tangis dan penyesalan. Sebab Alloh telah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari lari meninggalkan medan peperangan, sebagaimana dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُواْ زَحْفاً فَلاَ تُوَلُّوهُمُ الأَدْبَارَ

وَمَن يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلاَّ مُتَحَرِّفاً لِّقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزاً إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاء بِغَضَبٍ مِّنَ اللّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kalian membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Alloh, dan tempatnya adalah neraka Jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al-Anfaal: 15-16)

Demikian pula Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam telah menjelaskan bahwa hal yang demikian itu termasuk sebesar-besar dosa dan pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh bahwa Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ»

“Jauhilah oleh kalian tujuh perkara yang mencelakakan.” Kemudian beliau menyebutkan perkara-perkara itu yang salah satunya adalah: berpaling lari dari medan pertempuran.

Kita semua adalah kaum muslimin yang wajib mendahulukan aturan-aturan yang Alloh tetapkan dari semua aturan buatan manusia. Oleh karena itu, tidaklah boleh bagi kami memenuhi permintaan kalian untuk pulang sebagaimana tidak dibolehkannya kalian meminta yang demikian itu kepada kami saat ini. Alloh telah berfirman:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bertakwalah kalian kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

Selain itu, telah lewat penjelasan bahwa jihad yang berkobar di Dammaj hukumnya wajib bagi setiap muslim yang ada di sana, karena itu tidaklah mungkin kami tinggalkan kewajiban yang agung ini demi mencari keselamatan dunia yang pada hakekatnya adalah kecelakaan yang nyata.

Inilah yang menjadi kesepakatan seluruh pelajar Indonesia di Darul Hadits Dammaj, semoga Alloh memberikan pertolongan dan kekokohan kepada mereka serta membuka hati-hati orang tua dan saudara-saudara mereka untuk menerima dan ridho dengan kenyataan yang ada.

Khotimah

Inilah hakekat peristiwa yang terjadi di Darul Hadits Dammaj saat ini. Semoga bisa memberikan gambaran kepada kaum muslimin bahwa fitnah dan peperangan yang terjadi itu bukanlah suatu kebetulan  belaka, tapi semua itu memang telah direncanakan dan dipersiapkan oleh orang-orang Rofidhoh dan musuh-musuh Alloh yang tolong-menolong bersama mereka. Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin waspada terhadap bahaya Rofidhoh yang sangat mirip dengan bahaya laten komunis. Sungguh pada masa-masa terakhir ini mereka sangat giat dalam menyebarkan agama mereka yang dibangun di atas kekufuran.

Hendaknya kaum muslimin kembali kepada agama Islam yang murni, mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajarannya. Dengan inilah Islam akan tegak dan para pemeluknya akan mencapai kemuliaan.

قَالَ عُمَرُ ت: إِنَّا قَوْمٌ أَعَزَّنَا الله بِالإِسْلاَمِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا الله بِهِ أَذَلَّنَا الله.

Umar rodhiyAllohu ‘anhu berkata: “Kita adalah kaum yang telah Alloh telah muliakan dengan Islam, maka kapan saja kita mencari kemuliaan dengan selain yang Alloh muliakan kita dengannya, Alloh akan menghinakan kita. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanad shohih)

Akhirnya, kami ingatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin di Indonesia untuk bersyukur atas nikmat yang telah Alloh berikan kepada kalian berupa keamanan dan kenyamanan dalam beribadah kepada Alloh. Semoga Alloh memberikan taufik kepada pemerintah kita untuk melaksanakan tugas mereka dengan sebaik-baiknya.

Semoga Alloh memberikan pertolongan kepada kita semua dan mengangkat bencana yang menimpa Ahlussunnah di Dammaj dan negeri lainnya dan memenangkan mereka atas musuh-musuh Alloh yang berusaha keras untuk menghancurkan mereka.

اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِىَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الأَحْزَابِ
اهْزِمْ هَؤُلَاءِ الرَّوَافِض وَمَنْ تَعَاوَنَ مَعَهُمْ
وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ.

[1] Sebagian komentar batil telah terbantah pada bab pertama sehingga tidak perlu lagi kita mengulanginya.

[2] Inilah pernyataan resmi beliau yang sangat jelas bagi orang-orang yang masih waras tentang kesalafiyahan Darul Hadits Dammaj.

[3] Dikutip dari situs pribadi beliau: http://abouasem.net/detail

Pengantar
Telah sampai kepada kami sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada salah seorang pengelola ISNAD :

“Akhi..bisa tanyakan ke Abu Fairuz untuk ditanyakan ke Syaikh Yahya, “kenapa tempat lain seperti di Kitaf dan Hajur masih perang dengan rofidhoh, tapi Dammaj malah berdamai dengan rofidhoh ?” (Akhuna di Palu – Sulteng)

Berkata Abu Fairuz ” JazakAllohu khoyro, atas perhatian al-Akh (si penanya)….Ini telah dijelaskan oleh  Syaikh Yahya, (bahwa) di Hajur muslimin tidak terkepung, mereka bisa beli makanan, minuman, obat dan senjata. Jalur bantuan juga tidak terblokir, di Kitaf juga begitu, bantuan dana dan senjata-senjata berat dari saudi terus mengalir, sementara di Dammaj ? jika antum lihat langsung kondisi hari-hari itu (silahkan baca di bagian yang telah diarsipkan “Gemuruh Lembah Dammaj” disini, ;ed)  dan masih punya hati, antum harusnya menangis. Keluarga-keluarga banyak yang tidak punya beras dan tepung, tiada bahan bakar, orang-orang yang sakit pasrah saja karena obat-obatan di apotik-apotik amat langka. Orang-orang yang luka harus berjuang menahan sakit karena obat anti nyeri amat langka, dan masih kondisi hidup mati yang amat memprihatinkan yang andaikata bukan karena kelembutan Alloh dan rohmat-Nya pasti kami telah binasa karena lapar, belum lagi dasyatnya mortir dan badai peluru rofidhoh. Para saudara-saudara kita yang berhati baja saja menagis, melihat hantaman-hantaman akurat rofidhoh terhadap posisi thullab, apa hati antum tidak tersentuh saat mendengar suara pimpinan jaga di Gunung al-Barroqoh lewat telepon berkata ” kami semua telah terluka, tapi kami akan bertahan sampai mati …”. Lalu Abu Fairuz berkata “kami yang di pos bawah juga ditembaki dan bertekad demikian saat bantuan pertolongan dari bawah agar bisa bebas masuk jam 9 malam, tampak pemandangan memilukan, puluhan thullab bergelimpangan di punggung al-Barroqoh, total yang gugur karena kejadian itu 26 orang (diantaranya 2 ikhwah dari indonesia menjemput syahada disini, Akh Sholeh dan Abu Haidar -rahimahulloh- ;ed), yang luka 50 lebih. Tidak tersentuh hati antum dengan kejadian lain, setelah itu dimana 22 thullab terkepung di matras abdul karim sebagian telah gugur  sebagian luka. 1 (satu) yang luka masih menelpon kebawah dalam kondisi lukanya terus mengucurkan darah, dan berkata “kalian wajib tolong kami…” hujan peluru mortir gagalkan upaya penyelamatan, akhirnya semua thullab disitu gugur (diantaranya 2 ikhwah dari indonesia, Muhammad Amin al-Amboniy dan Abul Jauhar Adam -rahimahulloh-;ed), apakah ini semua bukan udzur terima ajakan damai, sementara Rosululloh shallallahu ‘alayhi wa sallam dengan 1400 shohabat saja damai dengan kuffar Makkah ? padahal Alloh telah menjamin akan bantuan dengan ribuan malaikat. Haruskah kami penuhi selera “penonton” untuk perang sampai mati ? masih ada jawaban penting yang lain (bahwa) itupun bukan kami yang minta damai, karena telah bertekad bertahan sampai mati dan tidak serahkan dammaj (bacalah kronologi “gemuruh lembah dammaj..” disini ;ed) tapi rofidhohlah yang serangannya selalu gagal dan mati lebih banyak -biindznillah-. (jadi) mereka tawarkan damai, Maka Syaikh Yahya kasih syarat-syarat yang berat yang isinya berupa kemuliaan AHLUSSUNNAH dan kehinaan rofidhoh, ketika rofidhoh dengan amat berat hati menampakkan pelaksanaan kesepakatan, maka harom bagi kami untuk menembak terus. Syaikh Yahya sampai kini masih berdo’a ” Ya Alloh balaskanlah DENDAM kami !, Ya Alloh hancurkanlah mereka !” dengan pengeras suara dan TIAP HARI dengan mikropon beliau bongkar kebusukan rofidhoh dan menyemangati ummat untuk perangi mereka (lihat dan dengar video seruan jihad al-Mujahid Syaikhuna Yahya al-Hajuri disini ;ed) “-selesai- 18 Shafar 1433H

2 pemikiran pada “Jihad Melawan Rofidhoh

  1. Astagfirulloh,,,,,,
    saya baru tau ternyata seperti itu kejadiannya.,.,.. Semoga para muslimin yg gugur menjadi syuhada…. Aamiin.
    Islam yg beredar sekarang banyak sekali versinya,,,, semua mengaku benar tetapi ada saja keganjilan.
    Apalagi untuk saya dan teman-teman yg masih belajar,,,, semoga Alloh memberikan kami petunjuk jalan yg lurus…

    Suka

  2. Tak terasa air mata mengalir dan jantung bdetak cepat ktk ana mbaca tulisan ini..ana sgt terharu dan hy bs bdoa smg Allah mngangkat derajat santri2 yg tlh wafat dan mlindungi serta mjaga syaikh Yahya bserta murid2 yg ada di Darul Hadist Dammaj Yaman, smg Allah mberikan kmenangan kpd kalian semua yg ada Darul Hadist Dammaj, amiin…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s