Muslim Maksiat Tidak Kafir Namun Diancam Neraka

بسم الله الرحمن الرحيم

 ,Berkata Alloh ta’ala

 وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ (٩)

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Hujurot: 9)

 حدثنا عبد الرحمن بن المبارك، حدثنا حماد بن زيد، حدثنا أيوب ويونس، عن الحسن، عن الأحنف بن قيس قال: ذهبت لأنصر هذا الرجل، فلقيني أبو بكرة فقال: أين تريد؟ قلت: أنصر هذا الرجل، قال: ارجع، فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (إذا التقى المسلمان بسيفهما فالقاتل والمقتول في النار). فقلت: يا رسول الله هذا القاتل، فما بال المقتول؟ قال: (إنه كان حريصا على قتل صاحبه).

 (Dengan sanadnya) Dari Ahnaf bin Qais berkata, “aku pergi hendak memberi pertolongan kepada seorang lelaki, kernudian aku bertemu Abu Bakrah rodhiallohu ‘anhu, lalu ia bertanya, ‘hendak ke mana kamu?’ aku menjawab, ‘aku hendak memberi pertolongan kepada orang ini.’ Abu Bakrah berkata, ‘kembalilah!, karena sungguh saya mendengar Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘apabila dua muslim bertemu dengan pedangnya (berbunuhan), maka yang membunuh dan yang dibunuh di neraka.’ Lalu kami bertanya, ‘Ini yang membunuh, lalu bagaimanakah yang dibunuh?’ Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya ia (orang yang terbunuh) berkeinginan keras untuk membunuh temannya.’” (Shohih Al-Bukhory no. 31, 6481, 6672)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661- 728 H) رحمه الله تعالى berkata, Setiap pelaku dosa besar atau orang yang mela­kukan dosa kecil secara terus menerus, maka ia dise­but sebagai orang yang maksiat dan fasik, la sebagai mana seluruh orang mukmin yang lain, tidak ke­luar dari keimanan disebabkan kemaksiatannya, se­lama ia tidak menghalalkannya dosa-dosa tadi. Ia disebut: Orang yang beriman dengan keimanannya dan orang yang fasik dengan dosa besarnya. Atau orang beriman yang kurang keimanannya. Ia tidak diberi sebutan iman secara mutlak, tetapi sebutan tersebut tidak dicabut darinya secara mutlak pula. Adapun hukumnya di akhirat, ia berada di bawah kehendak Allah Ta’ala, bila ia meninggal dunia sebe­lum bertaubat. Bila Allah menghendaki, niscaya akan mengadzabnya sesuai dengan kadar dosanya, dan tempat terakhirnya adalah jannah. Sebaliknya, jika Allah menghendaki pula, niscaya akan mengampuni­nya sejak pertama kali dan memasukkannya ke jan­nah dengan rahmat dan karunianya. (Al-‘Aqidah Al Wasithiyah)

Satu pemikiran pada “Muslim Maksiat Tidak Kafir Namun Diancam Neraka

  1. Ping balik: Muslim Maksiat Tidak Kafir Namun Diancam Neraka « DOBEL D-N BLOG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s