Wajibnya Mencintai Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam Diatas Seluruh Manusia

بسم الله الرحمن الرحيم

Berkata Alloh ta’ala:

 مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik” (At-taubah: 120)

حدثنا يعقوب بن إبراهيم قال: حدثنا ابن علية، عن عبد العزيز بن صهيب، عن أنس، عن النبي صلى الله عليه وسلم (ح). وحدثنا آدم قال: حدثنا شعبة، عن قتادة، عن أنس قال: قال النبي صلى الله عليه وسلم:

 (لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين).

Anas rodhiallohu ‘anhu berkata, “Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Salah seorang di antaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya, dan semua manusia.’” (Shohih Al-Bukhory no. 15)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661- 728 H) رحمه الله: “Ahlus Sunnah mengikuti perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi dan inilah yang dimaksud dengan mengikuti jejak beliau (ittiba’ ).

Adapun mengikuti jejak-jejak fisik beliau yang tidak merupakan bagian dari Din (agama), seperti tempat kencing, tidur, dan berjalan beliau, maka tidak diperbolehkan mencari-cari hal itu, karena hal itu merupakan sarana menuju kemusyrikan.

Salah satu jalan (cara) yang dianut oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah mengikuti perkataan para sahabat ketika tidak ditemukan sunnah Rasulullah. Adapun ketika terdapat nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah, maka nash tersebut haruslah didahulukan dari pendapat siapapun”. (al-‘Aqidah Al-Wasithiyah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s