SIAPAKAH UBAID AL-JABIRIY ?

UBAID AL-JABIRIY HIZBY PENDUSTA?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Syaikhuna Abu Abdirrahman Yahya bin Ali Al-Hajuriy Hafidzahullah Ta’ala di tanya:
Apakah Ubaid Al-Jabiriy itu hizbiy?
Beliau Hafidzahullah menjawab: “Tidaklah menjatuhkannya sampai pada kedudukan yang rendah dalam fitnah ini [yaitu fitnah yang digagas oleh Abdurrahman Al-Adniy dan para jaringannya] serta ta’ashub (fanatik) terhadap hizbiyyah, melainkan kehizbiyahannya.
Dia adalah hizbiy yang pendusta.
[Fatwa ini disampaikan pada hari Sabtu 16 Jumadil Tsaniyyah 1431 H].

UBAID AL-JABIRIY
DAN TINDAKAN MEMBABI BUTANYA
YANG MENGHERANKAN
Ditulis oleh : Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abdirrahman bin Ahmad Ba Jamal.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله وحده, والصلاة والسلام على من لا نبي بعده, أما بعد:
Sungguh saya telah mendengar penggalan suara Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiriy – semoga Allah memperbaiki keadaannya dan memberikan kepadanya petunjuk- pada hari Kamis sore yang lalu di bulan Jumadits Tsaniyyah 1431 H yang berisi tentang fitnah “Al-Adniy Al-Maftuun”.
Dia sebagaimana biasannya, dia berbicara dengan pembelaan yang sangat mengherankan dan dengan metode yang aneh, sehingga menjadikan orang tercengang-cengang karenanya, juga menjadikan mereka bertanya-tanya: Apa sebenarnya yang mendorong Ubaid melontarkan serangannya yang kasar dan bertubi-tubi dari fitnah yang satu kefitnah yang lain?! Apa sebab yang mendorongnya melakukan itu semua?!
Sesungguhnya berbagai pertanyaan bermunculan –demi Allah- sejak dia bebricara dalam kasus “Al-Jaami’ah Al-Islamiyyah” (Uiversitas Islam Madinah), Kemudian dia menjadikannya sebagai perantara untuk menggapai angan-angannya, adapun bantahan Syaikhuna yang mulia Abu Abdirrahman Yahya Al-Hajuriy – semoga Allah menjaganya dan mengokohkannya- adalah bantahan yang membuat lawan tidak berkutik dan membuangkam ‘Ubaid dan lainnya.
Maka Syaikh Ubaid pun tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi argumentasinya yang tandas ini, kecuali hanya dengan menggelari Asy-Syaikh Yahya dengan gelar-gelar keji seperti : “Buruk perkataannya, si mulut kotor, kotor perkataannya”. Dengan lafadz inilah dia menyerang syaikhuna yang mulia. Dan sungguh orang yang adil telah faham bahwa lafadz (ucapan) ini nampak sekali telah dia rancang dan direncanakan sebelumnya.
Sesungguhnya permasalahan intinya bukanlah sekedar permasalahan “Al-Jaami’ah Islamiyyah” atau sekedar nasehat belaka, akan tetapi ketika kegilaannya menjadi-jadi, dan ketika bualannya tidak digubris, sehingga – dengan sangat disayangkan- dia termasuk menjadi salah seorang pengadu domba dan peicu fitnah dan pemecah belah orang-orang yang berada dalam satu barisan, serta menjadi pemandu terjadinya pertumpahan darah jika – dia sadari akan ucapannya- baik dia merasa atau tidak.
– Demi Alloh – Apakah menurut kalian seperti ini termasuk ulama yang penuh waro’, yang benar-benar meneliti perkara, dan yang bertaqwa?!
– Demi Alloh- Apakah orang seperti ini kondisinya, dalam lingkup orang yang tumbuh dan terdidik oleh ilmu?!
– Demi Alloh – Apakah menurut kalian orang seperti ini keadaannya, keadaan orang yang bisa dengan baik menetapkan perkara yang berkaitan dengan Al-Islam dan As-Sunnah?!
– Demi Alloh – Apakah menurut kalian orang seperti ini, kondisi dan adat orang yang berakal lagi bijaksana?!
Kengawuran-kengawuran apakah seperti ini?
Kita berlindung kepada Allah dari pemutar balikkan fakta.
Dan yang perlu diketahui : Bahwa tulisanku ini bukan untuk membantah perkataan dia, karena pemikirannya telah terang dan jelas kesalahannya –Al-Hamdulillah- akan tetapi sekedar sebagai pengingat buat Syaikh Ubaid – Semoga Allah memperbaiki keadaannya dan memberinya petunjuk- terhadap tulisanku yang telah aku tulis sekitar dua tahun yang lalu, yang berjudul ”
البيان المفيد لبعض ما أصله ونقضه عمليا شيخنا عبيد
Keterangan Yang Berfaedah Atas Sebagian Apa Yang di Tetapkan Oleh Syaikh Syaikh Ubaid –hadahulloh- dan Yang Dia tentang sendiri secara amaliah.
– Tidak ingatkah dia tentang ucapan kotornya terhadap orang Al-Jazair dan Libiya: Bahwasanya mereka itu adalah keledai, kecuali orang yang dirahmati Allah.
– Tidak ingatkah dia akan makiannya terhadap seorang penanya yang kurang beradab terhadapnya: “Kamu sapi, jika bukan maka keledai”, dan kali yang lain : “Kalian sapi… sapi!”
– Seperti inikah akhlak ulama yang beramal dengan ilmunya? Ditelpon saja bilangnya: Sapi, keledai. Dan menutup telponya dengan mengatakan “Ma’as salamah”. (tidak dengan Assalamu ‘alaikum, seakan-akan sipenanya tidak berhak mandapatkan salam. pent).
– Apakah semacam ini buah dari ilmu ataukah buah dari kekacauan dan kengawuran?
Dan sekarang ini ditanya tentang perselisihan yang terjadi di Yaman, maka tidak bisa apa-apa melainkan hanya dengan memaki.
Syaikhuna yang terpercaya (dia bilang): Bego, preman, jiwanya bukan jiwa ulama’, nafasnya ucapan-ucapan orang tolol, kotor perkataannya, busuk lisannya, kemudian dia berusaha membenarkan ucapan-ucapan miringnya itu dengan mengatakan bahwa Syaikh Yahya memiliki penyimpangan aqidah.( yang itu semua adalah tuduhan tanpa bukti yang telah basi, karena tuduhan-tuduhan itu adalah hasil rancangan hizbi Abul Hasan pent)
Ya Syaikh Ubaid kamu mentertawakan siapa?
Apakah kondisimu sudah sampai tingkatan mengambil ketelodoran hizbiyyin yang suka bikin kericuhan terhadap ahlul haq (orang-orang yang benar).
Apakah kamu tidak mendapatkan mata air (yang jernih untuk kamu teguk) melainkan mata air yang busuk ini, yang kamu minum darinya atau diminumi darinya?!
Apakah sampai pada derajat ini ta’shil ilmumu (hasil kreasi ilmumu)?!
Seandainya kita terus menerus menghitung kesalahan-kesalahan ulama’ yang kemudian ruju’ (kembali kepada kebenaran) maka tidak akan ada habisnya, dan kita tidak akan mampu menghitungnya, dan niscaya kita akan membuka cela terhadap Ahlussunnah seperti yang telah diperbuat oleh Al-Karoobiisy.
Dan yang lebih mengherankan lagi dari ucapannya (Ubaid): Bahwasanya setelah dia melarang menuntut ilmu di Dammaj, dia berkata: Dengan demikian aku tidak menganjurkan untuk belajar ke Dammaj, kecuali jika Yahya telah pergi dan ada yang menggantikan syaikh Muqbil (demikian dia mengatakan) adalah orang yang faham Islam dan sunnah, berakal, waro’, bertaqwa, muhaqqiq, atau jika ada seseorang yang mumpuni lagi tidak tunduk pada Yahya. Dan yang demikian ini tidak ada sekarang ini.(lihatlah betapa ganjil, lucu dan tak memiliki bobot sama sekali perkataan ini, seakan-akan keluar dari anak kecil yang kebingungan karena kehilangan mainannya. pent)
Demikianlah kamu berusaha dengan sekuat tenaga merangkul kesesatan ini, yang tidak ada tandingan di kalangan hizbiyyin untuk menghancurkan dakwah yang luar biasa besarnya (Dammaj), buah ilmiah yang sangat besar, peninggalan Al-Imam Al-Wadi’iy –Semoga Allah merahmatinya dan meninggikan derajatnya- di negri Yaman karena hanya dengan sekedar persangkaan dan petikan hati yang tidak ada dasarnya?
Apakah telah hilang akalmu?
Ataukah telah hilang pemahamanmu?
Apakah dengan petikan seperti ini kamu mau meniadakan secara mutlak keberadaan orang yang berakal, yang punya wara’, yang bertaqwa dan seorang muhaqqiq?
Sungguh kami menghabarkan kepada Ahlussunnah dengan khabar gembira di setiap tempat bahwa perkataannya seperti ini tidak ada pengaruhnya sama sekali (terhadap Dammaj), dan jika kamu tidak percaya, maka pergilah kamu ke Darul Hadits Dammaj maka (tentu) kamu akan melihat dengan yakin tentang kebenaran perkataan ini.
Dan sungguh benar apa yang dikatakan oleh orang yang berkata:
Wahai yang mau menanduk gunung yang tinggi untuk menghancurkannya.
Kasihanilah terhadap kepalamu dan jangan kamu kasihan kepada gunung.
Sungguh yang akan menanduk dengan kebatilan terhadap ahlul haq, ulama, masyayikh sunnah dan pusat dakwah salafiyyin di Yaman, akan berakibat perjalanan semua itu terhadap kebinasaan dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh (Muhammad Abdul Wahhab) Al-Washobiy, maka dia telah membinasakan dirinya dan orang lain yang juga ikut binasa, dan orang yang berbahagia adalah orang yang mau mengambil pelajaran dari selainnya.
Sungguh ini adalah dakwah kepada Allah Ta’ala maka berhati-hatilah kamu dari melakukan penyelisihan terhadapnya, jika pokok permasalahannya itu berkaitan dengan permasalahan ulama yang mereka berselisih dari segi jarh dan ta’diil (kritikan dan celaan), kalau tidak maka dia adalah pengekor hawa nafsu.
Dimana orang-orang yang mengaku bahwa mereka bukan orang yang bertaqlid (pengekor) dari perkataan ini?
Kemana kamu wahai Utsman As-Saalimiy dari igauan syaikh Ubaid?
Apakah kamu sanggup membantah kemungkaran tersebut tanpa perasaan takut atau telpon ke sini dan ke sana, saya akan bantah ataukah tidak?
Di dalam “Shahih Muslim” dari Abu Sa’id Al-Khudriy Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ».
Barang siapa dari kalian yang melihat suatu kemungkaran maka hendaklah dia merubah (mengingkari)nya dengan tangannya, jika dia tidak mampu maka dengan lisannya, dan bila tidak mampu maka dengan hatinya”
. Dan di “(Musnad) Ahmad” dengan sanad yang shahih dari Abu Sa’id Al-Khudriy juga dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
«لا يمنعن أحدكم هيبة الناس أن يتكلم بحق إذا رآه أو شهده أو سمعه فقال أبو سعيد وددت اني لم أكن سمعته وقال أبو نضرة وددت اني لم أكن سمعته».
“Janganlah mencegah salah seorang diantara kalian rasa segan terhadap manusia untuk berkata tentang kebenaran, jika dia melihatnya, menyaksikannya atau mendengarnya”. Berkata Abu Sa’id: Aku ingin jikalau aku tidak mendengarkan hadit ini,.
Jika kamu membantah suatu kemungkaran yang telah disepakati tentangnya, maka perlu kamu tahu bahwa di belakang bukit kecil, ternyata ada sekeliling bukit kecil itu apa yang tidak tampak, sama saja engkau kehendaki atau tidak, oleh karena itu lebih baik kamu diam dan tinggalkan perkara tersebut kepada selainmu, sebagaimana dikatakan:
ليس بعشك فادرجي
” Ini bukanlah sarangmu maka pergilah dan tinggalkan untuk pemiliknya”
Dan cukuplah bagimu dengan penyelisihanmu terhadap Al-Imam Al-Wadi’iy –Rahimahullah-, sebagaimana dalam perkara Az-Zandaaniy, dan…… dan…… sebagaimana dalam malzamah Al-Washabiy yang terkenal.
Dan cukup bagimu dengan masuknya kamu dalam kelompok Baroatudz dzimmah( kelompok pembela) Abul Hasan.
Mengapa tidak kamu sebutkan kepada kami tentang pembelaanmu terhadap perkara ini, wahai orang yang mengaku bahwasanya dia bersama Syaikh Robi’ –Hafidzahullah-, atau bersama ulama! Yang tidak ada pengakuan terhadap kesalahan-kesalahan ini.
Apa yang menyeret kamu untuk berkomentar tentang fitnah ini, bahwa fulan itu begini, dan fulan itu begini, dan tidaklah kamu melainkan sebagai seorang pengekor saja – Itu jika masih boleh berbaik sangka kepadamu- dan jika kamu jujur kenapa kamu memasukkan Al-Washobiy sebagai hakim dalam perkara ini, karena dia tidak memasukan dirinya dalam bantahan para masyayikh terhadap Syaikh Ubaid Al-Jabiriy.
Dan demikianlah jika seandainya kamu adil, tentu kamu tidak menyebutkan syaikh Ubaid sebagai hakim dalam perkara ini, bahkan kamu akan mengatakan: Bahwa syaikh Ubaid telah salah dalam kritikannya terhadap Asy-Syaikh Al-Hajuri dan (tahdzirannya) peringatannya terhadap Dammaj, sebagaimana telah disebutkan oleh para masyayikh, ataukah dia mencocoki air tegukannya?!
Dan demikianlah seandainya kamu adil maka kamu akan mengatakan: Orang-orang yang ta’ashub(fanatic) kepada Syaikh Ubaid atau Washoby atau Al-Adeniy atas pelecehan mereka terhadap Asy-Syaikh Al-Hajuriy supaya mereka bertaubat kepada Allah.
Dan yang lebih menakjubkan bahwa kamu mengatakan: Jika terjadi pada sebagian pengikutnya (yakni Abdirrahman bin Mar’i) dalam sebagian perkara ada fanatiknya, akan tetapi mereka siap secara hakekatnya untuk kembali kepada kebenaran.
Oleh karena itu mereka adalah pengikut Abdurrahman -sebagaimana yang telah kamu katakan- Bukan pengikut sunnah, bukankah ini perkataanmu : bahwa mereka pengikutnya, lalu kenapa kamu diam dari mereka dan meridhai mereka? Dari sini diketahui bahwasanya ini adalah hizbiyyah.
Kemudian kenapa mereka sampai sekarang belum juga kembali (kepada kebenaran)??, padahal mereka siap untuk melakukannya, sebagaimana persangkaanmu? Padahal saat ini kita berada di tahun keempat atau kelima sejak meletusnya fitnah ini. Sungguh saya tidak tahu, bagaimana perkataan seperti ini bisa keluar darinya.
Demikianlah kalau memang kamu bukan muqallid tentunya kamu telah menjelaskan dengan hujjah-hujjah untuk membantah kritikan Syaikh Yahya kepada Abdurrahman Al-Adeniy beserta orang-orang yang ta’ashub dengannya.
Akan tetapi, kenapa kamu malah mengatakan: Telah aku jelaskan bahwa aku ini tidak mengambil (keputusan) karena banyaknya orang yang mengikutinya, akan tetapi aku mengambilnya berdasarkan hujjah-hujjah dan bukti-bukti (yang ada).
Kami katakan: (jika demikian) ayo keluarkan hujjah-hujjah dan bukti-buktimu, sehingga orang yang binasa binasa di atas penjelasan dan orang yang selamatpun selamat di atas penjelasan.
Kamu mau kemanakan perkatan Syaikh Al-Imam :Kita tidak menyalahkan Syaikh Yahya baik secara global atau terperinci. Dan juga perkataannya : Sungguh kita tidak mengatakan bahwa Syaikh Yahya berbicara dengan kebatilan.
Kamu mau kemanakan perkatan dari salah seorang masyayikh: Perkara yang lakukan Abdurrahman di Dammaj adalah tsauroh (penggulingan atau pemberontakan), seandainya hal itu mnimpaku tidaklah aku akan mendiamkannya.
Dan kamu mau kemanakan perkataan salah seorang masyayikh: Siapa Abdurrahman itu? Banyak dari para penuntut ilmu tidak mengenalnya.
وصلى الله وسلم على محمد وعلى آله وصحبه وسلم
Ditulis oleh: Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Abdirrahman bin Ahmad Ba Jamal.
Pada hari Sabtu pagi 16 Jumadil akhir 1431 H.
[Selesai diterjemahkan pada hari Sabtu Dhuha di Maktabah Masjid Ahlus Sunnah Darul Hadits Dammaj 23 Jumadits Tasniy 1431 H]. Diterjemahkan oleh : Abul Abbas Khodir AlMulki dan Utsman Al-Makasari]
Lihat Naskah Aslinya di Aloloom Salafiyah bagian Rudud

2 pemikiran pada “SIAPAKAH UBAID AL-JABIRIY ?

  1. Ping balik: SEORANG MUFTI BERBAHAYA DENGAN FATWA-FATWANYA | Malzamah Islam Ilmiah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s