Tingkatan Takdir

Takdir adalah ketentuan Allah Ta’ala terhadap segala sesuatu sejak masa dahulu, Ilmu Allah Ta’ala bahwa itu akan terjadi pada waktu-waktu tertentu yang diketahui-Nya dan dengan sifat-sifat tertentu, penulisan hal itu oleh-Nya, kehendak-Nya terhadapnya, kejadiannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan penciptaannya oleh-Nya.1

Empat tingkatan takdir, yang
harus diimani sebagaimana Ahlus Sunnah mengimaninya.

1. Tingkatan Pertama

Beriman bahwa Allah Ta’ala mengetahui apa yang dikerjakan oleh seluruh makhluk, dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi. Allah telah mengetahui segala keadaan mereka, yang berupa ketaatan, rezki, maupun ajal. Dia mengetahui apa yang telah dan akan terjadi, apa yang tidak terjadi bila ia terjadi, serta bagaimana ia terjadi. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-’Ankabut:62)

2. Tingkatan Kedua

Penulisan segala sesuatu oleh Allah di dalam Lauh Mahfuzh, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)
“Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” (Yasin: 12)

3. Tingkatan Ketiga

Kehendak Allah yang berlaku, yang tidak bisa ditolak dan kekuasaan-Nya yang tidak bisa dihindarkan oleh suatu apapun. Seluruh peristiwa terjadi dengan kehendak dan kekuasaan Allah. Adapun yang Dia kehendaki, niscaya terjadi dan apapun yang tidak Dia kehendaki, niscaya tidak terjadi. Allah berfirman,
“Dan kamu tidak dapat menghendaki, kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Rabb semesta alam.” (At-Takwir: 29)

4. Tingkatan Keempat

Mencipta adalah wewenang Allah Ta’ala. Dialah Khaliq (pencipta), sedangkan selain-Nya adalah makhluk yang diciptakan-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (Az-Zumar: 62)
“Adakah sesuatu pencipta selain Allah?” (Fathir: 3)
Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu yang telah terjadi, bersamaan dengan itu Dia memerintahkan para hamba untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya serta melarang mereka dari kemaksiatan terhadap-Nya.

Dia mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan dan orang-orang yang berbuat adil serta meridhai orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dia tidak mencintai orang-orang kafir dan tidak meridhai kaum yang fasik. Dia tidak memerintahkan perbuatan keji, tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, dan tidak mencintai kerusakan. Dia Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ada sebagian ulama yang memadukan keempat tingkatan takdir ini dalam satu bait sya’ir sebagai berikut:

(Taqdir) adalah ilmu, penulisan dan kehendak Maula kita Begitu juga penciptaan-Nya, yaitu pengadaan dan pembentukannya

Lebih dalam lagi mengenai takdir, penulis Syarh Aqidah Al-Wasithiyah menerangkan tentang iman kepada penulisan takdir seperti takdir yang meliputi seluruh makhluk, penulisan perjanjian (ketika di alam rahim), penulisan rezki, penulisan penetapan tahunan dan penulisan penetapan harian. Selain itu juga, menjelaskan secara ringkas sebagian jenis qalam (pena) alat penulis takdir itu.

Iman Kepada Penulisan Takdir, Mencakup Lima Takdir:

1. Takdir yang meliputi seluruh makhluk

Artinya, Allah telah mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakannya, sebagaimana dijelaskan sebelumnya berikut dalil-dalilnya, dalam empat tingkatannya.

2. Takdir kedua adalah penulisan mitsaq (perjanjian),
ketika Allah berfirman,

“Dan (ingatlah ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.”” (Al-A’raf: 172)

3. Takdir Al-’Umri (Penetapan umur): sekaligus penetapan rezki, aja, dan amal perbuatan seorang hamba, serta apakah ia bahagia ataukah sengsara, yaitu ketika masih berada di perut ibunya.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud.2

4.Takdir As-Sanawy (Penetapan tahunan). Allah berfirman, “Pada malam itu, dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (Ad-Dukhan:4)

Ibnu Abbas berkata, Ketika lailatul qadar, ditulislah pada ummul kitab, segala yang akan terjadi pada tahun itu, baik yang berupa kebaikan, keburukan, maupun rezki.

5.Takdir Al-Yaumi (Penetapan harian). Allah Ta’ala berfirman, “Setiap hari Dia dalam kesibukan.” (Ar-Rahman: 29)

Jadi, setiap hari Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, mengangkat derajat suatu kaum, merendahkan kaum yang lain.3

Takdir ini adalah penggiringan berbagai ketentuan kepada waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Takdir yaumy ini merupakan rincian takdir umri (usia) ketika ruh ditiupkan ke janin yang ada di dalam perut ibunya.

Sedangkan takdir umri juga merupakan rincian dari takdir pertama, di masa mitsaq (perjanjian), dan takdir di masa mitsaq ini merupakan perincian dari takdir yang ditulis oleh qalam dalam Lauh Mahfuzh.4

Menurut petunjuk As-Sunnah, qalam tersebut terdapat empat macam:

1.Qalam pertama yang umum dan menyeluruh, meliputi seluruh makhluk.

2.Qalam kedua ketika Adam diciptakan. Qalam ini juga bersifat umum, tetapi hanya meliputi seluruh bani Adam saja.

3.Qalam ketiga ketika malaikat diutus kepada janin yang berada di perut ibunya. Qalam ini digunakan untuk menulis empat kalimat.

4.Qalam keempat diciptakan untuk seorang hamba ketika telah mencapai baligh. Qalam ini dipegang oleh para malaikat pencatat, yang mereka gunakan untuk mencatat apa yang dikerjakan oleh bani Adam. 5

Apabila seorang hamba telah mengetahui bahwa kesemua itu berasal dari sisi Allah, maka yang wajib baginya adalah meng-esa-kan Allah dalam beribadah dan bertakwa kepadanya.6

Seorang hamba berkewajiban untuk menjalankan usaha dengan penuh kesungguhan seraya meminta pertolongan dan petunjuk kepada Allah, ia harus yakin bahwa tidak ada musibah yang menimpanya selain dari apa yang telah dituliskan Allah untuknya, serta meyakini dengan seyakin-yakinnya
bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan dan tidak menzhalimi walaupun sekecil biji dzarrah pun.

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji dzarrahpun, niscaya ia akan melihatnya. (Az-Zalzalah: 7 – 8).

Catatan Kaki

1 Lihat Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 121.

2 Muslim IV / 2036.

3 Lihat Al-Ma’arij Al-Qabul II / 345.

4 Ibid. hal. 24

5 Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz hafizhahullah berkata bahwa jumlah qalam tersebut hanya diketahui oleh Allah. Memastikan jumlahnya dengan empat saja, bukanlah sesuatu yang bagus. Ibnul Qayyim pernah menyebutkan empat qalam ini, tetapi bukan berarti tidak ada qalam lain selain yang empat ini, karena telah dikatakan bahwa ada qalam kelima yang digunakan untuk menulis apa saja yang terjadi dalam satu tahun, pada lailatul qadar…

Jadi, tidak boleh memastikan bahwa qalam itu hanya ada empat. Banyak sekali qalam yang jumlahnya hanya diketahui oleh Allah. Karena itu, dalam hadits mi’raj, beliau bersabda, “Terdengar suara goresan qalam (pena) …” Jumlahnya bisa jadi empat, seratus, atau seribu, dan hanya Rabb kita sajalah yang mengetahuinya. Syarh Ath-Thahawiyah, Ibnu Baz dalam 32 kaset.

6 Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Arnauth, hal.
235.

Syarh Aqidah Wasithiyah (Takdir dan Tingkatan-Tingkatannya)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s