Penyimpangan KITAB DALAILUL KHAIRAT

MENGUNGKAP HAKIKAT

YANG TERKANDUNG DI DALAM KITAB DALAILUL KHAIRAT

PENYUSUN

ABU AHMAD

MUHAMMAD ZAKI HIDAYAT BIN ADNAN AL ASYI

BANDA ACEH, JUMADIL AKHIR 1432 H

بسم الله الرحمن الرحيم

KATA PENGANTAR

إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته، ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة، وخلق منها زوجها، وبث منهما رجالا كثيرا ونساء، واتقو الله الذي تساءلون به والأرحام، إن الله كان عليكم رقيبا. يا أيها الذين آمنوا اتقو الله وقولوا قولا سديدا، يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم، ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما.

أما بعد، فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد r، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

Alloh ta’ala telah memberikan kepada kita, umat Islam, kenikmatan yang sangat banyak. Kenikmatan yang banyak ini tidak ada yang mampu untuk menghitungnya selain Dzat Yang memberikannya. Alloh ta’ala berfirman:

{وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ}([1])

Nikmat apa saja yang ada pada kalian, Maka (datangnya) dari Alloh.

{وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا}([2])

Jika kalian menghitung nikmat Alloh, tidaklah kalian dapat menghitungnya.”

Di antara nikmat terbesar yang diberikan Alloh U kepada umat ini adalah diutusnya Muhammad r sebagai Nabi dan Rasul-Nya, karena beliau r adalah pembawa syariat Alloh r dan menyebarkannya kepada seluruh umat manusia.

Beliau adalah seorang hamba pilihan yang diberikan kedudukan khusus dan keistimewaan di sisi Alloh U . Beliau r diangkat menjadi nabi dan rasul, dipilih menjadi hamba yang terdekat kepada-Nya (khalil), diangkat menjadi pemimpin keturunan Adam r pada hari kiamat, diberikan hak untuk memberikan syafaat secara khusus pada hari kiamat, dan lain sebagainya.

Di antara kemuliaan Nabi Muhammad r  adalah bahwasanya Alloh U dan para malaikat bershalawat untuknya dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bershalawat atasnya. Alloh U berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

{إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}([3])

Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Berdasarkan ayat ini, maka para sahabat bertanya kepada Rosululloh r tentang cara bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau dengan tujuan untuk mengamalkan perintah yang mulia ini. Begitu pula kaum muslimin setelah mereka bersemangat untuk bershalawat untuk Nabi r  sebagaimana yang Alloh U perintahkan.

Namun ibadah tidak hanya cukup bermodalkan semangat. Ibadah juga harus dilakukan dengan niat yang ikhlas dan tata cara yang benar. Tata cara yang benar ini hanya bisa didapatkan di dalam syariat yang telah dipaparkan di dalam Al Qur`an dan As Sunnah. Ibadah yang hanya dilandasi dengan semangat bisa membawa kepada ketergelinciran. Baik itu ketergelinciran kepada kesyirikan, ataupun ketergelinciran kepada kebid’ahan. Alloh U berfirman:

{وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ}([4])

Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya sebagai HUNAFA (orang-orang yang menghadapkan wajah kepada-Nya dan berpaling dari selain-Nya).

Rosululloh r bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ.([5])

Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa` Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan geraham.

Sebagai contoh, kita perhatikan banyak di kalangan umat Islam yang melaksanakan perintah Alloh U untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad r dengan hanya bermodalkan semangat dan kecintaan kepada beliau r tanpa dilandasi ilmu. Mereka bershalawat sampai berpuluh-puluh kali atau lebih dengan berbagai macam model shalawat, akan tetapi ternyata shalawat mereka itu jauh dari tuntunan yang diajarkan oleh Rosululloh r , baik dari sisi kandungan shalawat itu maupun tata cara pelaksanaannya.

Mereka menyangka bahwa mereka telah melaksanakan perintah Alloh U dengan benar dan telah membuktikan kecintaan mereka terhadap Rosululloh r dengan shalawat buatan mereka. Mereka menyangka telah melakukan suatu kebaikan padahal yang mereka lakukan adalah kebalikannya. Alloh U berfirman:

ö@è% ö@yd Lälã¤Îm7t^çR tûïΎy£÷zF{$$Î/ ¸x»uHùår& ÇÊÉÌÈ   tûïÏ%©!$# ¨@|Ê öNåkߎ÷èy™ ’Îû Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# öNèdur tbqç7|¡øts† öNåk¨Xr& tbqãZÅ¡øtä† $·è÷Yß¹([6])

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”  Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”.

Salah satu kitab yang mereka jadikan pedoman utama dalam hal bershalawat untuk Nabi Muhammad r adalah kitab ““Dalailul Khoirot”” yang ditulis oleh Muhammad bin Sulaiman Al Juzuli. Kitab ini dianggap sebagai kitab induk shalawat bagi kaum sufi sehingga tidak heran bila penyebarannya mencapai hampir ke seluruh dunia.

Kitab ini bila diteliti dan diperhatikan secara ilmiah yang berlandaskan dalil-dalil syar’i ternyata tidak sebesar namanya yang berarti petunjuk kepada kebaikan. Kitab ini mengandung banyak penyimpangan dan penyelisihan terhadap ajaran Islam yang murni. Orang-orang yang tidak berilmu yang sudah terlanjur terkesima dengan popularitas kitab ini bersangka baik dan menganggap kitab ini adalah syariat yang harus diamalkan.

Oleh karena itu, dalam rangka mengamalkan hadits Rosululloh r :

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ ؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّاتِهِمْ.([7])

Rosululloh r bersabda: Agama adalah nasehat. Kami bertanya: (Nasehat) untuk siapa? Nabi r menjawab: Untuk Alloh, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan keumuman kaum muslimin.”

dan hadits:

مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ.([8])

Barangsiapa di antara kalian ada yang mampu untuk memberi manfaat kepada saudaranya maka hendaklah dia melakukannya.

maka saya menyusun sebuah tulisan ringkas dan sederhana yang berkaitan dengan isi kitab ““Dalailul Khoirot””. Saya mengumpulkan keterangan-keterangan dari beberapa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menerangkan tentang penyimpangan-penyimpangan akidah yang terdapat di dalam kitab tersebut.

Saya memohon kepada Alloh semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi diri saya dan seluruh kaum muslimin, dan bisa menyadarkan mereka yang telah terbiasa mengamalkan isi kitab ini sehingga mereka bisa kembali kepada tuntunan Al Qur`an dan Sunnah yang sebenarnya dengan pemahaman generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik dan benar. Amin.

Penyusun

Abu Ahmad Zaki bin Adnan bin Abdurrahman

Banda Aceh, Kamis, 09 Jumadil Akhir 1432 H.

 

BAB PERTAMA

BIOGRAFI PENGARANG KITAB ““DALAILUL KHOIROT””

Pengarang kitab “Dalailul Khoirot” bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Abdirrahman bin Abi Bakr Sulaiman bin Daud bin Bisyr Al Juzuli ([9]) As Samlali Asy Syadzali Asy Syarif Al Hasani. Lahir pada tahun 807 H. Dia termasuk keturunan ahlul bait dari jalur Fathimah bintu Muhammad r . Dia berasal dari kota Sus Al Marakasyiah. Kota ini terletak di daerah pantai di ujung wilayah Magrib (Maroko). Kabilah Juzulah merupakan salah satu kabilah bangsa Barbar.

Dia dianggap sebagai seorang alim di kalangan Sufi ([10]). Mendalami ilmu agama di negeri Fas dan menghafal kitab “Al Mudawwanah” tentang fiqh Imam Malik, dan juga menghafal beberapa kitab lain. Dia pernah menunaikan haji dan melakukan perjalanan panjang ke berbagai daerah, sampai pada akhirnya dia menetap di Fas dan menulis kitab ini di sana. Dia juga mengarang kitab tasawuf lainnya seperti kitab “Hizbul Falah” dan kitab “Hizbul Juzuli” dalam bahasa daerah.

Dia memiliki pengikut dari yang dikenal dengan nama Al Juzuliyah. Aliran ini merupakan bagian dari aliran Asy Syadzaliyah. Dia digelari sebagai Nukhbatud Dahr (tokoh pilihan pada masanya), Wahidul ‘Ashr (tokoh yang tiada tandingan pada masanya), tokoh pembangkit aliran di kawasan barat Afrika dari kepunahan, dan Syamsul Haqiqah (matahari hakikat).

Dia meninggal di daerah Afghal, Magrib (Maroko) pada tahun 870 H. Penyebab kematiannya konon disebabkan oleh keracunan. Wallohu a’lam.([11])

 

* * * * *

 

 

 

KEDUDUKAN KITAB “DALAILUL KHOIROT” DI KALANGAN SUFI

Judul lengkap kitab “Dalailul Khoirot” adalah:

دَلاَئِلُ الخَيْرَاتِ وَشَوَارِقُ الأَنْوَارِ في ذِكْرِ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ المُخْتَارِ

Kitab ini tidak hanya dipakai oleh salah satu aliran Sufi, tapi dipakai oleh hampir seluruh aliran Sufi, dan dianggap sebagai kitab induk utama dalam hal tata cara bershalawat atas Nabi Muhammad r . Begitu pula Jama’ah Tabligh menjadikan kitab ini sebagai wirid mereka sebagaimana dikatakan oleh Syekh Hamud At Tuwaijiri ([12]). Kitab ini sangat dimuliakan oleh orang-orang Sufi dan tersebar luas di berbagai mesjid di banyak negara.

Penulis kitab “Kasyfudhz Dhzunun” berkata: “Kitab ini adalah salah satu dari tanda kekuasaan Alloh tentang cara bershalawat atas Nabi r . Kitab ini dibaca dengan sungguh-sungguh di kawasan timur dan barat bumi terutama di negeri-negeri (bekas kekuasaan) Romawi ([13]). Kitab ini memiliki syarh (penjelasan) yang menarik dan ringkas yang ditulis oleh Syekh Muhammad Al Mahdi bin Ahmad bin Ali bin Yusuf Al Fasi Al Qashawi yang meninggal pada tahun 1052 H. Syarh ini bernama Mathali’ul Musabbarat bi Jala`i Dalailil Khoirot. Kitab ini juga memiliki beberapa syarh, tapi yang terbaik adalah kitab milik Al Fasi ini.” ([14])

Jadwal dan cara membaca kitab ini berbeda-beda menurut kebiasaan di daerah masing-masing dan keinginan si pembaca. Ada yang membacanya setiap malam Jum’at setengah kitab, ada yang sepekan dua kali tamat, ada yang membacanya setiap hari selepas membaca Al Qur`an, dan ada pula sehari dua kali di waktu pagi dan petang. Kitab ini juga biasa dibaca di setiap peringatan maulid Nabi Muhammad r dengan mengupah orang-orang tertentu. Terkadang pula dibaca ketika melakukan ziarah kubur.

 

* * * * *

 

PERHATIAN AHLUSSUNNAH TERHADAP KITAB “DALAILUL KHOIROT”

Kitab “Dalailul Khoirot” –sebagaimana yang telah saya sebutkan- adalah kitab induk shalawat bagi hampir seluruh tarikat tasawuf di seluruh dunia di sepanjang masa sejak ditulisnya kitab ini. Oleh karena pentingnya kedudukan kitab ini menurut mereka, tentunya kitab ini banyak disebarkan oleh para pengikut tasawuf ke berbagai kawasan, disalin, atau dicetak ulang.

Namun tersebar luasnya suatu kitab bukanlah jaminan atas kebenaran isi kitab tersebut. Kebenaran suatu ajaran bukanlah dilihat dari luasnya pengaruh atau banyaknya pengikut ajaran tersebut, akan tetapi kebenaran suatu ajaran atau aliran ditentukan dari kesesuaiannya dengan syariat Alloh yang termaktub di dalam Al Qur`an dan Sunnah Nabi r karena Al Qur`an dan Sunnah semuanya berasal dari Alloh U .  Kebenaran yang hakiki datangnya hanya dari Alloh U . Alloh U berfirman:

{وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ}([15])

Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabb kailan.”

{الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ}([16])

Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Ketika ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para penuntut ilmu melihat dan memeriksa isi kitab tersebut, ternyata di dalamnya banyak didapatkan penyimpangan terhadap syariat, baik dari sisi kesyirikan, kebid’ahan, ghuluw, penggunaan hadits lemah, dan lain sebagainya.

Kitab ini dikhawatirkan bisa menyesatkan para pembacanya dan dengan tidak disadari bisa menyebabkan pembacanya terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal. Apalagi orang-orang awam dan para pengikut fanatik buta aliran-aliran tasawuf yang mereka ini tidak memiliki ilmu akidah yang lurus dan murni yang berlandaskan Al Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman generasi salaf terbaik umat ini dari kalangan para sahabat Rosululloh r dan generasi-generasi setelahnya yang mengikuti mereka dengan benar.

Mengingat luasnya peredaran kitab ini di kalangan masyarakat dan penyimpangan yang terkandung di dalamnya, maka ulama dan para penuntut ilmu bangkit untuk menerangkan kepada umat Islam tentang syariat yang benar dan memperingatkan mereka tentang hakikat dan penyelisihan-penyelisihan yang terkandung di dalam kitab “Dalailul Khoirot”, baik secara lisan maupun tulisan.

Hal ini mereka lakukan sebagai salah satu bentuk pembelaan terhadap agama Alloh U dan penjagaan kemurnian agama ini dari kesyirikan, kebid’ahan, dan penyimpangan-penyimpangan yang lainnya. Begitu pula ini merupakan salah satu bentuk ingkar mungkar yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad r :

 مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ.([17])

Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, apabila tidak mampu maka dengan lisannya, dan siapa yang tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah iman yang paling lemah.

Alloh U berfirman:

{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}([18])

Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.

Alhamdulillah, telah banyak tulisan dan peringatan yang telah disusun oleh ulama-ulama Islam dan para penuntut ilmu tentang penyimpangan kitab ini, baik dalam bentuk risalah, kitab, fatwa, maupun nasehat tertulis. Ada tulisan yang membahas masalah ini secara khusus, ada pula yang yang membahasnya secara umum. Di antara tulisan-tulisan tersebut adalah kitab “Fadhlush Sholati ‘alan Nabi r“ karangan Syekh Abdul Muhsin bin Hamad Al ‘Abbad حفظه الله dan kitab “Minhajul Firqatin Najiah” karangan Syekh Muhammad bin Jamil Zainu, fatwa Al Lajnah Ad Daimah, dan lain sebagainya. Semua tulisan ini bertujuan untuk menjaga akidah umat Islam dari penyimpangan yang terdapat di dalam kitab “Dalailul Khoirot” dan yang semisalnya.

* * * * *

 

 

BAB KEDUA

MENGUNGKAP HAKIKAT KITAB “DALAILUL KHOIROT”

Pada bab ini, pembahasan akan kami bagi ke dalam beberapa bagian agar pembaca lebih mudah untuk berkonsentrasi dan memahami setiap permasalahan. Pada setiap bagian akan saya berikan beberapa contoh nukilan wirid shalawat yang ada di dalam kitab “Dalailul Khoirot” dan akan saya berikan penjelasan ringkas yang berkaitan dengan hal tersebut berdasarkan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan pemahaman generasi salafush sholih. Semoga Alloh U memberikan bantuan dan petunjuk-Nya kepada saya.

BAGIAN PERTAMA

SHALAWAT YANG MENGANDUNG KESYIRIKAN DAN KEBID’AHAN

Kesyirikan dan kebid’ahan merupakan perkara yang sangat tercela di dalam agama ini. Di dalam Al Qur’an dan As Sunnah banyak kita dapatkan keterangan yang menunjukkan atas keharamannya dan ancaman bagi pelakunya. Alloh U berfirman:

{وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا}([19])

Beribadahlah kalian kepada Alloh dan jangan mempersekutukan-Nya dengan suatu apapun.

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ}([20])

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.”

Rosululloh r bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ في أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسِ فِيْهِ فَهُوَ رَدٌّ.([21])

Barangsiapa yang membuat perkara baru di dalam urusan kami ini (syariat) yang bukan merupakan bagian darinya, maka perkara tersebut tertolak.

Di dalam riwayat lain:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.([22])

Barangsiapa yang melakukan perbuatan (agama) yang tidak ada perintahnya dari kami, maka perbuatan itu tertolak.

Makna ‘tertolak’ adalah amal perbuatan tersebut tidak diterima oleh Alloh, pelakunya berdosa, dan tidak mendapatkan pahala.

Kesyirikan dan kebid’ahan dapat terjadi pada perbuatan, ucapan, dan keyakinan. Bahkan dalam beberapa kasus, kebid’ahan juga dapat berubah menjadi kesyirikan.

Khusus di dalam kitab “Dalailul Khoirot” ini banyak ditemukan kesyirikan dan kebid’ahan di dalam hal ucapan yang berupa wirid dan shalawat untuk Nabi Muhammad r . Dikhawatirkan lafadh-lafadh syirik dan bid’ah yang ditulis oleh penulis di dalam kitab ini adalah merupakan akidah yang diyakini oleh penulis, karena lisan dan tulisan biasanya merupakan juru bicara hati. ([23])Apa yang tersimpan di hati biasanya ditampakkan oleh lisan dan perbuatannya. Apabila benar demikian halnya, maka tentunya hal ini sangatlah berbahaya bagi keselamatan akidah Al Juzuli. Wallohul musta’an.

Berikut ini saya nukilkan sedikit contoh wirid dan shalawat yang mengandung kesyirikan dan kebid’ahan yang terdapat di dalam kitab “Dalailul Khoirot”. Di antaranya:

الوَاحِدُ الأَحَدُ الصَّمَدُ ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، يَا هُوَ، يَا مَنْ لاَ هُوَ إِلاَّ هُوّ، يَا مَنْ لاَ هُوَ إِلاَّ هُوَ

Al Wahid Al Ahadu Ash Shomad, Yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan-Nya. Wahai Dia. Wahai yang tidak ada Dia melainkan Dia. Wahai yang tidak ada Dia melainkan Dia.

Syekh Bakr Abu Zaid رحمه الله mengomentari lafadh (يا من لا هو إلا هو) : “Ini adalah salah satu bentuk doa yang batil -yang tidak pernah ada sebelumnya- yang terdapat di dalam kitab “Dalailul Khoirot” milik Al Juzuli, karena (هو) bukanlah termasuk dari nama-nama Alloh. Oleh karena itu tidak boleh berdoa dengan menggunakan nama ini.” ([24])

Di antaranya, penulis berkata pada shalawat bagian ke tujuh zikir hari Ahad ([25]):

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ مَا سَجَعَتِ الحَمَائِمُ، وَحَمَتِ الحَوَائِمُ، وَسَرَحَتِ البَهَائِمُ، وَنَفَعَتِ التَّمَائِمُ

Ya Alloh, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad selama merpati masih berkicau, selama induk masih melindungi (anaknya), selama hewan masih merumput, dan selama tamimah (jimat) masih bermanfaat.

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu رحمه الله berkata: “Tamimah (jimat) adalah sejenis bungkusan yang dijahit dan benang ([26]) dan yang semisalnya yang digantungkan pada anak-anak kecil dan yang lainnya untuk melindungi dari ‘ain ([27]). Jimat ini tidak bisa memberi manfaat kepada orang yang memasangnya dan tidak pula kepada orang yang dipasangi, bahkan dia merupakan perbuatannya kaum musyrikin. Nabi r bersabda:

مَنْ عَلَّقَ تَمِيْمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ.([28])

Barangsiapa menggantungkan jimat maka sungguh dia telah berbuat kesyirikan.

Bentuk shalawat seperti ini menyelisihi hadits dan menjadikan kesyirikan dan jimat sebagai bentuk pendekatan diri kepada Alloh. Kita memohon keselamatan dan petunjuk kepada Alloh.” ([29])

Jimat penangkal ‘ain ini banyak dijumpai di kalangan Arab Jahiliah dan masyarakat di seluruh dunia. Setelah datangnya Islam, maka dilaranglah penggunaan jimat ini karena terdapat unsur kesyirikan. Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani رحمه الله berkata: “Penafsiran penulis kitab syarh “Dalailul Khoirot” bahwa (التمائم) adalah bentuk jamak dari (تميمة) yang bermakna suatu kertas yang ditulis padanya nama Alloh dan ayat Al Qur`an dan dipasang di kepala dengan tujuan misalnya untuk mencari berkah, makna ini tidaklah benar, karena lafadz (التمائم) secara mutlak bermakna bungkusan yang dijahit sebagaimana penjelasan Ibnul Atsir ([30]) yang telah lewat. Kalau seandainya makna ini dianggap benar, maka tidak ada dalil di dalam syariat yang menunjukkan bahwa tamimah dengan makna yang seperti ini bisa memberi manfaat. Oleh karena itu sebagian ulama Salaf membenci hal ini sebagaimana yang telah saya terangkan di catatan saya terhadap kitab “Al Kalimuth Thayyib.” ([31])

Contoh lainnya adalah berdoa kepada Alloh U dengan menggunakan nama-nama Alloh yang tidak ada dalilnya, seperti: يا أزلي , يا أبدي , يا دهري , dan يا ديمومي .

Syekh Bakr Abu Zaid رحمه الله mengomentari lafadh-lafadh tersebut: “Doa-doa ini merupakan keanehan yang terdapat di dalam kitab “Dalailul Khoirot” milik Al Juzuli, karena Alloh سبحانه وتعال berfirman:

{وَلِلَّهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا}([32])

Asma`ul Husna hanya milik Alloh semata. Maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma`ul Husna itu.”

Nama-nama Alloh itu tauqifiyyah (ditentukan oleh nash dari Al Qur`an dan As Sunnah). Sementara itu tidak ada satupun nash dari dua wahyu (Al Qur`an dan Sunnah) yang menerangkan bahwa الأزلي , الأبدي , الدهري , dan الديمومي adalah termasuk dari nama-nama Alloh. Oleh karena itu tidak boleh menetapkan suatu nama yang tidak ada nashnya untuk Alloh, dan tidak boleh digunakan untuk berdoa.” ([33])

Contoh lainnya adalah berdoa kepada Nabi Muhammad r , meminta beliau agar menjadi perantara untuk mendekatkan diri penulis/pembaca kepada Alloh U . Hal ini diistilahkan di dalam syariat dengan nama tawassul.

Menjadikan diri Rosululloh r atau kehormatan dan kemuliaannya sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Alloh bukanlah merupakan bentuk tawassul yang syar’i. Rosululloh r pada masa hidupnya saja tidak mampu untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya dari dirinya sendiri kecuali pada beberapa hal yang dikehendaki oleh Alloh U , maka bagaimana bisa beliau r memberikan pertolongan kepada orang lain ketika beliau sudah meninggal? Alloh berfirman:

{قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ}([34])

Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak berkuasa untuk mendatangkan kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Alloh.

Al Juzuli berkata:

يَا حَبِيْبَنَا، يَا مُحَمَّدُ، إِنَّا نَتَوَسَّلُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ المَوْلَى العَظِيْمِ

Wahai kekasih kami, Wahai Muhammad, sesungguhnya kami bertawassul denganmu kepada Rabbmu. Maka mintakanlah syafaat untuk kami di sisi Al Maula Al ‘Adhim (Alloh).”

Di dalam kalimat di atas, terlihat bahwa Al Juzuli berdoa kepada Nabi Muhammad r dan memanggil-manggil namanya. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan akbar, yaitu berdoa kepada orang yang telah meninggal dan tidak bisa memberi manfaat dan menolak bahaya dari orang yang berdoa([35]). Kita berlindung kepada Alloh U dari segala bentuk kesyirikan.

Di tempat lain Al Juzuli berkata:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَشْفِعُ بِهِ إِلَيْكَ إِذْ هُوَ أَوْجَهُ الشُّفَعَاءِ إِلَيْكَ، وَنَقْسِمُ بِهِ عَلَيْكَ إِذْ هُوَ أَعْظَمُ مَنْ أُقْسِمَ بِحَقِّهِ عَلَيْكَ، وَنَتَوَسَّلُ بِهِ إِلَيْكَ إِذْ هُوَ أَقْرَبُ الوَسَاِئِل إِلَيْكَ وَأَشْرَفُهُمْ جُرْثُوْمَةً

Ya Alloh, sesungguhnya kami meminta syafaat kepada-Mu dengannya (Nabi Muhammad r ) karena beliau adalah pemberi syafaat yang paling tinggi kedudukannya bagi-Mu. Kami bersumpah atas-Mu dengannya karena dia adalah orang yang paling agung yang haknya digunakan untuk bersumpah atas-Mu. Kami bertawassul dengannya karena dia adalah perantara yang paling dekat kepada-Mu dan yang paling mulia asal usulnya.“

Bertawassul kepada Alloh U dengan menggunakan perantara dzat Rasul atau kehormatannya hukumnya terlarang. Bertawassul kepada Alloh r hanya boleh dilakukan dengan perantara nama-nama-Nya, amal-amal sholih, dan melalui doa orang shalih yang masih hidup. Untuk mendapatkan pembahasan rinci tentang hal ini silakan merujuk kepada kitab “Qo’idatun Jalilah fit Tawassul wal Wasilah” karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ([36]) dan kitab At Tawassul karangan Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani, semoga Alloh U merahmati mereka berdua.

Begitu pula dalam hal syafaat, tidak boleh memintanya kepada selain Alloh U . Ia hanya boleh boleh diminta kepada Alloh U saja karena ia adalah hak khusus-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang bisa memberi syafaat kecuali dengan izin dari Alloh U , dan izin ini hanya diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Alloh U berfirman:

{وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى}([37])

dan berapa banyak malaikat di langit yang  syafaat mereka tidak berguna sedikitpun  kecuali sesudah Alloh mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).

Alloh U berfirman:

{مَن ذَا الذى يَشْفَعُ عِندَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ}([38])

Siapakah  yang dapat  memberi syafaat di sisi Alloh kecuali dengan izin-Nya.”

Maknanya: tidak ada seorangpun yang dapat memberikan syafaat di sisi Alloh U kecuali setelah mendapatkan izin dari-Nya. Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Ini merupakan keagungan, kebesaran, dan kekuasaan-Nya U , bahwasanya seseorang tidak berani untuk memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya kepadanya untuk memberikan syafaat.” ([39])

Asy Syaukani رحمه الله berkata: “Di dalam pertanyaan ini terdapat pengingkaran terhadap orang yang menyangka bahwa seorang hamba-Nya memiliki kemampuan untuk memberikan manfaat kepada orang lain dengan memberikan syafaat kepadanya atau dengan hal yang lain. (Pertanyaan ini) juga merupakan teguran dan kritikan yang cukup bagi orang tersebut.” ([40])

Syekh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i رحمه الله memiliki pembahasan khusus tentang permasalahan ini yang berjudul Asy Syafa’ah. Kitab ini adalah kitab yang sangat bermanfaat di dalam hal ini. Pada bab fatwa ulama (bab kelima) nanti akan datang pula pembahasan tentang hal ini dari Lajnah Daimah, insya Alloh تعالى . ([41])

* * * * *

 

BAGIAN KEDUA

SHALAWAT YANG MENGANDUNG MAKNA WIHDATUL WUJUD

 

Wihdatul wujud adalah suatu keyakinan bahwasanya Alloh سبحانه وتعالى masuk ke dalam tubuh makhluk ciptaan-Nya dan menyatu di dalamnya sehingga zat Alloh dan zat makhluk menjadi satu. Alloh adalah makhluk, dan makhluk adalah Alloh. Inilah konsekuensi dari akidah sesat ini. Paham ini banyak tersebar di kalangan generasi terakhir umat ini dari kalangan ahli tasawuf. Mereka mengistilahkan hal ini dengan nama tauhid, namun pemahaman tauhid mereka berbeda dengan pemahaman tauhid yang diajarkan oleh Nabi Muhammad r .

Keyakinan ini pernah dianut oleh sebagian kelompok Jahmiah, dan didapatkan pula pada kalamnya Ibnu Arabi, Al Hallaj, Ibnu Sab’in, Asy Syisytiri, Ibnul Faridh, Ibnu Israil, dan banyak lagi. Ibnu Arabi berkata:

مَا في الجُبَّةِ إِلاَّ اللهُ

Tidaklah yang berada di dalam baju jubah ini melainkan Alloh.”

Al Hallaj berkata:

أَنَا أَنْتَ بِلاَ شَكٍّ، فَسُبْحَانَكَ سُبْحَانِي، وَتَوْحِيْدُكَ تَوْحِيْدِي، وَعِصْيَانُكَ عِصْيَانِي

Aku (Al Hallaj) adalah Anda (Alloh) tanpa keraguan. Maka kesucian-Mu adalah kesucianku, tauhid-Mu adalah tauhidku, dan bermaksiat kepada-Mu adalah bermaksiat kepadaku.

Abu Yazid Al Bisthomi berkata:

سُبْحَانِي سُبْحَانِي، مَا أَعْظَمُ شَانِي، الجَنَّةُ لُعْبَةُ صِبْيَانِي

Maha suci diriku, maha suci diriku, betapa agungnya perkaraku, surga adalah mainan anak-anakku.

Ketika Ibnu Sab’in mendengar suara anjing, dia berkata kepada anjing tersebut:

سُبْحَانَكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Maha suci engkau (anjing) wahai Rabb semesta alam.

Keyakinan ini adalah bentuk kekafiran yang paling tinggi, bahkan di atas kekukufuran Yahudi, Nasrani, kaum musyrikin Arab, dan Syiah ekstrim. Mereka mengatakan bahwa yang bisa dianggap sebagai Rabb hanyalah orang atau zat tertentu saja seperti Uzair, Isa bin Maryam, Ali bin Abi Thalib, atau beberapa benda saja. Adapun penganut paham Wihdatul Wujud ini meyakini bahwa siapapun yang bisa mencapai derajat hakikat dan ma’rifah bisa menyatukan diri dengan Alloh U sehingga bisa menganggap dirinya sebagai Alloh.

Di antara lafadh shalawat di dalam kitab “Dalailul Khoirot” yang mengandung makna Wihdatul Wujud:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، نُوْرِ الذَّاتِ، وَسِرِّهِ السَّارِيُ في جَمِيْعِ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ya Alloh, berilah shalawat atas Muhammad, cahaya zat, dan rahasia-Nya yang berjalan di seluruh nama dan sifat. Semoga Alloh bershalawat dan memberikan keselamatan atasnya.”

Al Juzuli mengatakan bahwa Nabi Muhammad r merupakan rahasia Alloh yang menyatu di dalam nama-nama dan sifat-sifat Alloh U .

Di tempat lain Al Juzuli berkata:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، بَحْرِ أَنْوَارِكَ … إِنْسَانٍ عَيْنِ الوُجُوْدِ، وَالسَّبَبِ في كُلِّ مَوْجُوْدٍ، عَيْنِ أَعْيَانِ خَلْقِكَ المُتَقَدِّمِ مِنْ نُوْرِ ضِيَائِكَ

Ya Alloh, berilah shalawat kepada pemimpin kami Muhammad, lautan cahayamu, … , manusia inti segala wujud dan penyebab dari segala yang ada, inti dari berbagai makhluk-Mu yang terdahulu yang berasal dari sinar-Mu.

Maksudnya adalah kaum Sufi menganggap Nabi Muhammad r asalnya adalah cahaya yang diambil dari cahayanya Alloh U . Cahaya beliau ini sudah ada sebelum Alloh menciptakan segala makhluk. Lalu dari cahaya Nabi Muhammad r inilah Alloh menciptakan segala makhluk. Oleh karena itu penulis mengatakan bahwa Nabi Muhammad r adalah zat inti para makhluk karena cahayanya berada pada setiap individu makhluk.

FAIDAH: BENARKAH NABI MUHAMMAD r DICIPTAKAN DARI CAHAYA?

Salah satu akidah yang diyakini oleh ahli tasawuf adalah keyakinan bahwa Nabi Muhammad r diciptakan dari cahaya sebelum penciptaan seluruh makhluk. Mereka berdalil dengan hadits Jabir bin Abdullah t . Dia bertanya kepada Rosululloh r tentang makhluk apakah yang paling pertama diciptakan oleh Alloh U . Lalu Rosululloh r menjawab:

يَا جَابِرُ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى خَلَقَ قَبْلَ الأَشْيَاءِ نُوْرَ نَبِيِّكَ مِنْ نُوْرِهِ.

Wahai Jabir, sesungguhnya Alloh تعالى  menciptakan cahaya Nabimu dari cahaya-Nya sebelum (menciptakan) yang lain.

Hadits ini adalah hadits yang panjang, disebutkan oleh Al ‘Ajluni di kitabnya Kasyful Khofa` hadits nomor 827, dan menyandarkan periwayatannya kepada Abdurrozzaq penyusun Mushannaf. Setelah diteliti oleh para ulama, ternyata penyandaran hadits ini kepada Abdurrozzaq tidaklah benar. Hadits ini tidak ditemukan di dalam Mushannaf beliau. Syekh Al Albani رحمه الله berkata: “Hadits Abdurrozzaq sanadnya tidak diketahui.” ([42]) Hal ini menunjukkan akan kepalsuan hadits ini.

Hadits lain yang menjadi sandaran mereka adalah hadits palsu yang tersebar di kalangan manusia:

إِنَّ اللهَ قَبَضَ قَبْضَةً مِنْ نُوْرِهِ، فَقَالَ لَهَا: كُوْنِي مُحَمَّدًا، فَصَارَتْ عَمُوْدًا.

Sesungguhnya Alloh menggenggam segegenggam cahaya-Nya lalu berkata kepadanya: ‘Jadilah engkau sebagai Muhammad.’ Maka berubahlah cahaya itu menjadi tiang.

Para ulama menghukumi hadits ini dan yang sebelumnya sebagai hadits palsu dan dusta. Di antara yang menunjukkan akan kepalsuan hadits ini, Alloh U memerintahkan cahaya untuk menjadi Muhammad, tapi cahaya itu malah berubah menjadi tiang, seolah-olah Alloh U tidak memiliki kekuasaan yang sempurna sehingga terjadi kesalahan.

Semua hadits yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad r berasal dari cahaya dan bahwa cahaya beliau r adalah makhluk pertama yang diciptakan Alloh U adalah palsu dan bertentangan dengan Al Qur`an dan Sunnah yang shahih. Alloh U telah menerangkan di dalam banyak ayat dan surat bahwa asal manusia diciptakan dari tanah, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad r . Alloh U berfirman:

{وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ % ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ % ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ}([43])

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci  Alloh, Pencipta yang paling baik.

Alloh U berfirman:

{قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ}([44])

Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa seperti kalian yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya sesembahan kalian itu adalah sesembahan yang tunggal.

Rosululloh r bersabda:

خُلِقَتِ المَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ، وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارِ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ.([45])

Malaikat diciptakan dari cahaya,  jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan kepada kalian.

Asy Syaikh Al Albani berkata: “Pada hadits ini terdapat isyarat tentang batilnya hadits yang masyhur di kalangan manusia: “Wahai Jabir, yang pertama diciptakan oleh Alloh adalah cahaya Nabimu.” dan hadits lainnya yang menyebutkan bahwa beliau r diciptakan dari cahaya. Sesungguhnya hadits ini (hadits Aisyah رضي الله عنها ) adalah dalil yang jelas bahwa hanya malaikat  yang diciptakan dari cahaya, tidak termasuk Adam dan keturunannya.” ([46])

Begitu pula perkataan mereka yang mengatakan bahwa cahaya Muhammad adalah makhluk yang paling pertama diciptakan oleh Alloh U adalah batil dan bertentangan dengan hadits:

إِنّ أَوّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ.([47])

Sesungguhnya yang paling pertama Alloh ciptakan adalah Al Qalam.

Di dalam hadits ini disebutkan bahwa makhluk yang paling pertama diciptakan oleh Alloh U adalah Al Qalam yang bertugas untuk mencatat takdir seluruh makhluk hingga hari Kiamat kelak. Ini merupakan salah satu pendapat dari kalangan para ulama.

Pendapat lainnya mengatakan bahwa makhluk yang paling pertama diciptakan adalah Arsy berdasarkan hadits Imron bin Hushoin t riwayat Al Bukhari (3191) yang menerangkan bahwa Arsy telah ada sebelum penentuan takdir, dan hadits Abdullah bin Amr bin Al Ash t riwayat Muslim (2653) yang menerangkan bahwa Alloh U telah menentukan takdir segala sesuatu sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, dan Arsy pada waktu itu telah ada. Pendapat kedua ini adalah pendapat kebanyakan ulama.

Untuk penjelasan lebih lengkap silakan melihat pembahasannya pada kitab “Ash Shofadiyah” (2/79) karangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Syarh Ath Thohawiyah” (1/241) karangan Ibnu Abil Izz, dan “Fathul Bari” (6/346-347) karangan Ibnu Hajar Al Asqalaniy.

Namun, walaupun terjadi perbedaan pendapat, tidak ada satupun dari para ulama yang mengatakan bahwa makhluk yang paling pertama diciptakan adalah cahaya Muhammad. Ayat-ayat, hadits-hadits, dan penjelasan para ulama Ahlus Sunnah ini membuktikan kekeliruan pendapat kaum Sufi yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad r diciptakan dari cahaya dan cahayanya ini adalah makhluk yang paling pertama diciptakan oleh Alloh U . Segala puji hanya bagi Alloh U yang telah memberikan petunjuk-Nya kepada kita.

 

* * * * *

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN KETIGA

SHALAWAT YANG MENGANDUNG PUJIAN SECARA BERLEBIHAN TERHADAP ROSULULLOH r

Mengagungkan dan memuliakan Rosululloh r adalah suatu bentuk ibadah yang disyariatkan. Alloh U berfirman di dalam Al Qur`an:

{إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا % لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً}([48])

Sesungguhnya Kami mengutus kalian sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan supaya kalian sekalian beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya, mengagungkannya (Rasul), memuliakannya (Rasul), dan bertasbih kepada-Nya (Alloh) di waktu pagi dan petang.

Alloh U juga memerintahkan kita untuk bershalawat untuk beliau r . Alloh U berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}([49])

Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya (Nabi) dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Akan tetapi, bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad r haruslah dengan memperhatikan tata cara dan batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syariat. Kedudukan beliau r yang tinggi di sisi Alloh U bukanlah menjadi pemboleh bagi seseorang untuk memuji beliau r secara berlebihan.

Sikap berlebihan di dalam memuji seseorang bisa menimbulkan sikap pengagungan yang berlebihan dan lama-kelamaan bisa membawa kepada kesyirikan sebagaimana yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani. Perbuatan ini dinamakan dengan ghuluw. Nabi Muhammad r sendiri tidak senang bila disanjung dan dipuji secara berlebihan dan melarang umatnya untuk melakukan hal tersebut. Rosululloh r bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.([50])

Janganlah kalian berlebihan di dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan di dalam memuji (Isa) anak Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: (Muhammad r  adalah) seorang hamba dan utusan-Nya.

Pengagungan yang berlebihan terhadap Rosululloh r dari kalangan umat ini sangat banyak dijumpai pada kelompok Sufi dengan berbagai macam alirannya. Ada yang sampai kepada derajat bid’ah dan ada pula yang sampai kepada derajat kufur. Salah satu contohnya adalah kitab “Dalailul Khoirot”. Kitab ini dipenuhi dengan shalawat dan pujian yang berlebihan kepada Rosululloh r . Berikut akan saya sebutkan beberapa contohnya.

Di antara shalawat yang menyifati Nabi Muhammad r dengan sifat-sifat Uluhiyyah adalah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، نُوْرِ الذَّاتِ، وَسِرِّهِ السَّارِيُ في جَمِيْعِ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ya Alloh, berilah shalawat atas Muhammad, cahaya zat, dan rahasia-Nya yang berjalan di seluruh nama dan sifat. Semoga Alloh bershalawat dan memberikan keselamatan atasnya.”

Di antara shalawat yang bersifat ghuluw:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، بَحْرِ أَنْوَارِكَ، وَمَعْدِنِ أَسْرَارِكَ، وَلِسَانِ حُجَّتِكَ، وَعَرُوْسِ مَمْلَكَتِكَ، وَإِمَامِ حَضْرَتِكَ، وَطِرَازِ مُلْكِكَ، وَخَزَائِنِ رَحْمَتِكَ، وَطَرِيْقِ شَرِيْعَتِكَ المُتَلَذِّذِ بِتَوْحِيْدِكَ.

Ya Alloh, berilah shalawat kepada penghulu kami Muhammad, lautan cahaya-Mu, sumber rahasia-Mu, penyampai hujjah-Mu, tokoh penting kerajaan-Mu, imam di hadirat-Mu, gambaran kekuasaan-Mu, perbendaharaan rahmat-Mu, dan jalan syariat-Mu yang menikmati  kelezatan tauhid-Mu.

Contoh lainnya:

اللَّهُمَّ جَدِّدْ وَجَرِّدْ في هَذَا الوَقْتِ وَفي هَذِهِ السَّاعَةِ مِنْ صَلَوَاتِكَ التَّامَّةِ وَتَحِيَّاتِكَ الزَّاكِيَّاتِ وَرِضْوَانِكَ الأَكْبَرِ الأَتَمِّ عَلَى أَكْمَلِ عَبْدٍ لَكَ في هَذَا العَالَمِ مِنْ بَنِي آدَمَ، الَّذِي أَقَمْتَهُ لَكَ ظِلاًّ، وَجَعَلْتَهُ لِحَوَائِجِ خَلْقِكَ قِبْلَةً وَمَحَلاًّ، وَاصْطَفَيْتَهُ لِنَفْسِكَ، وَأَقَمْتَهُ بِحُجَّتِكَ، وَأَظْهَرْتَهُ بِصُوْرَتِكَ، وَاخْتَرْتَهُ مُسْتَوًى لِتَجْلِيَاتِكَ، وَمَنْزِلاً لِتَنْفِيْذِ أَوَامِرِكَ وَنَوَاهِيْكَ في أَرْضِكَ وَسَمَاوَاتِكَ، وَوَاسِطَةً بَيْنَكَ وَبَيْنَ مُكَوَّنَاتِكَ

Ya Alloh, pada waktu dan saat ini, perbaharuilah dan peruntukkanlah secara khusus shalawat-Mu yang sempurna, salam-Mu yang suci, dan keridhaan-Mu yang terbesar dan sempurna kepada hamba-Mu yang paling sempurna di alam ini dari kalangan keturunan Adam yang telah Engkau jadikan dia sebagai naungan bagi-Mu, dan menjadikannya sebagai kiblat dan tempat untuk segala kebutuhan makhluk-Mu, dan memilihnya untuk diri-Mu, dan menegakkan dia dengan hujjah-Mu, dan menampakkan dia dalam bentuk-Mu, dan memilihnya sebagai tingkatan untuk penampakan diri-Mu, dan sebagai tempat pelaksanaan segala perintah dan larangan-Mu di bumi dan langit-Mu, dan sebagai perantara antara Engkau dan makhluk-Mu.

Contoh lainnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ الَّذِي هُوَ قُطْبُ الجَلاَلَةِ

Ya Alloh, berilah shalawat kepada Muhammad yang mana dia adalah pusat kebesaran.

Contoh lainnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَنْ تَفَتَّقَتْ مِنْ نُوْرِهِ الأَزْهَارُ، … ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَنْ أَخْضَرَتْ مِنْ بَقِيَّةِ وُضُوْئِهِ الأَشْجَارُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مَنْ فَاضَتْ مِنْ نُوْرِهِ جَمِيْعُ الأَنْوَارِ

Ya Alloh, berilah shalawat kepada orang yang cahayanya bisa membuat bunga-bunga menjadi mekar. Ya Alloh, berilah shalawat kepada orang yang sisa wudhunya bisa membuat pohon-pohon menjadi hijau. Ya Alloh, berilah shalawat kepada orang yang dari cahayanya menyebar segala cahaya.

Contoh lainnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ حَتَّى لاَ يَبْقَى مِنَ الصَّلاَةِ شَيْءٌ، وَارْحَمْ مُحَمَّدًا وَآلَ مُحَمَّدٍ حَتَّى لاَ يَبْقَى مِنَ الرَّحْمَةِ شَيْءٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ حَتَّى لاَ يَبْقَى مِنَ البَرَكَةِ شَيْءٌ، وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ حَتَّى لاَ يَبْقَى مِنَ السَّلاَمِ شَيْءٌ

Ya Alloh, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad hingga tidak ada lagi shalawat yang tersisa. Berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad hingga tidak ada lagi rahmat yang tersisa. Berilah keberkatan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad hingga tidak ada lagi keberkatan yang tersisa. Berilah salam kepada Muhammad dan keluarganya hingga tidak ada lagi salam yang tersisa.

Syekh Muhammad bin jamil Zainu رحمه الله berkata: “Bentuk shalawat seperti ini menjadikan shalawat dan rahmat itu bisa terhenti dan habis, padahal ia merupakan sifat perbuatan Alloh (yang tiada batasnya). Alloh telah membantah mereka dengan firman-Nya:

{قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا}([51])

Katakanlah (wahai Rosululloh): Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” ([52])

Mengingat penting dan luasnya pembahasan mengenai sikap ghuluw ini, maka insya Alloh saya akan membahas masalah ini secara khusus pada bab keempat. Wa billahit taufiq.

* * * * *

 

 

 

 

 

 

BAGIAN KEEMPAT

PENGGUNAAN HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU

 

Hadits lemah, terlebih lagi hadits palsu, tidak boleh diamalkan dalam berbagai perkara agama apapun termasuk di dalam masalah fadhailul a’mal (keutamaan dan pahala suatu amal sholih) dan at targhib wat tarhib (anjuran beramal sholih dan ancaman berbuat dosa).

Syekh Al Albaniy رحمه الله mengatakan: “Barangsiapa yang mengecualikan darinya ([53]) hadits lemah di dalam masalah fadhailul a’mal maka dia harus mendatangkan dalil, dan itu sangat tidak mungkin.” ([54]) Ini juga merupakan pendapat Syekh Muqbil Al Wadi’iy رحمه الله di dalam kitabnya “Al Makhraj minal Fitnah” (hal. 103) dan “Ijabatus Sa`il” (hal. 449).

Sebab dilarangnya mengamalkan hadits-hadits lemah adalah karena ia adalah salah satu bentuk kedustaan (taqawwul) dengan mengatas namakan Alloh U dan Rosululloh r . Seolah-olah Alloh dan Rasul-Nya pernah mengatakan dan mensyariatkan hal tersebut. Demikian makna kalam Asy Syaukaniy di dalam kitab “Al Fawaid Al Majmu’ah” (hal. 283).

Guru saya, Syekh Yahya bin Ali Al Hajuriy حفظه الله , menyebutkan beberapa kerusakan yang diakibatkan dari pengamalan hadits-hadits lemah dan palsu di dalam syariat. ([55]) Di antaranya:

  1. Menyebabkan tersebarnya bid’ah dan terdesaknya sunnah.
  2. Menyebabkan terjadinya perselisihan di antara kaum muslimin.
  3. Terkadang terjadi pengambilan hukum dari hadits-hadits at targhib wat tarhib yang lemah sehingga muncul sikap, akhlak, dan keyakinan yang dianggap merupakan contoh dari Rosululloh r, padahal tidak demikian halnya.
  4. Beramal dengan hadits lemah terkadang bisa menghilangkan kesempatan untuk beramal dengan dengan hadits yang shahih.
  5. Hadits-hadits lemah terkadang menimbulkan kesulitan dan keraguan terhadap dalil-dalil yang shahih.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata: “Tidak boleh di dalam syariat bersandar kepada hadits-hadits lemah yang tidak shahih dan tidak hasan.” ([56])

Abu Syamah Al Maqdisiy رحمه الله berkata: “Sekelompok ahli hadits bermudah-mudahan terhadap hadits-hadits tentang keutamaan suatu amalan. Hal ini menurut para peneliti dari kalangan ahli hadits, ulama ushul, dan fiqh adalah suatu kesalahan. Bahkan sepatutnya bagi mereka untuk menerangkan hal ini (yaitu derajat kelemahan hadits) jika mengetahui akan kelemahannya. Jika tidak menerangkannya maka termasuk ke dalam sabda beliau r :

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي حَدِيْثًا وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الكَاذِبِيْنِ.([57])

Barangsiapa yang menyampaikan hadits dariku dan dia mengetahui bahwasanya (hadits) tersebut adalah  dusta maka ia adalah salah satu dari para pendusta.” ([58])

Di antara hadits-hadits lemah dan palsu yang terdapat di dalam kitab “Dalailul Khoirot”:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ في كِتَابٍ لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ مَا دَامَ اسْمِي في ذَلِكَ الكِتَابِ

Barangsiapa yang bershalawat untukku di dalam buku, maka senantiasa para malaikat akan memintakan ampunan untuknya selama namaku masih ada di dalam buku itu.

Hadits ini dimasukkan oleh Syekh Al Albani رحمه الله ke dalam kitabnya Silsilatul Ahadits Adh Dha’ifah wal Maudhu’ah pada nomor 3316 dan menyatakan bahwa hadits ini sangat lemah sehingga tidak bisa dipakai sebagai hujjah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abul Qasim Al Ashbahani dan Ar Rafi’i dari Abu Hurairah t . Di sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal dan Abdussalam bin Muhammad Al Mishri. Ad Daraquthni berkata tentangnya: “Dia (haditsnya) sangat lemah, haditsnya mungkar.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani di “Al Mu’jamul Ausath” dari Abu Hurairah t . Di sanadnya terdapat perawi yang bernama Bisyr bin Ubaidillah Ad Darisi. Riwayatnya sangat lemah dan haditsnya mungkar. Dia juga dianggap sebagai pendusta oleh Al Azdi.

Contoh lainnya adalah hadits:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً تَعْظِيْمًا لِحَقِّي، خَلَقَ الله U مِنْ ذَلِكَ القَوْلِ مَلَكاً لَهُ جَنَاحٌ بِالمَشْرِقِ وَالآخَرُ بِالمَغْرِبِ، وَرِجْلاَهُ مَقْرُوْرَتَانِ في الأَرْضِ السَّابِعَةِ السُّفْلَى، وَعُنُقُهُ مُلْتَوِيَةٌ تَحْتَ العَرْشِ، يَقُوْلُ الله U لَهُ: صَلِّ عَلَى عَبْدِيْ كَمَا صَلَّى عَلَى نَبِيِّي، فَهُوَ يُصَلِّي عَلَيْهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ.

Barangsiapa yang bershalawat untukku dengan tujuan untuk mengagungkan hakku, maka Alloh U  akan menciptakan dengan sebab shalawat tersebut seorang malaikat yang memiliki sebelah sayap di bagian timur dan sebelah yang lain di bagian barat, kedua kakinya menetap di lapisan bumi yang ketujuh, dan lehernya melilit di bawah Arsy. Alloh U berkata kepadanya: ‘Bershalawatlah engkau untuk hamba-Ku sebagaimana dia bershalawat untuk nabi-Ku.’ Maka bershalawatlah malaikat tersebut untuk orang tersebut sampai hari kiamat.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Syahin di At Targhib fi Fadhailil A’mal dari Anas bin Malik t, dan disebutkan oleh Ali bin Ahmad Al Kannani di Tanzihusy Syari’ah (2/331). Hadits ini mungkar. Di sanadnya terdapat Al ‘Ala` ibnul Hakam Al Bashri, meriwayatkan hadits palsu sebagaimana disebutkan oleh Adz Dzahabi di Mizanul I’tidal.

Contoh hadits palsu lainnya:

مَا مِنْ عَبدٍ صَلَّى عَلَيَّ إَلاَّ خَرَجَتِ الصَّلاَةُ مُسْرِعَةً مِنْ فِيْهِ. فَلاَ يَبْقَى بَرٌّ وَلاَ بَحْرٌ وَلاَ شَرْقٌ وَلاَ غَرْبٌ إِلاَّ وَتَمُرُّ بِهِ وَتَقُوْلُ: “أَنَا صَلاَةُ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ، صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ المُخْتَارِ، خَيْرِ خَلْقِ اللهِ.” فَلاَ يَبْقَى شَيْءٌ إِلاَّ وَصَلَّى عَلَيْهِ. وَيَخْلُقُ مِنْ تِلْكَ الصَّلاَةِ طَائِرٌ لَهُ سَبْعُوْنَ أَلْفَ جَنَاحٍ، في كُلِّ جَنَاحٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ رِيْشَةٍ، في كُلِّ رِيْشَةٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ وَجْهٍ، في كُلِّ وَجْهٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ فَمٍ، في كُلِّ فَمٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ لِسَانٍ يُسَبِّحُ اللهَ U بِسَبْعِيْنَ أَلْفَ لُغَةٍ، وَيَكْتُبُ اللهُ لَهُ ثَوَابَ ذَلِكَ كُلِّهِ.

Tidaklah seorang hamba bershalawat melainkan shalawat itu akan segera keluar dari mulutnya. Maka tidak ada daratan, lautan, timur, dan barat melainkan shalawat itu akan melewatinya sambil berkata: ‘Aku adalah shalawat Fulan bin Fulan. Dia bershalawat untuk Muhammad yang terpilih, ciptaan Alloh yang terbaik.’ Maka tidak ada sesuatupun melainkan akan bershalawat untuknya. Lalu Alloh akan menciptakan dengan sebab shalawat tersebut seekor burung yang memiliki tujuh puluh ribu sayap, pada setiap sayap ada tujuh puluh ribu bulu, pada setiap bulu ada tujuh puluh ribu kepala, pada setiap kepala ada tujuh puluh ribu wajah, pada setiap wajah ada tujuh puluh ribu mulut, pada setiap mulut ada tujuh puluh ribu lidah, setiap lidah bertasbih kepada Alloh dengan menggunakan tujuh puluh ribu bahasa, lalu Alloh mencatat untuknya seluruh pahala tasbih tersebut.

Hadits ini sangat asing, tidak diriwayatkan oleh para ulama hadits yang terkenal di dalam kitab-kitab mereka. Begitu pula bila kita melihat keanehan yang luar biasa dari isi hadits ini maka kita bisa menduga bahwa hadits ini adalah kedustaan yang dibuat-buat.

Syekh Abdul Muhsin Al Abbad حفظه الله di dalam kitabnya Fadhlush Sholati ‘alan Nabi (hal. 37) mengatakan bahwa hadits-hadits lemah dan palsu dengan keanehan-keanehan seperti ini sangat sesuai dengan perkataan Ibnul Qoyyim di dalam kitabnya Al Manarul Munif (hal. 50): “Hadits-hadits palsu terdapat padanya kegelapan, kelemahan, dan keserampangan yang rendah yang menunjukkan akan kepalsuannya dan kedustaannya atas Rosululloh r . Contohnya adalah hadits:

Barangsiapa yang melaksanakan sholat Dhuha sekian rakaat maka dia akan diberikan pahala tujuh puluh orang nabi.

Tampaknya si pendusta busuk ini (yaitu pembuat hadits palsu ini) tidak mengetahui bahwasanya seseorang selain Nabi r kalau sholat sepanjang umur Nabi Nuh u tidak akan mendapat pahala satu orang nabi pun.

Contoh lainnya seperti hadits:

Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dengan niat (yang ikhlas) dan mengharapkan pahala maka Alloh memberikan untuknya pahala berupa cahaya pada setiap helai rambut pada hari kiamat, dan mengangkat derajatnya dari mutiara, yaqut, dan zamrud([59]) sebanyak tetesan air wudhu` di surga, jarak antara dua derajat adalah perjalanan seratus tahun.”([60])

Hadits ini adalah bagian dari hadits yang panjang. Semoga Alloh menghinakan pemalsunya. Ini adalah perbuatannya Umar bin Shubh ([61]), sang pendusta lagi busuk.” Selesai perkataan Ibnul Qoyyim رحمه الله . Begitu pula di sanadnya terdapat perawi yang bernama Basyir bin Zadzan. Dia dianggap lemah riwayatnya oleh Ad Daraquthni dan yang lainnya. Berkata Ibnu Ma’in: “Dia itu (riwayatnya) tidak ada apa-apanya.”

Masih ada hadits-hadits lain yang disebutkan oleh Al Juzuli di dalam kitabnya “Dalailul Khoirot” yang tidak terdapat di dalam kitab-kitab hadits yang dikenal dan tersebar di kalangan ahlul ilmi. Sebagiannya terdapat di dalam kitab-kitab yang tidak bisa dijadikan sebagai pegangan karena dicantumkan tanpa menyebutkan sanadnya. Ini menunjukkan akan keasingan hadits-hadits tersebut di kalangan para ulama hadits.

 

* * * * *

 

BAB KETIGA

CARA BERSHALAWAT YANG SESUAI DENGAN

TUNTUNAN NABI MUHAMMAD r

 

Bershalawat untuk Nabi Muhammad r adalah salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan oleh Alloh U kepada umatnya. Alloh berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا}([62])

Sesungguhnya Alloh dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Ibnu Katsir berkata: “Maksud dari ayat ini bahwasanya Alloh سبحانه mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan seorang hamba dan nabi-Nya (yaitu Muhammad r ) di sisi-Nya terhadap para penghuni langit bahwasanya Dia memujinya di kalangan para malaikat yang dekat (dengan-Nya), dan bahwasanya para malaikat itu bershalawat untuknya. Kemudian Alloh تعالى memerintahkan para penghuni alam bawah (bumi) untuk bershalawat dan mengucapkan salam untuknya supaya terkumpul seluruh pujian untuknya dari seluruh penghuni alam atas (langit) dan bawah.” ([63])

Perintah untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad r juga datang dari sunnah. Rosululloh r bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.([64])

Hinalah orang yang namaku disebut di sisinya tapi dia tidak bershalawat untukku.

البَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ.([65])

Orang yang kikir adalah orang yang namaku disebut di sisinya tapi dia tidak bershalawat untukku.

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا، وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِي عِيْدًا، وَصَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ.([66])

Jangan jadikan rumah-rumah kalian seperti kubur,  jangan jadikan kuburku sebagai tempat perayaan, dan bershalawatlah untukku. Sesungguhnya shalawat kalian sampai kepadaku di manapun kalian berada.

Ada pula hadits lain yang semakna dengan hadits ini, yaitu hadits Ali bin Abi Thalib t yang diriwayatkan oleh Al Bukhari di “At Tarikhul Kabir” (2/186) dan Ibnu Abi Syaibah di “Al Mushannaf” (2/375). Hadits ini derajatnya hasan lighairih.

Syekh Shalih Al Fauzanحفظه الله  berkata: “Di dalam kedua hadits ini ([67]) terdapat dalil atas sampainya shalawat umat Rosululloh kepada beliau r di bagian bumi manapun mereka berada. Ini termasuk anjuran beliau kepada kaum muslimin untuk memperbanyak shalawat  dan salam untuk beliau karena hal ini bisa sampai kepada beliau r . ([68])

Beliau juga berkata: “Perkataan beliau r ‘bershalawatlah kalian untukku’ ini adalah suatu perintah yang bermakna wajib. Shalawat untuk Nabi r adalah perkara yang disyariatkan dan ditekankan. Ia wajib hukumnya pada beberapa tempat. Wajib dilakukan pada dua khutbah Jum’at, khutbah Id (Fitri dan Adha), dan khutbah Istisqa`. Wajib pula bershalawat untuk Rosululloh r di tasyahud akhir di dalam sholat. Begitu pula wajib bershalawat untuk Rosululloh ketika namanya r disebut. Pada keadaan selain itu hukumnya mustahab. Setiap kali seseorang memperbanyak shalawat untuk Rosululloh r maka banyak pula pahalanya sebagaimana sabda Nabi r :

مَنْ صَلَّّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً.([69])

Siapa yang bershalawat untukku sekali maka Alloh akan bershalawat untuknya sepuluh kali. ([70])

Setelah kita mengetahui syariat bershalawat kepada Nabi Muhammad r , maka perlu pula untuk mengetahui bagaimana bentuk shalawat yang benar. Hal ini penting untuk diketahui agar tidak sampai terjatuh kepada perkara-perkara yang menyelisihi syariat, seperti mengucapkan shalawat yang berisi pujian yang berlebih-lebihan, mengucapkan lafadh-lafadh bid’ah atau syirik, dan lain sebagainya.

Berikut ini kami sampaikan beberapa bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rosululloh r kepada umatnya. Bentuk-bentuk shalawat seperti inilah yang seharusnya diamalkan oleh seorang muslim karena tidaklah Rosululloh r mengajarkan suatu perkara kepada umatnya melainkan ia pastilah merupakan suatu kebaikan yang tidak ada kebaikan lain yang lebih baik daripadanya, sehingga tidak perlu lagi dilakukan penambahan atau pengurangan sedikitpun terhadapnya.

  1. Dari Abu Humaid As Sa’idi t , beliau berkata: Para sahabat berkata: ‘Wahai Rosululloh, bagaimana cara kami bershalawat untuk anda?’ Rosululloh r menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.([71])

  1. Dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata: Ka’b bin ‘Ujrah t menemuiku, lalu dia berkata: ‘Maukah engkau kuberikan sebuah hadiah yang kudengar dari Nabi r ?’ Aku menjawab: ‘Tentu saja.’ Lalu dia memberikan hadiah itu untukku. Dia berkata: ‘Kami pernah bertanya kepada Rosululloh r : Wahai Rosululloh, bagaimana cara bershalawat kepada kalian Ahlul Bait, karena Alloh telah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam kepada kalian?’ Beliau menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.([72])

  1. Dari Abu Sa’id Al Khudri t , dia berkata: Kami (para sahabat) berkata: ‘Wahai Rosululloh, ini adalah (cara mengucapkan) salam kepada anda, lalu bagaimana cara kami bershalawat untuk anda?’ Beliau r menjawab: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.([73])

  1. Dari Abu Mas’ud Al Anshari t , dia berkata: Rosululloh r mendatangi kami yang sedang berkumpul di majelis Sa’d bin Ubadah. Lalu Basyir bin Sa’d berkata kepada beliau: ‘Alloh تعالى memerintahkan kami untuk bershalawat untuk anda, wahai Rosululloh. Lalu bagaimana cara kami bershalawat untuk anda?’ Lalu Rosululloh r diam sampai-sampai kami berandai-andai dia (Basyir) tadi tidak bertanya kepada beliau. Lalu Rosululloh r menjawab: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ في العَالمَِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Adapun salam (untukku) maka seperti yang telah kalian ketahui.” ([74])

Di dalam beberapa riwayat hadits-hadits di atas ada tambahan di luar “Shahihain” (Shahih Al Bukhari dan Muslim). Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca kitab Shifatush Sholatin Nabi r karangan Syekh Al Albani رحمه الله . ([75])

Syekh Al Albani رحمه الله berkata: “Ketahuilah bahwasanya jenis shalawat untuk Nabi r yang pertama -begitu pula yang keempat- ([76]) adalah bentuk shalawat yang diajarkan oleh Rosululloh r kepada para sahabatnya ketika mereka bertanya kepada beliau tentang cara bershalawat untuknya r . Hal ini dijadikan sebagai dalil bahwa bentuk itu adalah bentuk shalawat untuk Rosululloh r yang paling utama karena beliau tidaklah memilih untuk para sahabat -dan begitu pula untuk dirinya- kecuali bentuk yang paling mulia dan utama.

Berangkat dari hal ini, An Nawawi di kitab “Ar Raudhah” membenarkan pendapat yang mengatakan bahwa jika ada orang yang bersumpah untuk bershalawat atas Nabi r dengan bentuk shalawat yang paling utama maka sumpahnya tidak akan terpenuhi kecuali dengan bentuk shalawat tersebut.

As Subuki menjelaskan (maksud kalam An Nawawi) bahwasanya barangsiapa yang mengucapkan bentuk shalawat tersebut maka dia telah bershalawat untuk Nabi r dengan yakin. Barangsiapa yang bershalawat dalam bentuk yang lain maka dia berada di dalam keragu-raguan dalam hal apakah dia telah bershalawat dengan shalawat yang dikehendaki (shalawat yang benar), karena para sahabat bertanya: ‘Bagaimana cara kami bershalawat untukmu?’ Beliau menjawab: ‘Ucapkanlah . . . ’. Beliau menjadikan ucapan para sahabat (shalawat yang diajarkan Nabi r ) sebagai bentuk shalawat mereka untuk diri beliau. Selesai penukilan dari As Subuki.

Perkataan ini disebutkan oleh Al Haitami di dalam kitab “Ad Durrul Mandhudh”. Kemudian beliau menyebutkan (di halaman lain) bahwasanya maksud (bersumpah untuk bershalawat untuk Nabi r dengan bentuk shalawat yang paling utama) bisa terwujud dengan semua bentuk tata cara yang tersebut di dalam hadits-hadits yang shahih.” Selesai kalam Syekh Al Albani. ([77])

FAIDAH: HUKUM MENAMBAHKAN LAFADH “SAYYIDINA” PADA SHALAWAT NABI r

Penggunaan tambahan lafadh ‘sayyidina’ di dalam shalawat Nabi r tidak disyariatkan. Penambahan ini tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh r , para sahabat, dan tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Penambahan lafadh ‘sayyidina’ juga bukanlah suatu bentuk kecintaan yang benar kepada Rosululloh r .

Berikut ini saya nukilkan sebagian kalam Al ‘Allamah Al Muhaddits Syekh Muhammad Nashiruddin Al Albani رحمه الله di dalam kitab “Sifatush Sholah”, di mana beliau menukilkan kalam Al Hafidh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani –seorang ulama yang bermadzhab Syafi’i- tentang hukum penambahan lafadh ini di dalam shalawat Nabi r .

Al Albani berkata: “Faidah ketiga: Para pembaca bisa melihat bahwasanya tidak ada satupun dari bentuk shalawat Nabi r yang menggunakan lafadh siyadah (sayyid). Oleh karena itu para ulama pada masa akhir berselisih tentang syariat penambahannya di dalam Shalawat Ibrahimiyyah.”

Sampai pada perkataan beliau: “Pihak yang mengatakan hal ini tidak disyariatkan beralasan dengan mengikuti pengajaran Nabi r yang sempurna kepada umatnya ketika ditanya tentang cara bershalawat kepada beliau r . Lalu beliau memerintahkan mereka: ‘Ucapkanlah: اللهم صل على محمد … (Allohumma shalli ‘ala Muhammad …).’

Saya hendak menukilkan kepada para pembaca yang mulia di sini pendapat Al Hafidh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam hal masalah ini, dengan pertimbangan karena beliau adalah salah satu ulama besar mazhab Syafi’i yang menggabungkan antara ilmu hadits dan fiqh. Sungguh telah berkembang penyelisihan terhadap pengajaran nabawi yang mulia ini di kalangan pengikut mazhab Syafi’i pada masa-masa akhir.

Al Hafidh Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Gharabili (790-835) -dan dia dulu adalah orang dekatnya Ibnu Hajar- berkata -dan dari tulisan tangannya saya nukilkan ([78])-: Beliau (yaitu Al Hafidh Ibnu Hajar) -semoga Alloh menjadikan hidupnya bermanfaat- ditanya tentang sifat shalawat untuk Nabi r di dalam sholat ataupun di luar sholat, baik itu dikatakan wajib atau sunat; apakah disyaratkan padanya untuk menyifati beliau r dengan siyadah (gelar sayyid) seperti mengatakan ‘Allohumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad’ atau ‘ala sayyidil khalq’ atau ‘ala sayyid walad Adam’? Ataukah hanya mencukupkan dengan ucapan: ‘Allohumma shalli ‘ala Muhammad’? Mana yang lebih utama: menggunakan gelar siyadah (sayyid) karena gelar ini memang benar miliknya beliau r , ataukah tidak menambahkannya karena tidak ada dalilnya?

Beliau -semoga Alloh meridhainya- menjawab: “Ya, mengikuti lafadh yang ada dalilnya lebih benar. Tidak tepat dikatakan bahwa mungkin beliau r meninggalkan hal itu (penyebutan lafadh sayyid) karena kerendahan hati beliau r , sebagaimana beliau r ketika menyebut namanya sendiri tidak mengucapkan ‘shallAllohu ‘alaihi wa sallam’, sedangkan umatnya disunatkan untuk mengucapkannya setiap kali nama beliau disebut.

Kami berpendapat kalau seandainya hal itu (penambahan gelar sayyid dalam shalawat) adalah benar, pastilah akan datang keterangan dari para sahabat kemudian dari tabi’in. Kami tidak mendapatkan riwayat dari satu orang sahabat dan tabi’in pun yang menerangkan tentang hal itu, dengan banyaknya riwayat dari mereka tentang hal itu. Imam Asy Syafi’i -semoga Alloh mengangkat derajatnya, dan beliau adalah salah seorang yang sangat mengagungkan Nabi r – berkata di khutbah kitabnya yang merupakan dasar pegangan pengikut mazhabnya: Allohumma shalli ‘ala Muhammad.

Sampai pada perkataan beliau: “Berkata An Nawawi: Kebenaran yang patut untuk dipegang adalah dengan mengucapkan: ‘Allohumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad kama shallaita ‘ala Ibrahim …’ dst sebagaimana di dalam hadits.”

Sampai pada perkataan beliau: “Permasalahan ini masyhur di kitab-kitab fiqh. Tujuan dari hal ini adalah bahwasanya seluruh ahli fiqh tanpa kecuali yang menyebutkan masalah ini tidak ada seorangpun yang menyebutkan: ‘sayyidina’. Jika seandainya tambahan ini disunatkan, tidak akan tersembunyi hal ini dari mereka seluruhnya sampai mereka melalaikannya (meninggalkannya). Seluruh kebaikan terdapat pada ittiba’ (mengikuti dalil). Allohu a’lam.”

Saya (Al Albani) katakan: “Pendapat yang diikuti oleh Al Hafidh Ibnu Hajar رحمه الله tentang tidak disyariatkannya menambah gelar sayyid kepada Nabi r di dalam shalawat untuk beliau adalah suatu bentuk kepatuhan kepada perintah (Nabi r) yang mulia, dan ini adalah pendapat mazhab Hanafi. Ini adalah hal yang sepatutnya dipegang teguh karena ini (mengikuti dalil) adalah bukti yang jujur atas kecintaan terhadap beliau r .

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ}([79])

Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian (benar-benar) mencintai Alloh maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian.

Selesai penukilan kalam Al Albani رحمه الله . ([80])

 

 

* * * * *

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB KEEMPAT

LARANGAN TENTANG SIKAP BERLEBIH-LEBIHAN

DI DALAM AGAMA (GHULUW)

 

Kitab “Dalailul Khoirot” dipenuhi dengan shalawat yang mengandung pujian-pujian yang berlebihan terhadap Nabi Muhammad r . Sikap berlebihan ini di dalam istilah syariat dikenal dengan nama ghuluw. Para ulama mendefinisikan ghuluw sebagai suatu sikap melampaui batas yang telah ditetapkan di dalam syariat, baik berupa pujian maupun celaan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah رحمه الله berkata: “Ghuluw adalah melampui batas dengan cara menambahkan pujian atau celaan kepada sesuatu melebihi dari kadar yang berhak untuk diterima.” ([81])

Nama lain dari ghuluw adalah thughyan. Ghuluw dalam bentuk pujian seperti mengagungkan dan memuji seseorang sehingga mengangkatnya lebih dari kedudukan yang dia miliki secara syar’i. Ghuluw dalam bentuk celaan contohnya adalah seperti apa yang dilakukan kaum musyrikin Mekkah terhadap Rosululloh r , atau seperti celaan kaum Yahudi dan perendahan mereka Nabi Isa r dan ibundanya Maryam bintu Imran رضي الله عنها .

Ghuluw ada beberapa macam, di antaranya ghuluw di dalam masalah akidah, ghuluw di dalam ibadah, ghuluw terhadap para nabi, dan ghuluw terhadap orang-orang shalih. Ghuluw terhadap para nabi dan orang shalih adalah berlebih-lebihan di dalam memuji mereka dan mengangkat mereka melebihi kedudukan mereka yang telah ditetapkan Alloh U dengan cara menjadikan untuk mereka suatu bentuk ibadah tertentu.

Syekh Muhammad Al Utsaimin رحمه الله menyebutkan bahwa bentuk penyimpangan seseorang itu ada dua bentuk, penyimpangan ke arah ifrath dan ghuluw (berlebih-lebihan dan melampaui batas) dan penyimpangan ke arah tafrith dan taqshir (menyepelekan dan menganggap remeh). Oleh karena itu, manusia di dalam agama ini terbagi ke dalam tiga golongan. Satu golongan bersikap terlalu berlebih-lebihan, satu golongan terlalu meremehkan dan menganggap sepele, dan golongan yang ketiga adalah golongan pertengahan antara dua golongan tadi dan berjalan lurus di atas syariat Alloh. Golongan yang ketiga ini adalah golongan yang terpuji. Adapun dua golongan yang pertama akan hancur sesuai dengan kadar penyimpangan yang ada padanya. ([82])

Ghuluw hukumnya adalah haram, berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur`an dan Sunnah. Berikut ini saya sampaikan beberapa dalil yang mengharamkan hal ini beserta penjelasan ringkas dari ulama Ahlussunnah. Di antaranya adalah firman Alloh U :

{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلاَّ الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُوا ثَلاَثَةٌ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلاً}([83])

Wahai ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam, adalah utusan Alloh dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kalian kepada Alloh dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kalian mengatakan: ‘(Ilaah itu) tiga’, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagi kalian. Sesungguhnya Alloh adalah sesembahan yang Maha Esa, Maha suci Alloh dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Alloh menjadi Pemelihara.”

Semakna dengan ayat di atas adalah firman Alloh U :

{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ}([84])

Katakanlah (wahai Muhammad): Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad), mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari  jalan yang lurus

Yang dimaksud dengan Ahli Kitab di sini adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka dinamakan demikian karena Alloh menurunkan kepada mereka sebuah kitab suci khusus yang berlaku hingga turunnya kitab suci yang lain. Adapun orang-orang kafir selain mereka -seperti penyembah berhala- tidak dinamakan Ahli Kitab karena tidak ada kitab suci yang diturunkan oleh Alloh U untuk mereka. Namun pada hakikatnya mereka semua adalah kafir.

Konteks ayat di atas adalah untuk Ahli Kitab, tapi makna ayat juga berlaku untuk umat Muhammad r . Ayat ini melarang kita untuk mencontoh perilaku mereka yang berlebih-lebihan terhadap Isa, ibunya, dan Uzair sehingga membawa mereka kepada kesyirikan. Begitupula umat ini dilarang untuk bersikap ghuluw dalam bentuk apapun terhadap Nabi Muhammad r dan orang-orang shalih lainnya.

Ibnu Katsir رحمه الله berkata: “Maknanya janganlah kalian melampaui batas di dalam mengikuti kebenaran, dan janganlah menyanjung secara berlebihan orang yang kalian diperintahkan untuk mengagungkannya sehingga kalian mengeluarkannya dari kedudukan kenabian kepada kedudukan keilaahan sebagaimana yang telah kalian lakukan terhadap Al Masih (Isa bin Maryam r ) , yaitu kalian menjadikannya sebagai Ilaah selain Alloh. Semua ini tidak lain disebabkan karena kalian menjadikan guru-guru yang sesat sebagai teladan kalian, yang mana mereka adalah pendahulu kalian yang telah sesat sejak dulu.” ([85])

Syekh Shalih Al Fauzan حفظه الله berkata: “Ini adalah larangan dari Alloh تعالى kepada mereka (Ahli Kitab) dari sikap ghuluw, karena ghuluw bisa terjadi untuk seseorang dan bisa terjadi pada agama. Ghuluw terhadap seseorang adalah dengan memujinya secara berlebihan dan mengangkat kedudukannya di atas kedudukan yang telah ditentukan oleh Alloh untuknya. Adapun ghuluw terhadap agama adalah dengan melewati batasan-batasan yang telah disyariatkan, baik itu dalam hal jenis ibadah, kadar ukurannya, ataupun dalam hal tata cara pelaksanaannya.” ([86])

Contohnya adalah kisah tiga orang yang datang ke rumah istri Nabi Muhammad r . Mereka bertanya tentang ibadah beliau r . Setelah diberitahu mereka merasa bahwa ibadah mereka selama ini sangatlah kurang dan berkata: “Ibadah kita ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan ibadahnya Nabi r yang segala dosanya pada masa lalu dan akan datang telah diampuni.”

Melihat kekurangan ini, mereka berusaha untuk menambah kadar ibadah mereka yang tanpa mereka sadari ternyata telah melampaui kadar batas yang disyariatkan. Salah seorang dari mereka bertekad untuk bangun sepanjang malam untuk melaksanakan sholat malam. Orang yang lain bertekad untuk berpuasa setiap hari. Orang yang lain bertekad untuk tidak menikah sama sekali agar bisa berkonsentrasi penuh untuk beribadah.

Lalu datanglah Rosululloh r kepada mereka dan berkata: “Benarkah kalian yang berkata demikian dan demikian? Demi Alloh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Alloh dan paling bertaqwa di antara kalian, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat malam dan tidur, dan menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” ([87])

Dalil lain yang menunjukkan larangan dari sikap ghuluw adalah firman Alloh U :

{فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلاَ تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ % وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ}([88])

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu, dan janganlah kalian melampaui batas, sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kalian kerjakan. Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kalian disentuh api neraka. Kalian tidak mempunyai seorang penolongpun selain Alloh, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan (bila kalian melakukannya). ”

Makna kalimat ‘Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zholim’ menurut Ibnu Abbas t adalah cenderung kepada kesyirikan. Di dalam riwayat lain dari Ibnu Juraij, Ibnu Abbas berkata: “Janganlah kalian condong kepada orang-orang yang zholim.” Abul ‘Aliyah berkata: “Janganlah kalian meridhai perbuatan mereka.” ([89])

Adapun makna ‘Janganlah kalian melampaui batas’ menurut Al Baghawi adalah: “Janganlah kalian berlebihan di dalam melaksanakan perintah-Ku dan janganlah kalian melanggar perintah-Ku.” Ada juga yang mengatakan maknanya adalah: “Janganlah kalian berbuat ghuluw dengan menambah-nambah perintah dan larangan-Ku.” ([90])

Hadits-hadits yang melarang kita dari sikap ghuluw, di antaranya adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِيَّاكُمْ وَالغُلُوَّ في الدِّيْنِ، فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُوُّ في الدِّيْنِ.([91])

Wahai manusia, berhati-hatilah dari sikap berlebihan di dalam perkara agama karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebihan di dalam perkara agama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah رحمه الله berkata: “Perkataan beliau r : ‘berhati-hatilah dari sikap berlebihan di dalam perkara agama’ mencakup semua bentuk ghuluw, di dalam keyakinan (akidah) dan perbuatan.” ([92])

Ghuluw juga dinamakan dengan at tanaththu’. Rosululloh r bersabda:

هَلَكَ المُتَنَطِّعُوْنَ، قَالَهَا ثَلاَثًا.([93])

Celakalah orang-orang yang membebani diri mereka.”

At tanaththu ini terlarang di dalam agama karena dia merupakan suatu bentuk pembebanan diri dengan suatu beban ibadah yang tidak diperintahkan atau dianjurkan oleh agama. Al Khaththabiy berkata: “Al Muthanaththi’ (pelaku at tanaththu’) adalah orang yang mendalami suatu hal dan membebani dirinya untuk menelitinya dengan cara seperti yang dilakukan oleh para pengikut ilmu kalam yang masuk ke dalam perkara yang tidak bermanfaat dan sibuk di dalam perkara yang tidak bisa dijangkau oleh akal-akal mereka.” ([94])

Salah seorang sahabat Rosululloh r yang bernama Abdullah bin Syikhkhir t bercerita:

انْطَلَقْتُ في وَفْدِ بَنِي عَاِمٍر إِلَى رَسُوْلِ اللهِ r ، فَقُلْنَا: أَنْتَ سَيِّدُنَا، فَقَالَ: السَّيِّدُ اللهُ، قُلْنَا: وَأَفْضَلُنَا فَضْلاً وَأَعْظَمُنَا طَوْلاً، فَقَالَ: قُوْلُوْا بِقَوْلِكُمْ -أَوْ بَعْضَ قَوْلِكُمْ- وَلاَ يَسْتَجْرِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ.([95])

Aku berangkat bersama rombongan utusan bani Amir menuju ke tempat Rosululloh r  . Kami berkata: Anda adalah sayyid (pemimpin) kami. Beliau r berkata: As Sayyid adalah Alloh. Kami berkata: Anda adalah orang yang paling utama dan paling mulia di antara kami. Beliau r berkata: Ucapkanlah perkataan kalian (yang biasa) ([96]), dan jangan sampai Syaithan menjadikan kalian sebagai utusannya (untuk menyesatkan orang lain).

Semakna dengan hadits ini adalah hadits Anas bin Malik t :

أَنَّ نَاسًا قَالُوْا لِرَسُوْلِ اللهِ r : يَا خَيْرَنَا وَابْنَ خَيْرِنَا، وَيَا سَيِّدَنَا وَابْنَ سَيِّدِنَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r : يَا أَيُّهَا النَّاسُ، عَلَيْكُمْ بِقَوْلِكُمْ وَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ، إَنِّي لاَ أُرِيْدُ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي الَّتِي أَنْزَلَنِيْهَا اللهُ تَعَالَى، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ، عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. ([97])

Sekelompok orang berkata kepada Rosululloh r : Wahai orang yang terbaik dan anak orang terbaik kami, wahai tuan dan anak tuan kami. Maka Rosululloh berkata: Wahai manusia, ucapkanlah perkataan (yang biasa) ([98]), tapi jangan sampai Syaithan menyesatkankan kalian dengan hawa nafsu. Sesungguhnya aku tidak ingin kalian mengangkatku lebih dari kedudukan yang telah Alloh تعالى berikan kepadaku. Aku adalah Muhammad bin Abdullah, seorang hamba dan utusan-Nya.

Di dalam kedua hadits di atas Rosululloh r melarang umatnya untuk memanggil beliau dengan panggilan-panggilan yang dikhawatirkan bisa menjerumuskan mereka ke dalam sikap ghuluw karena ia adalah pintu menuju kepada kesyirikan sebagaimana yang telah terjadi di umat Nabi Nuh r , Yahudi, dan Nasrani. ([99])

Tidak diragukan bahwa Nabi Muhammad r adalah pemimpin (sayyid) keturunan Adam pada hari kiamat kelak, begitupula tidak diragukan bahwa beliau r adalah makhluk yang terbaik dan paling utama serta berasal dari keturunan orang yang terpandang dan mulia di kaumnya, namun sikap berlebihan dan melampaui batas inilah yang diingkari oleh syariat.

Berikut ini akan saya sebutkan beberapa dalil dan contoh yang menunjukkan sikap ghuluw pada beberapa generasi terhadap para nabi atau orang shalih dari kalangan mereka.

  1. Sikap ghuluw pada umat Nabi Nuh r terhadap orang-orang shalih dari kaum mereka.

Kisah mereka ini telah Alloh U sebutkan secara jelas di dalam Al Qur`an surat Nuh. Bentuk keghuluwan mereka terlihat jelas pada ayat 23 di mana mereka berkata:

{وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلاَ تَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَ سُوَاعًا وَلاَ يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا}

Mereka berkata: Jangan sekali-kali kalian tinggalkan (penyembahan) Ilaah-Ilaah kalian, dan jangan pula sekali-kali kalian tinggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

Abdullah bin Abbas t berkata: “Ini adalah nama-nama orang shalih pada umat Nabi Nuh r . Ketika mereka meninggal, Syaithan mengatakan kepada kaum mereka: ‘Buatlah patung mereka di majelis tempat mereka biasa duduk dahulu, dan berilah nama patung-patung itu dengan nama-nama mereka.’ Lalu mereka melaksanakannya, dan patung-patung itu belum lagi disembah. Sampai ketika generasi mereka meninggal semua dan ilmu telah terlupakan maka barulah patung-patung itu disembah.” ([100])

  1. Sikap ghuluw umat Yahudi dan Nasrani terhadap nabi dan orang shalih mereka.

Umat Yahudi mengagungkan Uzair secara berlebihan sampai mengatakan bahwa dia adalah anaknya Alloh سبحانه . Hal yang sama juga terjadi pada umat Nasrani terhadap nabi mereka Isa bin Maryam r . Namun terjadi perbedaan pendapat di antara mereka tentang Isa. Ada yang mengatakan Isa adalah Alloh, ada yang mengatakan beliau adalah anak Alloh, dan ada pula yang mengatakan beliau adalah salah satu tiga Ilaah (Alloh, Isa, dan Maryam). Semua ini disebutkan oleh Alloh U di dalam Al Qur`an surat At Taubah: 30-31, Al Maidah: 72-73.

Keghuluwan mereka tidak hanya itu, mereka juga secara tidak langsung menjadikan para ulama dan ahli ibadah mereka sebagai ilaah tandingan bagi Alloh dalam hal penentuan halal dan haram di dalam perkara agama. Segala perkara yang dihukumi oleh para ulama dan ahli ibadah mereka akan mereka terima begitu saja meskipun bertentangan hukum Alloh U . Disebabkan hal ini, mereka terjatuh ke dalam kesyirikan sebagaimana yang Alloh sebutkan di dalam Al Qur`an surat At Taubah ayat 31.

  1. Sikap ghuluw umat Islam terhadap Nabi Muhammad r , keluarganya, dan yang lainnya:

Hal ini sangat banyak dijumpai di kalangan ahli bid’ah seperti Shufiah dan Syiah. Kaum Sufi terkenal dengan sikap ghuluw mereka terhadap Rosululloh r dalam hal memuji dan menyanjung beliau di dalam shalawat-shalawat dan ibadah-ibadah yang mereka buat-buat sehingga mereka terjatuh ke dalam jurang kebid’ahan dan kesyirikan.

Di antara pelaku perbuatan ini adalah Muhammad bin Sa’id Al Bushiri Al Mishri penulis “Ad Durratul Yatimah” yang lebih dikenal dengan nama “Qashidah Al Burdah”. Di dalam qashidah ini terdapat ghuluw yang amat parah dan kesyirikan yang amat besar. Dia menganggap semua kenikmatan dunia dan akhirat adalah karunia dari Nabi Muhammad r . Dia menganggap beliau lebih berilmu dan lebih berkuasa daripada Alloh U , dan bisa mendatangkan manfaat kepada seseorang dan menolak bahaya darinya tanpa izin dari Alloh, seolah-olah segala hak istimewa dan kekhususan Alloh U telah diambil alih oleh Rosululloh r . Al Bushiri berkata:

إِنْ لَمْ تَكُنْ في مَعَادِي آخِذاً بِيَدِي فَضْلاً وَإِلاَّ فَقُلْ يَا زَلَّةَ القَدَمِ

Jika anda tidak berkenan memegang tanganku dengan berkat keutamaanmu pada hari kembaliku (hari kiamat), maka (aku akan berkata kepada diriku:) katakanlah: Duhai, kecelakaan atasku!

Maknanya, apabila Nabi Muhammad r tidak memegang tangannya pada hari kiamat kelak maka kakinya akan tergelincir (celaka) karena banyaknya dosa yang dia lakukan. Dia menganggap Nabi Muhammad r adalah penyelamat dirinya dari azab Alloh.

يَا أَكْرَمَ الخَلْقِ مَالِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ   سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الحَادِثِ العَمِمِ

Wahai makhluk yang paling mulia, tidaklah aku memiliki tempat pelindung selainmu ketika munculnya musibah yang meluas (pada hari kiamat).

Maknanya, pada hari kiamat kelak ketika terjadi kesulitan dan kepayahan pada seluruh umat maka dia akan meminta perlindungan hanya kepada Nabi Muhammad r saja, karena menurutnya hanya beliau saja yang bisa melindunginya dari hal-hal tersebut.

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا     وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالقَلَمِ

Sesungguhnya di antara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat, dan di antara pengetahuanmu adalah ilmu Lauhul Mahfudhz dan Qalam.

Maknanya, segala kebaikan dan kenikmatan yang ada di dunia dan akhirat barulah sebagian dari pemberian Nabi Muhammad r , masih ada kenikmatan lain yang belum diberikan oleh beliau. Begitu pula segala ilmu di yang ditulis oleh Qalam (pena) di Lauhul Mahfudhz barulah sebagian dari ilmu yang dimiliki oleh beliau r , masih ada ilmu lain yang beliau ketahui.

Adapun Syiah, mereka menyanjung dan memuji Ali bin Abi Thalib t secara berlebihan sampai mengangkat dia sampai ke derajat Ilaah pengatur alam semesta. Begitu pula keyakinan mereka yang berlebihan terhadap para imam dua belas yang merupakan keturunan Ali. Mereka meyakini para malaikat turun kepada para imam mereka menyampaikan wahyu, mengabarkan perkara-perkara ghaib, memiliki kemampuan untuk mengatur alam semesta ini, mendatangkan manfaat, menolak bahaya, dan lain sebagainya.

Keyakinan ghuluw seperti ini mengakibatkan terjatuhnya mereka ke dalam kesyirikan. Lalu Ali bin Abi Thalib t membakar orang-orang Syiah Rafidhah yang mengatakan bahwa dia adalah Ilaah, lalu menanam mereka di lubang tanah secara memanjang. Perincian akidah ghuluw dan kufur mereka bisa dilihat di kitab-kitab yang membahas khusus tentang hal ini.

Sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih bisa membawa kepada kesyirikan. Di antara dalilnya adalah hadits:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.([101])

Janganlah kalian berlebihan di dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan di dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: (Muhammad r adalah) seorang hamba dan utusan-Nya.

Untuk menutup jalan menuju syirik ini, maka beliau r memerintahkan umatnya untuk memanggilnya sesuai dengan kedudukan yang telah diberikan oleh Alloh U kepada beliau dan tidak berlebih-lebihan di dalam memujinya. ([102]) Syekh Shalih Al Fauzan berkata: “Berlebihan di dalam memuji bisa membawa kepada ghuluw dan syirik terhadap orang yang dipuji, terlebih lagi jika yang dipuji ini adalah seorang nabi, orang shalih, atau alim yang memiliki kedudukan di mata manusia.” ([103])

Ghuluw di dalam agama dan terhadap orang-orang shalih adalah sebab kekufuran dan kesyirikan. Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله telah membahas masalah ini dalam beberapa bab dari kitabnya Kitabut Tauhid, di antaranya adalah bab “Penjelasan bahwa sebab kekufuran keturunan Adam dan ditinggalkannya agama mereka adalah ghuluw terhadap orang-orang shalih.” Begitu pula beliau membahas khusus masalah ini di dalam kitabnya “Masailul Jahiliyyah” yang menunjukkan bahwa sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih adalah salah satu amalan masa Jahiliah yang ditiru sampai sekarang oleh kaum muslimin.

Banyak jalan kesesatan yang dibisikkan oleh Syaithan kepada umat manusia. Dan jalan kesesatan yang paling banyak ditempuh oleh mereka adalah sikap ghuluw di dalam ibadah dan terhadap orang-orang shalih karena ini adalah salah satu jalan kepada kesyirikan yang tidak disadari oleh banyak orang. Syekh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi  رحمه الله berkata: “Di antara lembah kebatilan yang paling luas adalah sikap ghuluw terhadap orang-orang yang memiliki keutamaan.” ([104])

Seorang penyair berkata:

وَلاَ تَغْلُ في شَيْءٍ مِنَ الأَمْرِ وَاقْتَصِدْ             كِلاَ طَرَفَيْ قَصْدِ الأُمُوْرِ ذَمِيْمُ

Janganlah engkau berbuat ghuluw di dalam perkara apapun. Bersikaplah sederhana (karena sesungguhnya) tujuan kedua hal tersebut (ifrath dan tafrith) adalah tercela.”

Penyair lain berkata:

عَلَيْكَ بِأَوْسَاطِ الأُمُوْرِ فَإِنَّهَا              نَجَاةٌ وَلاَ تَرْكَبْ ذَلُوْلاً وَلاَ صَعْبًا

Wajib atas kamu untuk mengambil perkara-perkara yang tengah karena ia adalah suatu keselamatan, dan janganlah kamu menempuh kehinaan dan kesulitan.”

Berdasarkan dalil-dalil Al Qur`an, sunnah, dan kalam ulama di atas maka jelaslah bagi kita bahwa sikap melampaui batas (ghuluw) di dalam agama ini adalah haram karena ia bisa membawa kepada kekufuran sebagaimana yang telah terjadi pada umat Yahudi dan Nasrani.

Alloh U dan Rasul-Nya r memerintahkan kita untuk mengambil sikap pertengahan di antara kedua hal tersebut karena itulah sifat khusus dari umat Muhammad r . Alloh U berfirman:

{وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا}([105])

Demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan (adil dan terpilih) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.”

Para ulama -seperti Ibnu Katsir, Al Baghawiy, As Sa’diy, dan Al ‘Utsaimin, dll- menafsirkan lafadh (وسطا) dengan makna umat yang adil dan terpilih. Al Kalbiy berkata: “Yaitu pemeluk agama pertengahan antara ghuluw (berlebihan) dan taqshir (meremehkan) karena kedua hal ini tercela di dalam agama.”

 

Semoga Alloh U memberikan hidayah-Nya kepada saya dan seluruh kaum muslimin untuk mengikuti tuntunan agama ini secara sempurna dan menghindarkan kita dari segala bentuk penyimpangan di dalam agama ini.

* * * * *

BAB KELIMA

FATWA DAN KALAM ULAMA AHLUSSUNNAH

TENTANG KITAB “DALAILUL KHOIROT”

 

Sebagaimana yang telah saya sebutkan di permulaan buku ini, para ulama Ahlus Sunnah telah banyak memberikan perhatian khusus terhadap kitab “Dalailul Khoirot” dengan tujuan untuk memberikan nasehat dan peringatan kepada umat Islam untuk meninggalkan kitab “Dalailul Khoirot” yang penuh berisi dengan kesalahan dan penyimpangan. Di antara bentuk nasehat kepada umat adalah dalam bentuk fatwa.

Berikut ini saya sampaikan beberapa fatwa ulama Ahlus Sunnah yang berkaitan dengan kitab “Dalailul Khoirot” karangan Muhammad bin Sulaiman Al Juzuliy.

  1. Fatwa Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab An Najdiy رحمه الله  :

Beliau berkata di dalam surat yang beliau kirim kepada salah seorang temannya yang bernama Abdurrahman bin Abdullah: “Adapun “Dalailul Khoirot” maka ada sebabnya ([106]), yaitu aku pernah memberi isyarat kepada saudara-saudaraku yang mau menerima nasehatku agar kitab ini  (“Dalailul Khoirot”) jangan sampai di hatinya menjadi lebih mulia daripada kitab Alloh dan mengira bahwa membacanya lebih utama daripada membaca Al Qur`an.” ([107])

  1. Fatwa Syekh Sulaiman bin Sahman An Najdi رحمه الله :

“Kitab “Dalailul Khoirot”, telah banyak ulama yang menyebutkan bahwa di dalamnya kebanyakan terdapat hadits-hadits palsu dan dusta. Di dalamnya terdapat ghuluw dan ithra` (pujian yang berlebihan) yang tidak pantas diucapkan oleh seorang mukmin, atau menjadikannya sebagai sandaran karena tidak ada keshahihan dan ketetapannya, dan karena penyelisihannya terhadap apa  yang ditempuh oleh para ulama muhaqqiqun dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Rosululloh r telah melarang dari sikap ithra` dan ghuluw terhadap dirinya. Beliau r bersabda:

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.([108])

Janganlah kalian berlebihan di dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan di dalam memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah: (Muhammad r adalah)  seorang hamba dan utusan-Nya.

Hadits-hadits tentang hal ini banyak jumlahnya.” ([109])

  1. Fatwa Al Lajnah Ad Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta` (Panitia Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa) ([110]) :

Pertanyaan:

Apa hukumnya membaca kitab “Dalailul Khoirot” karangan Imam Muhammad bin Sulaiman Al Juzuli yang berisi bagian-bagian dan wirid-wirid harian yang mengandung tawassul dengan Nabi Muhammad r dan permintaan syafaat kepada beliau. Contohnya:

يَا حَبِيْبَنَا، يَا مُحَمَّدُ، إِنَّا نَتَوَسّّلُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ المَوْلَى العَظِيْمِ

Wahai kekasih kami, Wahai Muhammad, sesungguhnya kami bertawassul denganmu kepada Rabbmu. Maka berikanlah syafaat untuk kami di sisi Al Maula Al ‘Adhim (Alloh).”

Begitu pula:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَشْفِعُ بِهِ إِلَيْكَ إِذْ هُوَ أَوْجَهُ الشُّفَعَاءِ إِلَيْكَ، وَنَقْسِمُ بِهِ عَلَيْكَ إِذْ هُوَ أَعْظَمُ مَنْ أُقْسِمَ بِحَقِّهِ عَلَيْكَ، وَنَتَوَسَّلُ بِهِ إِلَيْكَ إِذْ هُوَ أَقْرَبُ الوَسَاِئِل إِلَيْكَ وَأَشْرَفُهُمْ جُرْثُوْمَةً

Ya Alloh, sesungguhnya kami meminta syafaat kepada-Mu dengannya (Nabi Muhammad r ) karena beliau adalah pemberi syafaat yang paling tinggi kedudukannya bagi-Mu. Kami bersumpah atas-Mu dengannya karena dia adalah orang yang paling agung yang haknya digunakan untuk bersumpah atas-Mu. Kami bertawassul dengannya karena dia adalah perantara yang paling dekat kepada-Mu dan yang paling mulia asal usulnya.“

Jawaban:

Apabila kenyataannya seperti yang anda sebutkan, yaitu wirid-wirid dan bagian-bagian kitab ini mengandung tawassul dengan Nabi r dan meminta syafaat kepada Alloh تعالى dengan beliau untuk memenuhi kebutuhannya, maka tidak boleh bagi anda untuk membacanya berdasarkan firman Alloh تعالى :

{قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا}([111])

Katakanlah (wahai Muhammad): Seluruh syafaat itu adalah milik Alloh.”

dan firman-Nya تعالى :

{مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ}([112])

Siapakah yang bisa memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.

dan firman-Nya تعالى :

{أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لاَ يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلاَ يَعْقِلُونَ % قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا}([113])

bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Alloh. Katakanlah (wahai Muhammad): Apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal? Katakanlah (wahai Muhammad): Seluruh syafaat itu adalah milik Alloh.”

 

Berpegang teguh dengan Kitab Alloh تعالى dan membacanya, dan berpegang teguh dengan zikir-zikir nabawi yang shahih adalah cukup bagi anda sebagai pengganti membaca wirid-wirid dan bagian-bagian yang ada di kitab “Dalailul Khoirot” dan yang semisalnya. Zikir-zikir nabawi yang shahih banyak jumlahnya, bisa anda dapatkan di kitab “Riyadhush Shalihin” dan “Al Adzkar An Nawawiyyah” keduanya karangan Imam An Nawawi, kitab “Al Kalimuth Thayyib” karangan Ibnu Taimiyyah, kitab “Al Wabilush Shoyyib” karangan Al ‘Allamah Ibnul Qoyyim -semoga Alloh merahmati mereka semuanya-, dan kitab-kitab Ahlussunnah yang lainnya.

Hanya karena Alloh saja kita bisa mendapatkan petunjuk. Semoga Alloh memberikan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya.

Panitia Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa

Ketua                                    Wakil

Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz      Abdurrozzaq Afifi

      Anggota                      Anggota

Abdullah Ghudayyan     Abdullah Qu’ud

  1. Fatwa Al Lajnah Ad Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta` (Panitia Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa) ([114]):

Pertanyaan:

Mohon pendapat bapak-bapak mengenai hal yang akan saya sebutkan nanti dan apakah boleh membaca dan memilikinya. Berikut beberapa kalimat yang terdapat pada kitab tersebut:

  • Tujuan dari kitab ini adalah menyebutkan shalawat untuk Nabi r  dan keutamaannya. Kami sebutkan dengan sanad-sanad yang sudah dihapus agar mudah bagi pembaca untuk menghafalnya. Shalawat-shalawat ini merupakan hal yang sangat penting bagi mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Ilaah para pemimpin. Aku menamakan kitab ini: ‘“Dalailul Khoirot” wa Syawariqul Anwar fi Dzikrish Sholati ‘alan Nabiyyil Mukhtar.
  • Diriwatkan dari beliau r , bahwasanya beliau bersabda: ‘Sungguh akan melewati telagaku pada hari kiamat orang-orang yang tidak kukenal melainkan dengan banyaknya shalawat mereka untukku.

Berikut ini adalah salinan dari salah satu halamannya:

  • Bismillahirrahmanirrahim. Wahai Rabbku, dengan kehormatan nabi-Mu pemimpin kami Muhammad r  di sisi-Mu, kedudukannya pada-Mu, kecintaan-Mu terhadapnya dan kecintaannya terhadap-Mu, dan rahasia antara Engkau dan dia, … dst.
  • Berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad yang mana cahayanya adalah salah satu dari banyak cahaya, dan banyak rahasia yang menjadi bersinar disebabkan karena sinar rahasianya, … dst.

 

Jawaban:

Kitab yang anda sebutkan adalah kitab “Dalailul Khoirot” yang terkenal di kalangan para ulama sebagai kitab sesat karena mengandung ghuluw (sikap yang berlebih-lebihan dalam menyanjung) terhadap Rosululloh r , meminta (kepada Alloh U ) dengan kehormatan beliau, dan bahwasanya cahayanya adalah salah satu dari banyak cahaya, dan banyak rahasia yang menjadi bersinar disebabkan karena sinarnya, sebagaimana yang dinukilkan oleh penanya, dan sebagaimana tertulis di dalam kitab tersebut berupa shalawat dan sikap berlebihan yang tidak ada dasar dalilnya.

Maka wajib atasnya untuk tidak terpedaya dengan kitab ini. Tidak boleh membaca kitab ini kecuali bagi orang yang ingin membantahnya dan memperingatkan (umat) darinya. Ada kitab-kitab yang bagus mengenai shalawat atas Nabi r yang membuat kita tidak perlu untuk membaca kitab ini dan yang semisalnya, misalnya (yaitu kitab yang bagus) kitab “Jala`ul Afham fish Sholati was Salami ‘ala Khairil Anam” karangan Ibnul Qoyyim.

Hanya karena Alloh saja kita bisa mendapatkan petunjuk. Semoga Alloh memberikan shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad, keluarganya, dan sahabatnya.

Panitia Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa

Ketua                                               Anggota

Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz                 Abdullah Ghudayyan

Anggota                                  Anggota                          Anggota

Shalih Al Fauzan               Abdul Aziz Alusy Syaikh       Bakr Abu Zaid

  1. Fatwa Syekh Sholih bin Fauzan Al Fauzan حفظه الله  :

“Dalam hal shalawat untuk Rosululloh r telah dikarang berbagai buku, di antaranya -atau di antara yang terbaik- adalah kitab “Jala`ul Afham fish Sholati was Salami ‘ala Khairil Anam” karangan Ibnul Qoyyim. Ia adalah kitab yang bagus dalam masalah ini karena beliau mengumpulkan di dalamnya dalil-dalil, fiqh, sisi pendalilan, dan berbicara secara panjang lebar mengenai hal ini.

Adapun buku-buku yang dikarang mengenai shalawat dan salam untuk beliau r , bertabarruk dengannya, dan bertawassul dengannya, seperti kitab “Dalailul Khoirot” dan kitab-kitab ahli khurafat (takhayul), maka wajib untuk berhati-hati darinya meskipun mereka menamakannya sebagai kitab shalawat atas Rosululloh r . Sesungguhnya mereka menyelipkan kejelekan, fitnah, dan kesyirikan di dalamnya dalam jumlah yang banyak. Semoga Alloh melindungi kita.” ([115])

  1. Fatwa Syekh Abdul Muhsin Al Abbad حفظه الله :

“Di antara tulisan tentang shalawat atas Nabi r yang yang tidak dibangun di atas ilmu dan mencakup keutamaan dan tata cara shalawat untuk Nabi r yang tidak ada keterangannya adalah kitab “Dalailul Khoirot” karangan Al Juzuli yang meninggal pada tahun 845 H.”

Sampai pada perkataan beliau: “Tidaklah semangat banyak orang untuk membacanya disebabkan di atas suatu dasar yang bisa dipegang. Keinginan ini hanyalah disebabkan taqlid (meniru) karena kebodohan dari sebagian mereka kepada yang lain.”

Sampai pada perkataan beliau: “Kitab (“Dalailul Khoirot”) mengandung sikap terlalu meremehkan sesuatu (tafrith) dan terlalu berlebihan (ifrath/ghuluw), dan mencampurkan antara yang boleh dan yang terlarang. Di dalamnya terdapat hadits-hadits palsu dan lemah, pelanggaran terhadap batasan (syariat), dan penjerumusan terhadap hal-hal yang dilarang yang tidak diridhai oleh Alloh dan Rasul-Nya r . Hal ini adalah perkara yang baru, bukan merupakan manhaj orang-orang terdahulu (yang mengikuti syariat) dengan baik.” ([116])

 

 

* * * * *

 

 

BAB KEENAM

PENUTUP

 

Setelah kita melewati berbagai pembahasan ilmiah yang berlandaskan dalil-dalil dari Al Qur`an dan Sunnah disertai dengan penjelasan beberapa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka kita dapat mengetahui keadaan kitab “Dalailul Khoirot” yang sebenarnya.

Kita telah mengetahui bahwa kitab yang selama ini dianggap sebagai kitab induk shalawat atas Nabi Muhammad r ternyata dipenuhi dengan berbagai bentuk kesalahan fatal yang berkaitan dengan masalah akidah tauhid. Banyak isi kandungan shalawat dan pujian terhadap Nabi Muhammad r yang bersifat berlebih-lebihan (ghuluw) sehingga menjurus kepada kebid’ahan dan kesyirikan. Terlepas dari perihal kesengajaan atau tidak, yang jelas Al Juzuli di dalam kitabnya itu telah mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebatilan, dan antara yang boleh dengan yang tidak boleh.

Sikap ghuluw di dalam agama dan terhadap orang-orang shalih adalah salah satu bentuk penyerupaan dengan agama Yahudi dan Nasrani. Rosululloh r telah memperingatkan umatnya bahwa hal ini akan terjadi di umatnya. Beliau r bersabda:

لَتَتَّبِعَنَّ سُنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟ ([117])

Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalannya golongan sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka masuk ke dalam sarang biawak, pastilah kalian akan ikut masuk ke dalamnya.” Kami bertanya: “Wahai Rosululloh, (apakah maksud anda) Yahudi dan Nasrani?Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”

 

Oleh karena itu, marilah kita mencukupkan diri kita dengan tuntunan syariat Islam yang telah sempurna dan meninggalkan perkara-perkara baru di dalam agama ini yang tidak diajarkan oleh generasi terbaik terdahulu, yaitu Rosululloh r dan para sahabat beliau. Mengikuti langkah mereka adalah jalan menuju kepada hidayah, dan menyelisihi mereka adalah kehancuran. Alloh U berfirman:

{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ}([118])

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan.

{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ}([119])

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Nabi Muhammad r ) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Saya memohon kepada Alloh U agar memberikan kepada kita semua petunjuk kepada segala perkara yang Dia ridhai dan menjauhkan kita dari segala perkara yang Dia benci. Sesungguhnya Alloh U Maha berkuasa atas segala sesuatu, dan hanya berkat keutamaan-Nya kita bisa mendapatkan penunjuk dan hidayah kepada jalan yang lurus.

* وَالحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ *

 


([1]) QS An Nahl (53).

([2]) QS Ibrahim (34).

([3]) QS Al Ahzab (56).

([4]) QS Al Bayyinah (5).

([5]) HR Tirmidzi (2676) dari Al ‘Irbadh bin Sariyah t . Hadits shahih.

([6]) QS Al Kahfi (104).

([7]) HR Muslim (55) dari Tamim bin Aus Ad Dari t .

([8]) HR Muslim (2199) dari Jabir bin Abdullah t .

([9]) Dengan huruf jim berharakat dhammah, nisbah kepada sebuah daerah di negeri Magrib (Maroko) yang bernama Juzulah, sebagaimana di kitab “Mu’jamul Buldan” dan “Tajul ‘Arus”. Di dalam naskah kitab “Dalailul Khoirot” yang saya miliki tertulis Al Jazuli dengan huruf jim berharakat fathah.

([10]) Dari negeri ini muncul pula seorang ahli Nahwu yang bernama Isa bin Abdul Aziz Al Juzuli Al Barbari. Lahir pada tahun 540 H dan meninggal pada tahun 607 H.

([11]) Lihat biografinya di “Al I’lam” karangan Az Zirkili, “Kasyfuzh Zhunun” karangan Haji Khalifah, dll.

([12]) “Al Qaulul Baligh” (hal. 11)

([13]) Seperti Andalusia, Cordoba, dll.

([14]) Catt. Abu Fairuz waffaqohulloh: kitab-kitab batil seperti ini tak pantas dipuji.

([15]) QS Al Kahfi (29).

([16]) QS Al Baqarah (147).

([17]) HR Muslim (49) dari Abu Sa’id Al Khudri t .

([18]) QS Ali Imran (104).

([19]) QS An Nisa` (36).

([20]) QS Al Maidah (72).

([21]) HR Al Bukhari (2697) dan Muslim (1718) dari Aisyah رضي الله عنها .

([22]) HR Muslim (1718) dari Aisyah رضي الله عنها .

([23]) Catt. Abu Fairuz -waffaqohulloh-: Abu ‘Ali -rohimahullohu- berkata:

رسائل المرءٍ في كتُبه أدَلُّ على مِقدار عقله، وأصْدَقُ شاهداً على غيبه لك

“Risalah-risalah seseorang itu di dalam kitab-kitabnya itu paling bisa menunjukkan kadar akal dirinya, dan menjadi saksi yang paling jujur terhadap keadaan dirinya yang tersembunyi darimu.” (“Al Bayan Wat Tabyin”/1/hal. 67).

.

([24]) “Mu’jamul Manahi Al Lafdhziah”.

([25]) Ini juga merupakan bid’ah lainnya, yaitu penentuan shalawat dan wirid tertentu untuk hari tertentu. Al Juzuli menciptakan wirid khusus untuk hari tertentu yang berbeda dengan wirid pada hari lain. Terlebih lagi ‘wirid inovatif’ ini kebanyakannya berisi kesyirikan, kebid’ahan, ghuluw. Kegelapan di atas kegelapan, sampai tangan sendiripun tidak kelihatan. Ini semua merupakan bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh suri teladan kita Nabi Muhammad r .

([26]) Jimat ini bentuknya bisa bermacam-macam. Tidak terbatas hanya dalam satu bentuk saja. Ada yang digantung di leher, ada yang diikat di tangan atau kaki, digantung di dalam kendaraan, dan lain sebagainya.

([27]) ‘Ain (mata) adalah musibah yang terjadi pada sesuatu yang disebabkan oleh pandangan mata dari orang yang dengki terhadap sesuatu tersebut lalu dia lupa untuk berzikir kepada Alloh U . Musibah ini dapat berupa penyakit, kerusakan, dan lain sebagainya. Musibah ini nyata adanya dan terjadi dengan sangat cepat dengan izin Alloh U .

([28]) HR Ahmad (4/156/17458) dari Uqbah bin Amir Al Juhani t . Hadits shahih.

([29]) “Minhajul Firqatin Najiyah” (hal. 66).

([30]) Beliau adalah penulis kitab “An Nihayah fi Gharibil Hadits”.

([31]) “Silsilatul Ahadits Ash Shahihah” (492).

([32]) QS Al A’raf (180).

([33]) “Mu’jamul Manahi Al Lafdhziyah”.

([34]) QS Al A’raf (188).

([35]) Catt. Abu Fairuz waffaqohulloh: Padahal Alloh ta’ala berfirman:

Ÿwur äíô‰s? yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä ¢ Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Ilaah apapun yang lain. tidak ada Ilaah (yang berhak disembah) melainkan Dia.” (QS. Al Qoshshosh: 55)

([36]) Kitab ini juga terdapat di dalam Majmu’ul Fatawa (1/167).

([37]) QS An Najm (26).

([38]) QS Al Baqarah (255).

([39]) Tafsirul Qur`anil ‘Adhzim.

([40]) Fathul Qadir.

([41]) Catt. Abu Fairuz waffaqohulloh: Peringatan penting: bukan berarti kita mengingkari syafaat Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-, juga bukan berarti kita mengingkari besarnya keagungan beliau di sisi Alloh. Hanya saja pencarian syafaat itu harus berdasarkan syariat Alloh dan Rosul-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- berkata:

“Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- adalah pemberi syafaat buat para makhluq, beliau adalah pemilik maqom Mahmud yang diirikan oleh orang-orang terdahulu dan belakangan. Beliau adalah pemberi syafaat yang terbesar nilainya, dan paling tinggi keagungannya di sisi Alloh. Alloh ta’ala berfirman tentang Musa:

tb%x.ur y‰ZÏã «!$# $\kŽÅ_ur ÇÏÒÈ

“Dan adalah Dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Alloh.”

Juga berfirman tentang Al Masih:

$YgŠÅ_ur ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ÍotÅzFy$#ur ÇÍÎÈ

“Seorang terkemuka di dunia dan di akhirat.”

Sementara Muhammad lebih besar keagungannya daripada seluruh nabi dan rosul. Akan tetapi syafaat beliau dan doa beliau hanyalah bisa diambil manfaatnya oleh orang yang disyafaati oleh Rosul dan didoakan oleh beliau. Maka barangsiapa didoakan oleh Rosul dan diberi syafaat oleh beliau, maka dia bertawassul kepada Alloh dengan syafaat beliau itu dan doa beliau itu, sebagaimana para Shohabat bertawassul kepada Alloh dengan syafaat beliau itu dan doa beliau, dan sebagaimana manusia pada hari kiamat bertawassul kepada Alloh dengan syafaat beliau itu dan doa beliau -shollallohu ‘alaihi wa’ala alihi wasallam taslima-“. (“Majmu’ul Fatawa”/1/hal. 143).

([42]) As Silsilatush Shahihah (133).

([43]) QS Al Mu`minun (12-14).

([44]) QS Al Kahfi (110).

([45]) HR Muslim (2996) dari Aisyah رضي الله عنها .

([46]) Silsilatul Ahadits Ash Shahihah (458).

([47]) HR Abu Daud (4700) dan At Tirmidzi (2155) dari Ubadah bin Shomit t .

([48]) QS Al Fath (8-9).

([49]) QS Al Ahzab (56).

([50]) HR Al Bukhari (3445) dari Umar bin Al Khatthab t .

([51]) QS Al Kahfi (109).

([52]) Minhajul Firqatin Najiah (hal. 66)

([53]) Yaitu larangan beramal dengan hadits lemah.

([54]) Tamamul Minnah (hal. 34).

([55]) Muqaddimah kitab Fathul Lathif fi Hukmil ‘Amal bil Haditsidh Dha’if karangan Ali bin Ahmad Ar Razihi.

([56]) Qa’idatun Jalilah fit Tawassul wal Wasilah (hal. 84).

([57]) HR At Tirmidzi (2662) dan Ibnu Majah (41) dari Al Mughirah bin Syu’bah t . Hadits shahih.

([58]) Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits (hal. 64-65).

([59]) Ini adalah nama-nama batu mulia.

([60]) HR Ibnu Syahin sebagaimana disebutkan oleh As Suyuthi di “Al La`ali Al Mashnu’ah” (2/22). Hadits ini dimasukkan oleh Ibnul Jauzi ke dalam kitabnya “Al Maudhu’at” (2/104) dan berkata: “Ini hadits palsu.”

([61]) Umar bin Shubh, berkata Adz Dzahabi tentangnya: “Dia tidak bisa dipercaya”. Ibnu Hibban berkata: “Dia termasuk orang-orang yang memalsukan hadits.” Ad Daraqutni dan yang lainnya berkata: “Matruk (Haditsnya tidak dipakai). Berkata Al Azdi: “Pendusta.”

([62]) QS Al Ahzab (56).

([63]) “Tafsirul Qur`anil ‘Adhzim”.

([64]) HR At Tirmidzi (3545) dari Abu Hurairah t . Hadits shahih.

([65]) HR At Tirmidzi (3546) dan An Nasa`i (8100) dari Husein bin Ali t . Hadits shahih.

([66]) HR Abu Daud (2042) dari Abu Hurairah t . Hadits shahih.

([67]) Yaitu hadits Abu Hurairah dan Ali bin Abi Thalib رضي الله عنهما .

([68]) “I’anatul Mustafid” (1/322).

([69]) HR Muslim (384) dari Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash t .

([70]) “I’anatul Mustafid” (1/319).

([71]) HR Al Bukhari (3369) dan Muslim (407) dari Abu Humaid As Sa’idi t .

([72]) HR Al Bukhari (3370) dan Muslim (406) dari Ka’b bin ‘Ujrah t .

([73]) HR Al Bukhari (4798) dari Abu Sa’id Al Khudri t .

([74]) HR Muslim (405) dari Abu Mas’ud Al Anshori t . Yang dimaksud oleh Rosululloh r tentang salam tersebut adalah lafadh: السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

([75]) Shifatush Sholatin Nabi r (hal. 164-167).

([76]) Ini menurut tertib susunan beliau di dalam kitab Shifatush Sholatin Nabi r , yaitu hadits Abu Humaid As Sa’idi dan Abu Mas’ud Al Anshori رضي الله عنهما .

([77]) Shifatush Sholatin Nabi (hal. 175).

([78]) Al Albani berkata: “Ia (tulisan tangan tersebut) merupakan salah satu koleksi perpustaan Adhz Dhzahiriah.”

([79]) QS Ali Imran (31).

([80]) Shifatush Sholatin Nabi r (hal. 172-175).

([81]) Iqtidhaush Shiratil Mustaqim (1/289).

([82]) Tafsirul Qur`an (surat At Takwir).

([83]) QS An Nisa` (171).

([84]) QS Al Ma`idah (77).

([85]) “Tafsirul Qur`anil ‘Azhim”.

([86]) “I’anatul Mustafid” (1/264).

([87]) HR Al Bukhari (5063) dan Muslim (1401) dari Anas bin Malik t .

([88]) QS Hud (112).

([89]) “Tafsirul Qur`anil ‘Azhim”.

([90]) “Ma’alimut Tanzil”.

([91]) HR Ahmad (1/347), An Nasa`i di “As Sunan Al Kubro” (5/268), dan Ibnu Majah (3029) dari Abdullah bin Abbas t . Hadits shahih.

([92]) “Iqtidha`ush Shirathil Mustaqim” (1/289).

([93]) HR Muslim (2670) dari Abdullah bin Mas’ud t .

([94]) “Fathul Majid” (hal. 202), “Taisirul ‘Azizil Hamid” (276), dan “Ma’alimus Sunan” (7/12-13).

([95]) HR Abu Daud (4806) dari Abdullah bin Syikhkhir t . Hadits shahih.

([96]) Yaitu: ‘Wahai Rosululloh.’ atau ‘Wahai Nabi Alloh.”

([97]) HR An Nasa`i di “Al Kubro” (10078) dan “‘Amalil Yaum wal Lailah” (249) dari Anas bin Malik t . Hadits shahih.

([98]) Yaitu: ‘Wahai Rosululloh.’ atau ‘Wahai Nabi Alloh.”

([99]) Penafsiran kedua hadits di atas dengan makna larangan adalah penafsiran kebanyakan ulama. Adapun Syekh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin رحمه الله di dalam kitabnya “Al Qaulul Mufid” (2/517-518) menafsirkan bahwa Rosululloh r  tidak melarang umatnya untuk memuji beliau dengan pujian yang memang sesuai dengan kedudukan beliau, dengan syarat bahwa pujian mereka kepadanya jangan sampai berlebihan di atas kedudukan beliau sehingga Syaitan bisa membawa mereka kepada kesesatan dan ghuluw terhadapnya. Beliau berdalil dengan teks lafadh (قولوا بقولكم) dan dalil-dalil lainnya yang membolehkan mengucapkan gelar sayyid kepada orang yang berhak mendapatkannya dengan tidak diiringi pengagungan dan ghuluw terhadapnya. Namun walau bagaimanapun penafsirannya, semua ulama bersepakat bahwa tidak boleh bagi seorang pun untuk bersikap ghuluw terhadap Rosululloh r dan yang selainnya. WAllohu a’lam.

([100]) Atsar riwayat Al Bukhari (4920). Mauquf berhukum rafa’ (bersumber dari Nabi Muhammad r ).

([101]) HR Al Bukhari (3445) dari Umar bin Al Khathab t .

([102]) Catt. Abu Fairuz waffaqohulloh: Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata:

“Dan di antara sebab disembahnya patung-patung adalah sikap ghuluw kepada makhluk dan memberinya posisi di atas kedudukan aslinya hingga menjadikan padanya bagian dari peribadatan, dan menyerupakannya dengan Alloh. Dan inilah penyerupaan yang terjadi pada umat-umat yang telah dibatalkan oleh Alloh Yang Mahasuci, dan Dia mengutus para Rosul-Nya dan menurunkan kitab-Nya untuk mengingkari itu dan membantah pelakunya.” (“Ighotsatul Lahfan”/2/hal. 226).

([103]) I’anatul Mustafid (2/309-310).

([104]) “At Tankil” (1/80).

([105]) QS Al Baqarah (143).

([106]) Yaitu sebab dituduhnya beliau membakar kitab “Dalailul Khoirot” oleh para musuhnya. Ini adalah tuduhan yang tidak benar.

([107]) Muallafatusy Syaikhil Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab (hal. 37).

([108]) HR Al Bukhari (3445) dari Umar bin Al Khathab t .

([109]) « Kasyfu Ghayahibidhz Dhzolam ‘an Auhami Jala`il Afham » (hal. 297).

([110]) Fatwa nomor 8879.

([111]) QS Az Zumar (44).

([112]) QS Al Baqarah (255).

([113]) QS Az Zumar (43-44).

([114]) Fatwa nomor 15880.

([115]) I’anatul Mustafid (1/323).

([116]) Fadhlush Sholati ‘alan Nabi (hal. 30-33).

([117]) HR Al Bukhari (3456) dan Muslim (2669) dari Abu Sa’id Al Khudri t .

([118]) QS Al Baqarah (137).

([119]) QS An Nur (63).

49 pemikiran pada “Penyimpangan KITAB DALAILUL KHAIRAT

  1. Aku memohon ampun untuk diriku dan umat Nabi kita Muhammad saw, yg beliau cintai. Dijaman sekarang ini sudh banyak faham wahaby yg mengaku ahli sunnah waljamaah, mengaku pengikut ulama salafussolih, padahal mereka hanya mengambil dalil dan pendapat dari ulama2 salafusolih hanya untuk memperkuat pendapat mereka, jika kita jeli melihat sejarah yg tersembunyi dari kelahiran faham wahaby, tentu akan tercengang,..bukti nyata saat ini negeri mekah sendiri sudah dikuasai atau dikelola oleh org2 israel

    Suka

  2. يا من لا هو إلا هو) : memang itu bukan nama allah tapi itu isim dlomir munfasil yang isinya adalah allah sama sprt الله لا اله الا هو الحي القيوم tidak ada tuhan selain dia yaitu هو jadi anda mestinya teliti dulu jangan gampang memusyrikkan orang mu’min karna balasannya orang yang mengkafirkan orang mu’min itu murtadz.

    Suka

    • Rosululloh tidak pernah memanggil Alloh dengan kata يا من لا هو إلا هو)

      Suka

  3. Wahabi Takfiri,merasa lebih alim & paham soal agama dari para ulama terdahulu…tabayun dulu kepada ulama lain,jangan hanya mengambil fatwa dari ulama kerajaan saud…

    Suka

    • mustahil kita tabayyun kepada syaiton, sebab syaiton itu pendusta.

      Suka

  4. Dalail khairot menyimpang?????
    Nte maqomnya apa?dah muhaddist apa alhafidz?
    Dan tingkat keilmuan syech jazuli sperti apa??
    Org2 skr songongnya dah kebangetan sm ulama…makanye idupnye kgk ade yg berkah…

    Suka

  5. Saya Masih Mengamalkannya Alhamdulillah..walaupun para wahabi mengtakan bidi’ah …Sebab dengan mengamalkan ini saya lebih rajin Baca Al-Qur’an Dan Tambah Takut kepada Allah..dan Tambah rindu kpda Rasulullah SAW….sebab di dalamnya istighfar dan sholawtan….:)..Saya Sangat bahagia dengan mengamalkan ini..

    Suka

    • Sy org bodoh dn byk berbuat dosa,
      alhamdulillah sy jg msh dawam membaca kitab dalail, sy setuju dgn antum, qt akan lebih cinta allah swt dn rindu rasulullah, klw ada yg bilang dalail bid’ah, itu org ht nya buta, lebih buta dr org yg buta mata, org yg mati rasa melebihi org yg lumpuh, smoga Allah swt mengampuni dosa² mereka yg berkata bid’ah

      Suka

  6. kitab dalailul khoirot adalah kitab klasik yang berisi sholawat kepada nabi muhamad SAW di susun oleh seorang alim dan ahli tasawuf, syech sulaiman al jazuly yang mana ilmu agama pada masanya lebih dekat kepada sumbernya,masih banyak di jumpai ulama salafunas salih yang berpegang teguh pada sunah rosululloh dan atsar para sahabat,dan juga kitab dalailul khoirot sudah banyak di amalkan oleh para ulama dari masa ke masa sejak pertama kali di susun dan sudah menjadikan setiap pengamalnya menjadi insan yang berakhlakul karimah dekat kepada Alloh dan rosulNya,seandainya ini perkara batil mungkin kitab ini tidak akan sampai menyebar ke seluruh dunia. wallohu a’lamu bishowab.

    Suka

  7. lanaa a’malunaa walakum a’maalukum
    “Seorang mufti atau seorang qadi tidak boleh memaksa pendapatnya untuk diterima oleh orang yang tidak bersependapat dengannya selagi pendapat orang itu tidak menyalahi nas al-Qur’an dan hadits, ijma’ atau qias yang jelas.” (Syarah Muslim, jld 2, H:24)

    Suka

  8. “Seorang mufti atau seorang qadi tidak boleh memaksa pendapatnya untuk diterima oleh orang yang tidak bersependapat dengannya selagi pendapat orang itu tidak menyalahi nas al-Qur’an dan hadits, ijma’ atau qias yang jelas.” (Syarah Muslim, jld 2, H:24)

    Suka

  9. lanaa a’maaluna walakum a’maalukum
    “Seorang mufti atau seorang qadi tidak boleh memaksa pendapatnya untuk diterima oleh orang yang tidak bersependapat dengannya selagi pendapat orang itu tidak menyalahi nas al-Qur’an dan hadits, ijma’ atau qias yang jelas.” (Syarah Muslim, jld 2, H:24)

    Suka

  10. Salam,
    Tuan Abu Ahmad, penulis artikel di atas dan pengelola situs serta para pencinta atau pengamal Kitab Dalailul-Khairat yang dihormati.
    alhamdulillah Kajian Kitab Dalail, Ramalan Joyoboyo dan Hikayat Perang Sabil yang me-Motivasi Perang Sabil di Nusantara telah dapat dicetak dan dipasarkan.
    Selanjutnya antum dipersilahkan berkunjung ke: http://serbasejarah.wordpress.com/2013/02/25/motivasi-perang-sabil-di-nusantara/
    untuk mendapatkan senaskah buku secara gratis.
    Wassalam.

    Suka

  11. assalamualaikum,,,
    Ceng, ente ngaji ngges braha tahun???
    Ngaji ncan khatam ngges wani2 nte nyien2 nu kos karariye…??
    Waduh, ngges ngaji wae hela, khatamken hela kakarak ngecaprak….
    Waduh…waduh..
    untung wae ente ngecaprakna di dunia maya, coba mun wani didunia nyata, asana ente ngges nyahoo ndek dinaonken ku jlma….
    Ceng,,,ceng

    Suka

  12. paling benci melihat muslim yg suka mengkafirkan saudara muslimnya yg lain. Ingat ..kita tidak tahu amalan siapa yang akan diterima Allah SWT.

    Suka

  13. TERORIS HASMI =JANGGUT KAMBING – CELANA CINGKRANG – JIDAT HANGUS – PAKAI GAMIS KUCEL – NGAKU PALING FAHAM ISLAM – NGGAK TAHUNYA WAHABI /ALBANI SINTING PENGHANCUR ISLAM-KAKI TANGAN YAHUDI

    Suka

  14. assalaamu alaikum…? punten ane mo nyoret nyoret blog ente nih berpendapat boleh silahkan v jgn menjelek jelekan sesama muslim donk.itulah kelemahan org muslim ga mau bersatu padahal yang maha pemberi ngasih kita ilmu tuh sedikit sedikit gak da yang full vi klo di gabung jadi banyak kan, sbab ada pribahasa “di atas langit masih ada langit” gitu ja. fahami yeh ma ente klo ente org berfikir. smoga hati dan fikiran ente terbuka.amiiiiiin.kiranya ckup sgtu aje dari ane yang miskin ilmu.wassamu alaikum wr wb

    Suka

  15. ALLAH KARIIM…. Apakah yg menjelekkan kitab DALAIL KHAIRAT ibadahnya lbh baik dr pengarang DALAIL KHAIRAT..??? dizamannya byk ulama2 sufi / Auiliya’illah tp tdk ada kritikan bid’ah atau kesyirikan..

    Suka

  16. orang 2 yg sudah mngamal kan DALA”IL KHAIRAT istiqomah,, meraka sudah bermimpi dengan baginda Rasulullah,, Apakah anda pernah BERmimpi sama Rasulullah >>>?

    Suka

  17. Ping balik: KATA ORANG2 WAHABI – KITAB ‘DALAILUL KHAIRAT’ ADALAH KITAB YG MENYIMPANG ? « wahabinews

  18. garang dan kejam terhadap sesama muslim tapi penakut dan kecut terhadap orang kafir,ciri khas orang wahaby.

    Suka

  19. apapun yang anda katakan tentang dalailul khairat, saya akan tetap membacanya!
    karna guru kami di sekumpul martapura kal-sel mengamalkan kitab tersebut. sedangkan Beliau terkenal di seluruh Indonesia sebagai Waliyullah.Wallahu a’lam bisshawab.

    Suka

  20. Maaf agak terlambat mampir di blog ini, tapi masih beruntung lah.
    Saya memiliki kitab Dalailul-khairat dari ibunda tersayang yang dicetak pada tahun 1322H (sekarang 1433H) yang disalin dari minuskrif yang ada di Islambul masa pemerintahan Khalifah, ash-Shultan Abdul-Hamid al-Ghazi. Dan saya dapati tidak ada kemiripan apa yang anda tulis dengan kitab yang saya miliki. Bisa jadi kita membicarakan nama Kitab yang sama dengan isi kandungan yang berbeda. Dan suatu hal yang mungkin juga “telah terjadi yang disengajakan memasukkan sesuatu yang bukan tulisan beliau kedalam kitab Dalailul-Khairat yang sebenar. Nesehat dan saran saya: Alangkah baiknya anda menyantumkan tahun dicetaknya kitab yang menjadi “Sorotan anda” tersebut. Dan seterusnya dapat kita bandingkan dengan kitab yang lebih awal dicetak.
    Wassalam

    Suka

  21. pangkal kesalahan kita sesama muslim adalah merasa paling benar sendiri, tidak ada yg benar selain pendapatnya; dan memvonis sodaranya salah bahkan sesat, kafir……

    Suka

  22. apalagi pendapatnya orang zaman sekarang walaupun kelihatanya pintar tapi belum tentu benar. pokoknya saya ikut kyai-kyai sepuh yang tawadu’ tidak pernah menyalah-nyalahkan orang lain dan tidak pernah merasa paling benar cinta persatua.

    Suka

  23. Sekarang saya tanya : 1. Seandainya saya bersholawat dengan bahasa Indonesia ( ya Allah Berilah rahmat kepada Nabi Muhammad) apakah bid’ah ? 2. apakah sholawat tersebut tidak akan sampai?
    Orang mau bersholawat memakai bahasa arab sesuai yg diajarkan nabi, atau bukan, atau memakai bahasa Indonesia, jawa, Inggris, bahasa hatipun pasti akan sampai kepada nabi karena sholawat adalah do’a.

    Suka

  24. Syekh Yasin Al-Fadani yang dijuluki dengan gelar “musniddunya” (ahli sanad), hidup di Makkah setelah dinobatkan sebagai Mujaddid setelah Syekh An-Nawawie Al-Bantanie. Semasa hidupnya, beliau selalu diusik dan dibenci oleh pemerintah Saudi Arabia karena beraliran suny tasawwuf dan sering berdzikir dengan “dala’ilul khairat”. Beliau meninggal dunia sekitar tahun 1991. Namun ketika tahun 1996 makam beliau terbuka dan terlihat kain kafannya masih utuh, maka oleh pemerintah Suadi dipindahkan ke makam baqi’ sebagai orang yang mati syahid.
    Jika dala’ilul khairat sesat, maka tdk mungkin jasad beliau masih utuh berikut kain kafannya.
    Wallahu a’lamu

    Suka

    • Fir’aun la’natulloh ‘alaihi jasadnya masih utuh sampai sekarang, apakah dia tidak sesat???

      وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٩٠)آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ (٩١)فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ (٩٢)

      90. dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
      91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
      92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (Yunus: 90-92)

      [704] Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

      Suka

      • وَأَضَلَّ فِرْعَوْنُ قَوْمَهُ وَمَا هَدَى (٧٩)
        dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk. (Thoha: 79)

        Suka

        • And terlalu cepat menyimpulkan, dangkal, dan ceroboh karena menyamakan kasus jasad utuh seorang syekh yasin al fadani dengan Fir’aun. Itulah kelemahan orang sekarang, mudah mengambil kesimpulan yang pintas. Coba anda renungkan sedalam mungkin, apakah pantas kasus fir’aun anda sepadankan dengan syekh yasin al fadani? semoga anda bisa mendapatkan pencerahan …

          Suka

          • haa,.,.,. wis wis kang wong pekok kok muk kandani,.,., dalailul khoirot ae youh do diwoco ,.,., mantaps.,.,.

            Suka

      • Jasad Firaun Utuh tetapi tidak alami dan tidak persis penampakan orang yang hidup. jangan dibandingkan dung wahai orang yang berakal jangan sampai anda SALAh FIkir

        Suka

      • jasadnya firaun msh utuh karena mmg sengaja di balsem tp kalau jasad beliau syech moch.yasin al fadani msh utuh mmg karena murni anugrah dari alloh azza wa jalla…….

        Suka

  25. tidak ada kebenaran yang absolut kecuali kebenaran Allah swt, tugas kita hanya sebatas memahami wahyu (Alqur’an) berdasarkan sunnah nabi dan pemikiran ulama terdahulu dan jika terdapat perbedaan hendaknyalah menyikapinya dengan arif dan legowo. itulah keluasan khazanah keilmuan islam. so, dont blame each other!!!

    Suka

    • A L – A N ‘ A A M

      6:104. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka Barang siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudaratannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu).

      Suka

  26. menghujat waliyulloh…
    meng Kafirkan mereka yang bersholawat…
    sementara mulut dan hati sendiri enggan untuk bersholawat….
    semoga Allah mengampuni segala kesalahanmu sodaraku…
    semoga lidah dan hatimu senantiasa mendapat tuntunan Allah untuk senantiasa menyanjung,bersholawat kepada Rosul bukti cinta kepada Rasululloh SAW.

    *AKEH SING APAL QUR’AN HADITSE,SENENG NGAFIRKE MARANG LIYANE.KAFIRE DEWE NDAK DIGATEKNE YEN ISEH KOTOR ATI AKALE”

    Suka

  27. Aku sarankan tuk sdr abu ahmad,beristigfarlah!!
    Anda taukan hkm suuzzon,apa lagi suuzzon kpd para awliya. Klw anda mlrang kami tuk membaca kitab dalail sama jg anDa mlrng kami mmbaca solawat

    Suka

    • tidak sama sebab salawat yang benar adalah salawat yang diajarkan oleh rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bukan kitab dalailul khoirot, wallohu walyyuttaufiiq

      Suka

      • Saya tanya : kalau saya bersholawat dengan bahasa Indonesia ( Ya Allah sampaikan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad ) sampai tidak ?

        Suka

          • jawaban gak nyambung, bisanya bid’ahin amalan orang lain. Peringatan dilarang khutbah jumat pakai bahasa Indonesia karena itu bid’ah. ini to andalanmu “Kesimpulan: Syarat diterimanya ibadah ada dua: 1) Ikhlash (jauh dari segala bentuk kesyirikan), dan 2) Sesuai dengan tuntunan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya (jauh dari bid’ah).” jargonnya benar pengetrapannya beda paham dengan kami, so jangan memaksakan pemahaman.

            Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s