PENYAKIT MASYARAKAT

PENYAKIT MASYARAKAT

 yang merajalela ditengah umat

FADHILATUSY SYAIKH

ABU ‘ABDILLAH MUHAMMAD BIN ‘ALI BIN HIZAM

AL FADHLY AL BA’DANY

Judul Asli:

منكرات شائعة في المجتمعات

يجب الحذر منها

Judul terjemahan:

Penyakit Masyarakat Yang Merajalela di Tengah Ummat

Penulis:

Fadhilatusy Syaikh

Abu ‘Abdilah Muhammad bin ‘Ali bin Hizam s

Penerjemah:

Abu Ja’far Al-Harits bin Dasril Al-Minangkabawy s

TIDAK DIPERKENANKAN DIPERBANYAK UNTUK DIPERJUAL BELIKAN

TANPA IZIN DARI PENERJEMAH

بسم الله الرحمن الرحيم

PENDAHULUAN

Segala puji hanya bagi Alloh,  kepadaNyalah kita memuji, dan meminta pertolongan. Kita memohon ampunanNya dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan diri-diri kita dan kekejian amalan-amalan kita. Barangsiapa yang Alloh berikan hidayah maka tidak akan ada yang bisa menyesatkannya. Barangsiapa yang Alloh sesatkan maka tidak ada seorang pun yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Alloh. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosulNya –Sholatullohu ‘alaihi wa ‘ala Alihi wa Shohbihi wa Sallam Tasliman Katsira-.

Amma ba’du,

Sesungguhnya Alloh mengutus  NabiNya Muhammad -Sholallohu ‘alaihi wa sallam-, dengan petunjuk dan agama yang benar untuk diunggulkan atas seluruh agama. Dan Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wa sallam tidak meninggal kecuali setelah Alloh sempurnakan dengannya agama ini, sehingga sempurnalah nikmatNya bagi alam semesta.

Sesungguhnya kejayaan, kemuliaan, dan keagungan agama ini hanya bisa dicapai dengan menerapkan agama Alloh ‘Azza wa Jalla, meninggalkan laranganNya, menahan tangan orang-orang yang berbuat kezholiman, serta mengingkari kemungkaran yang berkembang di kalangan manusia. Alloh Jalla wa ‘Ala mengatakan di dalam kitabNya:

{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ} [آل عمران : 110]

“Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan kepada manusia. Kalian menyeru kepada perkara yang ma’ruf (kebajikan), mencegah dari kemungkaran dan beriman kepada Alloh” (Ali ‘Imron 110)

Dan Alloh Ta’ala mengatakan:

{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُون}[آل عمران : 104]

“Dan hendaklah ada segolongan diantara kalian yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (Ali ‘Imron 104)

Maka kejayaan akan didapatkan dengan seruan kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Alloh Jalla wa ‘Ala telah menjelaskan bahwa sebab dilaknatnya Bani Isro’il adalah karena kemungkaran yang mereka lakukan, serta mereka tidak mencegah kemungkaran-kemungkaran tersebut. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [المائدة : 78 ، 79]

“Orang-orang kafir dari Bani Isro’il telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan ‘Isa bin Maryam. Hal itu karena kedurhakaan mereka, dan mereka telah melampaui batas (78) Mereka tidak saling mencegah dari kemungkaran yang senantiasa mereka kerjakan. Sungguh, betapa jeleknya apa yang telah mereka perbuat” (Al Ma’idah 78-79)

Amar ma’ruf nahi munkar adalah salah satu sifat ulul ‘azmi [1] dari kaum mukminin. Alloh Ta’ala mengatakan:

{وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَر} [التوبة : 71]

“Kaum mukminin dan mukminat, sebagiannya adalah penolong bagi yang lain. Mereka menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran” (At Taubah 71)

Dan Alloh Ta’ala mengatakan:

{يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُور} [لقمان : 17]

”Wahai anakku tegakkanlah sholat, serulah kepada kebajikan dan cegahlah dari kemungkaran, serta bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting” (Luqman 17)

Dalam Shohih Muslim dari hadist Abu Sa’id Al Khudry Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata: “Saya mendengar Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengingkari dengan tangannya. Apabila dia tidak mampu, maka dengan lisan (ucapan)nya. Jika dia tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya keimanan

Juga di Shohih Muslim, dari ‘Abdulloh bin Mas’ud  Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak seorang pun dari nabi yang telah Alloh utus kepada umat sebelumku, melainkan mereka memiliki para penolong dan shohabat dari umatnya yang mengambil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian setelah mereka ada sekelompok yang menyelisihi, mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan dan melakukan yang tidak diperintahkan. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia seorang mukmin. Barangsiapa yang memerangi dengan lisannya, maka dia seorang mukmin dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka dia adalah seorang mukmin. Dan tidak ada keimanan (walau) sebesar biji sawi setelah itu”

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan -sebagaimana di Shohih Al  Bukhory dari An Nu’man bin Basyir Rodhiyallohu ‘Anhu bahwa kebinasaan umat disebabkan oleh tidak adanya  pencegahan mereka dari kemungkaran. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Permisalan orang yang mangingkari sebuah kemungkaran dan orang yang jatuh padanya, seperti suatu kaum yang berlayar di atas sebuah kapal. Maka sebagian mereka berada di (lantai) atas dan sebagian berada di bawah. Jika orang yang berada di bawah ingin mengambil air, mereka (mesti) melewati orang yang berada di atas mereka. Maka mereka berkata: “Seandainya kita membuat lubang di tempat kita, kita tidak akan mengganggu orang-orang yang di atas kita”. Apabila mereka membiarkan orang- orang tersebut melakukan apa yang mereka inginkan maka mereka semua akan celaka. Namun  jika mereka bisa menahan tangan-tangan orang-orang tersebut maka mereka semua akan selamat”.

Robb kita Jalla wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال : 25]

“Dan takutlah kalian kepada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang zholim. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh memiliki balasan yang pedih” (Al Anfal 25)

Di sunan Abu Dawud dan Sunan At Tirmidzy, dari hadist Abu Bakr Ash Shiddiq Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata: “Wahai sekalian manusia, sungguh kalian membaca ayat ini:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُم} [المائدة : 105]

“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian. Orang-orang yang sesat tidak akan membayakan kalian jika kalian telah mendapatkan petunjuk” (Al Ma’idah 105)

Sesungguhnya aku mendengar Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya manusia jika melihat orang yang zholim lalu mereka tidak menahan tangannya, maka Alloh akan memberikan azab kepada mereka secara umum dalam waktu dekat”

Di Sunan At Tirmidzi dari Hudzaifah Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Demi yang  jiwaku berada di tanganNya, sungguh kalian akan menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran. Atau Alloh akan menurunkan azabnya kepada kalian dalam waktu dekat, kemudian kalian berdo’a kepadanya maka tidak akan dikabulkan”

Dikarenakan ayat-ayat dan hadist tersebut, maka kami berkeinginan untuk memperingatkan  sebagian kemungkaran yang tersebar di kalangan masyarakat dengan penjelasan dari dalil-dalil Al Kitab dan As Sunnah, sehingga tegak hujjah[2] bagi orang-orang yang telah sampai kepada mereka dalil-dalil tersebut. Sehingga kami bisa berlepas diri kepada Alloh dari (amanah) untuk menyampaikan hujjah yang  terdapat dalam  Al Qur’an dan As Sunnah tentang kemungkaran-kemungkaran tersebut.

(PENYAKIT) PERTAMA:

SYIRK (MENYEKUTUKAN ALLOH JALLA WA ‘ALA)

 

Hal ini terjadi dengan pemalingan ibadah kepada selain Alloh ‘Azza wa Jalla[3], seperti sujud, rukuk, menghinakan dan merendahkan diri, mencari berkah, pengagungan, nazar, sembelihan, kecintaan, do’a, meminta pertolongan ketika dilanda musibah dan meminta pertolongan  dalam suatu perkara yang tidak ada yang mampu kecuali Alloh, mendatangkan manfaat, menolak bahaya, dan lain sebagainya dari jenis-jenis ibadah. Betapa banyak masyarakat pergi ke wali-wali, kubah-kubah dan monumen-monumen, kemudian berdo’a kepada mereka dan meminta tolong untuk diselamatkan dari bencana. Kemudian mereka menyembelih untuk wali-wali tersebut tidak kepada Alloh, mengagungkan mereka, khusu’ di kuburan-kuburan mereka, dan mengharap berkah dari mereka. Laa hawla wa laa quwwata illa billah[4].

Allah Jalla wa ‘Ala mengatakan di kitabNya yang mulia:

{وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُون} [الأحقاف : 5]

“Dan siapakah yang lebih sesat dari orang-orang yang  berdo’a kepada selain Alloh, yang (mereka sembah itu) tidak mampu mengabulkannya sampai hari kiamat, dan mereka (yang disembah) lalai dari do’a-do’a mereka” (Al Ahqof 5)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

{قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ} [الزمر : 38]

“Katakanlah: “Kalau begitu, tahukah kalian bahwa yang kalian seru (sembah) itu, apabila Alloh ingin mendatangkan bencana kepadaku, apakah mereka mampu menghilangkan bencana itu?. Atau jika Alloh ingin memberikan rahmat kepadaku, apakah mereka bisa mencegah rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Alloh bagiku, kepadaNyalah orang-orang yang bertawakkal berserah diri” (Az Zumar 38)

Alloh Ta’ala mengatakan:

{وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِي (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}  [يونس : -106107]

“Janganlah engkau berdo’a kepada selain Alloh, sesuatu yang tidak bisa memberimu manfaat dan tidak juga bisa membahayakanmu. Jika kamu melakukan hal itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zholim (106) Apabila Alloh menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak akan ada yang bisa menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hambaNya. Dialah Al Ghofur (Maha Pengampun) dan Ar Rohim (Yang Memberikan Rahmat)” (Yunus 106-107)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

{وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ} [يونس : 18]

“Dan mereka beribadah kepada selain Alloh, sesuatu yang tidak juga bisa membahayakan mereka dan tidak bisa memberi mereka manfaat. Mereka berkata: “Mereka (yang diibadahi) itu adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Alloh”. Katakanlah: “Apakah kalian akan memberitahu Alloh sesuatu di langit yang tidak diketahuiNya dan tidak pula di bumi?”. Maha Suci dan Maha Tinggi Alloh dari apa-apa yang mereka persekutukan”  (Yunus 18)

Alloh Ta’ala mengatakan:

{وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُون} [المؤمنون : 117]

“Barangsiapa yang berdo’a kepada Alloh dan sembahan(nya) yang lain, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya kepada Robbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak beruntung” (Al Mukminun 117)

Dari ayat-ayat yang mulia tersebut terdapat penjelasan bahwa barangsiapa yang meminta kepada selain Alloh untuk dilepaskan dari kesusahan, pada perkara-perkara yang tidak ada yang mampu mengatasiNya kecuali Alloh, atau memohon kepada mayat, atau berdo’a kepada selain Alloh, menyembelih untuk (sembahan)nya, atau bernazar untuknya, atau memalingkan bentuk-bentuk lain dari ibadah kepada (sembahan)nya, maka orang tersebut telah melakukan kesyirikan kepada Alloh Al ‘Azhim (Yang Maha Besar).

Kesyirikan adalah dosa besar yang tidak akan diampuni Alloh[5], dan pelakunya diganjal dengan neraka. Sebagaimana Alloh mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا} [النساء : 48]

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni kesyirikan. Dan Dia akan mengampuni dosa-dosa selain itu jika dia menghendaki. Barangsiapa yang berbuat kesyirikan, maka sungguh dia telah berbuat dosa  yang besar” (An Nisa’ 48)

 Alloh -Subhanahu wa Ta’ala- mengatakan:

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة : 72]

“Sesungguhnya barangsiapa yang  menyekutukan Alloh, akan Alloh haramkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka Dan tidak ada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zholim” (Al Ma’idah 72)

Diantara bentuk kesyirikan kepada Alloh adalah, seseorang melakukan sholat, puasa, bersedekah, mengajarkan agama kepada manusia atau ibadah-ibadah yang lain dengan tujuan mendapatkan pujian orang-orang, mengharap sanjungan mereka sehingga dia bisa mendapatkan harta dan dunia. Sesungguhnya Alloh mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [هود : 15 ، 16]

“Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti kami berikan balasan peuh atas pekerjaan mereka di dunia. dan mereka di dunia tidak akan dirugikan (15) Itulah orang-orang yang tidak akan mendapatkan apa-apa di akhirat kecuali neraka, sia-sialah apa yang mereka kerjakan di dunia, dan terhapuslah apa-apa yang telah mereka kerjakan” (Hud 15-16)

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata, sebagaimana dalam Shohih Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu: “Alloh Ta’ala berkata: Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu. Barangsiapa yang melakukan sebuah amalan kemudian dia menyekutukanKu dengan selainKu, maka akan Kutinggalkan dia bersama sekutunya itu”

Di Shohihaini (Bukhory-Muslim) dari hadist Jundub bin ‘Abdillah -Rodhiyallohu ‘Anhu-, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barang siapa yang ingin amalannya didengar orang, maka akan Alloh menjadikan kejelekannya didengar orang. Barangsiapa yang amalannya ingin dilihat orang maka akan Alloh membongkar kejelekannya.”

Diantara bentuk kesyirikan kepada Alloh adalah bersumpah dengan selain nama Alloh, seperti bersumpah dengan kalimat demi bapak, ibu, demi kepala anak-anakku, harta, amanah, kehidupan dan kehormatan. Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, sebagaimana di Sunan At Tirmidzi dan Musnad Ahmad dari hadist Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu: “ Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Alloh, sungguh dia telah berbuat kesyirikan”

Dari hadist Buraidah Rodhiyallohu ‘Anhu yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barang siapa yang bersumpah demi amanah, maka dia bukan bagian dari kami”

Diantara bentuk kesyirikan adalah perkataan, “Apa yang Alloh dan fulan inginkan”, “Kalau bukan karena Alloh dan kamu”, “Kupasrahkan (urusanku) kepada Alloh dan kepadamu”, “Tidak ada bagiku kecuali Alloh dan kamu”, serta ungkapan-ungkapan lain yang semisal.

Dalam Sunan An Nasa’i dan  Musnad Ahmad dari hadist Hudzaifah dan Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhuma; Ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam:  “Apa yang Alloh dan kamu inginkan”. Maka Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya: “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Alloh?. Katakan,” Apa yang Alloh inginkan”. Ini adalah lafaz hadist Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu, sementara lafaz hadist Hudzaifah Rodhiyallohu ‘Anhu: “Katakan, apa yang Alloh inginkan, kemudian apa yang fulan inginkan”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEDUA:

MENDATANGI DUKUN, AHLI NUJUM,

PARANORMAL DAN TUKANG TENUNG

Sebagian orang pergi kepada mereka untuk berobat, agar mereka mendatangkan manfaat baginya, atau menolak bahaya darinya. Atau datang membenarkan apa yang mereka katakan tentang perkara-perkara ghoib. Telah shohih dari Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana di Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, dan diriwayatkan Al Bazzar dari hadist Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang mendatangi peramal, kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”

Dari ‘Imron bin Hushoin Rodhiyallohu ‘Anhu diriwayat Al Bazzar, dan hadist dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu di riwayat Ath Thobrony, bahwasanya Nabi –Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam– berkata: “Bukanlah dari kami, orang yang mengundi nasib atau yang diundikan, peramal atau yang minta diramal, penyihir atau yang meminta sihir”

Sebagaimana di Shohih Muslim dari hadist sebagian istri-istri Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang mendatangi peramal, kemudian bertanya kepadanya, tidak akan diterima sholatnya  selama empat puluh hari”.

Mereka mengaku-ngaku mengetahui perkara ghoib, dan memakai jin. Barangsiapa yang memakai bantuan jin maka dia kafir., karena perkataan Alloh Ta’ala:

{وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ} [البقرة : 102]

“Dan kedua (malaikat) itu tidak mengajarkan (sihir) kepada seseorang sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), maka janganlah kamu kafir” (Al Baqoroh 102)

Maka pergi kepada mereka hukumnya haram, dan wajib bagi seseorang untuk kembali kepada Alloh Jalla wa ‘Ala di kala dia memiliki kebutuhan. Alloh Ta’ala mengatakan:

{أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ} [النمل : 62]

“Bukankah Dia yang mengabulkan do’a orang yang berada dalam kesulitan jika dia berdo’a kepadaNya? Dan Dia yang menghilangkan kesusahan  dan menjadikan kalian sebagai kholifah (pemimpin) di muka bumi? Apakah bersama Alloh ada sembahan yang lain? Sedikit sekali Alloh yang kalian ingat” (An Naml 62)

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KETIGA:

MENINGGALKAN SHOLAT WAJIB

DAN BERGAMPANGAN DALAM MASALAH TERSEBUT

 

Dalam masalah ini, banyak sekali masyarakat yang bergampang-gampangan, Wa Laa Haula wa Quwwata illa billah. Robb kita Jalla wa ‘Ala mengatakan di kitabNya yang mulia:

{فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا} [مريم :59]

“Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan sholat dan mengikuti hawa nafsu. Maka mereka kelak akan tersesat” (Maryam 59)

Alloh mengatakan:

{مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (43) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (44) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (45) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ} [المدثر :42-46]

”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam neraka Saqor? (42) Mereka berkata: “Dulunya kami tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat”  (43) Dan kami juga tidak memberi makan orang miskin (44) Bahkan kami berbincang (untuk tujuan yang bathil) bersama orang-orang yang memperbincangkannya (45) Dan kami mendustakan hari pembalasan”.(Al Muddatstsir 42-46)

Alloh mengatakan[6]:

{فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُم} [التوبة/5]

“Jika mereka bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka berilah mereka kebebasan” (At Taubah 5)

Alloh mengatakan[7]:

{فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ} [التوبة :11]

“Jika mereka bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka mereka adalah saudara-saudaramu seagama” (At Taubah 11)

Dari hadist Buraidah Rodhiyallohu ‘Anhu di Sunan At Tirmidzi, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Kesepakatan antara kita dan mereka adalah sholat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka dia telah berbuat kekafiran”

Di Shohih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Antara seorang muslim dengan kekafiran atau kesyirikan adalah meninggalkan sholat”

Di Musnad Ahmad dan Sunan Abu Dawud, dari hadist ‘Ubadah bin Ash Shomit Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sholat lima waktu telah diwajibkan Alloh kepada para hambaNya. Barangsiapa yang menyempurnakan wudhu’nya, kekhusyu’an sholat dan rukuknya, maka baginya janji Alloh untuk mengampuninya. Barangsiapa yang tidak melakukannya, maka tidak ada baginya suatu janji pun dari Alloh. Jika Dia ingin maka Dia ampuni, jika Dia ingin maka Dia azab”

 

(PENYAKIT) KEEMPAT:

DEMOKRASI

 

Ini termasuk kemungkaran besar yang tengah menyebar di kalangan kaum muslimin. Demokrasi merupakan konsep kufur yang datang dari musuh-musuh Islam. Makna konsep adalah hukum suatu kelompok untuk dirinya yang mereka susun sendiri.  Makna lain dari konsep demokrasi adalah: Kebebasan berpikir, kebebasan beragama, dan kebebasan keyakinan, Wa Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah. Demikian juga saling menghargai pemikiran dan agama. Adapun yang terakhir ini adalah perbuatan kufur. Alloh Jalla Wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِين} [آل عمران : 85]

“Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, tidak akan diterima, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (Ali ‘Imron 85)

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

{إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ} [آل عمران : 19]

“Sesungguhnya agama di sisi Alloh hanyalah Islam” (Ali ‘Imron 19)

Alloh Ta’ala mengatakan:

{فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ} [التوبة/11]

“Jika mereka bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka mereka adalah saudara-saudaramu seagama” (At Taubah 11)

Alloh mengatakan:

{فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوا سَبِيلَهُم} [التوبة/5]

“Jika mereka bertaubat, menegakkan sholat dan menunaikan zakat maka berilah mereka kebebasan”  (At Taubah 5)

Di Shohihain dari Ibnu’ Umar Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada yang pantas diibadahi melainkan Alloh, dan Muhammad adalah Rosululloh, mereka menegakkan sholat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukan yang demikian maka darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali (yang diambil) dengan haknya, dan perhitungan mereka pada Alloh Ta’ala”[8]

Dan termasuk dalam lingkup demokrasi, apa yang dikenal dengan kebebasan perempuan, kebebasan berpikir, pemilu yang menyebar dikalangan kaum muslimin, yang padanya banyak terdapat kerusakan-kerusakan, yang banyaknya hanya Alloh yang tahu, diantaranya penumpahan darah, persaksian palsu, penyetaraan lelaki dan perempuan, orang baik-baik dengan para begundal dan selainnya dari berbagai bentuk kemungkaran.

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KELIMA:

LOYALITAS KEPADA ORANG KAFIR, MEMBANTU,

 MENYOKONG DAN BEKERJASAMA DENGAN MEREKA

BAIK DENGAN PERKATAAN, HARTA ATAU SELAINNYA

 

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة : 51]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasroni sebagai teman setia, mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak membei petunjuk kepada orang yang zholim” (Al Ma’idah 51)

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

{لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة : 22]

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan rosulNya, sekalipun orang-orang tersebut adalah bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang telah ditanamkan Alloh keimanan dan Alloh telah menguatkannya dengan pertolongan yang datang dariNya, dan ia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho kepada mereka, dan mereka pun ridho kepada Alloh. Mereka adalah hizbulloh. Ingatlah bahwa hizbullohlah orang-orang yang beruntung” (Al Mujadalah 22)

Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [التوبة : 23]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai penolong, apabila mereka lebih mencintai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa diantara kalian yang mengambil menjadikan mereka sebagai penolong, maka orang-orang tersebut adalah orang-orang yang zholim” (At Taubah 23)

Alloh Ta’ala mengatakan:

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً} [آل عمران : 28]

“Janganlah orang-orang mukminin menjadikan orang kafir selain orang mukmin sebagai pemimpin. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka dia tidak akan memperoleh apapun dari Alloh, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka” (Ali ‘Imron 28)

Alloh Ta’ala mengatakan:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ} [الممتحنة : 1]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuhKu dan musuh kalian sebagai teman setia, sehingga kalian menyampaikan (berita-berita Muhammad) kepada mereka disebabkan rasa kasih sayang. Padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang disampaikan kepadamu” (Al Mumtahanah 1)

Maka wajib bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari orang-orang kafir, dan tidak saling tolong-menolong dengan mereka. Alloh Ta’ala mengatakan:

{قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ} [الممتحنة : 4]

“Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri ibrohim dan orang-orang yang bersamanya. Ketika mereka berkata pada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan apa yang kalian ibadahi selain Alloh. Kami mengingkari kalian, dan telah nyata diantara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya, sampai kalian beriman hanya kepada Alloh” (Al Mumtahanah 4)

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEENAM:

TASYABBUH (MENYERUPAI) ORANG KAFIR

 

Yaitu dalam hal pakaian mereka, perhiasan, dan gaya hidup. Padanya terdapat unsur loyalitas kepada mereka. Dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abu Daud, dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka”

Maka wajib bagi seorang mulim untuk meneladani petunjuk Nabi dalam hal pakaian dan perhiasannya, bukannya malah menjiplak musuh-musuh Islam dalam hal pakaian dan perhiasan mereka. Sebagaimana perkataan Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam: “Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad”

Dan Alloh Ta’ala mengatakan:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَة} [الأحزاب : 21]

“Sesungguhnya bagi kalian terdapat suri teladan pada Rosululloh”  (Al Ahzab 21)

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KETUJUH:

MENGEJEK ORANG-ORANG YANG BERPEGANG TEGUH

DENGAN AL QUR’AN DAN SUNNAH

 

Alloh Jalla Wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ (29) وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (30) وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ (31) وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ (32) وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ (33) فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ  (34)عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ (35) هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ}[المطففين : 29 – 36]

“Sesungguhnya para pendosa adalah orang-orang yang dulunya menertawakan orang-orang beriman (29) Apabila mereka (orang-orang beriman) melintas di depan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya (30) Dan jika kembali kepada kaumnya mereka kembali dengan gembira ria (31) Apabila mereka melihat orang-orang beriman, mereka berkata; “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sesat” (32) Padahal para pendosa itu tidak diutus sebagai penjaga orang-orang mukmin (33) Maka pada hari ini orang-orang berimanlah yang mentertawakan orang-orang kafir (34) Mereka diatas diapan-dipan melepas pandangan (35) Tidakkah orang-orang kafir itu diberi balasan atas apa yang telah mereka perbuat?”

(Al Muthoffifin 29-36)

Alloh Jalla Wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia perihal orang-orang kafir di hari kiamat:

{قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ (108) إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَا آَمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ (109) فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ (110) إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ}  [المؤمنون : 108 – 111]

“Dia (Alloh) berkata: “Tinggallah kalian di dalamnya dengan hina. Jangan kalian berbicara denganKu (108) Sungguh ada segolongan dari hambaKu berdo’a “Wahai Robb kami, kami telah beriman maka ampunilah dan rahmatilah kami. Sesungguhnya Engkau adah Khoirur Rohimin (sebaik-baik pemberi rahmat) (109) lalu kalian jadikan mereka bahan ejekan sampai-sampai kalian lupa mengingatKu. Dan kalian (senantiasa) menertawakan mereka (110) Sungguh pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka. Sungguh mereka itulah yang memperoleh kemenangan” (Al Mukminun 108-111)

Sikap mengejek orang-orang yang berpegang teguh dengan agama  karena agama yang mereka amalkan, adalah sebuah perbuatan yang besar bahayanya. Karena mengejek seseorang karena agamanya, mengandung ejekan terhadap agama Alloh Jalla wa ‘Ala, ejekan terhadap Alloh, dan kepada rosulNya, yang menyebabkan kekafiran kepada Alloh. Alloh ‘Azza Wa Jalla mengatakan:

{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ} [التوبة : 65 ، 66]

“Dan apabila kamu bertanya kepada mereka, niscaya mereka akan mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apa dengan  Alloh, ayat-ayatNya dan rosulNya kalian berolok-olok?” (65) Tak perlu kalian meminta uzur. Kalian telah kafir setelah beriman. Apabila kami memaafkan sekelompok dari kalian (karena telah bertaubat), niscaya kami akan mengazab sekelompok yang lain karena sesungguhnya mereka adalah para pendosa” (At Taubah 65-66)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEDELAPAN:

GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA

 

Perkara ini sangat menyebar di kalangan muslimin, sedikit sekali yang mengingkarinya. Wa Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah. Dan ini temasuk dosa besar. Di Shohihain dari Abu Hurairoh Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Alloh Ta’ala berkata: “Siapakah yang lebih zholim dari seseorang yang mencipta seperti yang telah Aku ciptakan. Maka ciptalah oleh mereka sebuah biji, ciptalah oleh mereka sebesar atom, ciptalah oleh mereka biji gandum”

Di Shohihain dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diazab pada Hari Kiamat. Kemudian dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa-apa yang telah kalian ciptakan”.

Dalam Shohihain dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Di neraka, setiap penggambar akan mendapatkan bahwasanya setiap gambar (makhluk bernyawa) yang dibuatnya diberikan jiwa, (mereka) yang akan mengazab (tukang gambar) di Jahannam”

Di Shohihain dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Manusia yang paling dahsyat azabnya pada Hari Kiamat adalah para tukang gambar (makhluk bernyawa)”

Dalam Shohihaini dari Abu Tholhah Al Anshory Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (makhluk bernyawa)”

Dalil-dalil tersebut menunjukkan tentang keharaman gambar (makhluk bernyawa), Dan larangannya umum, baik gambarnya berbentuk (tiga dimensi)[9] atau tidak[10]. Baik dibuat dengan tangan ataupun yang dibuat pakai alat[11], maka seluruhnya termasuk dalam keharaman.

Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa harus memakai gambar, seperti untuk passport, KTP dan yang sejenisnya, maka sebagian ulama telah memfatwakan boleh baginya untuk memakai gambar dengan syarat hatinya membencinya. Dan dosa ditanggung oleh orang yang memaksa masyarakat untuk berbuat hal tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KESEMBILAN:

SEKS BEBAS

 

Perkara keji ini telah menyebar di kalangan muslimin –Wa Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah-, padahal Alloh Jalla Wa ‘Ala telah mengatakan:

{وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا} [الإسراء : 32]

“Janganlah kalian mendekati zina, karena sesungguhnya perbuatan tersebut adalah sebuah kekejian dan jalan yang buruk” (Al Isro’ 32)

Di Shohih Al Bukhory dari hadist Samuroh bin Jundub Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata -di hadist yang panjang-: “Kemudian kami pun pergi. Maka kami mendatangi sebuah tungku api”.

(Samuroh) berkata: Sepertinya Rosululloh –Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam– mengatakan: “Padanya terdapat hiruk-pikuk dan suara-suara. Maka kami pun pergi kesana. Ternyata di dalamnya terdapat sekelompok laki-laki dan perempuan dalam keadaan telanjang, dan jilatan api mendatangi mereka dari bagia bawah. Apabila jilatan api itu datang, maka merekapun gaduh. Maka Aku  katakan kepada mereka berdua[12]: “Ada apa dengan mereka?”. Mereka (berdua) berkata: “Ayo pergi, ayo pergi”.

Dan pada akhir hadist: “Adapun para lelaki dan perempuan yang telanjang di atas bangunan seperti tungku api tersebut, mereka adalah para laki-laki dan perempuan pezina”.

Alloh Ta’ala mengatakan:

{الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِئَةَ جَلْدَةٍ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ} [النور : 2]

“Perempuan pezina dan lelaki pezina, cambuklah masing-masing mereka seratus kali. Jangan ada rasa kasihan kepada mereka (yang mencegah kalian) menjalankan agama Alloh, apabila kalian beriman kepada Alloh dan Hari Akhir. Dan hendaklah penghukuman mereka tersebut , disaksikan sekelompok orang-orang beriman” (An Nur 2)

Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, sebagaimana di Shohih Muslim dari ‘Ubadah bin Shomit Rodhiyallohu ‘Anhu: “Perjaka dan perawan (yang berzina), dicambuk seratus kali, kemudian diasingkan selama setahun. Lelaki dan perempuan yang telah menikah, dicambuk seratus kali dan dirojam[13]

Menyebarnya kekejian ini disebabkan sedikitnya pernikahan, mahar yang tinggi, serta yang penyakit kesepuluh yang akan kami sebutkan .

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KESEPULUH:

CAMPUR BAUR LELAKI DAN PEREMPUAN

SERTA TABARRUJ[14] PARA WANITA

 

Ini adalah perkara besar yang menyebabkan terjadinya perzinaan (seks bebas). Dan perkara ini sudah sangat merata penyebarannya di tengah-tengah kaum muslimin.

Di Shohihain dari hadist Usamah bin Zaid Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidaklah tinggal setelahku fitnah yang paling berbahaya bagi seorang lelaki daripada (fitnah) wanita”

Di Shohih Muslim dari Abu Sa’id Al Khudry Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Bertaqwalah kalian dari dunia, dan bertaqwalah kalian dari para wanita”

Dalam Musnad Ahmad, dari ‘Umar bin Al Khoththob Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidaklah bersendirian seorang  lelaki dan seorang perempuan, kecuali syaithon menjadi yang ketiga”

Di Shohihain dari hadist ‘Uqbah bin ‘Amir Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “(Aku peringatkan) kalian dari masuk (bergabung) kepada para wanita”. Mereka berkata: “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan ipar laki-laki?” Beliau berkata: “Ipar laki-laki adalah kematian”

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berkata:

{قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (30) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور : 30 ، 31]

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum lelaki yang beriman untuk menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Sesungguhnya hal itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh mengetahui apa yang mereka perbuat (30) Katakanlah (wahai Muhammad) kepada kaum perempuan yang beriman untuk menjaga pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka. Janganlah mereka memperlihatkan perhiasan (aurat)nya, melainkan yang terlihat[15](An Nur 30-31)

Seorang perempuan diharamkan menjadi penyebab fitnah bagi seorang lelaki, dengan menampakkan keelokannya, sebagian kulitnya, melembutkan suara disisi para lelaki, Alloh Jalla wa ‘Ala telah mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} [الأحزاب : 33]

“Tetaplah kalian di rumah-rumah kalian, dan janganlah bertabarruj sebagaimana orang-orang  jahiliyyah terdahulu” (Al Ahzab 33)

Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

{فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ} [الأحزاب : 32]

“Janganlah kalian berlemah lembut dalam berbicara sehingga membangkitkan nafsu orang yang hatinya berpenyakit” (Al Ahzab 32)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ}[الأحزاب : 53]

“Apabila kalian meminta sebuah keperluan kapada mereka (istri-istri) Nabi, maka mintalah dari belakang tabir” (Al Ahzab 53)

Alloh Jalla wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} [الأحزاب : 59]

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri kaum mukminin agar mereka menutupkan jilbab[16]nya, ke seluruh tubuh mereka. Hal tersebut agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Ghofur (Maha pengampun) dan Rohim (Yang memberikan rahmat)” (Al Ahzab 59)

Dalam Sunan At Tirmidzi dari hadist ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Perempuan itu adalah aurat. Apabila dia keluar, maka syaithon akan menghias-hiasinya”

Di Musnad Ahmad dan Sunan Abu Daud dari hadist Abu Musa Al Asy’ari Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Wanita manapun yang memakai wewangian lalu dia keluar melewati suatu kaum sehingga mereka mencium baunya, maka dia adalah pezina”

Dalam Shohih Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang melihat (wanita yang muncul) dengan tiba-tiba: “Palingkan pandanganmu!!”

Di Shohihaini dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Kedua mata melakukan zina, dan zinanya adalah melihat. Kedua telinga melakukan zina dan zinanya adalah mendengar. Kedua tangan melakukan zina dan zinanya adalah memegang. Kedua kaki melakukan zina dan zinanya adalah melangkah. Hatilah yang bernafsu dan mengangan-angankan kemudian kemaluan yang akan membenarkan atau mendustakannya”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KESEBELAS:

MINUMAN KERAS

 

Alloh Jalla wa’Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90) إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ} [المائدة : 90 ، 91]

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khomr, judi, kurban untuk berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah kekejian diantara amalan-amalan syaithon. Maka jauhilah, mudah-mudahan kalian beruntung (90) Sesungguhnya yang diinginkan syaithon dengan khomr dan perjudian hanyalah agar timbul permusuhan dan kebencian diantara kalian, manghalang-halangi kalian dari mengingat Alloh dan menunaikan sholat. Maka tidakkah kalian mau berhenti ?” (Al Ma’idah 90-91)

Dalam Sunan At Tirmidzi dari hadist Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu, hadist ini dihasankan oleh Syaikh kami Muqbil Al Wadi’i dalam Ash Shohih Al Musnad beliau -Anas- berkata: Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam melaknat sepuluh (golongan) dalam masalah khomr[17]: pembuatnya, yang meminta dibuatkan, peminum, pembawa, yang (minta) dibawakan, penuang (pemberi minum), penjual, pemakan hasil penjualan, pembeli, dan yang dibelikan”

Di Shohih muslim dari hadist Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Setiap yang memabukkan hukumnya harom. Sesungguhnya pada  Alloh terdapat sebuah janji, bagi yang meminum sesuatu yang memabukkan, maka Dia (Alloh) akan memberinya minum dari Thinatul Khobal (lumpur beracun)”. Mereka (shohabat) berkata: “Wahai Rosululloh apa itu Thinatul Khobal?”. Beliau berkata: “Keringat penduduk neraka, atau ampas penduduk neraka”

Sebagian orang terkadang mengkonsumsi obat bius dan ganja, sementara keduanya termasuk khomr, dan sesuatu yang memabukkan. Sementara Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan: “Setiap yang memabukkan hukumnya harom”.

Mereka pun menamakannya selain dari namanya (yakni khomr). Terkadang dinamakan “Minuman Jiwa”, terkadang “Minuman Penguat Tenaga” dan sebagainya. Sebagaimana dari ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Mereka akan menamakannya selain namanya, kemudian menghalalkannya”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEDUA BELAS:

INTERAKSI DENGAN RIBA

Alloh Jalla wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ} [البقرة : 278 ، 279]

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Alloh. Tinggalkanlah yang tersisa dari riba (yang belum diambil) jika kalian termasuk orang beriman (278) Apabila kalian tidak melakukannya, maka umumkankanlah perang dari Alloh dan rosulNya. Namun jika kalian bertobat maka kalian berhak atas harta pokok kalian. Kalian tidak menzholimi, dan tidak juga dizholimi” (Al Baqoroh 278-279)

Di  Shohih Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu beliau berkata: Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam melaknat pemakan riba dan pemberi, penulis, dan saksinya. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Semuanya sama”

Sungguh sudah terlalu banyak interaksi masyarakat muslim dengan bank ribawi, serta mengambil harta-harta riba yang harom, yang telah hilang berkahnya.

{يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ} [البقرة : 276]

“Alloh memusnahkan riba, dan menyuburkan sedekah” (Al Baqoroh 276)

Demikian juga yang dinamakan dengan bank-bank Islam, padahal padanya terdapat transaksi-transaksi riba. Maka terhadap perkara seperti ini, wajib bagi kita untuk berhati-hati darinya. Barangsiapa yang dhoruroh[18] untuk berinteraksi dengan bank, maka wajib baginya untuk bertanya kepada seorang ‘alim agar tidak terjatuh ke dalam transaksi riba.

Termasuk kedalam jenis riba: Jual beli emas dengan emas dengan mufadholah[19]. Tidak diperbolehkan jual beli emas dengan emas kecuali keduanya sama beratnya, demikian juga perak dengan perak.

Adapun jika ingin jual beli emas dengan perak, atau menjual emas dan perak dengan bayaran uang, maka tidak disyaratkan untuk sama timbangannya, tetapi disyaratkan harus taqobudh, tidak boleh salah satunya diserahkan setelah penjual dan pembeli berpisah. Misalnya jual beli gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, korma dengan korma, garam dengan garam, maka disyaratkan keduanya harus sama. Apabila jenisnya berbeda, misalkan jual beli gandum dengan jewawut maka boleh mufadholah, dengan syarat mesti serah taqobudh. Makna taqobudh adalah, masing-masingnya (penjual dan pembeli) telah mengambil haknya sebelum mereka berpisah[20].

Rosululloh –Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam– telah mengatakan: “Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jewawut dengan jewawut, korma dengan korma, garam dengan garam, harus semisal, sama dan tunai. Apabila berbeda jenis dari kelompok ini, maka terserah kalian, apabila (transaksinya) taqobudh”[21]. Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Ubadah bin Shomit Rodhiyallohu ‘Anhu.

Adapun jual beli korma, jewawut, gandum atau garam, dengan emas, perak atau uang[22], maka boleh tidak taqobudh dan hal tersebut tidak termasuk riba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KETIGA BELAS:

PENIPUAN DAN KECURANGAN DALAM BERINTERAKSI

 

Baik dalam jual-beli, sewa menyewa ataupun yang lain. Dalam Shohih Muslim, dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang menipu kami , maka dia bukan bagian dari kami”.

Dalam Shohihain, dari Hakim bin Hizam Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh –Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam– berkata: “Kedua pihak (penjual dan pembeli) memiliki pilihan selama keduanya belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan menerangkan (cacat barangnya) maka keduanya diberkahi dalam jual-beli mereka. Apabila keduanya berdusta dan menyembunyikan maka berkah jual-beli mereka dihilangkan”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEEMPAT BELAS:

HIZBIYYAH DAN PERPECAHAN KAUM MUSLIMIN

 

Makna hizbiyyah adalah: Berkumpulnya sekelompok orang diatas ideology/ pemikiran yang menyelisihi petunjuk Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam , mereka berloyalitas dan bermusuhan diatas pemikiran tersebut. Sehingga Al wala’ (sikap loyal terhadap sesuatu) dan Al baro’ (sikap berlepas diri terhadap sesuatu) mereka sempit, dibangun karena pemikiran dan tujuan-tujuan mereka.

Ini adalah bentuk fanatisme yang dibenci. Wajib bagi seorang muslim untuk membangun  Al wala’ dan Al baro’nya di  atas kitab Alloh Ta’ala dan sunnah Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam. Inilah yang dinamakan Hizbulloh.

{أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُون} [المجادلة : 22]

“Ingatlah, sesungguhnya hizbulloh adalah orang-orang yang beruntung” (Al Mujadalah 22)

Adapun yang telah disebutkan sebelumnya, maka itu adalah hizb (kelompok) yang tercela. Alloh Jalla wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ} [الروم : 31 ، 32]

“Janganlan kalian termasuk orang-orang musyrik (31) Yaitu orang-orang yang memecah agama mereka, dan jadilah mereka berkelompok-kelompok. Setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompoknya” (Ar Rum 31-32)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengatakan

{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [الأنعام : 159]

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah agama mereka, dan menjadi berkelompok-kelompok, sedikitpun bukan tanggung jawabmu (Muhammad). Sesungguhnya urusan mereka hanyalah kepada Alloh. Kemudian Dia akan memberitahu mereka apa yang telah mereka perbuat” (Al An’am 159)

Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan:

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [الأنعام : 153]

“Sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalanNya. Demikianlah Dia memerintahkan kalian, agar kalian bertaqwa” (Al An’am 153)

Maka perpecahan mereka, sedikitpun tidak akan membuat umat ini mencapai kejayaan. Tidak akan berjaya umat ini kecuali mereka berkumpul diatas kitabulloh dan sunnah Nabi, serta menegakkannya semata-mata karena agama ini.

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا} [آل عمران : 103]

“Berpegang teguhlah kalian semuanya dengan tali (agama) Alloh, dan janganlah berpecah-belah. Ingatlah nikmat Alloh kepada kalian, ketika kalian dulu saling bermusuhan, kamudian Alloh persatukan hati-hati kalian sehingga kalian menjadi bersaudara” (Ali ‘Imron 103)

 

(PENYAKIT) KELIMA BELAS:

MEMBERONTAK KEPADA PEMERINTAH,

MENGKAFIRKAN MEREKA,

MEMBUAT KERUSUHAN DAN DEMONSTRASI

 

Perkara ini menimbulkan kerusakan yang meluas, dan tidak disokong oleh kitabulloh dan sunnah nabi. Yang menjadi kewajiban bagi kita adalah menasehati pemerintah dengan keramahan dan kelembutan, mendoakan agar keadaan mereka menjadi lebih baik, serta agar mereka diberi hidayah. Karena pada kebaikan seorang pemimpin, terdapat kebaikan bagi masyarakatnya.

Adapun memberontak, dan mengkafirkan mereka hanyalah akan memicu kepada pertumpahan darah, menyebabkan para wanita menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim. Wa laa haula wa laa quwwata ila billah.

Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan -di Shohihain- dari hadist ‘Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu: “Barangsiapa yang membenci sesuatu pada pemimpinnya, hendaklah dia bersabar. Karena barangsiapa yang keluar dari ketaatan kepada pemimpinnya (walau) sejengkal maka dia mati, seperti mati jahilliyyah”

Beliau Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam juga mengatakan -di Shohih Muslim- dari hadist Abu Huroiroh Rodhiyallohu ‘Anhu: “Wajib bagimu untuk taat dalam keadaan susah dan gampang, senang dan terpaksa, serta perkara yang tidak menyenangkanmu”

Sebagaimana di Shohih Al Bukhory dari Anas Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Mendengarlah kalian dan taatlah. Walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak dari Habasyah, yang kepalanya seolah-olah seperti kismis”

Dalam Shohih Muslim dari Wa’il bin Hujr Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata ketika ditanya: Apabila terdapat pemimpin yang menuntut hak-hak mereka sementara dia menahan hak-hak kami: “Mendengarlah kalian dan taatlah. Karena bagi mereka beban mereka dan bagi kalian beban kalian”

Dalam Shohih Muslim dari Hudzaifah bin Al Yaman Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Mendengar dan taatlah kamu kepada pemimpin, walau dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu. Dengar dan taatlah”

Maka wajib bagi seorang insan agar tidak menjadi seorang penyeru kepada kejelekan dan penyebab perpecahan kaum muslimin.

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEENAM BELAS:

MAKAN SUAP

 

Makna suap adalah: Menerima harta atau hadiah agar yang haq (benar) menjadi batil, atau yang batil menjadi haq. Perkara ini sangat besar dosanya, dan pelakunya terlaknat. Dalam hadist dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al Ash Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Alloh melaknat orang yang menyuap dan meminta suap”. Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan At Tirmidzi.

Bagi pemerintah agar berhati-hati dari suap. Bahkan wajib bagi mereka untuk tidak menerima walau hadiah. Dalam Shohihaini, dari hadist Abu Humaid As Sa’idy Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Aku menugaskan salah seorang lelaki diantara kalian dalam perkara yang Alloh embankan padaku. Kemudian dia (lelaki tersebut) datang dan berkata: “Ini untuk kalian, dan ini hadiah untukku”, mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak dan ibunya sampai hadiahnya datang kepadanya, kalau dia itu orang yang jujur”

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KETUJUH BELAS:

MENJULURKAN PAKAIAN MELEWATI MATA KAKI (ISBAL)

 

Di Shohih Al Bukhory dari hadist Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Apa-apa dari sarung yang berada dibawah mata kaki, maka tempatnya di neraka”. Apabila hal tersebut disertai rasa sombong, maka azabnya lebih besar dan keras.

Dalam Shohih Muslim dari Abu Dzar Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tiga (kelompok) yang tidak akan Alloh ajak bicara dihari kiamat, tidak menyucikan mereka dan bagi mereka azab yang menyakitkan: yang menjulurkan sarungnya melewati mata kaki, mengungkit-ungkit pemberian pada orang yang diberinya, dan yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah dusta”.

Dari Abu Sa’id Al Khudry Rodhiyallohu ‘Anhu di Sunan Abu Daud dan Musnad Ahmad, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sarung seorang muslim sampai setengah betis. Tidak mengapa apabila berada diantara (setengah betis) dengan mata kaki. Apa-apa yang berada di bawah mata kaki maka dia di neraka. Barang siapa yang menjulurkan sarungnya dengan congkak, tidak akan dilihat Alloh pada hari kiamat”

Isbal hukumnya harom, baik itu pada qomis, celana, ataupun sarung, karena keumuman hadist-hadist terdahulu.

(PENYAKIT) KEDELAPAN BELAS:

MENCUKUR ATAU MEMENDEKKAN JENGGOT

 

Dalam Shohihain dari hadist Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Selisihilah oleh kalian kaum musyrikin, potonglah kumis dan peliharalah jenggot”

Dari hadist Zaid bin Arqom Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang tidak mengambil (memotong) sebagian dari kumisnya maka bukan dari kami”. Hadist ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi.

Hal ini dikarenakan perkara ini termasuk tasyabbuh (menyerupai) perempuan. Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Alloh melaknat kalangan laki-laki yang menyerupai perempuan, dan kalangan perempuan yang menyerupai laki-laki”. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu.

Hal tersebut juga termasuk tasyabbuh dengan kaum kafir. Telah lewat hadist “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia bagian dari mereka”.

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KESEMBILAN BELAS:

TEKNOLOGI YANG MERUSAK

SEPERTI TELEVISI DAN PARABOLA

 

Barang-barang tersebut termasuk teknologi yang harom, karena merusak kaum muslimin, dan waktu mereka tersibukkan. Di dalamnya juga terdapat kedustaan, meniru-niru shohabat[23], bahkan para rosul ‘Alaihim Sholawatulloh wa Salam, juga terdapat gambar makhluk bernyawa telah terdahulu penjelasan tentang perkara ini-, kaum lelaki melihat perempuan dan sebaliknya juga telah terdahulu penjelasan tentang perkara ini, serta perkara yang akan disebutkan berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(PENYAKIT) KEDUA PULUH:

ALAT MUSIK DAN LAGU

 

Alloh Jalla wa ‘ala mengatakan dalam kitabnya yang mulia:

{وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ} [لقمان : 6]

“Diantara manusia ada yang menggunakan lahwul hadist untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh tanpa ilmu, dan menjadikannya sebagai olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (Luqman 6)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata: “Demi Alloh yang tidak ada yang pantas diibadahi kecuali Dia, lahwul hadist adalah nyanyian” diriwayatkan oleh Ath Thobary, juga shohih dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu bahwa beliau juga menafsirkan demikian.

Di Shohih Al Bukhory dari Abu Malik Al Asy’ary Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Akan terdapat pada umatku kaum yang menghalalkan perzianaan dan sutera, khomr dan alat-alat musik”

Dalam Musnad Ahmad dari hadist ‘Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam melarang Al Kubah. Al Kaubah adalah gendang.

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH SATU:

DUSTA, SUMPAH DAN PERSAKSIAN PALSU

 

Di Shohihain dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu,  bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Wajib bagi kalian dengan kejujuran, karena kejujuran mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan kepada surga. Senantiasa seorang lelaki berlaku jujur, dan membiasakannya. sampai dicatat disisi Alloh sebagai seorang yang jujur. Aku peringatkan kalian dari kedustaan, karena kedustaan mengantarkan kepada kejelekan, dan kejelekan mengantarkan kepada neraka. Senantiasa seorang lelaki berbuat dusta, dan membiasakannya. sampai dicatat disisi Alloh sebagai seorang pendusta”

Terkadang seseorang malah menyokong kedustaannya dengan sumpah, maka ini adalah sumpah palsu. Dalam Shohih Al Bukhory dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al Ash Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang dosa-dosa besar, maka beliau Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Kesyirikan kepada Alloh lalu durhaka kepada orang tua, kemudian sumpah palsu”

Adakalanya juga kedustaan tersebut disertai perbuatan  mengambil harta orang lain dengan sumpah palsu. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata sebagaimana di Shohihain dari hadist  Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu: “Barangsiapa yang memutus hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka dia akan bertemu Alloh,  dalam keadaan Dia (Alloh) marah kepadanya”

Di Shohih Muslim dari Abu Umamah Al Haritsy Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Barangsiapa yang memutus hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka akan Alloh wajibkan neraka baginya, dan akan Alloh haromkan surga baginya”. Maka berkata seorang lelaki kepadanya: “Walaupun untuk sesuatu yang remeh, wahai rosululloh?” Beliau berkata: “Walau potongan dahan Arok[24]

Bahkan terkadang perkara tersebut juga disertai persaksian orang lain. sehingga terkumpullah kedustaan, sumpah palsu dan persaksian dusta. Di Shohihain dari hadist Abu Bakroh Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Maukah kalian kuberitahu dengan dosa besar yang paling besar?”. Kami berkata: “Ya, wahai Rosululloh”. Beliau berkata: “Kesyirikan kepada Alloh”, Ketika itu beliau dalam keadaan bertumpu, kemudian duduk dan berkata: “Demikian juga persaksian palsu, dan perkataan dusta”. Beliau terus mengulang-ulangnya, sampai-sampai kemi berkata. ”Seandainya beliau diam (berhenti)”

Adakalanya bentuk kedustaan adalah seseorang mengaku-ngaku kalau dia telah melihat sesuatu. Maka ini adalah dosa yang besar. Dalam Shohih Al Bukhory dari Watsilah bin Al Asqo’ Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya kedustaan yang paling besar adalah, seorang lelaki mengaku-aku (anak) dari selain bapaknya, mengaku-ngaku bahwa matanya melihat apa yang tidak dia lihat, atau seseorang berkata atas nama Rosululloh apa yang tidak pernah dia katakan”

Terkadang juga, kedustaan dilakukan untuk membuat orang tertawa. Sungguh Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam telah mengatakan: “Celakalah orang yang berkata kemudian berdusta agar suatu kaum menjadi tertawa (karenanya), celakalah dia, kemudian celakalah dia”. Hadist ini diriwayatkan Imam Ahmad dari Mu’awiyah bin Haidah Rodhiyallohu ‘Anhu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH DUA:

MENCELA NASAB/ KETURUNAN KAUM MUKMININ

DAN BERBANGGA-BANGGA DENGAN NASAB SENDIRI

 

Dalam Shohih Muslim, dari hadist Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh –Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam– berkata: “Dua perkara pada manusia, yang keduanya adalah kekafiran[25] : mencela nasab dan meratapi mayyit”

Di shohih Muslim dari Abu Malik Al Asy’ari Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam– berkata: “Empat perkara pada umatku termasuk perkara jahiliyyah yang tidak mereka tinggalkan: berbangga-bangga dengan nasabnya, mencela nasab, meminta hujan kepada bintang, dan meratapi (mayyit)”

Dalam Sunan At Tirmidzi dari hadist ‘Abdulloh bin ‘Abbas Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Jangan kalian berbangga-bangga dengan bapak-bapak kalian yang telah mati di masa jahiliyyah. Demi Yang jiwaku berada di tanganNya, apa yang digelincirkan seekor kumbang dari kedua lubang hidungnya lebih baik dari bapak-bapak kalian yang telah mati di masa jahiliyyah”

Di Shohih Muslim dari ‘Iyadh bin Himar Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya Alloh Ta’ala mewahyukan kepadaku agar kalian tawadhu’ (rendah hati), agar tidak semena-mena satu kepada yang lain, dan tidak berbangga-bangga satu kepada yang lain”

Dan Alloh Ta’ala mengatakan:

{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم} [الحجرات : 13]

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Alloh adalah yang paling bertaqwa” (Al Hujurot 13)

Nabi-Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata -ketika ditanya-: Siapakah manusia yang paling mulia-: “Yang paling taqwa diantara mereka”. Hadist ini Muttafaqun ‘Alaihi dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata, sebagaimana di Shohih Muslim dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu: “Barangsiapa yang pelan amalannya, maka nasab (keturunan)nya tidak akan mampu mempercepatnya”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH TIGA:

LANCANG BICARA PADA HARGA DIRI KAUM MUSLIMIN

BAIK DENGAN CELAAN, CACIAN, LAKNAT,

GUNJINGAN DAN ADU DOMBA

 

Di Shohihain, dari hadist Abu Hurairoh  Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sungguh seorang lelaki, berbicara dengan sepatah kata tanpa  peduli dengan apa yang dia ucapkan, maka dia akan tergelincir ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa diantara timur dan barat”

Dari Ibnu Mas’ud  Rodhiyallohu ‘Anhu, diriwayatkan At Tirmidzi, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Seorang mukmin bukanlah pencela, tukang laknat, tidak juga orang yang keji yang kasar mulutnya”

Di Shohihain dari Abdulloh bin ‘Amr Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”

Di dalamnya juga terdapat hadist Tsabit bin Dhohhak Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya”

Dalam Sunan At Tirmidzi dari Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya Alloh membenci orang yang keji lagi kasar mulutnya”

Maka wajib bagi seseorang untuk menjaga lisannya dari kehormatan orang lain. Alloh Ta’ala berkata:

{مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ} [ق : 18]

“Tidak satu pun kata yang terlontar, melainkan disisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat” (Qof 18)

Demikian halnya ghibah (gunjing), yaitu engkau membicarakan saudaramu tentang perkara yang dibencinya sedangkan dia tidak ada. Dalam Musnad Ahmad dan Sunan Abu Daud, dari hadist Anas bin Malik Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Pada malam aku diisro’kan, aku melewati sekelompok manusia yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mencakar wajah-wajah dan dada-dada mereka. Aku berkata: “Siapakah mereka, wahai Jibril?”. Dia menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mencela kehormatan mereka”

Demikian juga namimah, yaitu mengadu domba manusia dengan cara menukilkan perkataan diantara mereka sehingga hubungan mereka menjadi rusak. Dalam Shohihain dari hadist Hudzaifah  Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak akan masuk surga, seorang pengadu domba”.

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH EMPAT:

BEPERGIAN KE NEGARA KAFIR UNTUK TAMASYA,

BISNIS, BELAJAR DAN SEBAGAINYA

TIDAK DALAM KONDISI DHORUROH

ATAU KEBUTUHAN PENTING

 

Karena tinggal di tengah-tengah masyarakat kafir, terhitung memperbanyak barisan mereka, serta tunduk pada peraturan-peraturan mereka yang kufur. Maka sudah menjadi suatu kewajiban untuk hijroh ke negeri muslim, dan meninggalkan negeri kafir yang padanya terdapat penggalakan simbol-simbol kekafiran, dan kemungkaran yang tidak bisa diubah. Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan:

{إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء : 97]

“Sesungguhnya orang-orang yang nyawanya dicabut oleh para malaikat dalam keadaan menzholimi diri sendiri, malaikat bertanya (kepada mereka): “Bagaimana kalian ini?”. Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi”. Malaikat berkata: “Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kalian bisa hijroh padanya?”. Maka tempat mereka adalah Jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali” (An Nisa’ 97)

Mesti diketahui, bahwa tinggalnya seseorang di negeri kafir, dan bercampur dengan mereka dapat mengakibatkan seseorang mencintai kaum tersebut dan berloyalitas kepada mereka, Wal ‘iyadzubillah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH LIMA:

MAKAN QOT[26] DAN MEROKOK

 

Padanya terdapat bahaya yang besar, penyakit yang mematikan. Alloh Jalla wa ‘Ala mengatakan:

{وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ} [البقرة : 195]

“Janganlah kalian menjerumuskan diri sendiri pada kehancuran dengan tangan kalian sendiri” (Al Baqoroh 195)

Dan Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak ada bahaya (dalam Islam)”

Dalam Shohihain dari Al Mughiroh bin Syu’bah Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam melarang dari menyia-nyiakan harta.

Di Shohih Al Bukhory dari hadist Khaulah Al Anshoryyah Rodhiyallohu ‘Anha bahwasanya  Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya para lelaki yang mempergunakan harta Alloh tanpa hak, bagi mereka neraka pada hari kiamat”

Dalam hadist Abu Barzah Rodhiyallohu ‘Anhu, di Sunan At Tirmidzi dan selainnya, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak akan berpindah kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai dia ditanya tentang empat perkara ….”, disebutkan di dalamnya ”… tentang hartanya, darimana dia peroleh dan kemana dia nafkahkan”

Sudah banyak kejadian yang menimpa masyarakat berupa penyakit yang menyebabkan kematian, dikarenakan konsumsi rokok dan qot, Wa laa haula wa laa quwwata illa billah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH ENAM:

MENINGGALKAN SHOLAT JAMA’AH

 

Kebanyakan masyarakat bergampangan dalam masalah ini, terkadang mereka sholat di rumahnya, kantor, atau tempat-tempat kerja. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan -sebagaimana di Ash Shohihaini-: “Sungguh aku telah bertekad untuk memerintahkan seseorang untuk sholat (mengimami) manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak menghadiri sholat, maka aku akan membakar rumah mereka”

Dalam Shohih  Muslim dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku menyaksikan, tidak ada yang bolos dari jama’ah kecuali seorang munafik yang dikenal kenifakannya”

Seorang buta datang kepada Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam untuk meminta izin, maka beliau berkata: “Apakah engkau mendengar seruan (azan)?” Dia menjawab: “Ya”. Beliau berkata: “Maka jawablah (datangilah)”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadist Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu.

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH TUJUH:

MAKAN DAN MINUM DENGAN TANGAN KIRI

 

Dalam Shohih Muslim dari hadist Jabir bin ‘Abdillah Rodhiyallohu ‘Anhu, dan Ibnu ‘Umar Rodhiyallohu ‘Anhu, Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Janganlah salah seorang kalian makan dengan tangan kirinya, jangan pula minum dengan tangan kiri, karena syaithon makan dan minum dengan tangan kiri”

Juga di Shohih Muslim dari hadist Salamah bin Al Akwa’ Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya suatu ketika, seorang lelaki di dekat Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam  makan dengan tangan kiri. Maka Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadanya: “Makanlah  dengan tangan kananmu!!”. Dia berkata: “Saya tidak bisa”. Nabi berkata: “(Kalau begitu) engkau tidak akan mampu”. Tdak ada yang menghalanginya kecuali kesombongan. Maka orang tersebut tidak mampu untuk mengangkat tangannya ke mulutnya, disebabkan do’a Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam padanya.

 

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH DELAPAN:

MAKAN HARTA ORANG LAIN DENGAN CARA BATIL

 

Robb kita Jalla wa ‘Ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ} [النساء : 29]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, melainkan dengan perdagangan atas dasar suka sama suka”

(An Nisa’ 29)

Dan Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata di bulan harom, di negeri harom dan hari harom -yaitu hari raya Qurban-: “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan kalian adalah harom, sebagaimana haromnya hari ini, bulan ini  dan negeri ini”. Muttafaqun ‘Alaihi dari hadist Abu Bakroh Rodhiyallohu ‘Anhu.

Dan termasuk ke dalam larang tersebut dalah mengambil harta seorang muslim dengan cara paksa, dan zholim, seperti perampasan tanah. Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara zholim, maka dia akan Alloh membebankan pada pundaknya tanah yang dirampasnya dari tujuh lapisan bumi pada hari kiamat”. Mutafaqun ‘Alaihi dari hadist Sa’id bin Zaid Rodhiyallohu ‘Anhu.

Termasuk juga di dalam larangan tersebut adalah mengambil harta secara sembunyi-sembunyi seperti mencuri dan mencopet. Alloh Ta’ala mengatakan:

{وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَاءً بِمَا كَسَبَا نَكَالًا مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [المائدة : 38]

“Lelaki pencuri dan perempuan pencuri, potonglah tangan mereka sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Alloh. Alloh adalah ‘Aziz (Maha Perkasa) dan Hakim (Maha Bijaksana)”(Al Ma’idah 38)

Termasuk juga memakan harta dengan cara riba, perjudian atau undian. Perkara ini sangat merajalela, Alloh Ta’ala mengatakan:

{إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ} [المائدة : 91]

“Sesungguhnya yang diinginkan syaithon dengan khomr dan perjudian hanyalah agar timbul permusuhan dan kebencian diantara kalian, mnghalang-halangi kalian dari mengingat Alloh dan menunaikan sholat. Maka tidakkah kalian mau berhenti?”

(Al Ma’idah 91)

Demikian juga diantara larangan tersebut adalah mengambil harta tanpa keridhoan dari pemberinya, seperti dengan mengatasnamakan pajak, dan cukai sebagaimana yang diterapkan sebagian Negara terhadap para pedagang, hartawan, dan para pemilik tanah. Maka semua perbuatan-perbuatan ini, termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Wallohul musta’an.

 

 

 

 

 

 (PENYAKIT) KEDUA PULUH SEMBILAN:

MEMBUAT BANGUNAN DAN DUDUK DI ATAS KUBURAN

 

Dalam Shohih Muslim dari Jabir, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam melarang untuk mengapuri (mamperindah) kubur, duduk di atasnya, atau membuat bangunan diatasnya. Larangan ini juga terdapat dalam hadist Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sungguh, apabila seorang diantara kalian duduk di atas kerikil (panas) sehingga pakaiannya terbakar dan tembus sampai ke kulitnya, itu lebih baik baginya ketimbang dia duduk di atas kubur”.

Apabila yang dibangun di atas kuburan adalah masjid, maka dosanya lebih besar di sisi Alloh ‘Azza wa Jalla. Di Shohihain dalam hadist Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Laknat Alloh kepada Yahudi. Mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid”. Dan di dalam Musnad Ahmad, dari hadist Ibnu Mas’ud Rodhiyallohu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya sejelek-jelek manusia adalah yang mendapati hari kiamat dan mereka masih hidup, serta orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid”.

Hadist-hadist ini mencakup perkara membangun masjid di atas kuburan, serta memasukkan (membuat) kuburan di dalam masjid. Wa billahi taufik

 

 (PENYAKIT) KETIGA PULUH:

TIDAK MENEGUR SAUDARANYA SEMUSLIM

LEBIH DARI TIGA HARI TANPA ADA ALASAN YANG SYAR’I

 

Dalam Sunan Abu Daud, dari hadist Abu Hurairoh Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak dihalalkan bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. barangsiapa yang memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, kemudian mati, maka dia masuk neraka”.

Dalam Musnad Ahmad, dari hadist Hisyam bin ‘Amir Rodhiyallohu ‘Anhu, bahwasanya Nabi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Tidak dihalalkan bagi seorang muslim memboikot saudaranya lebih dari tiga malam, yang lebih dahulu dari keduanya … Apabila  dia mengucapkan salam kemudian salamnya tidak diterima, dan tidak dibalas, maka malaikatlah yang akan membalas salamnya, dan yang satunya akan dibalas oleh syaithon. Apabila keduanya mati dalam keadaan saling boikot  maka keduanya tidak akan masuk surga, bersama-sama selamanya[27]”. Hadist ini dishohihkan oleh Syaikh kami Muqbil Al Wadi’iy -Rohimahulloh- di Ash Shohih Al Musnad.

Pengharaman saling boikot diatas tiga hari, dikhususkan pada perbuatan yang tidak dilandasi alasan syar’i. Adapun jika boikot disebabkan karena perbuatan bid’ah yang ada padanya, kesesatan, atau kefasikan maka dibolehkan untuk memboikot lebih dari (waktu) tersebut kalau terdapat maslahat.

(KHOTIMAH)

Inilah perkara-perkara kemungkaran yang tengah merajalela di tengah umat, dan masih banyak kemungkaran yang lain, namun kami membatasi penyebutan sebagiannya. Sudah menjadi  kewajiban bagi seorang mukmin, apabila sampai perkataan Alloh Ta’ala dan rosulNya kepadanya, maka dia akan mendengar dan taat serta mengerjakannya. Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{ إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُون} [النور : 51 ، 52]

“Orang-orang beriman, jika diajak kepada Alloh dan rosulNya sebagai penghukum diantara mereka, hanyalah akan mengatakan “Kami mendengar dan taat”. Mereka itulah orang-orang yang beruntung” (An Nur 51-52)

Dan Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

{وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66) وَإِذًا لَآَتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68) وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} [النساء : 66 – 69]

“Kalau Kami mewajibkan atas mereka: “Bunuhlah diri-diri kalian dan keluarlah dari kampung halaman kalian”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Sekiranya mereka melaksanakan perintah yang diberikan, maka hal itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka) (66) Dengan demikian Kami akan memberikan pahala yang besar di sisi Kami (67) Dan kami akan menunjukkan mereka jalan yang lurus (68) Barangsiapa yang menaati Alloh dan rosulNya, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberikan nikmat oleh Alloh, dari kalangan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan orang-orang sholih. Mereka itulah sebaik-baik teman” (An Nisa’ 66-69)

Kami meminta kepada Alloh Ta’ala dengan kedermawanan dan kemuliaanNya agar memberikan taufik kepada kami dan kaum muslimin keseluruhan, dengan apa-apa yang Dia cintai dan ridhoi. Dan kami memohon agar Alloh ‘Azza wa Jalla menerima amalan-amalan kami dan mewafatkan kami dengan husnul khotimah.

Maha Euci Engkau wahai Alloh, segala puji bagiMu. Tidak ada yang pantas diibadahi kecuali Engkau, kami memohon ampunan dan taubat dariMu.

Ditulis oleh: Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin Hizam Al Fadhly

Di Darul Hadist Dammaj -semoga Alloh menjaganya- Sho’dah Yaman

3 Shofar 1430


[1] Orang-orang yang memiliki keteguhan hati

[2] Maksudnya: Tidak ada lagi alasan kalau mereka tidak mengetahui hukum perkara-perkara tersebut.

[3]Maksudnya seseorang beribadah bukan dilandasi keikhlasan ,mengharap keridhoanNya dan surgaNya, melainkan karena tujuan lain.

[4] Artinya: Tidak ada kemampuan untuk beralih dari kemaksiataan kepada ketaatan, dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan, kecuali dengan pertolongannya

[5] Kalau dia tidak bertobat semasa hidupnya

[6] Dalam masalah memerangi orang-orang musyrik

[7] Dalam masalah orang-orang musyrik

[8] Pendalilan Syaikh dengan hadist ini dan dua ayat sebelumnya adalah karena demokrasi merupakan ideology kufur, maka mengharuskan pelakunya untuk bertaubat,. Karena disitu terdapat kebebasan beragama, sementara Alloh memerintahkan manusia hanya kepada Islam.

[9] Seperti: patung

[10] Seperti: Foto dan lukisan

[11] Seperti : Kamera, handycam, printer, photo copy

[12] Yaitu dua orang malaikat yang mendampingi Rosululloh dalam kisah tersebut

[13] Dilempari dengan batu sampai mati. Hukuman cambuk kemudian rojam -bagi lelaki dan perempuan yang telah menikah- berlangsung di masa-masa awal turunnya hukum setelah itu Rosululloh mencukupkan dengan rojam saja sebagaimana berbagai hadist, diantaranya kisah Ma’iz dan wanita Al Ghomidiyah. Ini pendapat jumhur ‘Ulama, sebagaimana disebutkan Al Imam An Nawawy dalam syarahnya terhadap Shohih Muslim.

[14] Maknanya adalah apabila seorang wanita menampakkan sesuatu dari anggota badannya atau perhiasannya. Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Bakr Abu Zaid di bukunya Hirosah Al Fadhilah hal 64

[15] Maksudnya, yang mau tidak mau mesti terlihat yaitu jilbab (jubah terluar), atau sesuatu yang tersingkap secara tidak sengaja. Itulah makna perhiasan yang dimaksud dalam ayat ini, baik secara mana bahasa Arob maupun konteks Al Qur’an, sebagaimana disebutkan Syaikh Bakr abu Zaid di Hirosah al Fadhilah hal 21

[16] Yang dimaksud dengan jilbab secara syari’at adalah: jubah yang tebal yang meliputi seorang oerempuan dari kepala sampai kekaki serta menutupi seluruh tubuh juka pakaian yang di dalam (lapisan setelah jubah) dan perhiasan yang dipakai. Sebagaimana dijelaskan Syaikh Bakr Abu Zaid di Hirosah Al Fadhilah 23-24

[17] Setiap jenis yang memabukkan

[18] Makna dhoruroh secara syari’at:

Al ‘Allamah Az Zarkasyi mengatakan dalam Al Mantsur min Al Qowa’id 2/ 383-384: “Apabila seseorang mukallaf (yang telah terkena beban syari’at) mencapa batas, yang kalau dia tidak menempuh sesuatu yang harom maka dia akan celaka atau dekat (pada sesuatu yang mencelakaannya”

Syaikhul Islam dalam Al Majmu’ Al Fatawa 31/ 226 mengatakan: “Dhoruroh adalah sesuatu yang apabila luput maka akan menimbulkan kematian, sakit, tidak mampu dalam menunaikan kewajiban (syar’i)”

Syaikh Muqbil dalam Tuhfatul Mujib 72 mengatakan: “orang yang terkena dhoruroh adalah orang yang dikhawatirkan dirinya akan binasa (meninggal), atau menimpanya sesuatu yang tidak bisa ditahannya, baik pada dirinya, hartanya ataupun kehormatannya”

[19] Yang satu lebih dari yang lain. Baik dari sisi berat (bagi barang ribawi yang ditimbang seperti: emas) atau dari sisi volum (bagi barang ribawi yang ditakar seperti: garam) atau nilai tukar (seperti mata uang yang sejenis)

[20] Maksudnya: Serah terima langsung di tempat

[21] Benda-benda yang datang syaratnya dari syari’at dengan aturan jual beli tersebut hanya pada dua kelompok. Kelompok pertama: Gandum, jewawut, korma dan garam. Kelompok kedua: emas dan perak. Sementara mata uang dimasukkan ke kelompok ini dengan karena emas dan perak adalah mata uang yang dipakai di zaman Rosululloh -Sholallohu Alaihi wa sallam-

[22] Yaitu: jual beli benda yang termasuk kelompok pertama dengan benda yang termasuk kelompok kedua.

[23] Yakni: dalam film atau sandiwara

[24] Pohon yang batangnya biasa dibuat siwak

[25] Maknanya  -sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawy dalam Syarah  Shohih Muslim-:

  • Keduanya termasuk perbuatan kekafiran dan akhlak jahiliyyah
  • Kedua perbuatan tersebut menyebabkan kekafiran
  • Kufur nikmat
  • Hukum kafir adalah bagi orang yang menghalalkakan perbuatan tersebut

[26] Jenis candu yang banyak dikonsumsi masyarakat Yaman.

[27] Yakni apabila keduanya kafir. Adapun jika keduanya ahlut tauhid, maka mereka akan masuk surga, akan tetapi tidak akan bersama disana. Tafsir inilah yang dirojihkan Syaikh kami Yahya Al Hajury -Hafizhohulloh-

11 pemikiran pada “PENYAKIT MASYARAKAT

  1. Ping balik: PENYAKIT MASYARAKAT yang merajalela ditengah umat | Ahlussunnah wal Jama'ah Salafy

  2. 1-memberontak adalah penyakit masyarakat—seperti yang dilakukan keluarga su’ud kepada khilafah utsmaniyyah
    2-Membantu orang kapir juga penyakit masyarakat—seperti bergabungnya kerajaan Saudi dalam pasukan koalisi untuk menghancurkan Irak
    3-Demokrasi adalah penyakit—Bagaimana dengan kerajaan?Para sahabat hanya mencontohkan sistem khilafah..
    :p

    Suka

    • A N – N I S A ‘

      4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

      Suka

    • LOYALITAS KEPADA ORANG KAFIR, MEMBANTU,

      MENYOKONG DAN BEKERJASAMA DENGAN MEREKA

      BAIK DENGAN PERKATAAN, HARTA ATAU SELAINNYA

      Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan dalam kitabNya yang mulia:

      {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [المائدة : 51]

      “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasroni sebagai teman setia, mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak membei petunjuk kepada orang yang zholim” (Al Ma’idah 51)

      Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

      {لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة : 22]

      “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan rosulNya, sekalipun orang-orang tersebut adalah bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang telah ditanamkan Alloh keimanan dan Alloh telah menguatkannya dengan pertolongan yang datang dariNya, dan ia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridho kepada mereka, dan mereka pun ridho kepada Alloh. Mereka adalah hizbulloh. Ingatlah bahwa hizbullohlah orang-orang yang beruntung” (Al Mujadalah 22)

      Alloh Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan:

      {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [التوبة : 23]

      “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai penolong, apabila mereka lebih mencintai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa diantara kalian yang mengambil menjadikan mereka sebagai penolong, maka orang-orang tersebut adalah orang-orang yang zholim” (At Taubah 23)

      Alloh Ta’ala mengatakan:

      {لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً} [آل عمران : 28]

      “Janganlah orang-orang mukminin menjadikan orang kafir selain orang mukmin sebagai pemimpin. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut maka dia tidak akan memperoleh apapun dari Alloh, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka” (Ali ‘Imron 28)

      Alloh Ta’ala mengatakan:

      {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ} [الممتحنة : 1]

      “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuhKu dan musuh kalian sebagai teman setia, sehingga kalian menyampaikan (berita-berita Muhammad) kepada mereka disebabkan rasa kasih sayang. Padahal mereka telah mengingkari kebenaran yang disampaikan kepadamu” (Al Mumtahanah 1)

      Maka wajib bagi seorang muslim untuk berlepas diri dari orang-orang kafir, dan tidak saling tolong-menolong dengan mereka. Alloh Ta’ala mengatakan:

      {قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ} [الممتحنة : 4]

      “Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri ibrohim dan orang-orang yang bersamanya. Ketika mereka berkata pada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian, dan apa yang kalian ibadahi selain Alloh. Kami mengingkari kalian, dan telah nyata diantara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya, sampai kalian beriman hanya kepada Alloh” (Al Mumtahanah 4)

      Suka

  3. Wah saya belum paham ini, brarti acara televisi berupa ceramah agama dan bentuk positif lainnya haram jg donk?
    trus dari dalil yang anda utarakan (an nisa 97), asbabun nuzulny gmn?
    apa org yg berwisata n menuntut ilmu termasuk menzolimi diri sendiri?

    Suka

    • GAMBAR MAKHLUK BERNYAWA

      Perkara ini sangat menyebar di kalangan muslimin, sedikit sekali yang mengingkarinya. Wa Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah. Dan ini temasuk dosa besar. Di Shohihain dari Abu Hurairoh Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Alloh Ta’ala berkata: “Siapakah yang lebih zholim dari seseorang yang mencipta seperti yang telah Aku ciptakan. Maka ciptalah oleh mereka sebuah biji, ciptalah oleh mereka sebesar atom, ciptalah oleh mereka biji gandum”

      Di Shohihain dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diazab pada Hari Kiamat. Kemudian dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa-apa yang telah kalian ciptakan”.

      Dalam Shohihain dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Di neraka, setiap penggambar akan mendapatkan bahwasanya setiap gambar (makhluk bernyawa) yang dibuatnya diberikan jiwa, (mereka) yang akan mengazab (tukang gambar) di Jahannam”

      Di Shohihain dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Manusia yang paling dahsyat azabnya pada Hari Kiamat adalah para tukang gambar (makhluk bernyawa)”

      Dalam Shohihaini dari Abu Tholhah Al Anshory Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (makhluk bernyawa)”

      Dalil-dalil tersebut menunjukkan tentang keharaman gambar (makhluk bernyawa), Dan larangannya umum, baik gambarnya berbentuk (tiga dimensi)[9] atau tidak[10]. Baik dibuat dengan tangan ataupun yang dibuat pakai alat[11], maka seluruhnya termasuk dalam keharaman.

      Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa harus memakai gambar, seperti untuk passport, KTP dan yang sejenisnya, maka sebagian ulama telah memfatwakan boleh baginya untuk memakai gambar dengan syarat hatinya membencinya. Dan dosa ditanggung oleh orang yang memaksa masyarakat untuk berbuat hal tersebut.

      Suka

  4. Televisi haram? dalilny?
    Belajar ke luar negri or ngambil beasiswa ke MIT or harvard or yg lainny jg haram?? dalilny?

    Suka

    • A L – A H Z A B

      33:21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

      A N – N I S A ‘

      4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

      Suka

    • Di Shohihain dari Abu Hurairoh Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Alloh Ta’ala berkata: “Siapakah yang lebih zholim dari seseorang yang mencipta seperti yang telah Aku ciptakan. Maka ciptalah oleh mereka sebuah biji, ciptalah oleh mereka sebesar atom, ciptalah oleh mereka biji gandum”

      Di Shohihain dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Sesungguhnya pembuat gambar-gambar (makhluk bernyawa) ini akan diazab pada Hari Kiamat. Kemudian dikatakan kepada mereka: “Hidupkanlah apa-apa yang telah kalian ciptakan”.

      Dalam Shohihain dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Di neraka, setiap penggambar akan mendapatkan bahwasanya setiap gambar (makhluk bernyawa) yang dibuatnya diberikan jiwa, (mereka) yang akan mengazab (tukang gambar) di Jahannam”

      Di Shohihain dari ‘Abdulloh bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Manusia yang paling dahsyat azabnya pada Hari Kiamat adalah para tukang gambar (makhluk bernyawa)”

      Dalam Shohihaini dari Abu Tholhah Al Anshory Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosululloh Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (makhluk bernyawa)”

      {إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء : 97]

      “Sesungguhnya orang-orang yang nyawanya dicabut oleh para malaikat dalam keadaan menzholimi diri sendiri, malaikat bertanya (kepada mereka): “Bagaimana kalian ini?”. Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi”. Malaikat berkata: “Bukankah bumi Alloh itu luas, sehingga kalian bisa hijroh padanya?”. Maka tempat mereka adalah Jahannam, dan itu adalah sejelek-jelek tempat kembali” (An Nisa’ 97)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s