NASEHAT GAMBLANG BAHWASANYA MENGHUKUMI SESEORANG SEBAGAI MUBTADI’ TIDAKLAH GAMPANG

NASEHAT GAMBLANG
BAHWASANYA MENGHUKUMI SESEORANG SEBAGAI
MUBTADI’, TIDAKLAH GAMPANG
DITULIS OLEH:
ABU JA’FAR AL-MINANGKABAWY
AL-HARITS BIN DASRIL AL-INDUNISY s
DIPERIKSA DAN DIREKOMENDASIKAN PENYEBARANNYA OLEH:
SYAIKH ABU ‘AMR ‘ABDUL KARIM AL-HAJURY s
 
 
 
DARUL HADITS
DAMMAJ-YAMAN
2
Judul Asli:
 


 
AN-NUSHUL BAYYIN
BIANNAT TABDI’ LAISA BI HAYYIN
Judul terjemahan:
NASEHAT GAMBLANG
BAHWASANYA MENGHUKUMI SESEORANG SEBAGAI MUBTADI’, TIDAKLAH GAMPANG
Penulis:
ABU JA’FAR AL-HARITS BIN DASRIL AL-MINANGKABAWY AL-INDUNISY
Diperiksa oleh:
SYAIKH ABU ‘AMR ‘ABDUL KARIM AL-HAJURY
Penerjemah:
 ‘Abdul Mu’min Riau  ‘Abdulloh Riau  Muhammad Riau 
Ma’mar Riau  Abu Hanifah Riau  Salman Riau  Muslim Lamongan 
Editor:
 Abu Fairuz  Abu Ja’far 
 
 
 
 
 
3
  א  א
א
PENDAHULUAN
 
, ! “#$ 
 ,! %& 
  , , , , 

1
2 ! 34! , 5/& 6 7 
6  6 ! 34!8  0 ‘() *+ ,-./ 
 , ,.
*+ 

, 
! 0$%
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿ 
       
    !” # $ %&’ 9﴾ (
Tidaklah ada suatu ucapanpun yang terucapkan, melainkan didekatnya
terdapat malaikat pengawas yang selalu hadir
Imam Al Bukhory a meriwayatkan dalam shohihnya dari Abu Hurairoh ,
bahwasanya dia mendengar Rosululloh : mengatakan:
@ @C456  3 )2  1  “0
./ 
 ,-(+ *(+ )  D
Sesungguhnya seorang hamba berbicara tentang sesuatu perkataan yang dia
tidak memiliki kejelasan padanya, maka dia akan tergelincir di neraka lebih jauh
dari apa-apa yang diantara timur.
Di dalam Sunan Abu Daud dari ‘Abdulloh bin ‘Umar , bahwasanya
Rosululloh : mengatakan:
D $7  “  8 !$ 9%  
 / %+  :2 %; , ?  @  A % B  C 3 C “ 
Barangsiapa yang berkata tentang seorang mukmin yang tidak ada padanya,
maka Alloh akan menempatkannya di keringat penduduk neraka, sampai dia
keluar dari apa yang dikatakannya. Syaikh Al-Albany menshohihkan hadits ini.
Dan juga terdapat dalam Ash-Shohihil Musnad karya Imam Al-Wadi’i.
Maka dalam rangka melindungi diri dari ancaman yang sangat ini, atas
orang yang terjatuh dalam perbuatan ini, kuarahkan risalah ini bagi diriku terlebih
dahulu, kemudian yang kedua bagi saudara-saudaraku fillah, terkhusus yang
berada di negara Indonesia. Hal ini dikarenakan, aku melihat sebagian orang
tergesa-gesa dalam menghizbikan saudara-saudara mereka, sementara aku
1 Qof 18
4
mengetahui pada sebagian mereka tidak ada pengetahuan sedikitpun tentang hal
tersebut.
Aku berterima kasih kepada Syaikhuna Al-Fadhil Abu ‘Amr ‘Abdul Karim Al-
Hajury s, atas kerendahan hati beliau untuk memeriksa risalah ini. Aku
memohon kepada Alloh untuk membantuku dalam menyelesaikan tulisan ini,
serta memberikan manfaat bagiku dan kalian dan menjadikan amal ini ikhlas demi
wajah-Nya yang mulia.
5
BID’AH DAN MUBTADI’
Sebelum mulai kepada masalah yang diinginkan, mesti kita mengetahui
makna bid’ah, karena hal tersebut adalah poros masalah. Menghukumi seseorang
dengan kebid’ahan adalah cabang darinya2, tidaklah seseorang dihukumi dengan
bid’ah (dikatakan mubtadi’) sampai yakin kalau betul-betul dia telah terjatuh
kedalam bid’ah, bukan sekedar persangkaan saja.
Imam Asy-Syathibi a dalam kitabnya Al’>shom (1/21) mengatakan:
“Maka bid’ah adalah ibarat sebuah thoriqoh dalam agama yang dibuat-buat
menyerupai syari’at. Dimaksudkan dengan berjalan diatasnya untuk berlebihlebihan
dalam beribadah kepada Alloh Subhanah” Selesai penukilan.
Kemudian beliau a (21-23) menerangkan: “Maka thoriqoh adalah jalan,
sabil dan sunan semuanya bermakna sama yaitu sesuatu yang diperintahkan
untuk berjalan diatasnya. Hanya saja aku mengaitkannya dengan agama, karena
padanyalah thoriqoh tersebut dibuat-buat. Dan kepadanyalah pelaku thoriqoh
menyandarkan thoriqoh tersebut. Demikian juga apabila thoriqoh tersebut dibuatbuat
dalam masalah dunia secara khusus, tidak dinamakan bid’ah … menyerupai
syari’at maksudnya, bahwasanya thoriqoh tersebut menyerupai thoriqoh
syar’iyyah namun pada hakikatnya tidak demikian, malahan dia melawan thoriqoh
syar’iyyah dari berbagai sisi … seandainya thoriqoh tersebut tidak menyerupai
perkara-perkara yang disyari’atkan, maka ia bukanlah bid’ah, dikarenakan ia
tergolong amal-amal kebiasaan. Hanya saja pelaku bid’ah membuat-buatnya
untuk menyerupai sunnah sehingga menimbulkan kesamaran bagi yang lain, atau
toriqoh tersebut menjadi samar dengan sunnah. Karena seseorang tidak akan
melakukan ittiba’ dengan sesuatu yang tidak menyerupai perkara yang
disyari’atkan, karena pada saat itu perkara bid’ah tersebut tidak akan
mendatangkan manfaat dan tidak akan menolak madhorot, dan orang lain tidak
akan menyambutnya … dimaksudkan dengan berjalan diatasnya untuk berlebihlebihan
dalam beribadah kepada Alloh ta’ala, merupakan makna bid’ah secara
sempurna karena itulah tujuan dari “pensyari’atannya”. Hal tersebut bahwasanya
prinsip masuknya ke dalam bid’ah tersebut mendorong atas pemutusan dalam
ibadah dan penganjuran atas itu. Karena Alloh ta’ala berfirman:
2 Maksudnya: Bid’ah adalah pokoknya dan menghukumi seseorang sebagai seorang
mubtadi’,adalah cabangnya. Tidak mungkin ada cabang sebelum ada pokok. Maka
menghukumi seseorang sebagai seorang mubtadi’ mesti setelah penetapan bahwa
perbuatannya tergolong ke dalam bid’ah.
6
﴾7) 
HI7 $G DE(F 7﴿
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku
Maka seakan-akan mubtadi’ tersebut berpandangan bahwa yang diinginkan
adalah makna ini (pembuatan bid’ah), tidak jelas baginya bahwa apa-apa yang
ditetapkan pemilik syari’at berupa aturan-aturan dan batasan-batasan telah
cukup. Dia memandang -dari diri sendiri- ketika perkara dalam (ibadah)
disebutkan secara mutlak, mengharuskan adanya aturan-aturan yang baku, dan
kondisi-kondisi yang mengikat, bersamaan adanya apa-apa yang merasuk
kejiwanya berupa cinta ketenaran, atau tidak memperhitungkan kemungkinan,
maka masuklah ke dalam aturan baku ini unsur kebid’ahan”. Selesai penukilan
Itulah yang ditunjukkan oleh perkataan Nabi : sebagaimana di Ash-Shohih, dari
hadits ‘Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha, bahwasanya beliau : berkata:
@ @C= #./ 
  KL HB2 1 J@2 $D
Barangsiapa yang mengada-adakan (suatu amalan atau keyakinan) dalam
perintah Kami ini, yang bukan bagian darinya maka perkara itu tertolak.
Dalam riwayat Muslim:
@ @C= #./ HB2 (
 N O- M- $ D
Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada padanya
perintah Kami, maka perkara itu tertolak.
Perkataan beliau “dalam perintah Kami”, Perkara-perkara yang dibuat-buat
dikaitkan dengan agama yang dahulu Nabi dan para shohabatnya Ridhwanullohu
‘Alaihim berada di atasnya. Maka apa-apa yang tidak masuk ke dalam agama,
tidak dinamakan bid’ah.
Perkataannya beliau : “tidak ada padanya perintah Kami”, masuk kedalamnya
maksiat-maksiat dan mu’amalat-mu’amalat yang tidak tergolong kedalam makna
ibadah.
Dari kedua hadits ini diambil faidah, bahwasanya bid’ah terjadi dalam bentuk
maksiat-maksiat atau mu’amalat-mu’amalat, dengan syarat pelakunya bertujuan
dengannya untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Karena pada keadaan ini berarti
telah masuk ke”dalam perintah Kami”, kalau tidak tidak dinamakan bid’ah. Karena
7
itulah engkau akan mendapatkan ulama menghukumi sebagian pelaku maksiat
atau kabair (dosa-dosa besar) dengan kebid’ahan, dan para ulama tidak
menghukumi sebagian yang lain dengan perbuatan yang sama.
Jenis inilah yang dinamakan Imam Asy-Syatibhi a sebagai al bid’ah al
haqiqiyyah ketika beliau berkata dalam kitabnya tersebut (1/ 266):
“Sesungguhnya al bid’ah al haqiqiyyah adalah perkara yang tidak ada dalil
syar’inya, baik dari kitab, sunnah, ijma’, atau sisi pendalilan yang diakui oleh para
ulama, baik secara umum maupun secara terperinci. Oleh karena itu dia
dinamakan bid’ah -sebagaimana telah lewat penyebutannya- karena dia adalah
suatu perkara yang diada-adakan tanpa adanya contoh yang terdahulu. Meskipun
seorang mubtadi’ tidak mau dikatakan bahwa amalan tersebut telah keluar dari
syari’at, karena ia menganggap bahwa perbuatannya tersebut masuk ke dalam
konsekuensi yang terkandung di dalam dalil. Tapi pengakuan tersebut tidaklah
benar, baik dilihat dari rincian perbuatan itu sendiri maupun dari yang tampak
secara dhohir. Adapun dari sisi rincian perbuatan tersebut, maka ia dinilai dari
maksud/tujuan perbuatan tersebut. Adapun secara dhohir, sebenarnya dalil-dalil
yang digunakan hanyalah sekedar syubhat, bukan dalil. Itu kalau memang benar si
mubtadi’ menggunakan dalil, kalau tidak maka perkara ini sudahlah jelas.” Selesai
penukilan.
Adapun apabila perkara yang diada-adakan itu memiliki asal dalam syari’at,
-yaitu- dari sisi bahwasanya perkara itu ada secara asal, tapi diada-adakan dari sisi
sifatnya. Hal ini yang dinamakan dengan al bid’ah al idhofiyyah. Imam Asy-
Syathiby a berkata di dalam sumber yang sama: “Adapun al bid’ah al idhofiyyah,
dia adalah perkara yang memiliki dua sisi. Salah satu sisinya berkaitan dengan
dalil, maka dari sisi ini dia tidak dinamakan bid’ah. Adapun sisi yang lainnya tidak
berkaitan dengan dalil maka ia tidak berbeda dengan bid’ah yang hakiki. Oleh
karena adanya amalan yang memiliki dua sisi yang tidak bisa saling terlepas satu
sama lainnya, maka kami menamakannya al bid’ah al idhofiyyah. Maknanya, bila
ditinjau dari salah satu sisi ia adalah sunnah karena dia bersandar kepada dalil,
namun bila ditinjau dari sisi yang lain dia adalah bid’ah karena dia bersandar
kepada syubhat bukan kepada dalil, atau tidak bersandar kepada apapun.
Perbedaan antara keduanya dari sisi makna, bahwa dari sisi asal perkara ada dalil
yang mendukungnya, akan tetapi dari sisi pelaksanaan, kondisi, atau perinciannya
tidak ada dalilnya. Padahal hal-hal seperti ini membutuhkan dalil karena
kebanyakan hal ini terjadi di dalam masalah ibadah, bukan di dalam masalah adat
kebiasaan murni.” Selesai penukilan.
Dari penjelasan ini kita mengetahui bahwasanya maksiat atau kaba’ir
secara mutlak tidak bisa dibid’ahkan orang dengannya, maka lebih-lebih lagi
semata-mata perselisihan pribadi.
8
 
APAKAH BOLEH BAGI KITA UNTUK MENGHUKUMI SESEORANG DENGAN
BID’AH?
Masalah ini ada perincian sebagai berikut:
1. Bagian yang boleh bagi setiap orang untuk berkomentar. Hal ini jika
mukholafah (penyelisihan) yang mengharuskan pelakunya dihukumi mubtadi’ itu
adalah penyelisihan itu yang sangat jelas yang semua orang mengetahuinya –yaitu
orang yang tidak lalai dalam belajar- bahwa perbuatan ini menghantarkan
sesorang keluar dari lingkaran sunnah. Karena itu dikatakan : Jika bid’ah atau
mukholafah itu sangat jelas maka boleh bagi setiap orang untuk menjarh
(menvonisnya sebagai mubtadi’).
2. Apabila mukholafah itu samar, yang kebanyakan dari manusia tidak
mengetahui bahwa mukholafah ini mengantarkan seseorang untuk layak divonis
mubtadi’. Maka yang mengetahui bagian ini adalah para ulama’ jarh wat ta’dil
atau penuntut ilmu yang mapan yang menimba ilmu yang mulia ini dari mereka.
Bukan setiap orang boleh ikut campur di dalamnya, kecuali hanya sekedar menukil
dari para ahlinya maka tidak mengapa.
Berikut perkataan sebagian ulama’ jarh wat ta’dil dalam masalah itu:
Al-Allamah An-Najmi a ditanya dalam Fatawa Al-Jaliyyah (32): Apakah boleh
bagi penuntut ilmu yang mapan untuk menvonis bid’ah atau kafir ataukah
masalah ini khusus bagi ulama’?
Beliau menjawab: Tidak boleh bagi penuntut ilmu yang masih pemula untuk
menvonis bid’ah atau mengkafirkan kecuali setelah memiliki kemampuan untuk
itu,dan wajib baginya untuk menyerahkannya kepada ulama’, karena Alloh
berfirman :
; *%. %H#%P  Q
 $
K %-() *%. BR  S7%2  T 7 ” =?
>
,/@/ 

Barang siapa yang mengingkari kemungkaran dengan yang lebih mungkar maka
seperti orang yang mencuci darah haid dengan kencing yang berwarna seperti
debu.
(  %   WH % “X  R  Y(Z7[ \#%6)   .%(E ^ )
  7 ]
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu
Maka haruslah bagi ikhwan kami untuk bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam
memahami agama Alloh, sesungguhnya dengan inilah Alloh memuji para ulama’,
dikarenakan fahamnya terhadap perkara dan meletakkannya pada tempatnya.
Semoga Alloh memberi taufiq kepada semua.” Selesai penukilan
4 Al-‘Ankabut 43
11
TEMPAT SEPERTI APA YANG DIBOLEHKAN SETIAP ORANG UNTUK
BERKOMENTAR DI SITU??
Telah lalu sebagian penjelasan tentang hal ini, yaitu apabila penyelisihan itu
sangat jelas, dan termasuk paling bagusnya ucapan tentang itu adalah perkataan
Syaikhul Islam a sebagaimana dalam kitab Majmu’ Fatawa (24/172): Barang
siapa yang menyelisihi kitab yang jelas dan sunnah yang terkenal atau yang
disepakati para salaf dengan penyelisihan yang tidak ada udzur padanya maka dia
diperlakukan sebagaimana ahlul bid’ah diperlakukan.” Selesai penukilan
Yang demikian itu karena jelasnya hujjah atas masalah itu pada setiap
orang yang tidak lalai dalam agamanya, dan manusia tidaklah diadzab kecuali
setelah sampainya hujjah, Alloh berfirman:
٥﴾ N #:%  a )  H ? @  K` ) % %  7 ﴿
Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul
Hujjah itu ditegakkan untuk menghilangkan kemungkinan ketidaktahuan (bodoh)
atau ketidak-sengajaan dan yang lainnya dari penghalang-penghalang lainnya yang
telah diketahui dan diperhitungkan.
Akan tetapi saya ingin memberikan peringatan tentang masalah jahl
(kebodohan), sebab sebagian orang tidak mau menolong kebenaran bahkan
membela kebatilan berlindung di balik tabir “kebodohan”, dan yang lain bertikai
dengan saudaranya demi membela orang semodel ini dengan alasan “dia itu
masih bodoh”, perlu dinasehati dan seterusnya.
Udzur karena bodoh itu dianggap apabila bukan karena berpaling atau lalai
(acuh) dari mencari (kebenaran) padahal ada orang yang menjelaskan, karena
pada dua keadaan ini orang itu tidak dapat udzur karena bodoh lagi. Adapun yang
pertama maka itu jenis dari bodohnya kaum Nuh ‘Alaihis Salam Alloh 
berfirman:
﴿ ` b 7  c(% *% % d#=  B’ e *%f #%()  g *%.)  h2  1 *i ٦﴾N  + :  7o%  + : 7 7nV  2 7 * %   m # l e  : 7 j k
Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau
mengampuni mereka, mereka memasukkan jari-jemari mereka ke dalam
telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap
(mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.
5 Al-Isro’ 15
6 Nuh 7
12
Yang kedua apa yang diriwayatkan Al-Bazzar a sebagaimana dalam kitab
Kasyful Astar (4/207) berkata telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin
Abdurrohim berkata telah mengkhabarkan kepada kami Affan berkata telah
mengkhabarkan kepada kami Abdul Wahid dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya
dari pamannya  berkata:
88B H IJ1K
LM 
- N-$  D J 8 O J P ,JQJ- RS8RT
8 U8V 8 W8+ X X 8 Y8 8 ZJ C, X O8% J P J
JS
R 8RT
, J[ R8/ 8 G8\8+ : 88! C*X+ ,
8 G8^ : 8 5RK18 8/ 8 G X $8% ,J
868 XX J_8X/ 8`*8>R
K6J 8 G8^ : 8/ 8 G X $8% J
, 8 G8^ X8 : a8! X83 R W b c8! X G X $8% J
8 G8^ : ,86 8 G8^ :
X! 8 R\a8! 8d
8%RK
? 8 G8^ : ,RN88 8 G8^ : 8 ,JS RJf
8 ? 8 G8^ : ,RN88 8 G8^ : 8g R X\R
8 ? 8 G8^ : ‘JhK
8 i J
J
X !R 8 \8 8 jX W8 8  R 8 8 
lk/
000
Nabi  duduk di majelis kemudian pandangannya menatap kepada
seorang lelaki dimasjid sedang berjalan kemudian Rosululloh  berkata: Wahai
Abu Fulan. Lelaki itu menjawab: Aku penuhi panggilanmu wahai Rosululloh dan
tidaklah dia berselisih ucapan dengan beliau melainkan hanya berkata wahai
Rosululloh. Rosululloh  berkata padanya: Apakah engkau bersaksi bahwa aku
Rosululloh? Dia menjawab: Tidak. Rosululloh  berkata: Apakah engkau
membaca Taurat? Dia menjawab: Iya. Rosululloh  berkata: Dan injil ? Dia
menjawab: Iya. Rosululloh  berkata: Dan Al-Quran? Dia menjawab: Demi Dzat
yang jiwaku berada ditanganNya kalau kami mau tentu kami membacanya … Al-
Hadits. Hadits ini dihasankan Imam Al-Wadi’i a dalam kitab Ash-Shohihul
Musnad.
Dan berkata Syaikhul Islam a dalam kitab Iq>dho’ Siro>l Mustaqim (264):
“Diikutkan ke dalam celaan orang yang sudah jelas baginya kebenaran tapi dia
meninggalkannya, atau orang yang kurang dalam mencari kebenaran sehingga
jelas baginya, atau orang yang berpaling tidak mau berusaha untuk mengetahui
kebenaran karena hawa nafsunya atau karena malas atau yang lainnya”. Selesai
penukilan
Berkata Ibnul Qoyyim a dalam kitab Thoriqul Hijrotain (609-610): “Harus
ada rincian dalam perkara ini sehingga hilang dengannya kerancuan, yaitu
perbedaan antara orang yang taqlid dia mampu untuk mencari ilmu dan
kebenaran akan tetapi dia berpaling, dan orang yang yang taqlid tidak mampu
untuk mencarinya sama sekali. Kedua bagian tersebut betul terjadi dalam
kenyataan. Orang yang mampu dan berpaling dia adalah orang yang lalai yang
meninggalkan kewajibannya tidak ada udzur baginya disisi Alloh. Adapun orang
13
yang tidak sanggup bertanya atau dengan mencari ilmu, tidak mampu untuk
mencari ilmu sama sekali maka mereka ini ada dua bagian juga.
Pertama: orang yang ingin mendapat petunjuk mengutamakannya, menyukainya
tapi tidak mampu (mendapatkannya) dan tidak pula mampu untuk mencarinya
karena tidak ada orang yang membimbingnya, maka orang seperti ini hukumnya
sama dengan orang yang ada dimasa fatroh (selang pengutusan antara para rosul)
dan orang yang tidak sampai dakwah padanya.
Kedua: orang yang berpaling tidak ada keinginan sama sekali dan tidak
memberitahukan dirinya kecuali apa yang ada pada dirinya.
Maka yang pertama itu mengatakan wahai Robbku seandainya aku mengetahui
bagimu agama yang lebih baik dari agama yang aku anut ini tentu aku beragama
dengan agamamu itu, dan niscaya aku meninggalkan agama yang aku anut akan
tetapi aku tidak tahu kecuali apa yang kuanut dan aku tidak mampu untuk
mencari yang lain dan itu adalah puncak dari usahaku dan akhir dari
pengetahuanku. Dan yang kedua ridho dengan apa yang dia anut tidak mau
mendahulukan yang lain dan jiwanya tidaklah mencari selainnya dan tidak ada
perbedaan baginya antara keadaan lemahnya dan mampunya, dan kedua bagian
ini sama-sama lemah, dan ini (kedua) tidak wajib untuk diikutkan dengan yang
pertama karena antara keduanya ada perbedaan, yang pertama seperti orang
yang mencari agama pada masa fatroh dan tidak mendapatkan maka dia berpaling
setelah mencurahkan semua usaha dalam mencarinya karena lemah dan bodoh.
Dan yang kedua seperti orang yang tidak mencarinya bahkan mati diatas
kesyirikan meskipun kalau dia mencarinya dia tidak akan mampu. Maka berbeda
antara lemahnya orang yang berusaha mencari dan lemahnya orang yang
berpaling, maka telitilah masalah ini”. Selesai penukilan
Termasuk dari bentuk penyelisihan yang jelas yang paling terlihat adalah
penisbatan diri kepada salah satu dari kelompok (sesat).
Syaikh Muqbil a ditanya sebagaimana dalam Fadho’ih wa Nasho’ih (118):
Apakah boleh menvoniskan lafazh mubtadi’ kepada seseorang karena dia
menisbatkan diri kepada salah satu dari jama’ah hizbiyyin?
Beliau a menjawab: “Aku tidak mengetahui larangan untuk itu, kecuali jama’ah
al haq maka tidak boleh (dinisbatkan kepada mubtadi’), dan apabila dia orang
bodoh (sehingga menisbahkan diri kepada hizbiyyun) maka ini antara dia dan
Alloh”. Selesai penukilan
14
Syaikh Robi’ bin Hadi s ditanya dalam kitab Majmu’ Kutub Wa Rosa’il wa
Fatawa (14/290): Apakah disyaratkan menegakkan hujjah untuk menvoniskan
lafazh ikhwani kepada orang yang tenggelam dalam hizbinya mereka?
Jawab sbeliau: “Demi Alloh apabila dia tenggelam dalam hizbinya mereka
berarti dia termasuk dari mereka.
Cm7! 
n
jT
D
Seseorang bersama orang yang dia sukai
Ct-u
3
Ba
 ,t-r
3
s%a 
,do (O p
%q
D
Ruh-ruh itu adalah tentara yang teratur, jika saling kenal maka bersatu, dan
kalau saling tidak kenal maka akan berselisih
Yang jelas, dinasehati secara lemah lembut, dan dijelaskan padanya, apabila dia
keluar dari bahayanya ikhwanul muslimin maka Alhamdulillah, jika tidak mau
keluar maka sama saja kita ajak bicara dia atau tidak maka tetap saja dia itu dari
(golongan) mereka. Apakah semua salaf pergi satu persatu pada pengikut khowarij
dan Rofidhoh dan Mu’tazilah dan mereka tidak memutlakkan nama Khorijy atau
Rofidhy kecuali setelah menegakkan hujjah atasnya?
(Orang) ini bersama rofidhoh maka kamu katakan dia ini Rofidhy, ini menisbatkan
diri kepada sufiyyah berserikat dengan mereka dalam acara maulid, berserikat
dengan mereka … berserikat dengan mereka … sementara dia masih awam maka
dia termasuk dari mereka. (Orang) bersama ikhwanul muslimin berserikat dengan
mereka dalam acara menari, berserikat dengan mereka dalam mencerca ulama’,
berserikat dengan mereka dalam musibah-musibah dan kesesatan, mengkafirkan
para penguasa, dan menebar berbagai fitnah dan menebar fitnah, terpengaruh
dengan perkara-perkara ini dan terkait dengan mereka maka dia termasuk dari
mereka.
Dan kamu jika mampu untuk menegakkan hujjah atasnya maka jelaskan
padanya, bahkan orang yang sudah lama terjerumus dalam Ikhwanul muslimin
jelaskan padanya, tetapi boleh bagimu untuk menghukuminya seorang ikhwani,
dia ridho dengan dirinya untuk menjadi seorang ikhwani, ridho dengan dirinya
termasuk dari golongan tabligh maka dia tablighi, bagaimana kamu katakan dia
tablighy dan kamu tidak mengatakan dia ikhwany?”. Selesai penukilan
Berkata Syaikh Robi’ spada (117): “Yang jelas, aku berpendapat bahwa orang
yang melakukan bid’ah yang jelas seperti mengatakan Al-Quran itu makhluk, dan
15
(membolehkan) berdoa kepada selain Alloh, dan menyembelih untuk selain Alloh,
maka ini ditabdi’ (dihukumi mubtadi’) dengan tabdi’ yang keras, dan perkaraperkara
ini adalah termasuk dari hal-hal yang membuat orang jadi kafir,akan
tetapi kita tidak mengkafirkannya sampai engkau menegakkan hujjah padanya,
adapun mentabdi’nya maka tidak boleh ragu untuk menghukuminya bahwa dia itu
mubtadi’…
Terlihat sekarang ini orang-orang mengatakan: Al-Quran adalah makhluk, terus
kita tidak mentabdi’ mereka? mereka mengatakan: Al-Quran adalah (barang)
buatan, terus kita tidak mentabdi’ mereka?, semoga Alloh memberkahi kalian, kita
tabdi’ mereka, dan tidak boleh berselisih dalam peringatan ini. Atau dia
mengatakan: maulid itu disyariatkan, dan menghadiri maulid, maka kita
mentabdi’nya dan memboikotnya. Apabila dia dari orang yang menyeru kepada
selain Alloh apabila termasuk dari orang yang sudah tegak hujjah atasnya maka
kita kafirkan. Dan apabila dia dari kalangan orang yang bodoh maka harus kita
jelaskan kepadannya kebenaran, apabila dia mau kembali (pada jalan yang benar)
(maka tidak kita kafirkan), tapi kalau tidak mau kembali maka kita kafirkan, Tabdi’
tidak boleh ragu dalam mentabdi’nya” Selesai penukilan
Siapa yang ingin tambahan contoh dalam jenis ini maka belajarlah!
16
SYARAT-SYARAT PEN-JARH YANG PERKATAANNYA DIPERHITUNGKAN
Berkata Al-Hafidh Ibnu Hajar a menukilkan perkataan Ibnu Daqiqil ‘Ied
a sebagaimana dalam kitab Lisaanul Miizaan (1/16): “Kehormatan manusia
adalah jurang dari jurang-jurang neraka yang berada di tepinya dua kelompok,
para hakim dan Muhaddits (ahlul Hadits)” Selesai penukilan
Maka timbangan di dalam menghukumi seseorang dengan bid’ah menuntut
adanya sifat-sifat yang mulia dan karunia yang tinggi. Maka orang yang berhak
berbicara dalam perkara ini adalah orang-orang yang terpenuhi padanya syaratsyarat
yang jeli, dengan memiliki keahlian dengan tuntutannya dalam jabatan
yang mulia ini.
Berkata Al-Imam Adz-Dzahabiy a di dalam kitab Al-Mauqidhah fii ‘ilmi
Musthalah Al-Hadits (19): ”Membicarakan (jarh) para rowi itu membutuhkan
wara’ yang sempurna dan selamat dari hawa nafsu dan kecondongannya serta
memiliki pengetahuan yang sempurna dalam ilmu Al-hadits , ‘ilal-ilalnya dan rawirawinya’Selesai
penukilan
Para ulama yang telah menyebutkan syarat-syarat tersebut di dalam kitab-kitab
mereka dan syarat-syarat itu adalah:
· Waro’, taqwa, dan kejujuran.
Berkata Al-Imam Adz-Dzahabiy a dalam biografi Abu Bakr Ash-Shiddiq  di
dalam kitabnya Tadzkiratul Huffadh (1/10): “Kewajiban bagi Muhaddits (ahlul
hadits) untuk berhati-berhati dalam perkara yang ia tunaikan dan agar
bertanya kepada ahlul ilmi dan waro’ untuk membantunya dalam menjelaskan
riwayat-riwayatnya. Dan tidak ada jalan untuk seorang yang arif yang
memberikan tazkiyyah (pujian) dan memberikan jarh (kritikan) kecuali dengan
terus-menerus menuntut ilmu dan penelitian dalam perkara ini dan
banyaknya mudzakaroh (saling mengingatkan), terjaga hati-hati dan
pemahaman bersama taqwa, dan agama yang kuat, keadilan, selalu
mendatangi majlis para ulama, berhati-hati, memilih mana yang lebih pantas
serta kekuatan ilmu. Jika kamu tidak mengerjakannya:
3
(
T 53O “($  v w>
5 x+
Maka tinggalkan menulis karena engkau bukan ahlinya.
Walaupun kamu hitami wajahmu dangan tinta.
Alloh ta’ala berfirman:
17
} 8X8-R8a 6 RNXRXB RJ J {z= :,
y { BR hb 
,8 )R !8
?8 $R +8
Bertanyalah kalian kepada orang yang mengetahui apabila kalian tidak
mengetahui
Jika kamu melihat pada dari dirimu pemahaman, kejujuran, agama dan waro’
silahkan bicara, kalau tidak maka janganlah kamu menyusahkan dirimu. Jika
kamu terkalahkan oleh hawa nafsu, fanatik kepada suatu pendapat atau
madzhab maka demi Alloh janganlah kamu melelahkan dirimu dan jika kamu
mengetahui bahwa engkau seorang yang kacau, serampangan dan
menelantarkan batasan-batasan Alloh maka tenangkan kami darimu maka
sebentar lagi akan tersingkaplah kebatilan dan tertimpa kedustaan, dan makar
yang jelek tidak akan menimpa kecuali orang-orang yang merencanakannya.
· Manjauhi hawa nafsu, fanatik, dan tujuan jelek.
Berkata Ibnu Hajar a di dalam kitab Nuzhatunnadhar fii tawdhiih Nukhbatil
Fikar fii Mushtalah Ahlil Atsar (178): “Hendaknya orang-orang yang berbicara
dalam perkara ini hati-hati dari bermudah-mudahan dalam jarh dan ta’dil
karena jika ia memuji (ta’dil) tanpa bukti maka itu adalah seperti menetapkan
hukum yang tidak tetap, maka dikhawatirkan akan masuk dalam golongan
orang yang meriwayatkan hadits yang diduga bahwa itu adalah dusta,
demikian jika ia menjarh tanpa berhati-hati maka ia telah maju untuk mencela
seorang muslim yang bersih dari hal itu dan mensifatinya dengan sifat yang
jelek maka tetaplah kejelekan padanya selamanya. Dan terkadang kerusakan
masuk dalam perkara ini dengan sebab hawa dan tujuan jelek. Dan perkataan
orang-orang terdahulu umumnya selamat dari hal ini dan terkadang di
sebabkan perselisihan dalam aqidah, dan inilah yang banyak dari sejak dahulu
dan sekarang dan tidak layak mengumumkan jarh dengan hal itu”. Selesai
penukilan
Dan berkata di dalam a Lisanul Mizan (1/16): “Membicarakan keadaan rawi
butuh kepada waro’ yang sempurna dan selamat dari hawa nafsu”. Selesai
penukilan
· Kematangan dalam hukum-hukum syar’i dan pengetahuan tentang sebabsebab
jarh dan dengan keadaan jarh dan ta’dil.
Karena tidak semua orang yang waro’ dan bertaqwa boleh untuk berbicara
tentang rawi-rawi baik jarh maupun ta’dil bahkan wajib disamping
keadilannya waro’nya dan taqwanya harus waspada teguh tidak
mencampurkan antara hukum-hukumnya dan perkara-perkara tadi tidak
kacau disisinya.
18
Berkata Al-Imam Al-Dzahabiy a di dalam kitab Miizanul I’>dal (8/4): ”Orang
yang maju untuk mengkritik harus kuat (memiliki keahlian)”.
Berkata Al-Haafidh a di dalam kitab Nuzhatun Nadhar (177): ”Tidak semua
jarhnya orang yang mengeluarkan jarh diterima. Dan sepantasnya tidak
diterima jarh dan ta’dil kecuali dari orang yang adil, waspada, dan tidak
diterima dari orang-orang berlebihan”. Selesai penukilan
Al-Qori Al-Harawiy a berkata di dalam Syarh Nukhbatul Fikar (734): ” yaitu
dari orang yang cepat menghadirkan dalil yang memiliki kewaspadaan yang
membawanya untuk berhati-hati”. Selesai penukilan
Berkata As-Subkiy a di dalam kitab Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubro
(2/18): ”Diantara yang selayaknya untuk dicari ketika ada jarh adalah keadaan
pen-jarh. Dimana dia itu benar-benar memiliki pengalaman pengetahuan
dengan perkara yang ditunjukkan oleh lafadh-lafadh. Berapa banyak kamu
lihat seorang mendengar satu lafadh kemudian ia memahaminya bukan pada
tempatnya. Dan mesti memiliki pengetahuan dengan makna-makna lafadhlafadh
lebih-lebih lafadh-lafadh secara urf (kebiasaan) berbeda dengan
berbedanya kebiasaan manusia terkadang pada sebagian waktu termasuk
pujian dan pada sebagian yang lain sebagai cercaan adalah perkara yang sulit
yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang berteman dengan ilmu, dan di
antara yang layak untuk di cari juga keadaannya dengan ilmu mengenai
hukum-hukum syar’i, karena orang jahil (bodoh) akan menyangka yang halal
adalah haram”. Selesai penukilan
Akan datang tambahan penjelasan poin ini dalam pasal berikutnya insya Alloh.
BAGAIMANA DENGAN ORANG YANG HILANG DARINYA SALAH SATU DARI
SYARAT-SYARAT INI?
Berkata Abul Hasanat Al-Laknawiy a di dalam kitab Ar-Ra’fu wat takmiil (68):
”Berkata Badr bin Zuma’ah: Orang yang tidak mengetahui sebab-sebab tersebut
tidak diterima darinya jarh maupun ta’dil tidak secara mutlak dan tidak pula
secara taqyid (memiliki syarat-syarat)” Selesai penukilan
Berkata Al-Hafidh Ibnu Hajar a di dalam syarah Nukhbahnya: ”Jika jarh datang
dari orang yang tidak tahu tentang sebab-sebabnya maka tidak dianggap”. Selesai
penukilan
Dan a berkata juga: ”Diterima tazkiyyah (penilaian baik) dari orang yang
mengetahui sebab-sebabnya bukan dari orang yang tidak mengetahuinya dan
19
selayaknya tidak diterima jarh kecuali dari orang yang adil dan waspada”. Selesai
penukilan
Berkata As-Sakhawiy a di dalam kitab Fathul Mughits (1/308): ”Sebagian ulama
mutaakhiriin (belakangan) mengkaitkan diterima jarh mufassar pada orang-orang
yang menta’dil (pemberian pujian) juga jika tidak ada penunjukan yang akal
menyaksikan bahwa seperti itu adalah dibawa kepada cercaan yang disebabkan
fanatik madzhab atau perdebatan masalah dunia”. Selesai penukilan
Berkata Taqiyuddin As-Subkiy a di dalam kitab Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-
Kubro (2/12): Bahwa orang yang mengeluarkan jarh tidak diterima darinya jarh
walaupun mufassar terhadap orang yang keta’atannya lebih banyak dari
kemaksiataannya, yang memuji lebih banyak dari yang mencelanya, dan yang
memberikan tazkiyah lebih banyak dari yang memberikan jarh kepadanya, jika
didapati disana qarinah (penunjukan) yang akal menyaksikan bahwa yang seperti
ini membawa kepada celaan kepada orang-orang yang ia jarh disebabkan fanatik
madzhab atau persaingan dunia sebagaimana terjadi dari yang sepadan atau yang
lainnya. Maka kita katakan sebagai contoh tidak perlu menganggap perkataan
Ibnu Abi Dzi’b terhadap Al-Imam Malik dan Ibnu Ma’in terhadap Al-Imam Asy-
Syafi’iy dan Nasaaiy terhadap Ahmad bin Shalih, karena mereka adalah para Imam
yang masyhur” Selesai penukilan
Berkata Al-Imam Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqiy a di dalam Ar-Raddul Waafir
bab Thabaqatun Nuqqad (14): ”Membicarakan para rawi dan kritikan kepada
menuntut beberapa perkara dalam memberikan ta’dil (pujian) kepada mereka dan
membantah mereka, diantaranya adalah seorang yang berbicara harus
mengetahui tingkatan-tingkatan rawi dan keadaan mereka dalam penyimpangan
dan kelurusan dan tingkatan-tingkatan mereka dalam perkataan dan perbuatan
dan termasuk dari ahlul waro’, taqwa dan menjauhi fanatik dan hawa nafsu,
selamat dari sikap remeh dan kosong dari tujuan pribadi dengan serangan yang
berlebihan, bersama adanya keadilan pada dirinya, kekuatan ilmu dan
pengetahuan dengan sebab-sebab dengannya seseorang berhak dijarh. Jika tidak
terhadap tidak diterima perkataannya terhadap orang yang ia bicarakan, dan dia
termasuk orang menggujing dan berbicara dengan perkara yang haram” selesai
penukilan.
20
MENGETAHUI SEBAB VONIS BID’AH KEPADA SESEORANG DAN
PENYESUAIANNYA DENGAN HAKIKAT PERMASALAHAN ADALAH PERKARA
YANG DIHARUSKAN
Dasar dalam permasalah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhory-
Muslim, dari Ibnu ‘Abbas  bahwasanya Rosululloh : bersabda:
D # ?P)%
% ] *%L#   ?=  ]H p=
!”
  g 0C * f% #  2 7
Seandainya manusia diberi dengan pengakuan-pengakuan mereka, tentulah
setiap orang akan mengaku darah suatu kaum dan harta-harta mereka.
Penyelisihan yang samar adalah perkara yang “sempit”. Tidak boleh setiap
orang untuk berbicara kecuali setelah memiliki kemapanan ilmu, atau sekedar
menukil dari orang-orang yang ahli dalam perkara ini. Karena sebab tersebut
samar bagi kebanyakan manusia. Sementara menghukumi seseorang dengan
bid’ah, tidak boleh kecuali setelah menjelaskan hujjah dan menghilangkan
syubhat. Maka bagaimana jika orang yang mengeluarkan jarh tidak memiliki
kakuatan ilmu ? Apakah orang seperti ini akan mampu menegakkan hujjah kepada
yang lainnya ? Ini tidak bisa diterima secara syar’i dan secara akal. Tidaklah
kematangan ilmu dengan banyaknya pengikut atau lamanya dalam medan
dakwah, Akan tetapi yang diperhitungkan adalah keilmuan tentang sebab-sebab
jarh, kaidah-kaidah jarh wa ta’dil, demikian juga ketakwaan, waro’, jauh dari
maksiat dan tujuan jelek, sikap waspada dan tidak tergesa-gesa.
Akan tetapi kebanyakan orang berbicara, sementara mereka tidak memiliki
pengetahuan dalam perkara ini, lebih-lebih untuk menjadi seorang penuntuk ilmu
yang mapan (keilmuannya). Maka engkau akan mendapatkan orang seperti ini jika
menuduh seseorang, dia tidak mampu mendatangkan alasan-alasan yang
membenarkan tuduhan itu, yang diketahui oleh ahlinya.
Syaikh An-Najmi a ditanya sebagaimana dalam Al-Fatawa Al-Jaliyyah
(2/96): Fadhilatusy Syaikh, kami melihat sebagian pemuda berbicara tentang
aqidah sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan menuduh mereka tanpa
ilmu. Padahal kami menganggap mereka termasuk orang-orang baik. Kami
mengharapkan engkau memberi nasehat kepada mereka.
Jawab:
,)7 1M g L  ,
G$% L `*
 d*|
 , 

21
Tuduhan terbagi dua:
1- Tuduhan yang tidak memiliki sandaran yang mengharuskan adanya tuntutan
tersebut.
2- Tuduhan yang bersandar kepada qoro’in (tanda-tanda). Maka yang seperti ini
tidak ada celaan bagi yang mengatakannya. Misalnya ada seseorang yang
menasabkan diri kepada manhaj ahlus sunnah wal jama’ah dan manhaj salaf,
kemudian dia terlihat berjalan bersama hizbiyyun atau duduk-duduk bersama
mereka, dan tertawa bersama mereka setelah dinasehati namun tidak menerima
nasehat. Pada keadaan seperti ini apabila dia dituduh hizby, maka tuduhannya
dibenarkan. Tambah lagi jika orang tersebut membela para hizbiyyun dalam
perkataannya, maka qoro’innya semakin kuat. Kekuatan dan kejelasan tuduhan
semakin kuat dari sisi-sisi tersebut. Dari sinilah apa yang dikatakan sebagian salaf
0rl! - t~ 8    €$ 
}
Barangsiapa yang menyembunyikan bid’ahnya dari kita, tidak samar bagi kita
teman akrabnya
Adapun jika tuduhan tidak ada alasan yang membenarkannya, tidak ada
qorinah (tanda) dan tidak ada sesuatu yang jelas, maka ini adalah bagian kedua
yang haram bagi penuduh untuk menuduh tanpa qorinah. Maka seperti ini
dinasehati dan wajib baginya untuk bertakwa kepada Alloh ‘Azza wa Jalla” Selesai
penukilan
Bahkan walaupun sebabnya jelas diketahui manusia, namun terjadi
kesamaran ketika praktek, seperti menyelisihi prinsip persatuan dan kesepakatan.
Merupakan perkara yang maklum di sisi ahlus sunnah, bahwasanya
persatuan dan kesepakatan adalah termasuk prinsip dasar ahlus sunnah wal
jama’ah, dan banyak dalil-dalil yang datang dalam masalah ini. Alloh Subhanahu
berfirman:
﴾#B’Z 7 N)s ; Mt #-7﴿
Berpegang teguhlah kalian semua kepada tali Alloh, dan jangan berpecah belah
﴾#@B/ *u c v0@ M_ N)w #H_7 *.
= #B/ $
K $ _56 $ #H#+Z 7﴿
7 Atsar ini diriwayatkan Ibnu Baththoh di Al-Ibanah Al-Kubro (420) dari Al-Auza’y
Rohimahulloh
22
Janganlah kalian menjadi orang-orang musyrikin, yang memecah agama
mereka dan menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok gembira dengan apa
yang ada pada mereka
﴾*y vK *f Yz727 ,x *Lpg  ) $ #'(F7 #B’Z $
K_ #H#+Z 7﴿
Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan
berselisih setelah datang penjelasan-penjelasan kepada mereka. Bagi mereka
azab yang pedih
﴾p{ 1 *. DQ N)w #H_7 *.
= #B/ $
K  ﴿
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi
kelompok-kelompok. Sedikitpun kamu (Muhammad) tidak bertanggung jawab
atas mereka
﴾) 4Ew |’ v+ 1 #'(F $
K  7﴿
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al-Kitab,
mereka berada dalam perpecahan yang jauh
﴾/ #B’Z 7 $
 #- 2﴿
Tegakkanlah agama ini dan janganlah kalian berpecah belah padanya
0﴾*+} LKZ7 #(l’/ #~Z 7﴿
Janganlah kalian berselisih sehingga kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan
kalian
Nabi : bersabda:
Mt #-)Z 27 , N zw  #_5Z 7 ,U7)Z 2 *+ €/ , N mOm *+ UB+
7 , N mOm *+ B
;  D
Ca
‚#B’Z 7 N)s ;
Sesungguhnya Alloh ridho bagi kalian tiga perkara, dan membenci tiga perkra.
Alloh ridho jika kalian beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya
dengan sesuatu apapun, berpegang teguh dengan tali Alloh semuanya dan tidak
berpecah belah … Al-Hadits (HR Muslim dari Abu Hurairoh )
Beliau : bersabda:
23
@ @C*+#( ƒ(„/ #'(… D
Janganlah kalian berselisih sehingga berselisih hati-hati kalian (HR Muslim dari
Ibnu Mas’ud )
Beliau : bersabda:
† |2 4‡’:7 ,,B/ ):7 m † ˆ D‡/7 ,,B/ ):7 ˆ@ † =#. D‡/D
C@,B/ ):7 JOm
Telah terpecah kaum yahudi menjadi tujuh puluh satu golongan, telah terpecah
kaum nashoro menjadi tujuh puluh dua golongan, dan akan terpecah umat ini
menjadi tujuh puluh tiga golongan (HR Abu Daud dari Abu Hurairoh . Hadits ini
dihasankan Imam Al-Wadi’i di Ash-Shohihil Musnad)
Sebagian ulama memasukkan persatuan sebagai pokok-pokok sunnah.
Demikian juga dengan masalah wala’ (loyalitas) dan baro’ (berlepas diri)
yang sempit, termasuk menyelisihi dasar ini. Dalilnya adalah perkataan Alloh
Ta’ala:
﴾#:7 ; =@ $ 7=#
BF‰ Š#7 ; #9
N # ‹ ﴿
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan
hari akhir saling berkasih sayang dengan orang yang menentang Alloh dan
rosul-Nya
﴾‚ $ *_pg c 7B’_ 7 Ž=#6 *. #E(Z p72 *_7 Œ7 7K„Z  #k $
K u2 
﴿
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengambil musuhKu dan
musuh kalian sebagai teman-teman setia, yang kalian sampaikan kepada
mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang. Sementara
mereka sesungguhnya telah ingkar dengan kebenaran yang datang kepada
kalian
Dan telah dimaklumi, bahwa siapa yang menyelisihi satu prinsip saja dari
prinsip-prinsip ahlus sunnah maka orang tersebut dihukumi sebagai ahlul bid’ah.
Namun maksud pembahasan kita sekarang bukan masalah ini, adapun
pembahasan adalah adalah jika berselisih dua orang ikhwah, yang mengakibatkan
perpecahan dan kebencian, apakah mengharuskan salah satu dari mereka menjadi
hizby atau mubtadi’ ?
24
Yang menjadi tuntutan adalah menetapkan tuduhan bukan sekedar
mengqiyas (membandingkan) dengan kasus penghukuman seseorang sebagai
ahlul bid’ah yang dibicarakan ulama, dan bukan juga sekedar kelaziman-kelaziman
yang lemah.
Anggaplah jatuhnya saudaramu ke dalam bid’ah benar-benar terbukti,
maka berbeda antara jatuhnya seseorang dalam kekeliruan dan jatuhnya
seseorang ke dalam fitnah. Bahwasanya kekeliruan bisa terjadi bersama tujuan
baik tanpa menyengaja untuk berbuat salah. Adapun maftun (orang yang
terbawaa fitnah) adalah yang terjatuh kedalam bid’ah atau penyelisihan dengan
sengaja dan memaksudkan8
Masalah ini adalah masalah yang selayaknya bagi seseorang untuk berhatihati
dalam menetapkannya, karena ini adalah ibarat dari yang dimaksud dengan
“Terpenuhinya syarat dan hilangnya penghalang-penghalang” dalam masalah
menghukumi seseorang sebagai ahlul bid’ah. Lebih-lebih orang yang jatuh kepada
bid’ah atau penyelisihan adalah orang yang diketahui kejujuran dan
keteguhannya. Karena keberadaannya menyengaja dan memaksudkan jatuh ke
dalam bid’ah, bertentangan dengan sifat-sifat baik yang telah dinisbatkan
kepadanya. Maka butuh kepada bukti-bukti kuat untuk menetapkan sifat-sifat
jelak padanya. Jika memang terbukti fitnahnya bagaimanapun juga, maka
pengakuan kesalafiannya dan tazkiyyah orang lain kepadanya tidak bermanfaat.
Al ‘Allamah Al Haitsamy a dalam kitab Mawariduz Zhom’an ‘Ala Zawa’id
Ibnu Hibban (1/614)9 dari Abu Hurairoh , bahwasanya Nabi : bersabda:
*+( ?lF2 |+7 P> *+( ?lF2 7 Bm+ *+( ?lF2 |+7 BE’ Œ) *+( ?lF2 D
C-)
Aku tidak khawatir atas kalian kemiskinan, akan tetapi yang aku khawatirkan
adalah kalian berlomba-lomba memperbanyak harta. Dan tidaklah yang aku
khawatirkan atas kalian kekeliruan, akan tetapi yang aku khawatirkan atas
kalian kesengajaan. Hadits ini dishohihkan Syaikh Al-Albany a.
8 Telah terdahulu peringatan, bahwa sesuatu yang sudah diketahui dengan darurat atau
sekedar penisbatan cukup untuk mengetahui maksud ini.
9 Penulis menyebutkan sanadnya lengkap
25
Diantara qorinah yang paling jelas atas jeleknya tujuan seseorang yaitu terusmenerus
dalam kesalahan setelah dijelaskan kepadanya.
Imam Asy-Syathiby a, mengatakan dalam kitabnya Al-I’>shom (1/247) dalam
menjelaskan jarangnya ulama yang mendalam ilmunya terjatuh dalam bid’ah: “…
maka perbuatan bid’ah darinya tidaklah terjadi kecuali kekeliruan yang tidak
disengaja, dengan sekedar lewat bukan dengan dzatiyyah. Akan tetapi dinamakan
kekeliruan dan ketergelinciran karena pelakunya tidak bertujuan mengikuti yang
mutsyabih (samar) untuk mencari fitnah dan menta’wil Al-Kitab, yaitu tidak
mengikuti hawanya dan tidak menjadikannya sebagai sandarannya sedangkan
dalil membantahnya. Namun jika jelas baginya al-haq dia tunduk dengan al-haq
tersebut dan mengakuinya.
Syaikh Robi’ s mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh Ahmad Bazmul di
kitab Shiyanatis Salafy min waswasati wa Talbisat ‘Ali Al-Halaby (39-40): “Setiap
yang jatuh kedalam bid’ah tidak dikatakan mubtadi’, akan tetapi jika kita
mengetahui darinya adanya hawa nafsu dan tujuan yang jelek, dan kita
mengetahui perkara-perkara yang menunjukkan bahwa dia memang
menginginkan bid’ah, maka dia dibid’ahkan.
Oleh karena itu mereka menghukumi kebanyakan manusia sebagai mubtadi’ dan
banyak dari manusia mereka jatuh dalam kesalahan namun tidak dihukumi
sebagai mubtadi’ karena mereka mengetahui selamatnya tujuan orang-orang
tersebut, niat yang baik, dan hati-hatinya mereka untuk mencari kebanaran, serta
selamatnya manhaj yang mereka tempuh” selesai penukilan
Syakhuna Yahya Al-Hajury s mengatakan; “Mubtadi’ adalah orang yang
menyelisihi sunnah , menantangnya, telah dijelaskan kepadanya namun terusterusan
atas perbuatan tersebut. (Pada pelajaran umum hari Ahad 15 Dzul Hijjah
1431)
26
BAHAYANYA PERKATAAN DENGAN TANPA ILMU
Alloh Ta’ala berfirman:
﴿  7 %ƒEZ  
  Y  *( ١٠﴾
Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui
Berkata Syaikhul Islam a dalam kitabnya Al-Jawab Ash-Shohih (6/458-
459): ”Ini adalah larangan berbicara dengan tanpa ilmu yang mencakup segala
jenis khabar. Dan juga mencakup apa-apa yang diberitakan manusia dan
mencakup apa dia yakini dari dalil-dalil yang ayat-ayat serta tanda-tanda yang
tidak layak bagi dia untuk berbicara dengan tanpa ilmu. Maka tidak boleh (bagi
dia) meniadakan sesuatu kecuali dengan ilmu dan menetapkan sesuatu kecuali
dengan ilmu. Berdasarkan yang demikian ini, para ulama menuntut orang yang
meniadakan suatu perkara, wajib baginya untuk mendatangkan dalil atas
peniadaan tersebut, sebagaimana kalau dia menetapkan sesuatu maka wajib
baginya mempunyai dalil atas apa yang dia tetapkan” selesai penukilan
Dan Abdulloh bin Al-Mubaarak a telah mengeluarkan dalam kitab (Az-Zuhud)
hadits dari Bilal bin Al-Harits Al-Muzaniy  bahwasannya Rosululloh : bersabda:
CUE(
Š#
T P„: ( ; +
.e( *()
 5 $ ,-(+ *(+ MgB  7D
Sesungguhnya seorang laki-laki yang berbicara dengan suatu kata dia tidak
mengetahui akibat perkataannya maka Alloh menulis kemarahannya sampai ia
menjumpai Alloh ta’ala hadits ini telah dishahihkan Imam Al-Wadi’iy a dalam
Shahih Al-Musnad.
Maka orang yang berbicara dengan tanpa ilmu ini akan membahayakan dirinya di
dunia dan akhirat. Disebutkan dalam shahih Bukhary-Muslim, dari Abu Sa’id Al-
Khudriy  bahwasanya Nabi : bersabda:
D   $-/  *%+(  M % g  M N,)  QZ )  QZ7  N Q’H  “  Q/  $ *(2 ML2 R  ” % /  † ! L %UZ : “ E / /
%H  M N,)  QZ )  QZ7  N Q’H  M./ %  $ ?!, #Z  “E/ :   %(E/  M-+/  ,’ ,Ca
‚ 
Dulu pada zaman orang sebelum kalian ada seorang laki-laki yang telah
membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, lalu dia bertanya tentang orang yang
10 Al-Isro’ 36
27
paling berilmu kemudian ditunjukkan atas seorang pendeta maka dia katakan
sesungguhnya dia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa apakah ada
tobat padanya? Maka pendeta tadi menjawab: Tidak ada, kemudian seorang
laki-laki itu membunuhnya maka sempurnalah seratus … Al-Hadits.
Dan sebab terbunuhnya pendeta ini adalah dikarenakan berbicara dengan tanpa
ilmu.
Dan Imam Al-Bukhariy a telah meriwayatkan dalam shahihnya dari Abu
Huroiroh  bahwasanya dia mendengar Rasulullah : bersabda:
C456  3 )2  1  “0
./ 
 ,-(+ *(+ )  D
Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang dia
tidak punya ilmu padanya maka akan menggelincirkannya ke neraka sejauh apa
yang ada di antara timur.
Dalam lafadh Muslim a:
CvBe67 456   )2D
Sejauh antara timur dan barat.
Dan disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah dari Abu Hurairoh  dia berkata
bahwasanya Rasulullah : bersabda:
@ @C’
BF ): *.g H 1  Œ#./ :  ˆB
 ; “„: $ ,-(+ *(+ MgB  D
Seorang laki-laki akan berbicara dengan suatu perkataan yang menyebabkan
kemurkaan alloh dia mengira perkataan itu tidak ada dosa padanya maka Alloh
melemparkan dia ke dalam neraka jahannam selama tujuh puluh tahun. Hadits
ini dishohihkan oleh Imam Al-Albaniy a.
Berkata Al-Allamah Al-Utsaimin a dalam syarah Riyadhus Sholihin (1745): yang
dia tidak punya ilmu padanya, yaitu tidak memastikan, sekedar menukilkan apa
yang dia dengar. Cukuplah seseorang dikatakan dusta kalau dia menceritakan
segala apa yang dia dengar. Maka kamu mendapatinya berbicara dengan suatu
perkataan yang dia tidak mempunyai ilmunya, tidak meminta penjelasan dan dia
tidak mempelajari makna perkataannya serta tidak mengetahui sampai dimana
akibat perkataannya. ‘Iyadzu billah menggelincirkan dia ke dalam neraka
jahannam sejauh antara timur dan barat” selesai penukilan
Orang yang berbicara dengan tanpa ilmu akan membahayakan orang lain juga:
28
﴿  #%(-  t *%L~72 N,( Š#
, E  $ 7 ~72  $
K *%  i#V(” %
  €e !*(  2 p  :  7%0
﴾ ١١
Mereka akan memikul dosa mereka secara sempurna pada hari kiamat dan
dosa orang yang mereka sesatkan dengan tanpa ilmu amat buruklah dosa yang
mereka pikul.
Berkata Imam Al-Qurthubiy a dalam mentafsirkan ayat tersebut: Perkataan
Alloh:
﴿   €e !*( ﴾
yaitu mereka menyesatkan manusia dikarenakan kebodohan mereka. Yang
demikian itu mengharuskan mereka memikul dosa, karena seandainya mereka
tahu tentu mereka tidak akan menyesatkan” selesai penukilan
Mereka juga akan berbicara atas Alloh tanpa ilmu:
﴿   •  F  $
K #%( *%L=  72 N.’  :   €e !*( #%  B  @7  %*%.~ %; Np‡ #H%   7 #(V –    ;  †  / 
$
 ١٢﴾  . %
Sesungguhnya rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena
kebodohan lagi tidak mengetahui dan mengharamkan apa yang Alloh telah
rizkikan kepada mereka dengan semata-mata mengada-ngadakan terhadap
Alloh dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
Dan itu adalah kekejian yang besar. Alloh ta’ala mengatakan:
﴿  cH Š  B  @  ` —  ˜@#’   B.™ . 7  $P *m  I7  |e7   €e `   ‚ 27 #%   5%Z ;   š  “`0%
 HN P ( :% 
١٣﴾  #-% ( ) Z    ;  †  #% #E% Z  2 7
Robbku hanya mengharamkan perbuatan keji baik yang tampak atau yang
tersembunyi dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yang
benar, mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan
hujjah untuk itu dan mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.
11 An-Nahl 25
12 Al-An’am 140 13 Al-A’rof 33
29
Berkata Al-Munawi a dalam Faidul Qodir (4/317): “Maka wajib bagi
orang yang berakal lebih yang mempunyai kemulian (yang mulia) untuk
membedakan macam-macam perkataan sebelum berbicara agar perkataannya di
atas ilmu dari dirinya dan dari Robb-nya … karena seseorang tersembunyi di
bawah lisannya. Lisannyalah yang memberitakan tentang keberadaanya. Maka
keadaan dia tertutupi selama belum berbicara” selesai penukilan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
30
 
 NASEHAT TERAKHIR
Wajib bagi kita semua untuk bertakwa kepada Alloh, mengetahui kadar diri
kita masing-masing, dan kita tidak menonjol-nonjolkan diri pada perkara yang
bukan porsi urusan kita, dan janganlah menceburkan diri kita pada sesuatu yang
kita tidak memiliki kemampuan padanya. Kita berlindung kepada Alloh agar kita
tidak menjadi orang yang pura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberi,
sebagaimana sabda Nabi ::
@ @C7~ —#m
O_ “)
š c l6D
Orang yang pura-pura kenyang dengan sesuatu yang tidak diberi, seperti orang
yang berpakaian dengan dua baju kedustaan (HR Bukhory-Muslim dari Asma’
Bintu Abi Bakr Rodhiyallohu ‘Anhuma)
Syaikh Al-‘Utsaimin a dalam Kitabul ‘Ilmi (92) mengatakan: “Termasuk perkata
yang wajib dihindari yaitu penuntut ilmu menonjol-nonjolkan diri sebelum dia
memiliki kemampuan untuk bertindak. Karena kalau dia melakukan hal yang
demikian, maka hal ini menjadi dalil atas beberapa perkara:
Perkara pertama: Merasa kagum pada dirinya dengan tindakan itu, sehingga dia
melihat bahwa dirinya adalah orang yang paling tahu.
Perkara kedua: Yang demikian itu menunjukkan ketidak-pahamannya, dan tidak
adanya pengetahuan terhadap perkara-perkara, karena apabila dia melakukan
tindakan bisa jadi terjerumus pada perkara yang dia tidak bisa terbebas darinya.
Karena orang-orang apabila melihat dirinya melakukan tindakan atau
membantahnya dalam beberapa perkara, maka tidak tidak akan mampu
menjelaskan kesalahan yang ada.
Perkara ketiga: Apabila dia melakukan tindakan sebelum mempunyai kemampuan,
mengharuskan dia berkata atas nama Alloh yang dia tidak mengetahuinya, karena
keumumam orang yang tujuannya ini, dia tidak menghiraukan dan menjawab apa
saja yang ditanyakan. Dikhawatirkan agamanya dan perkaannya atas Alloh tanpa
ilmu.
Perkara keempat: Bahwasanya manusia apabila melakukan menonjol-nonjolkan
diri, kebanyakannya tidak menerima kebenaran. Karena dia merasa bodoh apabila
31
tunduk kepada orang lain, meskipun orang itu bersama kebenaran. Maka ini
adalah bukti kalau dia itu bukan orang yang berilmu” Selesai penukilan
Maka hendaknya kita bermusyawarah pada perkara-perkara yang kita
belum matang, terlebih pada masalah yang berkaitan dengan maslahat dan
mafsadat bersama. Karena Ahlus sunnah senantiasa berada dalam kebaikan,
selama mereka berhubungan dengan para ulama yang menunjukkan mereka
kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, serta mendekatkan mereka dengan pemahaman
salaf, sebagaimana firman Alloh:
﴿ #% ١٤﴾  #-% ( ) Z   * %  %    B  K`  M L 2 : /
Bertanyalah kalian kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak
mengetahui
Alloh berfirman:
﴿ j 7 *%Lp  g  B2  $ $  R 72 › #  > #%j2  #7 %U7V=  T ”# % :  B  T 7  S7%2 B  R *%. %-() K $
 
%H#%P  Q
*%. ١٥﴾ ON (     P  l  *% % ) Z  % % œ   7 * +%  (  ;  M% ” /  #  7
Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun
ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalaulah mereka mengembalikannya
kepada rosul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang bisa
menarik hukum dari mereka, akan mengetahuinya. Kalau bukan karena karunia
dan rahmat Alloh, tentulah kalian akan mengikuti syaithon, kecuali sebagian
kecil saja diantara kalian
Al-‘Allamah As-Sa’dy a dalam tafsirnya mengatakan: “Ini adalah
pengajara dari Alloh untuk hambaNya terhadap perbuatan mereka yang tidak
sepantasnya. Selayaknya bagi mereka apabila datang perkara dari perkara-perkara
yang penting dan menyangkut kemaslahatan umum, yang berkaitan dengan
keamanan dan kebahagiaan kaum mukminin, atau ketakutan atas mereka, untuk
mencari kepastian dan jangan tergesa-gesa menyebarkan kabar tersebut. Bahkan
dikembalikan kepada Rosul dan ulil amri diantara mereka, orang yang memiliki
akal, ilmu, nasehat dan keteguhan. Merekalah yang mengetahui perkara-perkara,
mengetahui maslahat-maslahat dan kebalikannya. Apabila mereka melihat pada
penyebaran itu ada maslahat bagi orang-orang mukmin, kebahagiaan untuk
14 An-Nahl 43
15 An-Nisa’ 83
32
mereka, dan menjaga dari musuh-musuh mereka, maka mereka akan
menyebarkannya. Apabila mereka melihat tidak ada maslahatnya, atau ada
maslahatnya tapi bahayanya lebih besar dari maslahatnya, maka tidak mereka
tidak akan menyebarkannya. Karena itulah Alloh berfirman:
﴿ %-()   $
K %H#%P  Q
*%. ﴾
Tentulah orang-orang yang bisa menarik hukum dari mereka, akan
mengetahuinya.
Maksudnya, mereka akan mengeluarkan pemikirannya, pendapat-pendapat yang
benar dan ilmu-ilmu mereka yang memberi petunjuk.
Padanya terdapat dalil atas kaidah tentang adab, yaitu apabila terjadi
pembahasan pada suatu perkara, semestinya diserahkan pada orang yang ahli
untuk itu, dibawa kepada ahlinya, dan jangan mendahului mereka. Karena itu
lebih dekat kepada kebenaran dan lebih selamat dari kesalahan. Di dalamnya
terdapat larangan untuk tergesa-gesa dan terburu-buru untuk menyebarkan
perkara-perkara tatkala mendengarnya, sementara perkara itu hendaknya
diperhatikan dan dilihat sebelum dibicarakan, apakah ada maslahatnya untuk
dihadapkan kepada manusia atau tidak sehingga mesti ditinggalkan” Selesai
penukilan
Bahasan ini bagi orang yang telah mendatangkan bukti, maka bagaimana
bagi orang yang tidak mendatangkannya ? Sementara ia berkata: Yang penting
Fulan adalah mubtadi` !! yang penting Fulan hizby !!??, Kemudian dia berkata:
“Orang yang mengetahui adalah hujjah bagi orang yang tidak mengetahui“ atau
“Penetapan dikedepankan dari peniadaan“ atau “pemilik rumah lebih tahu apaapa
yang di dalamnya“ dan apa yang semisal demikian dari kaidah-kaidah yang
merupakan ibarat cabang dari penetapan bukti, dimana dia baru pantas
menggunakan kaedah–kaedah ini setelah mendatangkan penjelasan dan bukti
penuduh atas sebab tuduhan. Jika dia tidak mendatangkan bukti, maka apa
faedahnya ? Bahkan ini menunjukkan lemahnya orang yang menuduh, yang
menjadi sebab ditolaknya tuduhan ini.
Iya, apabila yang berbicara dari ulama` jarh wat ta`dil yang diperhitungkan,
boleh baginya untuk menjarh tanpa menyebutkan sebab, dan dengan syarat alim
yang lain tidak menyelisihinya.
33
Telah ditanya Syaikh Robi` bin Hadi s di dalam Majmu` Kutub wa Rosail
wa Fatawa miliknya (14/ 257): Apakah wajib bagi seorang alim untuk
menyebutkan jarh pada orang tertentu ataukah perkara ini ada perinciannya?
Jawab: “Tidak wajib, dikarenakan kebanyakan para ulama` mereka
berbicara dan tidak menjelaskan sebab, sementara dia adalah orang yang
mengetahui sebab–sebab jarh wat ta`dil, dan dia adalah seorang yang alim dan
dipercaya di kalangan manusia, maka dia berkata: Fulan jahmy, Fulan murji`i,
Fulan hafalannya jelek, Fulan pendusta, Fulan demikian, maka senantiasa kita
memberikan hak kepadanya” Selesai penukilan
Adapun apabila seorang alim yang yang lain menyelisihinya, maka barulah
ketika itu dia mesti menjelaskan sebab.
Dan berkata Syaikh Robi` bin Hadi s pada sumber yang sama: “Apabila
seorang alim yang lain menyelisihinya maka ketika itu dia menjelaskan sebab,
sebab jarh wat ta`dil, maka tidaklah boleh bagi seorang pun untuk menyelisihinya,
kecuali orang yang sombong, pemilik hawa nafsu, walaupun banyak jumlah
orang–orang yang menyelisihinya” Selesai penukilan
Sebabnya adalah sebagaimana yang dikatakan Ibnu Sholah a di
Muqoddimahnya: “Dan ada pun jarh maka sungguh tidak di terima kecuali
terperinci menjelaskan sebab, dikarenakan manusia berbeda dengan apa yang ia
jarh dan apa yang ia tidak jarh, maka salah satu mereka memutlakkan jarh
berdasarkan perkara yang dia yakini adalah jarh, dan tidaklah itu jarh pada
perkara ini, maka wajib untuk menjelas kan sebabnya, agar dilihat apakah itu jarh
atau tidak” Selesai penukilan
Perkataan ini apabila jarh datang dari orang yang mapan dan ia telah
menyempurnakan syarat–syaratnya, adapun engkau wahai orang yang miskin
siapa dirimu ?
[ M  ML Œ#  Q
$
K #%-()
 $
K ?? ١٦\  #-% ( )
    7
Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?
Maka wajib bagi orang yang tertimpa penyakit ini –terburu–buru di dalam
perkara semisal ini–, untuk bertobat kepada Allah, menahan lisannya, menuntut
16 Az-Zumar 9
34
ilmu tentang agama Allah, dan memperbaiki dirinya sebelum orang lain. Jadilah
dia seorang yang baik di kalangan saudara–saudaranya pemberi faedah bukan
pembuat kerusakan.
Rosulullah : bersabda:
; M)g $6 ?#P/ €„( e 5( Z’ ] $  7 5( e €„( Z’ ] $  D
C

† 5 Z’ ; M)g $6 M
77 

† €> Z’
Sungguh sebagian manusia adalah kunci untuk kebaikan penutup untuk
kejelekan. Dan sebagian manusia adalah penutup untuk kebaikan kunci untuk
kejelekan, maka berbahagialah bagi orang yang Allah jadikan kunci kebaikan
pada tangannya, dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan kunci kejelekan
pada tangannya Hadits ini dari Anas bin Malik, dihasankan oleh Al-‘Allamah Al-
Albani dengan segenap jalan-jalannya.
Rosulullah : bersabda:
@ @CUV  $%  9
%  7 U% €%  F ?g B
%   $  * % V  7 U%V  $%  9
% 7 U% €%  F ?g B
% $  * % €%  F
Sebaik-baik kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman dari
kejelekannya, dan sejelek-jelek kalian adalah orang yang tidak diharapkan
kebaikannya dan tidak aman dari kejelekannya Hadits ini dikeluarkan oleh
Ahmad dan Tirmidzi dari Abu Hurairoh  dan dihasankan Imam Al-Wadi`i.
Dikhawatirkan bagi orang yang menempuh metode seperti ini, apabila dia
terus-terusan dalam keadaan ini, sungguh tuduhan akan kembali kepadanya. Di
Shohihain dari Abu Dzar , bahwasanya Nabi : bersabda:
CYK_ @h $+
š  ( xZ  B’+ B
7 4#Q’ Og Mg |B
D
Tidaklah seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan tidak pula
menuduhnya dengan kekafiran, kecuali tuduhan itu akan kembali kepadanya
jika yang dituduh tidak demikian
Ini lafaz di shohih Bukhori. Adapun di Shohih Muslim:
D $7 = NO % g B’%+ 72  “ 7 %  ;  
7  K  Y    @ C  ( 
35
Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kekufuran, atau berkata:
(wahai) “musuh Allah” sementara dia tidak demikian, kecuali tuduhan itu akan
kembali kepadanya.
Ibnul-Wazir a berkata di kitab Ifshoh ‘An Ma`anis Shohih pada hadits
kesebelas dari Musnad Abu Dzar : “Sangat berbahaya bagi orang yang menuduh
saudaranya semuslim dengan kekafiran. Sungguh meyakinkan dengan hadits ini,
tuduhan itu akan kembali kepada penuduh apabila saudaranya tidak seperti apa
yang ia tuduhkan. Maka hendaklah dia berhati-hati selamanya untuk menuduh
seseorang yang perkaranya masih diragukan, dan demikian juga untuk menuduh
dengan kefasikan maka dia di jalan kembalinya tuduhan tersebut kepadanya jika
yang dia tuduh tidak dibangun di atas keyakinan”. Selesai penukilan
Sebagaimana bid`ah itu ada yang dapat memfasiqkan dan ada juga yang
mengkafirkan, begitu juga perkara pembid`ahan seseorang, maka pelaku bid`ah
itu bisa menjadi fasiq atau kafir sesuai dengan kadar penyimpangannya dari
agama Allah.
Dan sekarang merasa atau tidak merasa, orang yang tergesa- gesa ini telah
terjerumus dalam kebid`ahan. Karena sesungguhnya penuduhan seseorang tanpa
alasan yang membenarkan, termasuk perbuatan ghuluw (melampaui batas).
Sementara ghuluw tergolong perbuatan mengada-ada dalam agama. Bukanlah
kemungkinan yang jauh apabila dia terus-menerus dalam keadaan seperti ini,
maka dialah yang lebih pantas disifati sebagai mubtadi’.
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah a sebagaimana dalam Majmu’ Fatawa
(3/373) mengatakan: “Maka dapat diketahui bahwasanya seseorang yang
menyandarkan diri kepada Islam dan As-Sunnah pada zaman ini, bisa keluar dari
Islam dan As-Sunnah sampai dia mengaku sebagai ahlus sunnah padahal dia bukan
tergolong padanya, bahkan dia telah keluar dari sunnah. Hal itu diantaranya
disebabkan sikap ghuluw yang Alloh Ta’ala cela di dalam kitabNya” Selesai
penukilan
Saya cukupkan dengan kadar ini. Kita memohon kepada Alloh ketegaran dan
keselamatan, walhamdulillah.
Saudara kalian fillah
Abu Ja’far Al-Harits bin Dasril Al-Minangkabawy Al-Indunisi
Kamis 26 Robi’uts Tsani 1432
Darul Hadits Dammaj
Semoga Alloh merahmati pendirinya dan menjaga penerusnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s