SELAMAT DATANG WAHAI PENUNTUT ILMU !

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Segala puji bagi Allah Robb semesta alam, kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertaqwa, saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya, yang telah berkata:

(شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ) [آل عمران: 18]

“Allah telah mempersaksikan bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, dan (begitu pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu (yang juga menyaksikan demikian itu). Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Perkasa dan Bijaksana” (Ali Imron: 18). Aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang telah berkata:

(من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين).

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya, maka Allah beri kefaqihan padanya tentang agama”[1].

Adapun sesudah itu: Telah berkata Al-Imam Al-Ajurry dalam kitabnya “Akhlaqul ‘Ulama’” (Juz: 1, hal. 27): Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar, dia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ja’far Ahmad bin Yahya Al-Hulwaniy, dia berkata: Telah kepada kami Syaiban bin Farwah, dia berkata: Telah mengkhabarkan keapada kami Ash-Sha’q bin Hazn, dia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Ali bin Hakam, dari Minhal bin Amr, dari Zir bin Hubaisy, dia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Shofwan bin ‘Assal Al-Maradiy radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Saya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu saya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya datang untuk menuntut ilmu!. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

«مرحبا يا طالب العلم» إن طالب العلم لتحفه الملائكة، وتظله بأجنحتها، ثم يركب بعضهم بعضا، حتى يبلغوا سماء الدنيا من حبهم لما يطلب.

“Selamat datang wahai penuntut ilmu!, sesungguhnya malaikat mengepakkan sayapnya dan menaungi penuntut ilmu, kemudian sebagian mereka menaiki sebagian yang lain sampai mereka ke langit dunia karena kecintaannya malaikat kepada perkara yang dicari”[2].

Dan termasuk perkara yang sudah diketahui, sesungguhnya penuntut ilmu jika dia ingin mendapatkan ilmu maka dia harus mengetahui jalan yang bisa mengantarkan padanya, berkata Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah dalam “Fathul Majid” (hal. 395): Ilmu itu tidaklah diambil dengan secepat kilat (waktu singkat), hanyalah ilmu itu diambil dengan sebab yang akan disebutkan dalam perkataan berikut ini:

أخي, لن تنال العلم إلا بستة سأنبيك عن تفصيلها ببيان

ذكاء, وحرص, واجتهاد, وبلغة وإرشاد أستاذ, وطول زمان

“Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, saya akan merincinya dengan penjelasan: (yaitu dengan) kecerdasan, semangat, kesungguhan dan bekal, bimbingan ustadz dan waktu yang panjang“.

Dan yang paling besarnya dengan enam perkara ini adalah orang yang memberinya pemahaman dan hafalan serta dia menyibukkan dirinya dalam mendapatkannya sampai lelah. Allah yang member taufiq kepada siapa yang Dia kehendaki dari hambanya, sebagaimana Allah berkata:

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا [النساء: 113]

“Dan telah mengajarkan kepadamu apa-apa yang kamu yang belum kamu ketahui, dan adalah karunia Allah atasmu sangatlah besar“. (An-Nisa’: 113).

Berkata Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya “Miftah Daris Sa’adah” (Juz: 1, hal. 169): Ilmu itu memiliki enam tingkatan:

Pertama: Bagusnya pertanyaan,

Kedua: Tenang dan memfokuskan perhatian,

Ketiga: Bagusnya pemahaman,

Keempat: Menghafal,

Kelima: Mengajar, dan yang keenam adalah buahnya yaitu mengamalkan ilmunya dan menjaga batasan-batasan (perintah-perintah dan larangan-larangan)-Nya.

SEBAB-SEBAB MENGGAPAI KEUTAMAAN

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam “Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim” (Juz: 1, hal. 347): “Sesungguhnya keutamaan itu (diperoleh) bisa dengan ilmu yang bermanfaat dan bisa pula dengan amal shalih, sedangkan ilmu adalah permulaan (pondasi)nya yaitu dengan kuatnya akal dia berupa kefahaman dan hafalan, lalu kesempurnaan berupa kuatnya berargumen (berhujjah) dengan penjelasan dan penjabaran……. Adapun amalan dia terbangun atas akhlaq berupa naluri insting yang tercipta dalam jiwa, sedangkan naluri insting dia paling dekat dengan kelembutan, keberanian, tanggung jawab dan yang lainnya dari perkara-perkara yang terpuji.

Wahai penuntut ilmu! Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi ilmumu, bersemangatlak kamu dalam menuntut ilmu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan melemah! Telah berkata Al-Imam Muslim rahimahullah dalam “Shahih“nya (175): “Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimiy, dia berkata: Telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Yahya bin Abi Katsir, dia berkata: Saya mendengar Bapakku berkata:

لا يستطاع العلم براحة الجسم.

“Ilmu itu tidak diperoleh dengan badan yang santai”.

Berkata Al-Imam Al-Bukhariy rahimahullah dalam “Shahih“nya (50): “Bab: Malu dalam Ilmu” berkata Mujahid rahimahullah:

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Tidak akan memperoleh ilmu orang yang pemalu dan orang yang sombong”[3].

Berkata Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِى الدِّينِ

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, tidak menghalangi mereka rasa malu untuk memahami agama”[4].

Wahai penuntut ilmu! Tidak adanya amal dari orang yang memiliki ilmu adalah termasuk sebab tegaknya hujjah atasnya (masuk neraka-pent), sungguh Allah telah mencela orang yang keadaanya seperti itu, Allah berkata:

(كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُون) [الصف:3]

“Amat besar keebncian di sisi Allah, bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan“. (Ash-Shaf: 3) dan sebab inilah salaf (generasi pendahulu kita) paling semangat dalam beramal dengan ilmunya. Berkata Al-Imam Ibnu Katsir dalam “Tafsir“nya (Juz: 1, hal. 8): “Berkata Al-A’masy dari Abu Wail, dari Ibnu Mas’ud, dia berkata:

كان الرجل منا إذا تعلم عشر آيات لم يجاوزهن حتى يعرف معانيهن، والعمل بهن

“Adalah kebiasaan salah seorang dari kami jika menpelajari sepuluh ayat tidaklah dia meneruskannya sampai mengetahui ma’nanya dan mengamalkannya”[5].

Berkata Syaikhul Islam dalam “Iqtidha’ush Shiratil Mustaqim” (hal. 262): “Karena beribadah dan beramal dengan tanpa ilmu terlarang (haram), sebagaimana beribadah dan beramal dengan perkara yang menyelisihi ilmu juga terlarang”.

Berkata Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz dalam kitab “Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyyah“: “Ilmu yang diamalkan oleh pemiliknya lebih sempurnah dari pada ilmu yang tidak diamalkan”.

Ditulis oleh:

Abul ‘Abbas Khadir Al-Mulkiy Al-Andunisiy

Di Darul Hadits Dammaj-Sha’dah-Yaman.

Yang diterjemahkan oleh:

Abu Nu’aim Ali Al-Jawiy

——————————————————
[1] HR. Muslim, no. 2389, dari Mu’awiyyah dan Imam At-Tirmidzi (Juz: 1, hal. 306) dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Hadits ini shahih”, berkata Al-Wadi’iy dalam “Al-jamiush Shahih” (Juz: 1, hal. 20): “Ini adalah hadits shahih dengan syarat Ash-Shahihain .

[2] Berkata Asy-Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuriy: Sanad hadits ini menurut penulis adalah hadits hasan.

Al-Hulwaniy dia adalah tsiqah (terperbaya), dan Syaiban dia adalah shaduq ( jujur). Al-Hulwaniy dalam kitab “Tarikh Al-Baghdadiy” dikatakan tsiqah (terpercaya) dan Syaiban bin Farwah dan Ash-Sho’qn keduanya shaduq, Ali bin Hakam tsiqah, Al-Minhal bin ‘Amr dia di-tsiqah-kan jama’ah (ahlul hadits).

HR. Ahmad (Juz: 4, hal. 239), Ath-Thayalisi (1165), Ath-Thabraniy (7359), Ibnu Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil Ilmi” (hal. 36), At-Tirmidziy (1/73) dari jalur periwayatan Ashim bin Bahdalah dari Zir bin Hubaisy, dan sanadnya hasan.

Ringkasnya hadits ini shahih dengan penguatnya.

[3] Berkata Ibnu Hajar dalam “Fathul Bariy” (Juz: 1, hal. 302) tentang perkataan Mujahid: Atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam “Hilyah Thalibil Ilmi” dari jalur Ali bin Al-Madiniy, dari Ibnu ‘Uyainah, dari Manshur. Ini adalah sanad yang shahih dengan syarat penulis (Al-Imam Al-Bukhariy).

[4] Berkata Ibnu Hajar dalam “Fathul Bariy” tentang perkataan “Aisyah: Atsar yang mu’allaq (tidak bersanad) ini telah disambung sanadnya oleh Al-Imam Muslim dari jalur Ibnu Muhajir, dari Shafiyah bintu Syaibah, dari Aisyah dalam suatu hadits yang awalnya menangkan tentang Asma’ bintu Yazid Al-Anshariy bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi setelah suci dari haid.

[5] HR. Ath-Thabariy dalam “Tafsir“nya (Juz: 1, hal. 80) dari jalur Al-Husain bin Waqid dari Al-’Amasiy.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s